Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
kalut


__ADS_3

Setelah tertidur panjang, Namira perlahan membuka matanya. Matanya terasa berat akibat dirinya menangis semalaman tanpa henti. Dirinya bangun perlahan dan duduk termenung. Dirinya masih memikirkan kejadian saat Abraham mencium dirinya.


"Kurang ajar!" Geram Namira pelan.


Dirinya langsung tersadar, bahwa sekarang sudah pukul 6 pagi. Dan dirinya harus bersiap-siap untuk mengerjakan tugasnya.


Setelah selesai mandi, Namira pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk tuannya. Menu yang dimasak Namira hari ini hanyalah salad dan beberapa roti panggang.


saat memasak, dirinya teringat akan keluarganya di sana. Apa mereka akan curiga karena kepergiannya? Tapi, apa yang Namira lakukan untuk menyelamatkan keluarganya dari ancaman abraham. Andai dirinya memiliki banyak uang, dirinya tidak akan terperangkap seperti ini.


Lama termenung, Namira tersadarkan oleh suara langkah kaki yang menuju ke ruang makan. Dengan telaten Namira menyiapkan sarapan pagi untuk Abraham.


Dan tibalah Abraham dengan gagahnya mengenakan jas abu kemeja hitam. Abraham sempat melirik ke arah Namira yang terlihat datar namun ada sedikit kesedihan dimatanya. Tapi, Abraham tidak peduli. Dirinya menyantap sarapan dengan sunyi.


Sedangkan Namira hanya diam terpaku sekaligus canggung. Sejak kejadian kemarin, dia sedikit takut pada pria didepannya ini.


Abraham memakan sarapannya dengan santai. Namira menyusuri wajah tampan Abraham dan tidak menemukan sedikit rasa bersalah kepadanya. Tapi dirinya berfikir tidak akan menang melawan Abraham sedangkan posisinya sendiri hanya sebatas pelayan pribadinya.


Abraham melirik sebentar pada Namira yang sedang termenung "hemm" dirinya hanya menyunggingkan senyum devilnya.


Setelah sarapan, Abraham meraih dasi yang belum terpasang dan menoleh pada Namira agar menghampirinya "kamu,. Sini" ujar Abraham menunjuk Namira. Namira hanya diam dan menghampiri pria tersebut.


Abraham menyerahkan dasi tersebut "pakaikan" Namira terdiam dan menatap Abraham bingung.


"Pasangkan dasi ini ke leher saya, saya tidak menerima penolakan" tegas Abraham.


Dengan tangan gemetar, Namira meraih dasi dari tangan Abraham. Cuma memasangkan dasi berasa kaya lari maraton jantungnya tak berhenti berdetak. Dengan posisi Abraham yang masih terduduk di kursi makan dan Namira berdiri tepat di depannya, Namira memasangkan dasi dan mengikatnya di leher tuannya itu.


Muka masam, datar, dan kesal bercampur di raut wajah Namira saat ini. "Pengen rasanya cekik ni orang pake lilitan dasi, biar mati sekalian!.. mukanya nyebelin banget sumpah" Batin Namira kesal.


Entah cenayang atau tidak, Abraham menyunggingkan smirk smilenya seakan tau apa yang Namira katakan.


"Kau mengumpat tentangku" ujar Abraham


Dengan ekspresi sedikit terkejut, Namira tidak membalas dan tidak memperdulikan ucapan Abraham. Dirinya hanya fokus mengikatkan dasi di lehernya.


"Sudah selesai" ujar Namira setelah selesai memasangkan dasi.


Saat Namira ingin pergi, tiba-tiba lengannya dicekal oleh Abraham. Tentu saja Namira tidak tinggal diam. Dirinya memberontak untuk melepaskan cekalan tangan Abraham tersebut. Akan tetapi, bukannya dilepas, melainkan cekalan itu semakin kuat.


"Lepas!" Tegas Namira pelan.


Abraham hanya membalas dengan wajah datar saat melihat ekspresi marah Namira. Namira berontak, dan Abraham malah mendorong tubuhnya hingga menghimpit dinding dekat meja makan dengan meletakkan tangan Namira ke atas.


Namira berteriak, tubuhnya gemetar karna takut Abraham akan melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya. Tapi semuanya sia-sia, tidak ada yang berani pada Abraham.


"Saya mohon lepaskan" lirih Namira pasrah.

__ADS_1


Posisi mereka sangat dekat hanya berjarak 5 cm sampai Namira bisa mencium aroma nafas Abraham. Namira memalingkan wajahnya dan mulai menangis.


"Saya mohon tuan.. jangan apa-apa kan saya" ujar Namira disela tangisannya.


Abraham hanya terdiam, tidak ingin membalas perkataan dari gadis itu. Dirinya hanya fokus menatap wajahnya yg lucu serta sesekali menghirup aroma pada tubuh Namira.


5 menit lamanya mereka di posisi seperti itu, akhirnya Abraham melepaskan Namira dan pergi begitu saja dengan angkuhnya.


Namira masih sesegukan sembari menatap kepergian tuannya. Tubuhnya berangsur duduk perlahan sembari meneteskan air mata. Memeluk tubuhnya sendiri.


Ruang dapur yang besar hanya ada dirinya seorang. Namira menangis sejadi-jadinya. Tidak terbayang jika Abraham melakukan hal yang lebih dari itu.


"Aku tidak tahan tinggal di sini.. kapan ini berakhir.. pengen hidup layak seperti diriku yang dulu" batinnya sembari terus menangis


"Ibu.. bapak.. maafin Ayu.. karna berbohong pada kalian, Ayu hidup sengsara di sini.. Ayu terpaksa.. ayu udah gak kuat lagi" lirihnya.


Namira menangis dengan posisi memeluk lutut dan wajahnya membenamkan di kedua lututnya. Tak terasa hampir 10 menit dirinya menangis. Namira merasakan ada yang menepuk pundaknya pelan. Perlahan, Namira mengangkat wajahnya untuk melihat orang tersebut.


Namira melihat di depannya ada wanita tua berpakaian Made sama seperti dirinya yang sedang tersenyum. Beliau bernama Arsi. Mbok Arsi ini udah bekerja hampir 25 tahun lamanya. Dan hanya mbok Asri yang dekat dengan Namira semenjak dirinya pertama kali datang ke rumah Abraham.


"Nak Nami.. kenapa menangis di sini? Nanti kalo ketahuan kamu bisa di hukum" ucap Mbok Asri sembari membelai rambut Namira.


Namira kembali menangis "aku udah gak kuat mbok.. pengen pulang.. apa salah aku sampai harus menerima takdir seperti ini.. aku hanya berniat menyelamatkan adik dan keluargaku" lirih Namira sembari menghapus air matanya.


Mbok Asri memeluk tubuh langsing Namira untuk memberikan ketenangan "yang sabar ya Nak Nami.. dulu mbok juga kaya kamu.. suatu saat nanti kamu bisa bebas dari sini.. percaya sama rencana tuhan ya" ujar mbok Asri lembut.


"Kamu harus kuat.. mungkin ini salah satu ujian hidup.. apalagi menyangkut keluarga"


Namira menghapus air matanya "iya mbok.. aku harus kuat.. apalagi berhadapan sama tuan"


Kembali membelai rambut Namira "udah tenang kan? Ayo kembali kerja, takut kamu nanti kena marah"


"Iya mbok"


Namira dan mbok Asri berdiri berbarengan. Dan mereka pun kembali melakukan tugas masing-masing.


***


Abraham kini sedang sibuk dengan berkas-berkas yang harus ditandatangani. Dan tak lupa fokus ke arah laptopnya.


Tok.. tok.. tok


"Masuk" ujar Abraham.


Masuk lah Toni asisten pribadinya. "Bos, ini berkas kerja sama dari PT Trakindo ajaib. Nanti waktu rapat direktur utama perusahaan tersebut akan ketemu langsung sama bos" jelas Toni


"Oh iya.. untuk perkembangan proyek di Batam lumayan lancar bos.. kalo bisa, bos menyempatkan diri untuk ke sana memastikan langsung perjalanan proyek pembangunan di sana.. dan ini datanya bos" ujar Toni sembari menyerahkan berkas pada Abraham.

__ADS_1


"Yaudah, kamu boleh kembali" ujar Abraham


"Bos, saya ingin bertanya sesuatu" ucap Toni


"Kenapa?" Jawab Abraham sembari memeriksa berkasnya.


"Untuk masalah target yang biasa kita lakukan bos.. apa bos menginginkan target lagi?" Tanya Toni


Abraham menatap Toni sembari bersandar di bangku kerjanya. "Untuk saat ini saya belum ada keinginan punya target baru.. tapi liat aja nanti"


"Ya udah bos, kalo gitu saya permisi"


Abraham hanya mengangguk, Toni sudah keluar dari ruangan Abraham. Ngomong-ngomong soal target, setelah mendapatkan Namira entah kenapa dirinya malas untuk cari-cari target baru yang akan dia siksa.


Wajah cantik nan imut Namira, sikap polos dan keras kepalanya membuat Abraham tak henti memikirkan dirinya. Tanpa sadar, si kaku ini tersenyum untuk pertama kali saat mengingat gadis tersebut. Tapi, dengan cepat Abraham menepis semuanya.


"Gw gak mungkin suka sama anak bau kencur itu.. gw cuma jadiin dia mainan gak lebih" Batin Abraham.


Abraham kembali fokus ke pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berdering kencang, awalnya diabaikan. Tapi ponselnya terus berdering hingga membuat Abraham kesal dan terpaksa mengangkat telponnya.


Sebelum diangkat, dirinya melihat username dari penelepon itu. Rupanya Marcel si sahabat absurdnya.


"Hemmm" ujar Abraham saat memulai telpon.


"Ham Hem ham Hem.. pake salam ke kalo angkat telpon" protes Marcel di telpon


"Berisik.. Lo ganggu.. ada apa?"


"Gak ada hal yg penting banget si haha.. gw cuma kangen aja"


Abraham mendecak mendengar ucapan sahabatnya itu "kalo gak penting gw matiin"


"Eeeee iya iya iya.. sabar dong marah-marah Mulu.. jadi gini, ada undangan buat lu dari PT Asuransi.. katanya mau ngadain pesta ultah perusahaan mereka.. mereka mau Lo Dateng sebagai perwakilan perusahaan"


"Ya.. gimana nanti"


"Jangan gitu dong! Harus Dateng Lo kampret.. cape-cape gw bikin kerja sama ni sama perusahaan"


"Iye iye"


"Udah gitu doang bye"


Tut (telpon terputus)


Abraham menghela nafas dan memijat pangkal hidungnya. Dirinya melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 4 sore. Entah kenapa Abraham malas lembur hari ini. Jadi dirinya memutuskan untuk pulang ke rumah dan mengerjakan sisanya di rumah.


Saat hendak menuju mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Abraham?!"


__ADS_2