Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
alibi Widya


__ADS_3

Abraham yang baru saja pulang dari kantor dengan penampilan yang sedikit berantakan. Ia pun memasuki rumahnya dengan angkuh dan semua pelayan di sana membungkuk untuk memberikan hormatnya. Di sana pun ada Toni yang tiba-tiba menghampirinya.


"Selamat datang bos.."


"Gimana keadaan gadis itu?"


"Dia sedang istirahat.. dokter bilang, sebentar lagi gadis itu akan sembuh"


"Baiklah.. kerjakan tugasmu"


"Baik bos"


Toni pun segera pergi dari hadapannya. Dirinya pun langsung menuju ke kamar untuk membersihkan diri sebelum menjenguk gadis yang sedang terluka itu.


Sementara di penjara, Santi sedang berusaha melepaskan dirinya dari sel tersebut. Dirinya sudah muak tinggal disana seorang diri.


"Hoooyyyy lepaskan gw!!!"


Dirinya menendang, berteriak sekuat tenaga, namun tidak ada yang mendengarkannya. Sampai akhirnya ia terdiam karena kelelahan. Wajahnya sangat marah mengingat ia sangat membenci Namira yang merupakan saingan terberatnya sebagai pelayan.


"Dasar gadis sialan!! Sebab dialah gw ada di sini.. HAAAAAAAA!!! Gw bakal balas Lo!!"


Namun, ia pun kembali mencoba melepaskan diri dari sel tersebut dengan cara mengetuk kuncinya dengan batu berukuran sedang. Ia pun terus menerus membenturkan batu tersebut sehingga membuat besi itu perlahan membuka.


"Berhasil.."


Lalu dengan perlahan ia membuka sel tersebut dan ia pun langsung berlari dengan perlahan sembari melihat-lihat kondisi sekitar.


"Aman.. tunggu gw bocah sialan! Gw bakal bikin Lo nyesel seumur hidup!" Umpatnya sembari berjalan.


Langkahnya terhenti saat mendapati banyak penjaga yang ada di sekitar penjara dan bagian belakang rumah Abraham. Ya, ruangan itu sangat dijaga ketat agar tidak ada yang berani memasuki wilayah tersebut sembarangan. Karena Santi merupakan pelayan terlama, ia pun mengetahui jalan pintas menuju ke dalam rumah. Ia pun segera memutar arah untuk menemukan pintu rahasia tersebut.


Ia pun sibuk mencari pintu tersebut dengan cara meraihnya.


"Mana pintunya?"


"Nah ini dia.."


Ia pun segera membuka pintu tersebut. Pintu itu sedikit kering sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras terdengar. Dengan perlahan ia membuka pintu tersebut, dan berhasil masuk kemudian menutupnya perlahan. Ruangan tersebut sangatlah gelap. Ia hanya dimodalkan dengan lampu senter yang ia temukan di dekat pintu rahasia tersebut.


"Gw harus cepat.."


***


Namira yang sedari tertidur kemudian terbangun saat merasakan badannya mulai merasakan efek obat yang ia minum tadi siang.

__ADS_1


"Awsshhhh" ringisnya.


Namira tak langsung bangun, ia kembali menatap langit-langit seraya menghela nafas beratnya "kenapa hidupku berat sekali?" Batinnya.


"Sepertinya aku akan seperti ini sampai mati" ujarnya putus asa.


Ia sudah tidak ada semangat hidup lagi. Bahkan rasa rindu pada keluarganya mendadak hilang dikarenakan kejadian buruk yang menimpanya. Daripada ia harus menyakiti perasaan keluarganya, lebih baik dirinya mati lebih dulu.


Kemudian, pintunya terbuka secara tiba-tiba dan membuat Namira seketika terkejut. Ia membulatkan matanya saat melihat seseorang yang sudah memasuki ruang kamarnya.


"Tuan?" Lirihnya ketakutan.


Yang masuk itu ternyata Abraham. Dia hanya memakai kaos serta celana training panjang. Dengan wajah dinginnya, pria itu mengunci pintu kamar tersebut dan perlahan mulai mendekati Namira yang masih berada di atas tempat tidur.


Melihat Abraham mengunci pintu, membuat rasa takutnya kembali muncul. Memori pelecehan terhadapnya seketika muncul kembali.


"Jangan tuan.. jangan sakiti saya" lirihnya memohon.


Namun Abraham tidak menjawab malah menatap semakin tajam kearahnya dan itu membuat Namira merengkuh badannya sendiri dan mulai menghindari Abraham.


Abraham melihat luka yang ada ditubuh gadis itu sudah mengering membuatnya senang. Ia sadar jika kedatangannya membuat gadis itu ketakutan.


"Saya tidak apa-apakan kamu"


"Saya hanya memastikan kondisi tubuhmu saja.. sepertinya sudah baikan.. mungkin sebentar lagi juga sembuh"


"Terima kasih ya tuhan.."


***


Di sebuah kamar nuansa peach terdapat seorang gadis perempuan yang sedang mengemasi barangnya untuk pergi sementara waktu.


"Gw harus cepat pergi dari sini.. kalau gak mereka bisa curiga sama gw" batinnya.


Dan gadis ini adalah Widya. Dirinya berencana untuk pergi keluar kota beberapa waktu. Dikarenakan ia sudah berbohong pada kedua orang tuanya Namira dikarenakan mereka mengira bahwa Namira sedang belajar bersamanya.


"Semuanya udah beres.. tiket juga ada.. udah.."


Lalu ia pun menutup koper yang penuh dengan isi tersebut dan mulai membawanya pergi ke bawah. Di sana ada Wijaya yang sedang mengobrol dengan seorang wanita. Widya hanya memandangnya jijik.


Lalu Wijaya pun terlihat kebingungan saat Widya yang sedang turun dari tangga dan membawa koper serta tas besar di punggungnya.


"Mau kemana kamu?"


Widya berhenti sejenak lalu menatap ayahnya dengan datar "ini bukan urusan anda"

__ADS_1


"Widya!!"


"Sudahlah mas.. sabar.."


Melihat Sonya yang sedang mengabari ayahnya membuat Widya semakin muak. Lalu ia pun menyunggingkan senyumnya yang tak ramah pada wanita itu.


"Eh ada pelakor juga di sini.." sindirnya pada Sonya.


"Widya.. jaga sikap kamu ya.. dia calon mama kamu"


"Bodo amat!"


"Jawab papa Widya.. kamu mau kemana dengan koper dan tas gede itu?"


"Saya mau ke luar kota.. pusing saya kalo di sini.. bye"


Widya pun langsung menarik koper tersebut keluar sedangkan Wijaya tampaknya masih terkejut dengan ucapan putri semata wayangnya itu. Ia pun mengejar putrinya tersebut menuju ke mobil yang ia akan bawa, diikuti Sonya dibelakangnya.


"Widya.. tolong jangan tinggalkan papa" ujarnya dengan memohon.


Lalu langkahnya terhenti kembali. Lalu dengan kesal ia menatap Wijaya "ya ampuuunnn.. saya mau pergi karena ada tugas kuliah!! Bukan buat kabur!!" Ujarnya kesal.


Mendengar itu, Wijaya lantas menghela nafas lega. Ia pikir jika anaknya akan meninggalkan dirinya seorang diri.


"Ke daerah mana kamu akan nugas?"


"Gak tau.. udah jangan berisik.. saya mau berangkat" ujar Widya ketus.


Widya pun dengan cepat pergi dari halaman rumahnya itu. Melihat kedua pasangan itu membuatnya semakin membenci mereka berdua.


Wijaya hanya menatap nanar atas kepergian anaknya untuk sementara waktu. Sonya yang melihat Wijaya bersedih segera menghiburnya.


"Udah mas.. jangan sedih.. biarkan dia pergi untuk belajar.. kamu kan masih ada aku"


Wijaya pun menoleh pada wanita yang akan menjadi calon istrinya itu dan tersenyum tipis. "Makasih ya.. kamu memang pengertian"


"Ayok masuk"


Wijaya mengangguk dan memasuki rumah terlebih dahulu. Sementara Sonya mendadak menampilkan senyum jahat di wajahnya saat Wijaya telah memasuki rumahnya.


"Baguslah anak sialan itu pergi.. sebentar lagi, gw akan menyandang status nyonya Wijaya.. dan semua harta pasti akan jatuh ke tangan gw!" Ujarnya penuh ambisi.


Widya telah berhenti di rest area untuk sekedar beristirahat. Ia pun mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya.


"Ayo lah Nam.. angkat.. hahhhh"

__ADS_1


Widya masih terus berusaha untuk menghubungi temannya itu. Namun tidak berhasil. Sudah hampir ratusan kali ia menelpon tapi tidak pernah diangkat. Ia pergi dari rumah bukan hanya sekedar mengerjakan tugas kuliah, namun ia tidak ingin ditanya oleh kedua orang tua Namira lagi untuk menanyakan keadaannya.


Mengingat Namira, Widya sangat merindukan gadis itu. Sudah lumayan lama mereka berpisah karena sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menginap di hotel untuk sementara waktu.


__ADS_2