
Sudah tiga hari ini Axel tak mendapati Calya saat pagi di kamar nya. ia sedikit bingung tapi tak ingin bertanya kepada siapa pun. ia terus berfikir ke mana perginya gadis itu pagi pagi, saat sore mendatang barulah ia pulang itu pun sedikit lebih lama dari Axel.
Telpon Axel berdering, dahinya mengernyit menatap nomor momy nya. ada apa?
"Why momy?."
"Sepertinya menantu momy berhasil mengalihkan perhatian mu, kau tampak nyaman tanpa bertemu dengan momy. tidak rindu sayang?."
Axel terkekeh pelan. "Tentu rindu momy, itu tidak benar aku dan Calya jarang menghabiskan waktu bersama. pekerjaan ku terlalu banyak."
Ingrid menatap jemarinya, rupa rupanya tak ada yang berubah dari hubungan kedua anak menantunya itu. "Calya? kurang romantis apa Daddy mu memberi contoh sayang? atau kau tak pernah memperhatikan interaksi suami istri yang benar?."
Axel meringis. "Ayolah momy I'm anti romantic pekerjaan ku terlalu banyak. aku tak sempat memilih panggilan manis untuk nya. lagi pula Calya memaklumi itu."
"Benarkah? you anti romantic."
"Hmmm."
"Akan ku lihat. omong omong jangan lupakan pesta nanti malam."
"Hmm akan ku usahakan."
"Jika kau tidak datang bersama Calya momy akan menyeret mu ke sini."
"Ya momy, I love you."
"I love you more my boy."
"Aku tau."
"Katakan kepada Calya untuk memilih gaun di butik Lisiya. adik mu itu akan datang ke mansion mu untuk menemui teman lama nya. dia sudah terus merengek untuk datang tapi kau selalu mencegah dengan banyak alasan."
"Ya, pengantin baru harus menghabiskan banyak waktu berdua momy."
"Kau tak seromantis itu Ax!." Axel tertawa keras mendengar pekikan momy nya.
Setelah mengakhiri telpon Axel pun melangkah menuju Nuhan. "Nuh katakan kepada Ainsley bahwa malam ini dia akan pergi ke pesta dengan ku. dia harus datang tak peduli walaupun terlambat."
"Akan saya sampaikan tuan."
Calya baru membuka handphone nya pukul 5 sore Karna hari ini ia turut masuk ke ruang bedah. gadis itu mengajukan diri untuk masuk karena keadaan darurat. perawat perawat senior langsung menatap nya dengan tatapan tajam. seolah iri dengan kemampuan nya.
"Mengapa banyak sekali panggilan dan pesan?." Gumam nya dan segera memeriksa. saat akan membaca pesan dari arah belakang seseorang melempar nya dengan sapu.
"Karena hari ini kau ikut masuk ke ruang bedah bukan berarti kau tidak melanjutkan hukuman mu!. tetap bersihkan rumah sakit seperti biasa." Calya terdiam dengan kepala menunduk. ia pun memungut sapu yang tergeletak di bawah kaki nya
"Aku tak berniat melewatkan hukuman. aku hanya ingin mengecek pesan." Tuturnya lembut.
"Junior caper!." Calya mengendikkan bahunya singkat menatap kepergian sang senior.
Karena tak kunjung membalas pesan Nuhan pria itu pun menelpon nya. Calya terkesima dan langsung mengangkat. "Ya Nuh?."
"Nona sudah membaca pesan saya?."
__ADS_1
"Belum, ada keperluan apa?."
"Nona masih di rumah sakit?."
"Ya aku punya sedikit tugas penting."
"Malam ini nyonya besar mengundang tuan dan nona untuk hadir di pesta peringatan pernikahan tuan dan nyonya besar."
"Begitukah? jam berapa di mulai Nuh?."
"Pukul 7 nona."
"Akan ku usahakan tapi sepertinya aku akan datang terlambat. jarak tempuh menuju mansion cukup jauh."
"Baik nona."
Axel sudah pulang ke mansion pukul 6, ia mulai bersiap siap. namun sedari tadi Calya tak kunjung hadir membuat nya bertanya tanya.
"Nuh!." Pria itu pun masuk setelah mendengar panggilan tuan nya.
"Ya tuan? di mana Ainsley?."
"Nona bilang masih ada sedikit tugas, mungkin akan datang terlambat." Terlihat raut wajah Axel tidak bersahabat. "Dia membuat ku menunggu? lagi?."
"Nona bilang akan berusaha---"
"Telpon dan katakan dia harus pulang sekarang!." Wajah Axel terlihat merah. sepertinya dia kesal. ya, kesal karena gadis itu tak ada di setiap ia bangun dan pulang selalu terlambat.
"Tapi tuan, jarak tempuh dari mansion dan rumah sakit 1 setengah jam itu pun jika bus berjalan kencang."
"Tuan yang mengatakan untuk menempatkan nona, di rumah sakit paling jauh dan paling pinggiran di kota ini." Axel menyesali perkataan nya.
"Jadi dia akan terlambat?." Nuhan mengangguk. "Terserah lah, intinya dia harus datang."
"Nona Lisiya sudah menyiapkan gaun yang indah untuk nyonya sedari tadi dia menunggu tapi nona tak kunjung pulang."
"Si bodoh itu masih menunggu?."
"Tidak, nona Lisiya pulang dua jam lalu." Axel mengangguk samar.
"Aku akan berangkat lebih dulu, kau tunggulah sampai dia datang. kabari aku jika kalian sudah sampai di mansion Oma." Nuhan mengangguk.
Tepat pukul 8 malam Calya tiba di mansion tubuhnya remuk. lelah letih bercampur menjadi satu. ia dapat melihat Nuhan menatapnya. "Nuh acaranya sudah selesai?."
"Belum nona, tuan sudah menunggu anda di mansion nyonya besar." Axel terus menghubungi Nuhan bertanya kapan mereka akan datang.
"Haruskah aku datang?."
"Harus nona." Nuhan bisa menilai bahwa nonanya sedang lelah, mata nya terlihat berat cocok sekali untuk tidur.
"Aku akan bersiap siap."
"Ya, penata rias sudah ada di dalam kamar."
__ADS_1
"Terimakasih."
Cukup lama untuk Calya bersiap siap. sepanjang make up ia hanya tertidur. menyerahkan semuanya kepada penata rias. rambut nya di biarkan tergerai indah dengan hiasan di samping kirinya. tak terasa penatarias membangunkan nya. ia pun menyemprotkan parfum dan menggunakan hinghils yang juga telah di sediakan oleh Felisiya.
Para perias itu menatap takjub penampilan Calya namun sang gadis tak banyak menatap dirinya di depan cermin ia merasa sudah sangat terlambat. tepat pukul 9 mereka pun tiba di mansion Oma, tentunya dengan Axel yang sudah naik darah menunggu kehadiran Calya. pria itu terus merutuk di tempat, beberapa orang menanyakan istrinya. bahkan momy nya pun sempat bertanya kemana perginya Calya kenapa mereka berangkat tidak bersama sama.
Axel hanya menjawab bahwa Calya punya urusan. pria yang sudah terlanjur kesal itu pun duduk berdiam diri di pojok karena tampak ia di sisihkan oleh keluarga nya. bahkan Oma nya sempat mengatai Axel suami yang tidak bertanggung jawab. ia semakin kesal di buatnya. momy nya pun sempat berucap di keluarga mereka istri adalah pakaian suami, jadi ke mana mana harus bersama tidak boleh saling berpisah.
"Kakak tidak mengundang Calya? kemana perginya Calya?." Ini bukan pertama kalinya Lisiya datang untuk bertanya, Axel menatap tajam.
"Cari sendiri!." Tuturnya dan segera keluar dari dalam mansion.
"Dasar pemarah!."
Axel duduk dipojok taman dengan wajah kesal. dari jauh ia bisa melihat sorot lampu mobilnya. ia pun berdiri menanti mobil itu datang padanya. Nuhan terlihat membuka pintu mobil untuk Calya. gadis itu keluar dengan begitu anggun. menggunakan dress putih tanpa lengan yang tampak elegan di tubuhnya. Axel terpaku sesaat.
Ia pun melangkah menuju Calya dengan tatapan kosong. sangat kesal rasanya di acuhkan oleh momy nya hanya karena ia datang seorang diri. "Tidak perlu datang! jam berapa ini huh!." Betapa kaget Calya mendengar ucapan menusuk itu. ia pun menatap Axel yang tampak kesal. Nuhan yang merasa tak seharusnya berada di sana pun undur diri.
"Ke mana saja kau? semua orang menanyakan mu dan mulai memusuhi ku!. orang orang menuduhku tidak mengundang mu datang." Kesal Axel matanya terlihat berapi api.
Calya meringis melihat tatapan itu. satu ide muncul di kepala nya. ia mengusap lengan Axel yang tertutup kemeja. "Seharusnya tuan datang bersama ku, lihat penampilan ini." Calya menunjuk pakaian Axel dari atas ke bawah seolah hilang pesona nya. Axel melirik jemari yang mengelus lengan nya.
Berusaha tak menghiraukan itu, Axel masih dengan rasa kesalnya. "Kau bertapa di rumah sakit! apa saja yang kau lakukan sebenarnya! kenapa kau bisa pulang selama ini? bukan kah kau hanya perawat junior biasa?. sial! kau membuat ku menanggung malu!."
Calya mengeluarkan tisu dari dalam tas nya mulai mengilap keringat di dahi dan leher Axel. pemuda itu yang tadinya mengoceh langsung terdiam dengan perilaku Calya. gadis itu mulai merapihkan kemeja dan rambut Axel yang mulai acak acakan.
"Sudah jauh lebih baik." Calya tak menyangka Axel terdiam dengan perilaku nya ia tersenyum miring sepertinya misi yang ia buat tak akan terasa berat.
"Maaf kan aku, sekarang ayo kita ke dalam." Dengan berani Calya menggandeng tangan suaminya itu, pria itu menatap tangan lancang Calya. keduanya pun menjadi sorotan semua orang yang berada di dalam mansion. Axel yang masih mempertahankan wajah datar dan kesal nya pun hanya nurut saja di tarik oleh Calya dengan perasaan yang bertanya tanya, apa yang terjadi dengan gadis itu. ia peroleh dari mana rasa berani barusan.
Calya menghampiri Oma dan momy. kedua wanita itu tampak tersenyum senang ke arah nya. "Dari mana nak?."
"Maafkan aku, tadi ada panggilan darurat dari rumah sakit. sebenarnya suamiku ingin berangkat bersama momy, tapi aku meminta nya pergi lebih dulu karena ku fikir momy akan sedih melihat kami tak kunjung datang. ku fikir setidaknya satu dari kami sudah hadir lebih dulu." Axel mengernyit ketika Calya menyebutnya 'suamiku'.
"Tidak apa, kenapa kau terlihat merasa bersalah?."
"Bagaimana lagi Oma, suamiku baru saja mengadu." Hany terkekeh melihat wajah Axel yang tetap datar.
Calya memeluk Hany hangat. "Selamat hari jadi pernikahan Oma."
"Terimakasih sayang."'
Keduanya duduk di salah satu meja. Axel tetap diam seperti nya rasa kesalnya tak kunjung padam. "Ingin makan sesuatu tuan?." ia mengelus lembut tangan Axel pria itu langsung menepis nya.
"Tidak perlu seperti itu!." Calya tersenyum tipis, seram sekali raut suaminya.
"Barang kali anda lapar katakan saja, aku akan mengambilkan sesuatu."
"Tidak perlu!."
"Anda masih marah?."
"Kau pikir?." Calya mengangguk kecil
__ADS_1
"Ku fikir begitu."
Baru saja Calya akan beranjak mengambil makanan Axel langsung menariknya. "Sekali lagi kau membuat ku menunggu aku tak akan segan-segan untuk melakukan hal buruk kepada mu!."