
"Abraham" panggil seseorang.
***
Abraham menoleh ke arah sumber suara tersebut. Raut wajah Abraham seperti sedikit terkejut, rupanya orang yang memanggilnya itu adalah silvya mantan kekasihnya dulu.
Silvya mendekati Abraham yang hendak memasuki mobilnya. "Abraham.. senang sekali bisa ketemu lagi sama kamu" ujar silvya tersenyum lebar.
Silvya melirik kagum ke arah mobil dan perusahaan besar Abraham "waahh kamu udah sukses ya sekarang"
Abraham tersenyum smirkh "mau apa ke sini?" Tegas Abraham sembari menatap tajam silvya.
Silvya menatap wajah Abraham daaan..
Grep..
Silvya memeluk tubuh Abraham erat. "Aku kangen sama kamu"
Abraham yang risih akan pelukan mantannya ini, kemudian melepaskannya dengan kasar. "Lepass!!" Tegasnya
Silvya bergeleng "aku gak mau jauh dari kamu lagi"
"Gw bilang lepasss!" Ujarnya marah sembari menghempaskan silvya hingga dirinya tersungkur ke tanah.
"Awshh" ringis silvya.
"Jangan pernah berhubungan dengan saya lagi.. atau kau akan terima akibatnya "ancam Abraham marah.
Tak lama kemudian, Abraham memasuki mobilnya dan meninggalkan silvya sendirian yang masih tersungkur.
Melihat mobil Abraham menjauh. Silvya hanya menatap dan tiba-tiba tersenyum sembari menatap tajam ke arah depan.
"Gw bakal bikin Lo klepek-klepek lagi sama gw.. dan gw bakal dapetin Lo dan juga harta Lo" monolog silvya.
"Mbak gapapa? Saya bantu berdiri" ujar salah satu karyawan Abraham yang memiliki poster tubuh gempal dan berkacamata bulat.
Bukannya menerima, silvya malah menyingkirkan tangan pria itu "gw bisa sendiri"
Setelah kembali berdiri, silvya pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Kenapa si tu orang, aneh deh"
***
Entah kenapa.. setelah lama dirinya kembali bertemu dengan silvya, rasa benci terhadapnya semakin kuat. Dadanya terasa panas seperti dendam yang belum terbalaskan.
Saat dirinya memikirkan silvya dengan penuh kebencian, tiba-tiba Abraham kepikiran dengan Namira. Mungkin dengan bertemu dengan Namira, rasa panas di dadanya akan hilang.
Dengan kecepatan penuh, mobil Abraham menerobos jalanan dengan kencang untuk sampai ke rumahnya dengan cepat.
***
Namira yang sedang beres-beres kamar Abraham dikejutkan dengan melihat foto masa muda Abraham bersama seorang gadis. Namira berpikir foto itu diambil saat Abraham sama seusianya.
"Ternyata dia pernah bucin juga" sindir Namira pelan.
__ADS_1
Tapi, entah kenapa rasanya Namira tidak suka melihat foto tersebut. Dan buru-buru memasukkan kembali ke dalam lemari Abraham.
Terdengar suara deru mobil yang baru sampai ke pekarangan rumah. Namira buru-buru membereskan kamar Abraham sebelum dirinya kena marah.
Braakk..
Namira terkejut saat Abraham membuka pintunya dengan kasar. Abraham melihat ke arah Namira dengan tajam. Abraham menutup pintunya dengan kasar pula. Tubuh Namira seketika mematung memperhatikan Abraham yang semakin dekat padanya.
Dan tiba-tiba..
"Mmmhhh" Bibir mereka kembali menyatu. Abraham mencium Namira dengan terburu-buru. Abraham sangat menyukai bibir imut Namira ini. Namira menjadi candunya. Dan ternyata benar, rasa panas di dada Abraham kini mulai mereda.
Namira yang awalnya terkejut dan ingin memberontak, entah kenapa kali ini dirinya sangat menikmati ciumannya dengan Abraham. Bahkan Namira mengalungkan tangannya ke leher Abraham. Abraham pun memegang tengkuk Namira untuk memperdalam tautannya.
Hingga 5 menit kemudian, Namira memukul dada Abraham pelan dikarenakan kehabisan nafas. Abraham terpaksa melepaskan tautannya itu, padahal Abraham masih ingin merasakannya.
Deru nafas mereka saling beradu satu sama lain.
"Tuan" lirih manja Namira.
Abraham yang tidak kuat lagi, mendorong dan menghempaskan tubuh Namira ke kasurnya.
"Tuan, apa yang-"
Lagi-lagi Abraham kembali menempelkan bibirnya di bibir Namira. Mereka saling bertautan, berbagi air liur dan deru nafasnya yang tak beraturan. Dengan menutup mata, mereka sangat menikmati suasana tersebut.
Tak hanya di bibir, Abraham turun ke arah leher Namira dan kembali mengecupnya. Namira yang menerima serangan tersebut hanya bisa pasrah. Jantung Namira berdetak kencang dan nafasnya naik turun dengan kencang.
"T-ttuan" lirihnya disela deru nafasnya.
"Sial!! Kenapa bibir bocah ini enak sekali.. buat gw candu" umpat batin Abraham.
Hampir 20 menit mereka melakukan pergumulan, dan Abraham mulai melepaskan tautannya. Deru nafas mereka saling beradu. Abraham memperhatikan wajah imut Namira yang memerah akibat ulahnya. Tak ingin terbuai lebih lama, Abraham memasang muka tajam dan pergi ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
Namira yang masih syok hanya terdiam terlentang di kasur. Namira menerka-nerka bibirnya yang sudah dua kali dijamah Abraham. Tapi tidak ada rasa kesal. Malah Namira sangat menikmati perbuatan Abraham tersebut. Mengingat kejadian itu, hatinya tak berhenti berdetak kencang.
Suara air terdengar di telinga Namira. Dirinya menoleh ke kamar mandi yang berisikan tuannya itu. Karena ini udah sore, sudah waktunya jadwal buat cemilan. Namira membereskan kembali kasurnya dan pergi ke dapur untuk membuat cemilan dan kopi untuk tuannya.
Abraham yang masih mandi, menikmati air yang turun dari shower. Tak dipungkiri, perasaan Abraham sangat menggebu. Dan jantungnya pun tak berhenti berdetak. Ada setitik kebahagiaan di lubuk hatinya karena ulahnya pada Namira. Dirinya sangat menyukai tingkah laku bocah tengik tersebut selain ulah cerobohnya.
"Apa gw beneran suka Ama tu bocah? Gak mungkin.. gw cuma jadiin dia mainan gak lebih" batinnya mengelak.
***
Namira yang sedang membuat kopi, masih termenung mengingat kejadiannya dengan Abraham barusan. Kali ini dirinya merasakan Abraham sangat lembut padanya, tak seperti waktu pertama kali diperlakukan kasar olehnya.
Tanpa disadari, Namira tengah tersenyum tipis sembari mengaduk kopinya. Mbok Asri yang melihat Namira terdiam sembari tersenyum, menegur Namira agar cepat sadar.
"Nak.. kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri" ujar mbok Asri sembari menepuk bahu Namira pelan.
Namira tersadar dan menoleh ke arah mbok Asri "ah nggak mbok.. aku hanya mengingat masa lalu aja.. kangen rasanya" bohongnya.
"Cepat, hantarkan kopi itu ke tuan.. jangan sampai telat, nanti kamu bakal di hukum nanti"
"Baik mbok.. aku ke kamar tuan dulu ya"
__ADS_1
***
Abraham kini sedang berkutat dengan berkas-berkas dan laptop di depannya. Dengan kacamata yang menggantung dipangkal hidupnya, membuat pesona pria dewasa tersebut bertambah.
Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
"Masuk"
Terlihat Namira yang memasuki kamar, sembari membawa kopi dan cemilan untuknya.
Abraham melihat Namira mulai mendekat, tapi dirinya kembali fokus pada berkas-berkas yang harus dia selesaikan secepatnya.
"Ini tuan kopi sama cemilan"
"Hmm.. taro aja" ujar Abraham singkat
Namira berjalan ke arah meja kosong untuk menyimpan kopi dan cemilannya. Namira berdiri di hadapan Abraham.
Abraham menaikkan alisnya "kenapa masih di sini? Keluar.. saya ingin sendiri"
Namira hanya mengangguk dan keluar dari kamar Abraham.
***
Namira menuruni tangga dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan kesal karena ulah Abraham. Saat setengah menuruni tangga, dirinya melihat Toni sedang membawa beberapa gadis ke sebuah ruangan. Awalnya Namira ingin mencari tau, akan tetapi dirinya juga takut akan ancaman abraham padanya.
Namira berpikir positif. Mungkin laki-laki di sini menyewa perempuan untuk hasrat mereka.
Padahal Namira tidak mengetahui bahwa itu target Abraham untuk dijual ke pejabat-pejabat kaya raya.
***
"Periksa semua tahanan di sini, jangan sampai ada yang kabur" perintah Toni pada bawahannya.
"Baik pak"
Mereka memeriksa tahanan satu per satu.
"Lepaskan saya!!! Dasar orang-orang biadab!! Bodoh kalian.. lepaskaaaaannn!!!" Teriak seorang wanita setengah baya.
Dan itu ibu tirinya Abraham yang selalu menjerit meminta di lepaskan. Awalnya Toni ingin menghabisi nyawanya, akan tetapi dilarang Abraham. Karena Abraham ingin ibu tirinya itu mati secara perlahan.
"Diam kau!!" Bentak Toni
Toni memasuki ruang tahanan wanita tersebut.
Plaakk..
Plaakkk..
Toni menampar ibu tiri tuannya itu berkali-kali hingga memerah.
Setelah wanita itu terdiam, Toni mengangkat wajahnya wanita tersebut "kau penyebab tuanku menderita.. jadi kuharap kau akan merasakan apa yang tuanku rasakan dasar ******!!"
Plaakkk..
__ADS_1
"Kuharap kau mati" tegas Toni