
Axel terbaring lemah di atas ranjang dengan suhu tubuh tinggi. ia membutuhkan penanganan cepat namun gadis menyebalkan itu membuat drama. Calya duduk sambil menyilang kakinya, manik Axel tak henti henti menatap ke arahnya. sementara nuhan berdiri di sisi Calya sudah siap dengan buku catatan. catatan syarat yang di pinta oleh Calya sebelum menangani pasien iblis yang sayang nya sangat tampan. walaupun sakit begitu Axel tetap saja terlihat sangat tampan.
"Syarat pertama, tuan Axel harus membolehkan ku menyentuh tubuhnya. dengan begitu aku baru bisa merawat dia." Nuhan melirik Axel meminta jawaban, Axel terlihat mengangguk. "Ku tambahi sedikit, izinkan aku untuk menyentuh beberapa barang barang nya seperti pakaian atau apa pun itu, karena dia harus berganti pakaian." Axel mengangguk lagi.
"Kedua, tuan Axel tidak boleh banyak bicara atau cerewet untuk segala hal yang ku lakukan." Mata Axel terlihat menyipit pertanda bahwa kalimat Calya tidak di pilih dengan tepat.
Nuhan yang sudah sangat paham pun berdehem. "Nona ada baiknya memilih kata yang lebih baik, serta jelaskan kenapa harus mengikuti syarat tersebut."
Calya mendengus. "Kalau tuan tetap cerewet fokus ku hilang bisa saja aku menyuntikkan obat aneh aneh ke dalam tubuhnya. aku tidak bisa fokus kalau pasien ku cerewet." Tutur Calya.
Walaupun terlihat tidak senang Axel hanya mengangguk. rahang pria itu terlihat menegas sedikit.
"Ke tiga tuan tidak boleh banyak menolak, contoh saat aku bilang harus makan maka dia harus makan tanpa ada kata penolakan berupa 'bukan urusan mu!.' . Karna nuhan, di sini dia pasien ku dan aku berkewajiban penuh untuk membuat nya pulih."
Masih dengan wajah yang merengut Axel mengangguk membuat nuhan mencatat Syarat tersebut.
"Ke empat, aku butuh imbalan." Keberanian itu membuat nuhan melotot begitu juga dengan Axel. namun kalimat selanjutnya dari Calya membuat keduanya saling bertatapan. "Setelah tuan pulih nanti tolong biarkan aku bertemu ayah ku, atau setidaknya beritahu aku kabar tentang nya." Mata elang itu tak lepas menatap Calya.
"Ok tapi imbalan hanya berlaku ketika kau berhasil membuat ku sembuh. jika tidak kau yang ku buat sakit! mengerti?!."
Calya berdecih. "Syarat terakhir nuhan, ini yang paling wajib kau catat dan garis bawahi! tuan di larang keras mengancam dan memarahi ku saat masa masa pengobatan. aku sangat tertekan dengan ancaman dan amukan nya."
Axel terdiam ia tidak mengangguk tidak pula menggeleng. "Kalau tidak setuju, aku akan--"
"Hmm." Deheman itu berhasil menciptakan senyum bahagia di bibir Calya. akhirnya ia bebas melakukan apa pun tanpa harus takut kepada Axel.
"Ok, kau bisa keluar. aku akan mengurusnya." Calya menatap nuhan lembut. seolah ia mengatakan semua akan baik baik saja. bisa Calya lihat seberapa khawatir nya pria itu melihat keadaan tuannya.
"Jika butuh sesuatu tolong katakan nona."
Calya menatap sekitar. "Aku tidak bawa alat medis apa pun, tolong Carikan aku benda dan obat obatan ini." Calya menulis beberapa hal di kertas dan memberikan nya kepada nuhan. setelah itu pria itu pun pergi.
Calya menutup rapat pintu kamar. ia duduk di sisi Axel yang masih setia menatap nya. tatapan tajam itu membuat Calya takut. namun ia mengenyampingkan rasa takut nya. dengan berani wanita itu menutup mata Axel dengan telapak tangan nya. "Jangan menatap ku seperti itu! aku tidak nyaman."
oh! sifat sombong nya kambuh lagi!
Setelah menutup mata Axel, Calya memeriksa suhu tubuh Axel dengan meletakkan telapak tangan nya di dahi pria itu. "Demam anda cukup tinggi."
Axel diam merasakan telapak tangan lembut yang menjalari wajah nya. "Merasa pusing?."
"Hmm terasa lebih sakit ketika kau masuk ke dalam kamar ini." Ujarnya tanpa beban membuat Calya tersenyum mengejek.
"Kalau begitu cari dokter lain." Axel diam tak lagi menyahut.
"Apa terakhir kali tuan yang terhormat terkena hujan?."
"Aku kecelakaan di tengah hujan deras."
kenapa tidak mati?
"Ada luka?."
Axel menarik selimutnya turun, ia memperlihatkan tubuh atasnya yang polos terdapat beberapa titik luka. Calya meringis. "Kenapa tidak di oleskan salep atau obat merah sebagai penanganan pertama?."
"Untuk apa?." Calya mendengus, tidak ada gunanya bertanya dengan Axel.
Calya merutuk kecil mendapati AC yang menyala, ruangan ini sangat dingin. "Tuan matikan AC nya."
Axel menggeleng. "Aku panas."
"Bukan berarti udara AC bisa membuat mu dingin!."
"Setidaknya aku tidak berkeringat."
__ADS_1
"Cukup! di sini aku adalah dokter! kemarikan remot AC nya." Dengan malas Axel pun menunjuk laci nakas di mana ia menyembunyikan remot itu
Calya mematikan AC dan bergerak menuju pintu. terdapat bodyguard di sana. "Tolong telpon nuhan katakan padanya aku butuh salep luka dan antiseptik." Axel masih diam mendengarkan.
Setelah gadis itu kembali ke sisinya ia diam. "Kapan insiden kecelakaan itu terjadi?."
"Kemarin." Calya meneliti luka luka di tubuh Axel.
"Nanti setelah di beri salep lukanya akan cepat kering." Axel mengangguk. "Sudah makan?." Pria itu tampak menggeleng.
"Mulut ku pahit. dan ini terasa perih." Ia menunjuk bibirnya yang pecah pecah akibat kurang minum air putih.
Calya pun mendekat melihat bibir pria itu. ia bisa merasakan perihnya. "Ini akibat anda tidak minum."
"Perih." Tuturnya cuek.
Calya kembali menuju bodyguard di depan pintu. "Tolong belikan aku sedotan dan madu." Ujarnya dan kembali kepada Axel.
"Kenapa bisa kecelakaan."
"Jalan licin, mobil ku hilang kendali." Calya tidak sepenuhnya percaya dengan alasan itu.
Tak berapa lama nuhan pun datang membawa barang barang yang ia pinta. setelah meminta Axel minum obat, ia pun mengobati beberapa luka di tubuhnya. tak berapa lama pria itu tertidur, mungkin karena efek obat. Calya menatap nuhan yang masih setia berdiri di sana.
"Kenapa tuan mu bisa kecelakaan di tengah hujan." tanya nya di sela sela membersihkan peralatan medis.
"Tuan sudah tidak tidur dua malam karena tugas kantor, mungkin karena lelah mobilnya lepas kendali apa lagi jalanan licin." Ujarnya jujur.
"Momy nya tau insiden ini?." Nuhan menggeleng. "Tuan melarang, biasanya jika sakit nyonya yang akan merawat tuan muda hingga pulih total. tapi karena insiden ini berupa kecelakaan, juga tuan sudah menikah rasanya akan sangat mencurigakan bahwa nona tidak mengambil peran penting di saat saat seperti ini."
Calya mengangguk. "Tidak perlu khawatir, dia akan pulih. beristirahat lah Nuhan aku tau kau lelah." Calya memberikan sebuah pil padanya. "Minum, ini vitamin." Pria itu mengangguk dan pergi.
Calya berkacak pinggang menatap Axel. "Sudah tau lelah! bukan nya istirahat malah sibuk bekerja! dasar menyusahkan!." Gumam nya.
Sorenya Calya terbangun, ia melihat hari hampir gelap. ia pun mengecek suhu tubuh Axel. demam nya sudah turun namun bisa saja sewaktu waktu akan naik lagi. ia pun menutup jendela balkon dan tirai. mencegah angin malam masuk.
Gadis itu turun ke bawah membuatkan sup agar tubuh Axel hangat. orang orang di mansion itu menatap nya, ia persis terlihat seperti seorang istri sekarang. koki di rumah itu di pinta oleh Calya beristirahat. ia pun mulai meracik sup dan teh hangat.
Cukup lama Calya memasak setelah selesai ia pun kembali ke dalam kamar. terlihat Axel sudah bangun. "Bagaimana keadaan tubuh tuan?."
"Baik." Ia meletakkan sup di atas nakas.
"Anda harus makan sekarang." Axel mengangguk lemah, Calya menumpuk beberapa bantal untuk tempat nya bersender. ia memberikan sedotan kepada Axel agar ketika meminum kuah sup bibirnya tidak terasa perih.
"Kentang dan wortel wajib habis." Ujarnya membuat Axel merengut. dengan terpaksa ia pun memakan sayur tersebut.
Setelah itu Calya meminta nya untuk meminum teh. "Sekarang diam dan buka sedikit bibir mu." pikiran Axel sudah melayang kemana-mana. ia masih jelas mengingat rasa dari bibir gadis di depannya. jarak dekat ini membuat jantung nya berdegup kencang. dengan tidak sopan tangan Axel terulur memeluk pinggang Calya membuat gadis itu melotot. "Lepas!." Axel menggeleng akhirnya Calya hanya diam.
"Ini akan sedikit perih tapi harus." Gadis itu mengoleskan madu di bibirnya. Axel tentu merasa risih. "Ini sampai kapan?."
"Sesekali tuan bisa menjilat atau mendecap nya. mengerti?." Axel mengangguk kecil.
"Sebelum tidur minum obat terlebih dahulu."
"Bisa kau mandi sekarang?." Tutur Axel sambil mengusap badan Calya sensual membuat gadis itu melotot dan segera menyingkir kan tangan Axel. melihat tatapan itu Axel tersenyum miring.
"Ya, tapi tolong ijinkan aku mengenakan salah satu kemeja anda."
"Hmm."
"Terimakasih."
Setelah kepergian Calya pria itu mengambil kacamata dan buku. ia pun mulai membaca. Axel itu sangat gemar membaca, ia sudah mencetak beberapa buku menginspirasi dan buku teknologi. kecerdasan nya sudah berada di tahap tinggi.
__ADS_1
Calya menggulung rambutnya ke atas, kemeja Axel terlihat seperti dress di tubuhnya karena panjang. tanpa ragu gadis itu pun keluar, ia dapat melihat pria itu sudah terkantuk-kantuk di depan buku. ia pun menarik buku dan kacamata baca milik Axel.
Pergerakan itu membuat Axel terusik, ia pun menangkap pinggang Calya hingga gadis itu berada sangat dekat dengan Axel. "Apa?."
"Kau menganggu ku." Mata nakal itu mulai menatap penampilan Calya yang sungguh sangat memanjakan matanya. dengan malas Calya menyingkirkan tangan itu. "Minum obat dan tidur." Bukan nya terlepas lilitan di pinggang Calya semakin kuat. "Tidak mau." Calya memicingkan mata nya.
"Anda harus patuh kepada dokter!."
"Tidak."
"Kalau tidak anda bisa cari dokter lain dan izinkan aku pulang."
"No!." Axel membuang wajah dan mengadakan tangan nya. pertanda ia meminta obat kepada gadis itu.
Melihat botol air habis Calya berniat turun. "Aku akan mengambil air." Sepontan Axel menarik tubuhnya. ia tidak mungkin membagi pemandangan itu kepada orang orang di bawah.
Axel beranjak turun dari ranjang, ia menyapa bodyguard yang berjaga di depan pintunya. "Ambilkan air." Menyerahkan botol kepada pria itu. saat ia berbalik Calya sudah tak terlihat.
"Ainsley." Untuk pertama kalinya ia memanggil Calya dengan lembut. gadis itu langsung keluar dari bilik baju dengan wajah terkejut.
"Memanggil ku?." Axel terlihat salah tingkah di tatapan seperti itu oleh Calya. gadis itu mengambil kaus untuk membalut tubuh Axel. "Kenakan itu, minum obat dan tidur." Axel hanya menurut. melihat Calya yang akan keluar dari kamar Axel tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Mau kemana kau?."
"Ke kamar ku, ada apa?." Dahi Axel mengerut. "Siapa yang bilang kita tidur di kamar yang terpisah?."
"Why? memang seperti itu kan? aku tidak ingin tidur di lantai."
Dahi Axel semakin mengerut.
lalu apa gunanya aku memberi mu izin untuk menyentuh apa pun yang kau mau!
"Jika perlu sesuatu aku berada di kamar lantai bawah. bisa telpon ke kamar ku." Ujar Calya tanpa beban.
"Tidak bisa! sekarang kau lepas tangan merawat ku."
Calya menatap horor. "Aku akan datang kapan pun tuan meminta."
"Kau fikir jika aku sekarat aku mampu menelpon mu?." Axel itu egonya sangat tinggi, ia rela berdebat panjang demi hal yang ia mau. padahal ia cukup mengatakan "Aku tidak ingin kau pergi, maka tetap di sini." Semua masalah akan selesai. tapi itu semua sangat sulit di ucapkan oleh pria berhati batu seperti Axel.
Calya terdiam. "Lalu apa mau anda sebenarnya?."
"Seharusnya kau tau." Ujarnya rendah dan berbaring di atas ranjang.
"Aku tidak bisa main tebak tebakan."
"Bodoh."
"Ya! karena anda yang paling pintar!."
"Bukan karena persyaratan itu kau jadi melewati batas intonasi di antara kita!." Calya mengusap wajahnya kasar. pria itu saat sedang sakit begini pun masih bisa menguras emosinya. Ok dia harus berbicara yang lembut kepada Axel. itu lah yang ia maksud dengan batas intonasi.
"Baik! kalau begitu aku akan tidur di sofa. Anda tidak boleh melarang."
kenapa tidak di ranjang?
"Hmmm." Axel melempar bantal ke arah Calya. membuat gadis itu mendengus.
"Niat memberi tidak!."
"Batas intonasi!."
"CK memuakkan!." Gumam Calya pelan.
__ADS_1