Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
Kebebasan Nanda


__ADS_3

Setelah Namira bernegosiasi dengan Abraham untuk melepaskan adiknya, akhirnya dia menyetujui untuk melepaskan adiknya Namira. seperti rencana awal, sebenarnya Abraham mengincar kakaknya yaitu Namira bukan adiknya. Adiknya hanya sebagai sandera agar Namira menghampirinya tanpa harus dipaksa.


Tapi sebelum kembali, Nanda mulai menjalani pengobatan. Sesuai janji Abraham akan mengobati luka Nanda sampai sembuh total.


Betapa senangnya sekarang adiknya bisa bebas. Mungkin jika kalian tanya Nanda ada bekas trauma gak? Pasti ada, terutama Nanda masih berumur 8 tahun perasaannya masih bener-bener sensitif banget. Jadi untuk mengobati traumanya Nanda harus menjalani pengobatan psikis agar mentalnya kembali normal.


"Kak ayu," panggil Nanda pelan.


"Iya kenapa dek?" Ujar Namira sembari menoleh ke arah adiknya.


Nanda menatap wajah kakaknya dengan berbinar penuh kebahagiaan "makasih ya kak, udah Dateng nyelametin aku," Nanda menunduk. "mungkin kalo kakak gak kesini aku udah mati disiksa," lanjut Nanda sambil memeluk kakaknya.


Namira menenangkan adiknya "hushh kamu jgn ngomong kaya gitu.. yang penting kamu selamat, apalagi sekarang lagi berobat, nanti jg bisa sembuh ya," ujarnya sembari membalas pelukan adiknya.


"Hehe iya ka.k. aku juga udah kangen ibu sama bapak"


"Iya kamu sabar ya.. kalo kamu udah bener-bener sembuh pasti akan pulang kok" ujar Namira.


"Iya kak hihi," Namira berhasil meyakinkan adiknya untuk terus bersemangat lagi.


Melihat adiknya kembali ceria dia sangat bersyukur sekali semoga dia selalu ceria seperti ini.


Hari demi hari mereka lalui dan menghabiskan waktu mereka di rumah sakit. Namira masih setia menemani adiknya untuk bisa sembuh. Ia juga mengantarkan dan menemani adiknya menjalani terapi psikologi agar tidak mengalami trauma berat.


Setelah dua Minggu menjalani pengobatan, Nanda sekarang kembali pulih, luka lebam sudah hilang semua dan yang paling penting psikis Nanda kembali normal. Melihat raut wajah adiknya yang bahagia membuat dirinya senang dan terharu. Walaupun ia harus mengorbankan dirinya, namun itu tidak masalah selagi adiknya dan keluarganya aman.


***


"Tuan, apakah tuan ingin melepaskan anak itu?" ujar Toni seperti tidak suka akan tindakan Abraham.


Abraham menatap aneh Toni "ya, emangnya kenapa? Sesuai rencana kan?" ujarnya Enteng.


Toni menghela nafas "saya kira, anak itu akan kita jual," ujarnya pasrah.


Abraham tidak memperdulikan Toni, karena memang, ia menculik Nanda untuk memancing Namira datang menemuinya secara langsung dan menyodorkan dirinya sendiri tanpa di paksa. Jadi ia tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk itu. Tak ingin berlarut, Abraham kembali fokus pada pekerjaannya yang masih menumpuk.


***


"Kakak, kapan kita pulang? Aku udah kangen bapa sama ibu," Ujar Nanda pelan.


Nanda sangat suka bermanja pada kakaknya seperti menaruh kepalanya ke bahu kakaknya.


"Sabar ya dek.. kamu harus benar-benar sembuh dulu baru boleh pulang"


Nanda protes ucapan kakaknya "tapikan aku udah sembuh kak, tolong kak, Kakak bilang sama om itu buat pulangin kita"


Namira menghela nafas karena kelakuan adiknya.. sifat resenya mulai muncul lagi "iya nanti kakak bilang ya.. udah kamu istirahat biar sembuh oke?"


Nanda mengangguk, Namira hanya meyakinkan supaya Nanda bisa fokus pada pengobatan supaya cepat sembuh.

__ADS_1


***


Aisyah dan Ahmad benar-benar sangat terpuruk. Anak sulung dan anak bungsunya sama-sama menghilang.


Sudah 2 Minggu anaknya hilang, melapor kepolisian juga gak ada respon. pihak sekolah Nanda ikut mencari tapi belum ada hasilnya.


"Pak, udah 2 Minggu anak kita gak pulang hiks.. ibu khawatir sama mereka pak heuheuheu," Aisyah menangis di pelukan suaminya.


Ahmad terus mengelus punggung istrinya agar lebih tenang. Walaupun dirinya juga sama sangat mengkhawatirkan kedua anaknya yang menghilang tiba-tiba "Udah Bu, jangan nangis terus, ibu juga harus liat kondisi kesehatan ibu ya.. bapak gak mau ikut sakit.. ibu berdoa supaya Ayu dan Nanda kembali dengan selamat"


Aisyah pun menghapus air matanya dan mengangguk menyetujui perkataan suaminya itu "Aamiin ya Allah"


***


Namira memberanikan diri untuk menghadap ke Abraham untuk menagih janji melepaskan adiknya.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk"


Namira berusaha setenang mungkin, lalu membuka knop pintu dan menampilkan seorang pria tampan yg sedang serius bekerja.


Abraham menatap Namira aneh "ada apa?"


"Saya mau memenuhi janji anda ke saya"


"Janji apa?"


Abraham menyeringai ketika melihat wajah gadis itu "Ouh oke.. sebagai pengganti kau harus jadi pelayanku gimana?" ujar Abraham sembari menyenderkan tubuhnya ke bangku kebesarannya.


Namira terdiam sejenak "gimana kamu mau? Kalo gak mau ya gapapa.. biar adikmu akan ku bunuh," ujar Abraham santai.


Namira terkejut "jangaan!!!" Namira menarik nafas dalam-dalam "Baiklah.. yang penting adikku bebas," akhirnya Namira terpaksa menyetujui persyaratan tersebut.


"Oke silahkan kalian boleh pergi dan akan diawasi oleh anak buahku.. tapi kau harus kembali kesini.. mengerti?!"


"Baik tuan mengerti.. kalo gitu saya permisi dulu"


Namira keluar dari ruangan Abraham menuju ke tempat adiknya.


Namira melihat Nanda yang sedang asik bermain. "Nanda!"


Nanda menoleh ke arah Kakaknya "iya kak, kenapa?"


"Ayo kita pulang!" Ujar Namira antusias.


"Beneran kak? Kita pulang?" Namira mengangguk "horeeee kita PULAAANGG!" Nanda sangat senang sekali.


"Ayo kita siap-siap"

__ADS_1


***


Nanda tak henti-hentinya menyebarkan senyuman. Karna saking bahagianya bebas dari sandera.


"Kak akhirnya aku bebas!!" ujarnya dengan riang.


"Iya dek.." jawabnya sekenanya. Ia masih memikirkan perjanjian aneh itu. Apa ia sanggup menjalani kehidupan barunya di sana? Hanya tuhan yang tahu.


"Makasih ya kak, udah menyelamatkan aku..."


Namira melihat ke bawah mengarah ke adiknya. Lalu senyum tipisnya mengembang disela bibirnya sesekali mengelus rambut adiknya itu "Iya sayang.. udah jangan dibahas lagi, ayo kita pulang..."


"Ayooo!"


Namira melakukan motornya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan dan halangan yg menghadang.


Untuk sementara mereka beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan. Ada banyak tukang jualan juga.


"Kak, aku mau beli telor gulung"


"Iya.. nih uangnya"


Nanda langsung ambil uang kakaknya untuk membeli telor gulung. Sepertinya rasa takutnya mulai teratasi.


"Bang, beli telor gulung 5 ya"


"Baik Jang"


(Bikin telor gulung)


"Ini dek"


"Makasih pak.. ini uangnya"


Setelah jajan, adiknya menghampiri kakaknya.


"Udah belinya?" Tanya Namira


"Udah kak, kakak mau?" sambil menyodorkan makanan "kakak udah kenyang, kamu abisin aja"


***


"Panggil Toni.. suruh menghadap ke saya," perintah Abraham pada anak buahnya.


"Baik tuan"


Tak berapa lama Toni muncul "ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Toni pada Abraham.


Abraham menoleh kearah Toni "kamu awasi gadis itu, jangan sampai dia kabur.. pastikan dia kembali ke rumah ini," ujarnya tegas.

__ADS_1


"Baik tuan, saya akan awasi gadis itu dari jauh.. kalo begitu saya permisi"


Abraham mengangguk pelan, Toni segera mengikuti perintah bosnya untuk mengikuti gadis itu. Dan sekarang dia sedang mengawasi kakak beradik ini dari jauh.


__ADS_2