Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
Nanda diculik?


__ADS_3

Suara adzan subur menggelegar untuk membangunkan umat muslim untuk mengerjakan sholat shubuh.


Termasuk keluarga Namira yang sudah berkumpul untuk sholat subuh berjamaah tapi Namira belum muncul juga.


"Ayu mana Bu? Ko belum keluar juga? Ibu udah bangunin dia?" Tanya Ahmad pada istrinya (bapak Namira dan Nanda)


"Udah pak, tadi Ibu udh bangunin dia berkali-kali tapi belum bangun juga" ujar Aisyah


Ahmad menghela nafas karna mendengar kelakuan anak perempuannya yg sulit bangun shubuh. "Dek, kamu coba bangunin kakak kamu buat sholat subuh bareng"


Nanda mengerucutkan bibirnya "tidak mau pak, biar aja kakak bangun sendiri"


"Ehh kamu gak boleh gitu.. ayo bangunin kakak kamu" ujar Ahmad


"Yaudah iya.." Nanda melangkahkan kakinya ke kamar Namira dengan malas.


Tok.. tok.. tok..


"Kakak!! Bangun udah shubuh!" ujar Nanda teriak.


Dia memutar knopnya dan ternyata tidak terkunci, Nanda langsung masuk ke kamar kakaknya dan melihat kakaknya masih tidur pulas..


Nanda menyeringai memikirkan ide jahil untuk membangunkan kakaknya.


Perlahan mendekati kasur Nami lalu naik keatas kasur daaaannn...


Nanda melompat-lompat kegirangan sambil meneriaki Kakaknya agar bangun.


"Kaaaaaakkk!! Bangunnn kebo banget siii!"


"Ayo banguuuuunn!!" Ujarnya sambil melompat-lompat diatas kasur.


Namira yang terusik akhirnya bangun juga. dengan memasang wajah kesal pada adiknya yang sudah membangunkan dengan cara seperti itu.


"(Menguap) Lo bisa gak si bangunin gw pake cara halus dikit?" Namira kesal karena adiknya membangunkan dirinya dengan cara seperti itu.


"Abisnya kakak tidur kaya kebo susah banget dibangunin.. buruan bangun ibu sama bapa udah nunggu buat sholat shubuh" ujar Nanda santai tanpa memasang muka bersalah.


Namira dengan kesal langsung menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Kaaakk.. aku ke Ibu Bapak ya.. Kakak jangan tidur lagi"


"Iyaaaaa!" Teriak Nami dari arah kamar mandi.


"Udah bangun kakak kamu?" Tanya Ahmad pada Nanda anak bungsunya


"Udah.. lagi mandi tar juga keluar"


Tak lama Namira muncul dengan mukena yang menempel dibadannya sambil memasang muka kesal ketika menatap adiknya.


"Nahh ayo kita mulai jamaahnya"


"Allahu akbar"


***


"Pak, Bu.. aku berangkat dulu ya ada kelas pagi soalnya" ujar Namira sambil menyalami orang tuanya


"Kaaakk, bareng ih berangkatnya"


Namira menatap adiknya kesal "gak mau ah.. berangkat aja sendiri"


Adiknya gak mau kalah dan mengadu pada bapak "ih gitu.. bapaaaakk tuhh Kakaknya gak mau bareng aku"


"Hushhh jangan berisik.. yaudah ayu anterin dulu Nanda kesekolahnya abis itu kamu berangkat kuliah" ujar Ahmad


"(Menghela nafas) yaudah ayo" Namira keluar duluan untuk manasin motornya


"Aku berangkat dulu ya" ujar Nanda


"Iya dek hati-hati ya.. nurut sama Kakak"


"Oke" Nanda berlari keluar rumah menuju Namira yg sedang memanaskan motor


"Ayok kak berangkat" ujar Nanda semangat


"Iya bentar lagi dipanasin dulu motornya"


Seketika hening, Nanda sedang melihat Namira dan sekelilingnya, sedangkan Namira fokus pada motornya tapi tiba-tiba perasaan gak enak itu muncul kembali.


Seketika Namira tersadar langsung menggelengkan kepalanya untuk menghapus prasangka yang buruk.


Nanda bingung melihat tingkah aneh Kakaknya "kak ayu kenapa? Kok geleng-geleng kepala?"


"Hah?? Gak ada apa-apa kok.. yaudah ayok berangkat"


Namira dan Nanda berangkat pakai sepeda motor. Pertama dia harus mengantarkan adiknya ke sekolah terlebih dulu baru ke kampusnya.


Namira sampai di gerbang sekolah adiknya dan menyuruh adiknya turun


"Kak, aku sekolah dulu" sambil menyalami kakaknya


"Kamu belajar yg bener,"


"Iya kak" Nanda berlari menuju ruang kelasnya. Namira memerhatikan adiknya


Namira menyalakan motornya kembali namun tiba-tiba muncul perasaan seperti ada yg memperhatikannya dari jauh. Namira langsung celingak-celinguk mencari siapa yg mencurigakan tapi tidak ada satupun yg menurutnya curiga. mungkin cuma perasaannya aja.


Nami menghela nafas untuk menetralkan pikirannya dan lalu menancapkan gas untuk berangkat ke kampus.


Ternyata perasaan Namira benar, ada seseorang yg sedang memperhatikannya dari jauh.


"Target sudah terdeteksi" ujar seseorang berpakaian tertutup yang ada di dalam mobil.


***


Namira sudah sampai diparkiran kampusnya, lalu menuju ke ruang kelasnya karna ada kelas pagi.


Ditengah jalan ada yang menepuk pundaknya "woy" Namira terkejut dan ternyata itu adalah Widya sahabatnya.


"Lo ada kelas pagi?" Tanya Widya


"Ada.. gw ke kelas dulu ya takut telat soalnya" ujar Namira terburu-buru.

__ADS_1


"Yaudah.. tar istirahat gw tunggu di kantin ya"


"Oke" Namira langsung berlari menuju ruang kelasnya


Btw Namira dan Widya itu saling kenal ketika masih masa ospek. dulu mereka berdua satu gugus dan satu kelompok makanya jadi Deket. dan mereka berpisah ketika ospek selesai karna mereka beda prodi jadi beda fakultas dan beda kelas juga. tapi walaupun begitu mereka tetap bersama-sama.


Namira sudah sampai keruang kelasnya tepat waktu, dan mata pelajaran pertama pun dimulai.


***


Jam istirahat pun tiba, kini Namira dan Widya sedang berada di kantin


Seperti biasa Namira memesan mie ayam dan teh manis kesukaannya.


Mereka berdua terdiam karena sedang makan. bagi mereka makan sambil bicara itu gak boleh (pamali).


Setelah selesai Namira menceritakan tentang suasana hatinya yg gak enak dari kemarin.


"Wid.. Lo tau kan gw sempet dapet perasaan yang gak enak kemarin"


Widya menatap wajah Namira dan melihat raut wajah yang serius sepertinya ini bukan main-main "iya emang kenapa?"


"Perasaan itu muncul lagi.. gimana ya Wid, apalagi gw ngerasa kaya ada yang ngikutin gw gitu"


Widya menatap Namira heran "Yang bener lu? Cuma perasaan Lo aja kali"


Namira terdiam "awalnya gw ngiranya cuma perasaan aja tapi gimana ya seolah-olah ada yg ngawasin aja gitu.. gw jadi gak tenang" ujarnya panik


Widya mencoba menenangkan sahabatnya itu "udah Lo tenang dulu, mungkin Lo hanya stress karna faktor lain.. berdoa aja semoga gak terjadi apa-apa"


Namira menghela nafas dan mengangguk, dia setuju dengan ucapan Widya, mungkin karna banyak pikiran jadi berpikir yang nggak-nggak.


***


"Jadi gimana ni bos? Apa kita harus culik langsung gadis itu?"


"Tidak, kalian harus menjalankan yang saya rencanakan"


Toni kebingungan atas ucapan bosnya


"Kita culik adiknya untuk dijadikan sandera bos?"


Abraham mengangguk "oiya tolong kasih tau informasi lengkap tentang gadis itu"


Tiba-tiba ada anak buahnya yang lain masuk keruang dengan terburu-buru "bos.. saya sudah mengumpulkan informasi tentang mereka.. menurut informasi anak kecil itu bernama Nanda Maulana berumur 8 tahun dan bersekolah di SDN Pancasila dan gadis yang bos incar itu adalah kakaknya yang bernama Namira Aulia Ayunda yang sekarang sedang berkuliah di universitas swasta di kota hujan bos"


"Lanjutkan"


"Mereka tinggal di perkampungan kecil di daerah tersebut dan orang tua mereka bernama Ahmad yang bekerja sebagai buruh dan Aisyah sebagai asisten rumah tangga"


"Bagus.. kapan adiknya pulang sekolah?"


"Kira-kira jam 12 siang bos.. berarti setengah jam lagi"


"Oke.. siapkan beberapa orang untuk menculiknya dan taruh dia di ruang pribadi yang sudah saya siapkan"


"Baik tuan.. kalo begitu saya permisi dulu"


***


"Baik anak-anak pelajaran sudah selesai kalian boleh pulang ya" ujar guru


"Iya Bu"


"Yeee pulaaang!"


"Pulang pulang!"


Mereka semua merapikan alat tulis mereka supaya tidak tertinggal.


Dan mereka berbaris untuk menyalami guru mereka.


"Kalian pulangnya hati-hati ya" ujar Bu guru


"Ehh Nan, kamu mau pulang sama siapa?" ujar satria teman Nanda


"Aku pulang sendiri sat"


"Oh gitu.. yaudah aku dulu ya.. dahh"


"Dahhh"


Nanda dengan tenang berjalan untuk pulang ke rumahnya. Tanpa Nanda sadari ada satu mobil yang mengikuti Nanda diam-diam. Nanda menyadari lalu menoleh arah belakang dan dia merasakan ada yang gak beres. Lalu dia mempercepat langkahnya.


Sialnya kenapa siang ini jalanan begitu sepi, biasanya ramai. Nanda mulai takut tapi dia memberanikan diri untuk melewati jalan itu karna jalan itu satu-satunya jalan yang bisa cepat sampai kerumahnya.


Dan dari belakang ada yang memberhentikannya


"Halo dek, boleh bicara sebentar gak?"


Nanda bingung melihat orang itu tapi karna dia baik jadi mempersilahkan orang tersebut bertanya padanya "iya om, ada apa ya?"


"Oh iya.. kamu adiknya Ayu kan?" Kata orang tersebut. ternyata orang ini mengetahui bahwa Nanda manggil kakaknya dengan nama Ayu bukan Nami.


Dan orang yang sedang ngobrol dengan Nanda itu adalah Toni tangan kanannya Abraham.


"Iya om.. tapi emang kenapa ya.. kok om bisa tau kakak aku?"


Toni berjongkok untuk menyamai tinggi badan Nanda "jadi gini, om itu temen kakak kamu.. tadi kakak kamu bilang ke om buat jemput kamu karna khawatir sama kamu pulang sendirian"


"Eummm gitu ya om.. jadi om itu temen kakak aku yang jelek itu?" ujar Nanda polos


Toni sedikit terkekeh mendengar ejekan Nanda "hehe iya bener.. kamu mau pulang bareng om? Kita naik mobil"


"Mau om mau" ujar Nanda kegirangan


"Yaudah ayo masuk ke mobil" Toni menuntun tangan Nanda agar bisa masuk kedalam mobil mewah tersebut.


Yang berada di mobil tersebut hanya Nanda, Toni dan supir pribadi Abraham.


"Ayo berangkat pak"


Tanpa rasa curiga Nanda melihat-lihat jalanan. rasa bahagia menaiki mobil mewah tidak dapat dirasakan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Kamu seneng naik mobil?" Tanya Toni pada Nanda


Nanda nengok kearah Toni dengan tersenyum "iya om seneng, baru pertama kali aku naik mobil"


Saking gembiranya Nanda kecapean dan langsung tertidur.


"Tidurlah anak bodoh, kebahagiaanmu sebentar lagi akan lenyap" ujar Toni sinis


***


"Heh.. bangun! Mau sampai kapan kamu tidur ha?!" Ujar Toni kasar


"Eummhh hoaaammm.."


Nanda celingak-celinguk dan setengah sadar "udah sampe om?"


"Udah ayo turun"


Nanda turun dari mobil tersebut dan kaget ini bukan rumahnya..


"Om, ini rumah siapa? Ini bukan rumah Nanda.. ayo antar Nanda pulang om" ujar Nanda sambil menarik-narik baju Toni


"Diaamm!" Bentak Toni


Nanda terdiam dan takut "awalnya om ini baik banget, ko jadi kasar sih? Bentak-bentak aku" batin Nanda ketakutan


"Ayo ikut!" Ujar Toni sambil narik tangan Nanda


Nanda memberontak pada Toni "GAK! GAK MAU.. AKU MAU PULAAANGG"


"DIAMM ATAU SAYA BUNUH KAMU!" Seketika Nanda terdiam "AYO IKUT!" Lanjut Toni sembari menyarik tangan kecil Nanda.


Nanda menangis ketakutan dia berontak sambil melepaskan tangannya yang ditarik oleh Toni. Nanda kesakitan tangannya diseret oleh Toni.


"Om tangan aku sakit"


Toni langsung menatap Nanda tajam. Nanda menunduk ketakutan melihat wajah Toni yang menurutnya seram.


"Makanya nurut.. ayo cepat masuk"


Nanda mengangguk sambil menangis.


Toni memasuki ruangan besar bosnya Abraham untuk menyerahkan anak kecil ini pada bosnya.


Tok.. tok.. tok..


"Boss boleh saya masuk?"


Tak lama kemudian ada suara jawaban bosnya dari ruangan tersebut.


"Masuk lah"


Nanda masih terus menangis dan Toni jengah ingin rasanya membanting anak ini untuk berhenti menangis tapi dia patuh terhadap bosnya untuk tidak menyakiti anak ini.


"Dengar kamu! (Sambil memegang pundak Nanda) jangan menangis didepan bos saya.. atau kamu akan dibunuh olehnya kalo terus menangis.. udah berenti menangis" ancam Toni


Nanda mengangguk dan mulai menghapus air matanya. Toni lantas membuka pintu ruangan bosnya.


Abraham yang sedang mengerjakan laporan kantornya seketika berhenti melihat Toni masuk membawa seorang anak laki-laki yang dia perintahkan.


"Ini bos anaknya"


Abraham mengangguk, meletakkan kacamata yang menempel dimatanya ke meja. Lalu memperhatikan anak kecil yang berdiri ketakutan di samping Toni.


"Kalo gitu kamu boleh pergi Toni"


"Loh, tuan gak menyuruh saya buat simpan anak ini di ruang pribadi?"


Abraham mulai menghampiri Toni dan memperhatikan anak laki-laki tersebut.


"Saya mau bicara sama anak ini, nanti saya kabari kamu"


Toni mengangguk "baik tuan kalo gitu saya permisi"


Toni meninggalkan ruangan bosnya. Lalu sekarang hanya tersisa Abraham dan Nanda yang sedang ketakutan melihat Abraham.


Abraham menghampiri Nanda, tapi Nanda ketakutan lalu melangkah mundur menjauhi Abraham.


Sebenernya kalo bukan karna kakak dari bocah ini dia gak akan berbuat seperti ini.


Dengan penuh keberanian Nanda mulai mengeluarkan suaranya "O-oomm mau ngapain?" ujar Nanda ketakutan


Abraham tersenyum menyeringai mendengar suara kecil yg keluar dari mulut kecilnya itu. Abraham berjongkok untuk menyamai tingginya dengan nanda dan menatap wajahnya.


"Hm, saya ada perlu sama kamu.. saya harap kamu betah disini"


Nanda dengan lantang menolak "NGGAAKK AKU GAK MAU TINGGAL DISINI, AKU MAU PULAANGG"


PLAAAAKKK..


Tubuh kecil Nanda terpental karna tamparan keras Abraham. Nanda menangis keras dan meracau "Ibuuu hiks... Bapaaakk, kak ayuuu tolong aku heuheu"


Abraham menghampiri tubuh kecil itu dan menarik kerah baju anak itu. Nanda terus menangis minta dilepaskan. Dan Abraham tidak tahan lalu menendang perut kecil Nanda hingga anak tersebut menjerit kesakitan.


"Dengar sini.. saya gak akan segan-segan bunuh kamu kalo kamu gak nurut sama saya.. kamu mau mati? Menangis lah" ancam Abraham.


Nanda yang ketakutan, tubuh kecilnya lebam akhirnya dia terdiam karna takut terhadap Abraham yang hampir membunuhnya.


Nanda mengangguk lemah menyetujui Abraham untuk dijadikan sandera. Lalu gak lama Nanda pingsan karna tidak tahan dengan pukulan yg Abraham berikan padanya.


"Bagus.. begini dong dari tadi" ujar Abraham cuek


Abraham mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Toni.


Tuutt. Tuttt..


"Halo bos"


"Cepat masukan anak ini keruang pribadi yang sudah saya siapkan"


"Oke.. baik tuan segera saya laksanakan"


Abraham menutup telponnya dan melanjutkan pekerjaannya. Untuk Nanda dia gak peduli, dan sudah di ambil alih oleh Toni.

__ADS_1


__ADS_2