Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
awal prasangka buruk


__ADS_3

"Naaam!! Tunggu!!" ujar seseorang lantang yang memanggilnya.


Namira menengok kearah suara dan ternyata itu adalah temannya yang bernama Widya.


Widya ngos-ngosan karna mengejar Namira dari ruang depan kampus hingga ke parkiran motor.


"Ada apa sih Sampe lari-lari begitu?" Ujar Namira bingung


Widya masih mengatur nafasnya untuk mulai bicara "Lo abis ngampus mau kemana? Lo ada waktu gak? Kalo ada anter gw ke toko buku bentar yuk buat nyari referensi buat tugas nanti"


"Ya biasa gw abis ngampus langsung pulang.. kalo mau dianter ke toko buku ayok tapi gw gak beli apa-apa soalnya gak ada duit wkwk"


"Iya tenang aja.. ayo buruan"


"Yaudah naik.. nih jangan lupa pake helmnya" ujar Namira sambil memberikan helm pada Widya


Widya memakai helm ke kepalanya "ayok" ujarnya sambil menaiki jok belakang motor. Btw Namira yang nyetir motornya ya.


Mereka berdua langsung cabut dari kampus menuju ke toko buku. Melewati jalanan yang dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang, Namira memberhentikan motornya disalah satu mall terkenal di kota Bogor. Lalu memarkir kan motornya sebelum masuk ke area mall.


Dengan bergandengan tangan, Namira dan Widya menyusuri mall untuk menuju ke Gramedia. Akhirnya mereka sampai di toko buku tempat Widya ingin membeli referensi buku buat tugas.


"Lo mau beli buku apaan?" Tanya Namira pada Widya yang sedang memilih buku.


"Eummm.. buat tugas sosiologi gw sih.. tapi gw belum Nemu materi yang cocoknya" jawab Widya sambil memilah-milah buku


Namira hanya mengangguk dan melihat sekeliling toko buku tersebut. Dia tidak mau mengganggu temannya yang serius memilih buku.


Namira agak bosan jadi dia meminta ijin pada temannya untuk berkeliling di toko buku.


"Wid.." Widya nengok kearah Namira "hmmm"


"Gw mau kesana dulu ya.. liat-liat doang si hehe.. lu terusin milih buku aja tar kalo udh selesai panggil gw"


"Yaudah jangan jauh-jauh ya.. tar gw susah lagi nyari Lo nya"


"Yaudah gw kesana dulu ya" Widya mengangguk pelan. Namira menuju ke rak yang penuh buku tentang seni-seni karna dia anak seni rupa jadi gak heran dia suka terhadap Seni.


Dengan serius dia melihat gambar gambar yang ada dibuku yang dia baca.. entah kenapa, lama-lama perasaan dia jadi gak enak seperti akan terjadi sesuatu.


Namira heran kenapa dirinya tiba-tiba ada prasangka seperti itu. Dia mengecek ponselnya takut terjadi apa-apa dan sialnya hp dia habis baterai jadi mati total. Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruknya dan melanjutkan membaca bukunya.


***


Seorang pria tampan yang sedang berada di tempat rahasia di mana banyak sifat buruknya terkumpul di tempat itu. Dia menyusuri ruangan tersebut dan masuk ke salah satu kamar yang berisi anak-anak usia 5-10 tahun. Dia memperhatikan anak-anak tersebut tanpa rasa kasian. Anak-anak itu menangis karna tidak pulang kerumah mereka dan disandera di ruangan terpencil.


Pria ini bernama Abraham Samad berusia 32 tahun. Pria berdarah Turki Indonesia ini adalah salah satu bos dari perusahaan terkenal di kotanya. Dia tinggal di kota metropolitan Jakarta. Tapi ada salah satu hobi yang sangat aneh menurut orang-orang. Menculik orang-orang yang gak bersalah lalu menjualnya ke rekan atau musuh bisnisnya.


Kini dirinya sedang memperhatikan anak-anak yang sedang menangis karna terpisah dari keluarganya. tanpa belas kasian dia membentak anak-anak tersebut.


"Apa kalian tidak bisa diam!! Kalo kalian terus menangis akan saya potong lidah kalian Mau???!!!!" Bentak Abraham.


Anak-anak yang ada diruangan tersebut seketika terdiam karna takut terhadap ancaman Abraham. Karna mood Abraham lagi baik, jadi dia tidak mau menyiksa anak-anak yang tidak bersalah itu. Lalu Dia meninggalkan ruangan tersebut dan berkumpul dengan anak buahnya.


Abraham duduk di kursi kebesarannya sambil menikmati secangkir kopi panas yang sudah disediakan oleh pelayannya.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Tok.. tok.. tok..

__ADS_1


"Masuk!"


Seorang pria bernama Toni Setiawan yg merupakan anak buah dari Abraham Samad memasuki ruangan bosnya dengan penuh semangat. Karna dia akan memberikan informasi yang menurutnya sangat menarik untuk diberikan pada bosnya.


"Ada apa?" tanya Abraham cuek


"Ini tuan, saya sudah menyiapkan foto target yang sedang tuan cari. Ada anak-anak, ada remaja, bahkan beberapa gadis cantik tuan"


"Bagus.. mana laporanmu?"


"Baik.. ini tuan silahkan di lihat dulu, disitu ada data lengkap beserta fotonya.. tuan bisa pilih sesuka hati tuan"


"Oke.. kerja bagus! Sekarang kamu boleh pergi"


"Baik tuan.. saya permisi" pria tersebut langsung keluar dari ruangan bos nya.


Kini Abraham sedang memilah data dan foto yang sudah diberikan anak buahnya untuk dijadikan target penjualannya.


Kini dia tertarik pada satu foto gadis sederhana yang menurutnya sangat menarik.


"Menarik sekali" ujar Abraham tersenyum seringai


***


Widya sudah selesai memilih buku yang dia perlukan untuk tugas sosiologi nya. Dan kini dia sedang mencari Namira yang terpisah sejak dia memilih buku. Menyusuri rak demi rak, dan akhirnya dia menemukan Namira di rak belakang, yang sedang membaca buku serta melihat gambar-gambar yang ada disekitar rak belakang.


"Woy.. gw cari-cari ternyata Lo di sini" mendengar suara Widya, Namira nengok keatas dan benar itu adalah Widya.


Namira langsung berdiri dan nepuk-nepuk bokong yang kotor karna tadi dia duduk dilantai "Lo udah Nemu bukunya?"


"Udah.. ini bukunya" ujar Widya sambil melambaikan tangan berisi buku yg dia bawa. "Ayok ke kasir.. dan langsung balik"


"Gw tunggu Lo diluar aja ya.." ujar Namira pelan.


"Oke" Namira keluar dari toko buku tersebut dan menunggu Widya yang sedang antri untuk membayar buku yang dia beli.


Kebetulan antrinya lumayan panjang jadi Widya agak sedikit lama. Setelah selesai Namira dan Widya menuju parkiran motor untuk pergi pulang.


Diperjalanan pulang dia menceritakan pada Widya apa yang dia rasakan saat tadi di toko buku.


"Wid!"


"Apa?!"


"Tadi gw tiba-tiba ada perasaan aneh.. gak tau apaan tapi kaya gak enak aja gitu.. kaya mau ada kejadian yang gak enak"


"Mungkin hawa Lo doang kali.. jangan sampe kejadian sesuatu deh.. udah jangan dipikirin, Lo fokus nyetir aja"


"Oke" Namira langsung gass poll bawa motornya.


Namira mengantar Widya terlebih dahulu pulang kerumahnya.


"Nam, makasih ya udah anter gw"


"Iya sama-sama kek sama siapa aja Lo"


"Lo gak mau mampir dulu? Makan dulu atau apa kek" tawar Widya


"Ngga deh.. gw mau langsung pulang aja.. salam buat papa Lo ya.. gw balik dulu"

__ADS_1


"Yaudah hati-hati" Namira langsung bergegas untuk pulang kerumahnya.


***


Namira memarkirkan motornya samping rumahnya. Turun dari motor lalu menuju pintu depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum.. ayu pulang!" Sambil menutup pintunya


"Waalaikumussalam.. kamu baru pulang?"


"Iya Bu" menyalami tangan ibunya "oh iya Bu.. apa semuanya baik-baik aja?" Lanjut Namira


"Iya semua baik-baik aja.. tumben kamu nanya kaya gitu?"


Apa Namira harus kasih tau ibunya tentang prasangka buruknya itu? Ah tidak, nanti aja.. takutnya nanti kalo dia mengadu pada ibunya akan menambah beban pikiran aja.


"Ehh ngga Bu, ngga ada apa-apa ko.. oiya adek udah pulang sekolah?"


"Udah dari siang tadi pulang.. yaudah kamu sana ganti baju abis itu sholat ashar" perintah Aisyah (ibu Namira dan Nanda)


"Iya Bu" Namira menuju kamarnya untuk ganti baju, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat adiknya baik-baik aja. Nami udah lega, langsung masuk ke kamarnya.


Namira menaruh tasnya diatas meja belajarnya lalu langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih serta untuk siap-siap sholat ashar


Ketika selesai sholat dia berdoa pada Allah SWT supaya perasaan ini gak jadi kenyataan dan meminta agar semua anggota keluarganya dilindungi dari orang-orang yang jahat.


**


"Gimana bos udah pilih target selanjutnya siapa?" Ujar Toni anak buahnya


Abraham hanya diam seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia tertarik pada salah satu foto yang Toni bawa tadi. Tapi, dirinya tidak ingin menjualnya pada siapapun, dia hanya ingin untuk dirinya sendiri. Entah perasaan seperti apa yang merasuki diri Abraham ketika melihat foto gadis itu, seolah-olah seperti ingin memilikinya secara utuh.


"Gimana tuan?" Ujar Toni sekali lagi.


Abraham yg terdiam langsung membenarkan posisi duduknya lalu menatap wajah Toni dengan serius.


"Kenapa tuan ada masalah?" Tanya Toni karna melihat raut wajah Abraham yang sangat serius.


"Oh tidak, tapi sepertinya saya tertarik pada satu gadis yang kamu bawakan.. dan saya juga sudah baca data gadis tersebut sesuai informasi yang kamu kasih ke saya" ujar Abraham.


"Benarkah tuan? Gadis mana yang tuan pilih??"


"Saya mau yang ini" ujar Abraham sambil menunjukan foto pada Toni


"Woww.. tuan pandai sekali memilih gadis cantik, Jadi gimana apa tuan tertarik untuk dijadikan sebagai target penjualan kita selanjutnya?"


"Iya.. tapi saya tidak mau menjualnya"


Toni kaget mendengar ucapan bosnya itu "loh,, kenapa tuan tidak mau menjualnya?"


"Tidak tau.. yang pasti saya ingin memilikinya sendiri"


Toni terdiam sejenak, tapi dia juga tidak mau membantah apapun perkataan dari bosnya "baiklah tuan, jika tuan berkata seperti itu, saya akan bawakan gadis itu pada tuan"


Abraham tersenyum menyeringai "baik.. tapi saya tidak mau kamu membawanya dengan paksaan"


Toni terheran akan ucapan bosnya tersebut "tapi gimana tuan cara membawa gadis itu?"


Abraham terkekeh kecil "saya punya rencana bagus.." ujarnya smile smirk.

__ADS_1


__ADS_2