Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Tugas seorang istri


__ADS_3

Matahari kembali terbit, hari ini adalah hari kedua Calya berada di dalam istana sang iblis. namun bedanya hari ini ia harus stay di kamar Axel karena Oma dan mom sedang berada di lantai satu. Axel terus memberikan nya wejangan di sertai dengan ancaman ancaman nya.


"Aku harap kau tidak menampilkan wajah seperti itu lagi di hadapan keluarga ku terkhusus nya momy! kau akan mendapat konsekuensinya jika aku tau itu!." Calya mengangguk kecil.


"Patuh terhadap apa pun perintah momy ku! jangan coba coba untuk membantahnya."


"Kalau nyonya meminta ku untuk terjun dari lantai teratas aku harus tetap patuh begitu?."


"Ya, tanpa terkecuali. aku punya jaminan kesehatan untuk mu!."


Calya tertawa garing, Axel benar benar sudah gila sepertinya. "Memangnya kau bisa merasa kesakitan?." Bibir Axel tertarik, ia tersenyum miring.


"Tidak, tidak ada rasa sakit tuan. aku tidak akan merasa kesakitan mungkin hanya meninggal." Tuturnya dengan tidak santai. setelah itu ia melangkah keluar dari dalam kamar, tidak tahan berlama-lama dengan Axel telinga nya terasa seperti mengeluarkan asap. "Aku menunggu di luar." Tutur nya sebelum Axel mengucapkan hal hal pedas yang tak dapat di tahan dari mulut nya itu.


Setelah Axel berpakaian lengkap keduanya pun sama-sama turun dari tangga. anak kecil sekalipun mungkin akan merasa aneh dengan pasangan baru itu. Axel berjalan lebih dahulu dengan di ikuti Calya di belakang. tidak ada adegan berpegang tangan atau saling merangkul. keduanya persis terlihat seperti bos dan sekertaris.


Ingrid yang melihat hal itu sedikit merasa janggal namun pikiran pikiran negatif ia samarkan dari penglihatan nya. wanita itu sangat percaya kepada Axel.


"Pagi mom." Sapa Axel dan langsung mengambil alih duduk di sisi ibunya.


"Pagi Ax."


"Apakah ada urusan penting hingga berkunjung sepagi ini?."

__ADS_1


"Tentu ada, kami akan mengajarkan tugas istri kepada Calya agar ia tau cara mengurus mu dengan baik." Axel mengangguk kecil sembari melirik gadis itu.


"Tugas pertama mu." Oma menatap Calya yang tampak menunggu. "Setiap pagi hari harus melayani Axel makan, menemaninya atau bahkan menyuapi nya." Dengan ragu Calya mengangguk itu pun terpaksa karena manik mata Axel yang terus menatap tajam.


"Kedua, sebelum Axel berangkat kantor kamu harus mengantarnya ke mobil dan berikan dia ciuman." Calya menarik nafas dalam, membayangkan hal itu saja sudah mampu membuatnya sesak.


"Ketiga, sepulangnya Axel dari kantor kamu harus membuka jas serta dasi. juga menyiapkan pakaian dan air untuk Axel mandi." Calya hanya mampu terdiam mencerna semua perkataan nenek dari suami nya itu.


"Ku fikir pekerjaan sisa nya kamu sudah tau harus melayani suami mu seperti apa. tapi untuk ketiga tugas itu bersifat wajib bibi Moa akan melaporkan jika kamu melewatkan kewajiban mu. dan tentunya akan ada hukuman dari Oma dan Mom." Calya menelan ludah canggung. jadi Calya patuhlah kepada kewajiban di sini." Oma tersenyum lebar membuat Calya terpaksa mengangguk.


Satu keluarga itu makan dengan penuh khidmat tanpa ada pembicaraan, semua fokus terkecuali Calya. gadis itu berfikir, jika ia menyentuh pakaian Axel setiap hari apa pemuda itu akan membuang pakaian nya terus menerus? tidak kah itu mubajir? oh atau bisa jadi membuat keuangan Axel kandas hingga ia jatuh miskin? sepertinya mustahil.


Ketiga wanita itu pun berjalan di belakang Axel menghantarkan nya ke dalam mobil. Oma terlihat menghentikan langkah Axel. "Tunggu tunggu." Meneliti penampilan rapih cucu laki lakinya itu. "Siapa yang memakaikan dasi dan jas ini kepada mu?." Ingrid tetap diam dan memperhatikan mertua, anak, dan menantunya.


"Oh tidak bisa! kita harus mulai tugas istri mu hari ini. Calya segera lepaskan itu dan kenakan kembali ke tubuh suami mu." Calya menatap Axel dan mengangguk kecil.


Dengan ragu ia mendekat, melepas kan dasi dan jas suaminya. ya walaupun iblis seperti itu Axel tetap lah suaminya. pria itu hanya diam tanpa penolakan sedikit pun.


Walaupun kegiatan ini sangat sia sia dan terlalu membuang waktu tapi Calya tetap harus melakukan nya. jika tidak Axel akan memarahinya habis habisan. telinga nya terlalu sakit mendengar hal itu.


Tanpa permisi Axel mendekat kan bibirnya ketelinga Calya membuat mata gadis itu tertutup. "Bersikap natural! kau mau membuat mereka curiga!." Bisiknya dengan penuh penekanan. setelah itu dengan tak tau diri Axel mengecup pipinya sekilas membuat mata Calya melotot.


Pelaku penciuman itu hanya bersikap acuh. ia tersenyum lebar ke arah mom dan Oma sembari melambaikan tangan. "Bye momy, bye Oma."

__ADS_1


"Dahhh cucu ku sayang." Keduanya melambaikan tangan ke arah Axel. Calya yang masih mematung di tempat sangat tak habis pikir dengan kelakuan miliarder sombong itu.


Seperginya Axel dari sana. Calya di giring oleh Ingrid dan Hany menuju ruang tamu. mereka, oh lebih tepatnya Hany memberikan catatan tugas kepada Calya yang katanya harus di patuhi dan di laksanakan. Calya menatap buku tebal itu dengan tatapan tak percaya, ia di suruh menghafalkan semua itu agar tak melewatkan satupun.


Setelah kepergian Hany menuju kamar mandi, Ingrid mengelus bahunya lembut. "Aku tau kau merasa tertekan, santai saja bersikap sewajarnya terkadang kita tak perlu sepatuh itu untuk mendapatkan kebahagiaan." Tutur nya lembut. bagaimana pun Ingrid sudah merasakan hal itu lebih dulu. ia tak ingin menantu nya merasa tertekan, karena kini yang Ingrid percayai Axel dan Calya menikah dengan dasar cinta. ya cinta! tidak seperti dirinya dan Alex dulu.


Sepanjang hari ini ketiga wanita Emilio itu sibuk membicarakan Axel, tentang kesukaan Axel, tentang kelakuan Axel. mereka membahas bab hidup seorang Axel di mulai ia bayi hingga kini. sungguh Calya tak benar benar ingin tau tentang pria itu, sedikit pun tidak. tak ada rasa penasaran yang menggerogoti jiwanya. yang kini ia tanam kan di kepalanya Axel adalah orang kaya sombong, pendendam, kasar, tidak punya hati, pengancam dan memiliki mulut setajam pisau. hanya itu lah yang ia tau tentang Axel lebih dari itu ia tak tau dan tak ingin tau. namun mau bagaimana lagi, ia terpaksa harus bersikap seolah ia tertarik dengan pembahasan tersebut.


Sorenya ketika pria itu pulang Hany, Ingrid dan Calya berdiri di depan pintu guna menyambutnya. tanpa di suruh Calya mendekati suaminya itu, membawa tas serta membuka jas nya. Axel hanya diam ia tau ini adalah tugas seorang istri menurut keluarga mereka. pekerjaan ini sudah turun temurun di ajarkan oleh menantu keluarga Emilio.


"Sudah pulang Ax?."


"Ya momy, aku akan mandi." Ingrid mengangguk, ia mengintruksi Calya untuk mengikuti suaminya.


Kepergian dua anak manusia itu tak lepas dari penglihatan Hany dan Ingrid. "Ku fikir dia akan terbiasa dengan cepat. keduanya terlihat serasih." Tutur Hany.


"Serasih? kenapa tidak memilih kata saling mencintai?."


Hany menoleh ke arah menantunya. "Aku tidak merasakan cinta di hubungan mereka, interaksi keduanya terlalu hambar."


Ingrid tersenyum kecil. "Ku fikir hanya aku yang merasakan itu mom."


"No, aku tau bagaimana tatapan cinta antar sepasang kekasih."

__ADS_1


__ADS_2