Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
Nanda pulang, orang tua menangis haru


__ADS_3

Namira sudah memarkirkan motornya di dekat rumahnya. Tapi dia terdiam sejenak tidak langsung masuk ke rumah.


"Ka ayo kita masuk," ujar Nanda semangat.


"Eehhh nanti dulu," Namira menarik tangan Nanda.


"Ada apa ka?"


Namira berjongkok dihadapan adiknya "begini, tolong kamu jangan ceritakan masalah ini terlalu dalam sama bapa ibu ya, cukup kakak aja yang tau," ujar Namira tegas.


Nanda bingung dengan apa yang diucapkan kakaknya "tapi kenapa ka?"


Namira menghela nafas "udah, kamu nurut sama kakak ya.. kakak gak mau bapa sama ibu takut berlebihan.. kamu gak mau kan liat mereka sakit?" Nanda menggelengkan kepalanya


"makanya nurut sama kakak ya, jgn ceritakan sama ibu bapa dengan kejadian yang kamu alamin oke?.. biar kakak yang urus semuanya," ujar Namira untuk meyakinkan adiknya akhirnya Nanda setuju untuk tidak menceritakan kejadian yg menimpa dirinya pada orang tuanya.


"Ayo kita masuk" Namira menggenggam tangan adiknya "ayo ka"


Namira dan Nanda berjalan beriringan. Dengan perasaan berhati-hati dia mengetuk pintu rumahnya.


Tok.. tok.. tok..


Hening.. Tidak ada jawaban. Namira ngetik pintunya sekali lagi.


Tok.. tok.. tok..


"Iya sebentar!" Suara ibunya dari dalam rumah.


Krekk kreeeeekkk (suara pintu terbuka)


Alangkah terkejutnya ketika Aisyah (ibu Nanda dan Namira) melihat mereka berdua pulang dengan selamat.


"Assalamu'alaikum ibu, aku pulang hiks heuheu," ujar Nanda menangis sambil memeluk ibunya.


Aisyah tidak bisa menahan air matanya, ketika anak-anak yang dia rindukan kembali ke rumah "ya Allah nak.. kalian kemana aja.. udah 2 Minggu gak pulang.. ibu sama bapa khawatir sama kalian," tangis Aisyah pecah sembari memeluk Nanda dan Namira.


Aisyah melepas pelukannya pada Nanda dan mencengkeram pelan pundaknya "sebenernya kamu kemana dek?! Ibu, bapa, sama kakak kamu nyari kamu terus!" Ujar Aisyah khawatir.


Dengan polosnya Nanda menjawab "aku diculik sama orang Bu waktu pas pulang sekolah.. untungnya kakak Dateng buat nyelamatin aku"


Aisyah terkejut "hah? Kamu diculik? Ya ampuun jaaang... kenapa kamu gak lari? Biasanya kamu paling anti kalo sama orang asing!!!" ujarnya tak habis pikir dengan cerita anaknya itu.


Nanda menunduk sedih "aku gak tau Bu, karena orang itu ngaku jadi temennya kak ayu.. jadi aku ikut sama om-om pake mobil bagus" lirihnya.


Aisyah masih menangis mendengar cerita putranya. Sebagai orang tua dia merasa tidak bisa menjaga anaknya dengan baik sampai diculik oleh orang yang gak dikenal.


Namira yang tahu suasana sekelilingnya kurang baik, jadi dia melerai "udah Bu, ibu tenang dulu.. biarin Nanda istirahat.. nanti biar aku ceritakan semuanya ya" ujarnya.


Aisyah mengangguk menyetujui saran putrinya.


"Yaudah dek, kamu ke kamar istirahat dulu," titah Namira.


"Iya kak" Nanda langsung kembali ke kamarnya membawa tas sekolahnya.

__ADS_1


"Ibu duduk dulu di sini, tenang dulu ya.. mending ibu kabarin bapak kalo aku dan Nanda udah pulang"


Aisyah langsung ngambil ponselnya untuk menelpon suaminya yang sedang bekerja.


Tutt.. Tut... Tut...


"Iya Bu, assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam pak.. Ayu dan Nanda udah pulang ke rumah pak," ujar Aisyah menangis.


"Hah? Anak-anak udah pulang Bu? Syukurlah Alhamdulillah ya Allah.. sekarang mereka berdua dimana?"


"Nanda istirahat di kamarnya, ibu ini lagi sama ayu lagi duduk pak..."


"Coba kasih telponnya ke Ayu Bu, Bapak mau ngomong sama dia"


"Bentar pak" menjauhkan telpon dari telinganya "nih bapak mau ngomong sama kamu" seraya memberikan ponselnya pada anak sulungnya.


Namira mengambil alih panggilan bapaknya "halo pak, ini ayu"


"Ya Allah Neng.. kamu teh kemana aja? Ibu sama bapa pusing nyari kamu gak pulang - pulang" omel Ahmad pada anaknya.


"Kan aku ijin nyari adek pak.. bapak gak inget?"


"Iya nyari si nyari, tapi kamu juga harus inget pulang.. dan kamu nyari adikmu di mana? Kok bisa ketemu?"


"Ada pak.. ada orang yang ngasih tau aku keberadaan adek jadi aku kesana sendiri buat jemput adek"


"Kenapa kamu gak bilang sama bapak?! Kebiasaan kamu mah.. kalo kenapa-kenapa sama kamu juga gimana? Kamu cewek loh.. berbahaya kalo jalan sendirian" bapaknya marah di telpon.


Mendengar bapaknya menghela nafas panjang "yaudah kamu juga istirahat ya.. jadikan kejadian ini pelajaran, jangan ke ulang lagi"


"Iya pak.. Ayu ngerti," ujar Namira pasrah.


"yaudah bapak mau lanjut kerja dulu ya.. kamu istirahat aja udh, kasih hpnya sama ibu kamu"


"Oke.. ini Bu," Namira memberikan ponsel ibunya kembali.


"Yaudah Bu.. udah dulu ya.. anak-anak jangan dibiarkan keluar rumah dulu"


"Iya pak.. kalo gitu ibu matikan dulu ya"


Aisyah mematikan ponselnya. "Udah kamu juga istirahat sana," titah Aisyah pada Namira.


Namira hanya mengangguk sambil menuju ke kamarnya dan gak lupa mengunci pintu kamar.


Di dalam kamar, Namira hanya mondar-mandir kesana kemari. Dirinya sedang dilema berat, dirinya bingung karna dia sudah berjanji pada orang itu untuk kembali padanya. Tapi dia juga gak mau orang tuanya khawatir lagi.


Gimana caranya supaya dia bisa kesana tanpa orang tuanya khawatir? Disisi lain dia juga harus kuliah yakali mau bolos terus, yang ada nanti beasiswa nya bisa dicabut.


"Aaaaaaaa.." Namira mengacak rambutnya karna kebingungan.


Dia kepikiran untuk telpon Widya mengabari dia karna udah di rumah.

__ADS_1


Tutt.. tuttt... Tuttt


"Halo Nam.. LO UDAH BALIK?!" Teriak Widya di telpon.


Namira kaget karna Widya tiba-tiba teriak di ponselnya seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Lo bisa gak si pelan dikit suaranya? Kuping gw sakit denger suara melengking Lo" ujar Namira kesal.


"Hahaha iya maaf-maaf.. btw gimana? Lo gapapa kan? Gak ada masalahkan?"


"Iya gw gapapa.. yang jadi masalah sekarang, gimana gw bisa balik kesana? Gw udah janji sama mereka buat gantiin adek gw jadi tebusan"


Widya terdiam.


"Halo Wid? Lo masih disitu gak?"


"A-ah iya.. gimana atuh.. Lo sendiri si bertindak gegabah, jadi kaya gini kan.. juga gak tau harus gimana buat nolongin Lo sekarang."


Kalo mau tau, Widya juga sebenernya frustasi melihat keadaan sahabatnya ditimpa masalah seperti ini. Tapi dirinya juga bingung mau bantu gimana.


"Heuhh yaudah rencana selanjutnya Lo mau ngapain?"


"Gw bakal kesana buat menuhin janji gw dulu.. sambil nyari duit buat tebusan juga"


"Yaudah.. kalo emang keputusan Lo begitu.. gw bantu sebisa gw di sini.. gw bakal minjem dana ke bokap gw ya"


"Iya makasih.. kalo gitu gw tutup telponnya dulu ya Wid.. gw mau siap-siap, besok harus balik lagi kesana"


"Besok udah balik lagi? Kuliah Lo gimana?"


Namira sebenernya bingung bagaimana dia bisa menjalankan pendidikannya kalo terkekang seperti ini. Tapi dia berusaha optimis demi adik dan keselamatan keluarganya "itu gw bisa urus nanti.. udah dulu ya"


"Yaudah hati-hati ya.. kabarin gw kalo perlu bantuan"


Namira menutup telponnya,  menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menarik nafas dalam-dalam. Rasanya kepalanya mau meledak memikirkan masalah seperti ini.. tanpa disadari Namira sudah tertidur pulas karna lelah.


***


"Gimana gadis itu? Apa sudah bergerak kembali ke rumah ini?"


Abraham menghubungi Toni yang sedang mengawasi Namira dari kejauhan untuk mendapatkan informasi bahwa gadis itu benar-benar memenuhi janjinya.


"Sepertinya belum tuan, belum ada tanda-tanda keluar rumah untuk saat ini"


"Yaudah kau awasi terus dia.. jangan sampai lolos, jika waktunya tiba tapi dia gak kembali, seret dengan paksa! Kau mengerti?!" ujar Abraham Tegas.


"Baik tuan, saya mengerti"


"Yaudah kau tuntaskan tugasmu.. saya tunggu kabar selanjutnya"


"Baik tuan.. saya permisi dulu"


Abraham menutup telponnya lalu menghempaskan dirinya ke kursi kebesarannya. Memandangi foto namira dengan seksama

__ADS_1


"Ku harap kau memenuhi janjimu gadis kecil," ujar Abraham tersenyum menyeringai.


__ADS_2