
Acara pernikahan terus berlanjut, mulai dari pemotongan kue hingga ke sesi sesi menari. calya duduk bersebelahan dengan Felisiya gadis itu terus menatap calya dengan penuh puja. ia sangat terpesona dengan teman cantiknya itu. "Calya, gaun rancangan ku terlihat berkali kali lipat lebih indah jika di kenakan oleh mu. kau sangat sempurna." tuturnya lalu mengacungkan kedua jempol nya.
"Kau memang ahlinya merancang lisiya." Tampak sekali jika senyum yang terukir di bibir calya adalah senyum palsu. ia hanya mampu tertunduk dalam, sedih meratapi nasibnya.
"Begini, ayo kita bicarakan kontrak kerja setelah kau dan kak Axel pulang berbulan madu. kau bisa jadi model butik ku." Calya tertawa renyah, ayolah dia seorang dokter.
"Hmm mari bicarakan itu nanti."
Di sudut sana terlihat Axel menatap calya dengan tatapan tajam. ia tidak suka melihat tingkah laku gadis itu sepanjang hari ini. bersikap seolah olah ia sedang terpuruk. tak ingin membuat sang ibu curiga Axel pun mendekati calya. menarik gadis itu dari hadapan lisiya.
"Kakak aku masih ingin berbicara dengan nya!."
"Dia istriku." Axel menariknya ke tempat yang sepi. "Tuangkan jus itu untuk ku." Perintah nya, masih dengan tatapan tajam. dengan pasrah calya pun menuangkan nya.
Di balik gaun Axel menyentak tangan calya kasar membuat sang empu meringis, memberikan tatapan lekat kepada Axel. "Apa lagi!?."
"Kau ingin semua orang tau bahwa kau terpaksa menikahi ku? jika momy ku curiga aku tidak akan segan untuk menghukum mu dan ayah mu!."
Lagi! lagi dan lagi sikap baru Axel membuat calya terkejut. ia tidak menyangka pria yang awalnya sangat baik itu kini berubah drastis. atau waktu itu Axel hanya memakai topeng? siapa yang tau.
"Aku bukan kau yang pandai berakting, bersembunyi di balik topeng mu!." Ujar calya dan berlalu begitu saja, Axel mengepalkan tangannya erat. ia terus menatap calya yang kini sudah duduk dengan Ingrid.
Malam hari setelah acara itu selesai, tanpa menunggu lama Axel dan calya pun pulang. ya, pulang ke mansion utama miliki Axel. komplek perumahan yang dikhususkan bagi orang orang yang mampu saja. daerah nya masih asri jarak rumah yang satu dengan yang lain pun terpaut jauh.halaman yang terkesan luas seperti lapangan sepakbola, serta bangunan besar yang seperti istana.
Baru saja mobil Axel berlalu pergi. kini mereka duduk bersebelahan. nuhan di bangku depan seorang diri menyetir, Axel bukan lah tipe yang akan menyetir mobil sendiri jika itu tidak penting. sepanjang jalan mereka hanya saling diam.
Sampai tiba la mereka di sebuah pagar tinggi menjulang, tertera nama besar di gerbang itu. "Axel Devo Emilio." Kira kira itu lah tulisan nya karena sudah sangat larut jadi tak terlalu terlihat.
Begitu gerbang di buka, mata calya di suguhkan pemandangan yang tidak pernah ia lihat. rumah yang sama seperti di buku dongeng. jarak dari gerbang ke pintu utama saja sangat jauh. menggapai nya harus dengan kendaraan agar tidak lelah. Calya berfikir, di halaman itu ia bisa menggelar pertandingan sepak bola. orang kaya memang memiliki selera yang aneh.
__ADS_1
Begitu pintu mobil terbuka puluhan pelayanan dan bodyguard berbaris rapih menyambut kedatangan tuan dan nonanya. calya meneguk ludah susah payah, ia tidak mengira akan masuk ke dalam labirin kehidupan miliarder seperti Axel.
"Selamat atas pernikahan tuan dan nona." Ujar mereka serempak. calya hanya tersenyum kikuk, sementara Axel memasang wajah datar.
Nuhan berdiri di sisi pelayan yang terlihat jauh lebih berumur namun tetap berwajah tegas. "Nona, ini adalah kepala pelayan di mansion ini. bibi Moa. beliau sudah bekerja sangat lama dengan keluarga Emilio, pengalaman nya tidak bisa di ragukan. selama di sini bibi Moa akan mengurus segala kebutuhan nona." Calya mengangguk kecil.
Setelah semuanya berkenalan, manik calya tertuju kepada bodyguard baru yang berada di barisan paling belakang, katanya dia sedang training. ia seperti kenal namun lupa siapa pemuda itu. akhirnya calya memilih masuk mengikuti langkah Axel.
Untuk sampai ke kamar Axel saja mereka harus menaiki banyak anak tangga. calya terus diam, ia tidak mengeluarkan komentar apa pun hingga kini.
Begitu keduanya sampai di dalam kamar langkah Axel terhenti. ia berbalik dengan wajah datar nya. wajah tanpa ekspresi apa pun, tatapan nya pun terkesan sinis.
"Untuk apa mengikuti ku?." Satu alisnya terangkat tinggi, terkesan sangat sombong di mata calya.
"Nuhan!." Teriak Axel membuat pria itu masuk.
"Bawa dia ke kamar nya." Alis calya terangkat, ia sangat kaget mereka tidak tinggal di kamar yang sama namun sedikit bersyukur.
"Setelah kau selesai dengan urusan mu, ikuti nuhan. kita bertemu di ruang kerja ku!." Calya mengangguk kecil dan pergi.
Satu jam berlalu, kini gadis itu sudah berada di ruang kerja Axel. namun sang empu belum tiba di sana, terdengar derit pintu. masuk lah Axel dengan ponsel terhubung di telinga nya. mungkin dia sedang menelpon.
Pemuda itu duduk dengan angkuh di bangku putar, masih mendengarkan ucapan si penelpon namun maniknya terus menatap calya lekat. "Hmm nuhan akan membereskan nya." Ucapan Axel sebelum mengakhiri telpon tersebut.
Kini tatapan Axel beralih kepada nuhan sekertaris nya. "Kau boleh pergi." Ujarnya kemudian. tinggal lah calya seorang diri di sana bersama dengan Axel.
Axel itu memiliki aura yang sangat mendominasi seakan akan ia dapat merenggut nyawa seseorang bahkan hanya dengan menatap nya. Calya menelan ludah nya, mata yang kian menatap Axel mulai menunduk.
"Apa yang kau pikirkan setelah semua ini terjadi?." Axel masih mempertahankan wajah datar nya.
__ADS_1
"Apakah aku terlihat benar benar tertarik dengan mu dulu?." Ia tersenyum remeh, calya dapat melihat itu dengan jelas.
"Baiklah, akan ku perjelas semuanya."
Axel mengambil spidol dan berjalan menuju papan putih yang tersedia di sana. membuat sebuah gambar, terlihat seperti pintu ruangan dengan seorang lelaki yang terlihat mengintip di luar. "Jika kau benar-benar teman lisiya sepertinya kau sudah tau tentang aku kurang dan lebih."
"Aku tidak memiliki keinginan walau sedikit untuk menikah. dan tidak ada sedikit pun niatan ku untuk menikahi mu sedari awal. biar ku beri tahu alasan ku menikahi mu." Axel berjalan mendekat.
"Waktu itu aku baru saja tiba di rumah sakit, aku mendengar percakapan antara mom dan dad. dari yang ku tangkap, sepertinya momy menyukai mu. dia ingin kau dan aku berjodoh. sebagai anak yang baik aku pun mewujudkan nya." Tangan calya terkepal, semudah itu? apakah Axel tidak tau ia sedang mempermainkan hidup dan perasaan seorang manusia?
"Karena ku lihat kita sepertinya memiliki awal pertemuan yang bagus, ku fikir kau akan mudah untuk di ajak bekerjasama. namun aku salah, kau mempermalukan seorang Axel! hingga detik ini aku bersumpah untuk menyiksa mu di dalam hidup ku." Senyum devil Axel tercetak.
"Bukan sekali aku mengajak mu menikah dengan cara yang baik, namun sudah tiga kali. tapi kau menolak ku seakan akan aku benar benar mengemis pada mu. karena sikap mu yang menjengkelkan aku pun semakin bertekad untuk menghancurkan kau!."
Calya membuang wajah nya, ia menahan rasa kesal yang terus memenuhi hati. ingin sekali rasanya ia menampar pipi Axel saat ini. "Sudah mengerti kan? aku menikahi mu karena momy ku menyukai mu. hanya itu, jadi ku harap kau harus bisa terlihat baik baik saja di depan nya. jika dia curiga dengan hubungan kita maka aku tidak akan segan segan untuk menghukum mu. maka dari itu mohon kerjasama nya nona Ainsley."
Calya sudah sangat terbakar di tempat. suhu ruangan yang dingin tidak lagi terasa sejuk di tubuh nya. "Welcome to my life Ainsley." Axel tersenyum miring.
"Biar ku beri tau, aturan yang harus kau patuhi selama menjadi istriku. aku tidak suka orang asing berada di dalam kamar ku, jadi jangan coba coba untuk masuk ke dalam sana jika kau masih ingin bernafas. aku tidak suka tangan kotor mu menyentuh barang barang ku yang berharga. aku tidak ingin kau mencampuri urusan ku. dan terakhir, ini adalah perintah, aturan, batasan dan larangan. kau di larang keras untuk mencintai ku!."
"Aku pun tidak berniat untuk melakukan nya." alis Axel terangkat, ia tersenyum miring. dari sekian banyak kalimat ia baru mendapatkan respon dari sang empu.
Axel mengangguk kecil. "Baiklah, aku tidak perlu merasa terganggu karena perasaan mu itu."
"Kalau begitu aku juga punya aturan!." Siapa yang menyangka calya mengucapkan hal itu, Axel terlihat tersenyum miring. "Katakan."
"Jangan larang aku untuk bertemu dengan ayah ku! pulihkan kembali posisi ku di rumah sakit! dan seperti kau yang tidak suka aku mencampuri urusan mu, maka aku juga tidak ingin kau mencampuri urusan ku."
"Itu lebih terdengar seperti perintah di telinga ku." Axel berdecih. "Sikap dan akting mu akan menjadi bahan pertimbangan ku untuk menyetujui itu. akan ku setujui jika kau mampu membuat mom percaya tentang hubungan kita."
__ADS_1
"Sekarang, keluar lah."