
Kriukkk.. kriukkk..
"Aduhhh" ujar Widya sambil memegang perutnya. Suara perut berasal dari Widya yang kelaparan. Memang dari pulang kuliah dia belum makan sama sekali. tidak berselera karna abis berdebat dengan ayahnya.
Tanpa ba-bi-bu, Widya langsung menuju ke dapur yang di lantai bawah. Sampainya di dapur, ternyata ada bibi Ijah (art di rumah Widya).
Bi Ijah yang sedang cuci piring menoleh kearah belakang dan ternyata itu Widya anak majikannya.
"Ehh dek Widya, adek lapar? Bibi udah siapin makanan buat dek Widya makan"
Widya hanya menatap bi Ijah sekilas "oh iya, makasih"
Widya langsung ambil piring dan menata makanan di piringnya. Kebetulan BI Ijah masak makanan kesukaannya. Karna udah lapar banget, jadi langsung dilahap makanannya.
Bi Ijah sudah selesai beresnya, tapi dia hanya berdiri sambil menatap Widya makan. Widya yang daritadi diperhatikan mulai risih "bibi kalo gak ada kerjaan lagi, pulang aja"
Bi Ijah bergeleng pelan "iya dek, setelah cuci piring bekas dek Widya makan baru bibi pulang" ujar BI Ijah ramah.
Widya tersenyum tipis "gapapa Bi, biar ini aku semua yang beresin.. bibi pulang aja, istirahat di rumah"
"Tapi,.. nanti.. Papa dek,."
"Nanti biar aku yang urus.. udah bibi pulang, istirahat ya" Widya menyela ucapan bi Ijah.
Akhirnya bi Ijah mengalah dan memutuskan untuk pulang yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi rumah Widya "baik dek, saya pamit dulu ya"
Widya hanya mengangguk dan fokus pada makanannya. Bi Ijah meninggalkan dapur, hanya tersisa Widya seorang. Widya makan dengan suasana keheningan, hanya ada bunyi garpu dan sendok yang menemaninya.
Widya sudah selesai menyantap makanannya, perut yang keroncongan akhirnya terisi. Dia berdiri dari kursi makan, tiba-tiba ada suara Papanya yang mendekat.
"Kamu udah makan?" Tanya Wijaya Papa Widya.
Widya hanya terdiam dan melanjutkan beres-beres meja makan dan cuci piring.
Wijaya tau anaknya terdiam karena ulahnya. Dia menghela nafas panjang.
"Nak, Papa mau ngomong sebentar" ujar Wijaya lembut.
Widya masih mengacuhkan ayahnya, dan fokus mencuci piring bekas dia makan.
"Maafin Papa karena udah nampar kamu tadi siang.. seharusnya papa gak buat seperti itu sama kamu" ujar papanya menyesal.
"Dan Papa mau kasih tau, kalo... Papa sama Tante Sonya memutuskan untuk menikah 2 Minggu lagi"
Widya terdiam sejenak, menghela nafas panjang "terserah" ketusnya.
Piring sudah bersih semua, Widya meletakkan semua yg bersih ditempatnya.
Dia berbalik, menatap ayahnya yg berdiri di depannya. Tatapan mata Widya tajam. Dia sudah tidak peduli lagi jika ayahnya ingin menikahi wanita ular itu.
"Aku tidak peduli.. yang jelas aku tidak akan terima Tante Sonya untuk jadi mama tiri aku" Widya pergi menuju kamarnya, meninggalkan Wijaya sendiri.
Wijaya memijat pangkal hidungnya, kepalanya sangat pusing hari ini. Dan dirinya pun bergegas untuk pergi ke kamar. Setelah berada di dalam kamar, tidak sengaja matanya tertuju pada sebuah foto yang berisikan 2 orang dewasa dan 1 gadis cilik yg cantik.
Di foto itu mereka bertiga tersenyum lebar dan sangat bahagia. Ya, foto itu adalah kenangan keluarga kecilnya yang sedang berlibur di taman kota yang ada di Bandung.
Flashback on
Seorang perempuan cantik sedang memperhatikan gadis kecil berumur 7 tahun yang sedang bermain kejar-kejaran. Kebetulan lapangannya luas jadi leluasa untuk berlarian.
"Widya.. jangan jauh-jauh larinya.. mama cape!" ujar perempuan tersebut sambil ngos-ngosan. mama, papa dan dirinya berlibur bersama.
"Mama!! Ayo kejar akuuu hihi" teriak Widya pada mamanya.
__ADS_1
"Aduhhh ini anak"
Tiba-tiba ada pria tampan yang menghampiri wanita tersebut yang merupakan papanya Widya.
"Ada apa Del?" Ujar Wijaya pada istrinya. Dan nama mama Widya dan istri Wijaya adalah Delia.
"Aku cape mas.. daritadi Widya lari-lari terus aku gak sanggup kejarnya," ujar Delia cemberut.
Wijaya tersenyum dan merangkul istrinya "udah jangan cemberut lagi" ujarnya sambil menciumi kepala Delia dan mengusap rambutnya.
Wijaya memperhatikan anaknya yang sedang asik bermain dengan gembira, dia pun tersenyum bahagia karna anaknya bisa tumbuh sehat.
"Kamu istirahat aja, biar aku yang awasin Widya main"
"Iya mas," Delia duduk di rumput yang beralaskan tikar tepat disampingnya berdiri. Dan kebetulan dibelakangnya terdapat pohon rindang jadi gak kepanasan.
"Papa!! Ayo kejar aku pa" teriak Widya pada Papanya.
Wijaya tertawa pelan "oke.. papa tangkep kamu ya!" Wijaya berlari menghampiri putrinya.
"Aaaaaaaa mama tolong aku.. ada singa kejar akuu" teriak Widya sambil tertawa riang.
"Haaa mau lari ke mana kamu?" Ujar Wijaya menirukan suara singa.
Karna langkah Wijaya lebih cepat dari Widya, maka dengan mudah Wijaya menangkap gadis kecilnya itu "Nah ketangkap juga kamu adik manis raaaawwwrr"
"Aaaa mama aku mau dimakan singa"
Delia tertawa pelan melihat tingkah suami dan anaknya.
"Aku makan kamu gadis kecil.. tikitikitik.." Wijaya menggelitik anaknya
"Ahahaha papa geli.. ampunnn aku kalah!" Widya kecil menyerah
"Yeee papa menang.. Karena papa menang kamu harus cium pipi papa dulu" ujar Wijaya jahil
"Papa cape" ujar Widya manja sambil memeluk papanya
Wijaya tersenyum dan mengelus kepala putrinya "Ayo kita ke mama, tuh mama udah nungguin.. kamu papa gendong"
Wijaya menggendong Widya kecil ala pesawat terbang "ayo terbang cyuttttt"
Mereka berdua berkumpul bersama Delia yang sedang duduk.
"Mama haussh" ujar Widya ngos-ngosan.
Delia menyiapkan minum untuk anaknya "ini sayang, minumnya pelan-pelan ya.. biar gak keselek" ujar Delia lembut
Widya meneguk habis dengan cepat "ahhh Alhamdulillah"
Tiba-tiba Wijaya ikut nimbrung "ahh capenya.." Wijaya tiduran di paha Delia.
Seketika Widya langsung marah karna biasanya Widya yg tidur di paha mamanya "Aaaaa papa itu tempat akuuu ihhh" Widya kecil cemberut
"Mama kan istri papa, jadi boleh dong papa tiduran juga di paha mama" ujar Wijaya jahil
"Aaaa papaaaa.. mamaaaa papanya tuuuu" ujar Widya merajuk
"Udah-udah.. mas kamu tuh doyan banget jailin anak kamu.. udah sana bangun" Delia mengusap-usap muka suaminya.
"Aduh yang, lagi enak tidur juga" Wijaya kesal
"Tuh liat anakmu mau nangis.. sini sayang sama mama"
__ADS_1
Widya langsung nemplok di pelukan mamanya.
"Huhhh" Wijaya cemberut bibirnya maju ke depan.
"Bibir papa kaya bebek hihi" ledek Widya
Delia tertawa mendengar ucapan anaknya.. Wijaya tambah cemberut "ohh berani ya ngatain papa.. rasain ini.. hiya" Wijaya menggelitik anaknya
"Aaaaa papa geli.. aaa"
Wijaya tersenyum lebar dan menciumi anaknya.
"Muachh.. sayang anak papa"
"ke aku ga sayang nih?" Ledek Delia
Wijaya mencium dahi istrinya "sayang mama juga"
Mereka bertiga berpelukan.
Pandangan Widya teralihkan pada orang yang sedang berfoto-foto.
"Pa.. ma.. foto yuk, kaya orang itu" Widya menunjuk ke salah satu pengunjung yg sedang asik berfoto.
Wijaya menatap Delia dan mereka mengangguk "ayo kita foto buat kenang-kenangan.. sebentar papa siapin dulu kameranya.." ujar Wijaya semangat
Wijaya memasang kamera di depan dan mengatur posisi kamera agar tidak jatuh dan hasilnya bagus.
"Nah ayo mulai.." Wijaya berlari
"Ayo pa.. cepet" ujar widya
"1,..2,..3,.. (cekrekk)"
Flashback off
"Delia.. andai kamu masih ada, pasti keluarga kita bahagia sekarang.. dan kamu bakal takjub karna anak kita tumbuh jadi gadis yang sangat cantik dan mandiri. Maafkan aku, jika aku salah mendidik anak kita." Ujar Wijaya parau.
Sudah hampir 14 tahun lamanya kenangan tersebut masih tersimpan dalam hati Wijaya. Bohong jika Wijaya tidak mencintai alm. Istrinya Delia. Bahkan sampai detik ini Wijaya masih mencintainya.
Mata Wijaya memerah, air mata tumpah sedikit demi sedikit. Dia juga sangat merindukan momen ini. "Aku sangat mencintaimu Delia" Wijaya menangis sambil memeluk album foto keluarga kecilnya.
Tuuttt.. tutt.. tutttt.. (bunyi panggilan telpon masuk)
Wijaya segera menghapus air matanya, menetralkan suara dan hatinya agar tidak terjadi apa-apa. Dia meraih ponsel dan melihat siapa yang menelponnya. Dan Ternyata itu Sonia.
Dia mulai mengangkat telponnya "ekhem.. halo sayang, ada apa telpon?"
Wijaya meletakkan album foto kembali ke tempatnya.
"Halo sayang, gak ada apa-apa sih.. aku cuma kangen aja.. makanya aku nelpon kamu" ujar Sonia manja.
Sebenernya Wijaya jijik akan sikap adik iparnya ini yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Jujur sebenarnya Wijaya blm mencintai siapapun kecuali alm. Istrinya. Dia menikahi Sonya karna tuntutan dari keluarganya agar Widya mempunyai sosok seorang ibu kembali.
"Ekhemm.. oh gitu gapapa sih" suara Wijaya serak karna tadi habis menangis.
"Sayang, kamu kenapa? Ko suara kamu serak gitu? Kamu sakit ya?"
Wijaya gelagapan "aa e-eumm i-iya aku lagi gak enak badan makanya suara aku serak.. ini aku mau istirahat"
"Oh gitu.. ya ampun lekas sembuh ya beb.. aku tutup dulu ya, love you muachh"
"Iya sayang, makasih ya"
__ADS_1
Tut (bunyi Telpon berakhir)
Wijaya menarik nafas dalam-dalam. dia melempar pelan hp ke atas meja dan menidurkan badannya. rasanya raga dan hatinya sangat lelah. Dia berharap esok hari akan menjadi hari yang sangat menyenangkan.