
Pagi hari nan cerah tapi tak secerah hati Namira. Namira sedang menatap pemandangan di balkon kamar Abraham. Dengan raut wajah yang murung dan sedih. Dia teringat akan keluarga dan temannya.
(Btw buat yang nanya, kok Namira ada di kamar Abraham? Gak ada kamar sendiri? Memang sudah keputusan Abraham seperti itu)
Angin sepoi-sepoi membuat rambut Namira menari-nari pelan menutupi wajah cantiknya. Tapi Namira tidak terusik "gimana ya, kabar ibu sama bapak? Gimana kalo bapak ibu tau kalo aku disini bukan karna bikin tugas kuliah" batinnya sedih.
Butiran air mulai mengenang di kelopak matanya. Tangannya mengepal penuh amarah. Namira mulai menangis mengingat sifat bodohnya menerima tawaran Abraham.
Dirinya harus rela pergi dari keluarga dan teman-temannya. Dia juga merelakan kuliahnya. Tidak ada yang diharapkan Namira saat ini kecuali habis masa kontraknya.
"Gak ada gunanya nangis kaya gitu!"
Namira seketika terkejut dan membalikkan tubuhnya. Orang tersebut ternyata Abraham yang tengah berdiri dibelakangnya. Dengan cepat Namira menghapus air matanya.
"Dasar bodoh" umpat Abraham. Abraham berbalik untuk meninggalkan Namira.
"Tunggu!" Titah Namira. Seketika Abraham berhenti melangkah dengan posisi tetap membelakangi Namira.
"Kenapa? Kenapa Anda lakuin ini sama saya dan keluarga saya.. kenapa?" ujar Namira tegas ditambah raut wajah marah.
Abraham sedikit menghela nafas "Tidak ada gunanya kamu menanyakan hal itu" ujarnya dingin.
Tangan Namira mengepal "tapi kenapa?!" Teriak Namira "kenapa anda datang dalam hidup saya!! Saya ada salah apa sama anda hah?!!" Lanjutnya dengan nada marah.
Abraham membalikkan tubuhnya menghadap gadis tersebut. Abraham menatap Namira dengan raut wajah meremehkan "Hanya untuk main-main aja" ujarnya tersenyum smirkh.
Nampaknya jawaban Abraham membuat emosi Namira naik "anda manusia jahat yang pernah saya temuin!!" Geram Namira penuh penekanan.
Raut wajah Abraham mulai serius. Ketika ingin mendekati Namira, suara nyaring dari ponsel Abraham pun terdengar. Lantas tangannya merogoh ponsel yg ada di kantong celananya dan melihat ternyata sekretarisnya yang menelpon lalu di angkatnya di depan Namira.
"Kenapa?" ujar Abraham dingin saat mengangkat telpon.
Namira yang memperhatikan pria dewasa didepannya sangat kesal. Dia melemparkan pandangan ke arah lain agar tidak dapat memandangi wajah tampan Abraham.
"Begini pak, klien bapak yang bernama Alexander Lemos sudah berada diruang meeting" ujar sekretarisnya di telpon
"Baik saya kesana"
Tut (suara telpon mati)
Abraham menatap Namira lekat dan tajam. Seketika nyali Namira ikut menciut.
"Turun ke bawah.. siapkan kopi untuk para tamu.. saya gak menerima penolakan!" Ujar Abraham dingin. Belum sempat Namira jawab, Abraham pergi meninggalkan Namira tanpa sepatah katapun.
"Huh!! Dasar tua Bangka.. Enak aja nyuruh-nyuruh.. hiiiiiii kenapa si gw harus kaya gini" dumel Namira.
***
"Baik, rapat saya akhiri.. selamat untuk bapak Abraham yang berhasil meraih proyek ini.. beri tepuk tangan" ujar bapak-bapak yang mewakili rapatnya.
Semua ruangan mulai ramai dengan tepuk tangan.
Toni yang sedang berjaga di dalam ruangan menyadari bahwa kopinya belum datang.
Toni berbisik pada juniornya "kamu tunggu di sini, saya mau periksa dapur" ujar Toni pada juniornya.
Juniornya itu mengangguk lalu Toni bergegas pergi ke dapur.
Namira termenung sambil mengaduk kopi yang diperintahkan Abraham. Hatinya gak karuan.
Toni sampai dapur dan melihat Namira sedang mengaduk kopi dengan tatapan kosong. Toni mendekati Namira dan menggebrak meja. Alhasil Namira terkejut, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Buat kopi kok lama amat, lelet.. cepet antar ke ruang bos atau ngga saya hukum sesuai yang bos suruh!" ancam Toni.
__ADS_1
Namira yang ketakutan hanya bisa mengangguk. kopinya sudah selesai dibuat dan siap diantarkan.
***
"Waahh pak Abraham hebat, bisa dapat proyek sulit" ujar bapak-bapak sebut saja pak Joni.
"Iya pak, padahal saya juga pengen dapet tapi ya bukan rezeki haha"
Ruangan ramai dengan canda tawa tapi berbeda dengan Abraham yang terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Tok.. tok.. tok
"Masuk" ujar Abraham lantang.
Pintu mulai terbuka, dan itu ternyata Namira yang sedang membawa minuman kopi untuk para tamu. Namira mendekati rombongan tersebut.
"Wahhh cantik banget.. kamu mau gak jadi simpenan om?" Ujar pak Joni sambil tersenyum nakal.
Namira terdiam tak berminat untuk menjawabnya.
"Pak, apa dia dijual? Saya bisa membeli dia" ujar enteng pak Hori yang terkenal gemar menyimpan perempuan.
"Tidak" ujar enteng Abraham.
Namira mulai meletakkan kopi ke masing-masing orang yang ada diruangan tersebut. Tapi, tiba-tiba tangan Namira di elus oleh pak Joni si hidung belang. Lantas, Namira menghempaskan tangan tersebut dan lalu pergi dari ruangan tanpa sepatah katapun.
"Beruntung ya dapet simpanan kaya gini.. pasti betah nih tiap hari," ujar pak Hori. Sontak orang-orang yang ada di ruangan tertawa kecuali Abraham.
"Pak Abraham, kalo misal anda bosan dengan simpanan anda, hubungi saya ya haha" ujar pak Joni sambil tertawa.
Entah kenapa, Abraham yang mulai geram karena Namira direndahkan. tiba-tiba berdiri "jika tidak ada obrolan lagi, silahkan pergi" Abraham bangkit dari duduknya lalu meninggal rekan kerjanya begitu saja.
Namira berjalan cepat menuju dapur dengan perasaan kesal dan marah "apa-apaan pegang tangan gw sembarangan, dasar tua Bangka, bapak - bapak kardus, bukannya inget istri astaghfirullah" umpat Namira sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.
Karena penasaran akhirnya Namira ikuti. Perlahan-lahan mengikuti mereka dari belakang dan sampailah ke suatu tempat. Namira sedikit ketakutan karena tempatnya agak sedikit seram dan penjagaannya juga begitu ketat. Karena takut ketahuan, Namira berbalik dan berlari menuju ke kamarnya.
Sementara Abraham, dia sedang memeriksa beberapa tahanan yang dia dapatkan. Dia masuk ke suatu ruangan yang sempit dan kotor. Dan dia melihat seorang wanita yang seumuran dengan ibunya. Dia menatap sangat jijik. Dan wanita itu adalah istri kedua ayahnya. Dan Abraham dendam padanya karna telah menyakiti ibunya.
"Kayanya ada yang sedang bersedih nih" ejek Abraham.
Ibu tirinya lantas melihat Abraham dengan tatapan tajam "Dasar anak gak tau di untung, gak tau diri.. kau sama seperti ibumu.. tidak berguna.. sama-sama sampah!!" teriaknya
Abraham mengepalkan tangannya "ibuku sampah? KAU SAMPAH! DASAR PEREMPUAN BODOH!" Maki Abraham.
"Lepaskan aku!! Lepaskan!!" Bentak ibu tirinya.
Abraham tertawa kejam "Lepaskan?! Jangan harap kau bisa lepas dariku!" Tekan Abraham kejam.
"Kalian!!! Siksa dia.. pastikan dia masih hidup, jangan sampai mati" perintah Abraham pada anak buahnya.
"Baik tuan" ujar para pengawal. Dan mereka mengambil alat cambuk untuk menyiksa ibu tirinya.
"Toni ayo" ujar Abraham mengajak Toni pergi dari ruangan tersebut.
"Lepasss!! Heh jangan macam-macam padaku!! Lepasss!" Teriak ibu tiri membabi-buta.
Namira masih berfikir keras, ruangan apa itu sebenernya. "Ruangan apa itu sebenernya? Kok ketat banget ya? Serem lgi? Apa gw tanya aja ya sama bos? Ahhh ngga.. ngga.." batin Namira penasaran. Dia berjalan ke sana ke mari, kanan ke kiri seperti orang bingung.
Klek (suara pintu terbuka)
Namira yang awalnya berjalan-jalan, terdiam menatap orang yang masuk ke kamar. Dan yaaa orang itu adalah Abraham.
"Siapkan baju santai cepat" perintah Abraham.
__ADS_1
Namira masih melamun dan tidak menjawab Abraham.
Abraham menatap Namira marah. Dia melemparkan sebuah buku dan mengenai wajah Namira.
Dughh (suara buku yg dilempar)
"Aduhhh.." ringis Namira. Dia mengusap kening gang terkena lemparan buku.
"Denger gak?! Cepat siapkan baju!" Seru Abraham.
Namira langsung mengangguk cepat, dan berlari ke arah lemari untuk mempersiapkan baju untuk bosnya.
***
Abraham keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah membuat dirinya semakin tamvan.
Namira sedang duduk di lantai, dan dia masih penasaran ruangan apa itu sebenernya. Akhirnya dia berusaha memberanikan diri untuk bertanya pada Abraham.
Namira bangkit dan menghampiri Abraham "Eummhh T-ttuan" ujarnya terbata-bata
"Hemm" balas Abraham
Namira memegang ujung roknya karna gugup "Begini.. saya ingin menanyakan pada anda.. saya melihat anda dan pak Toni pergi ke sebuah tempat.. Tempat itu agak seram.. sebenernya itu tempat apa?" Tanya Namira pelan.
Abraham langsung menoleh ke arah Namira dengan tatapan tajam "kau membuntutiku??" Tekan Abraham.
Namira kaget dan kebingungan "A-aaku gak sengaja.. m-mmelihat tuan berjalan keruangan tersebut" ujarnya sambil menunduk.
Braakk (Abraham menggeprak meja)
Menghampiri Namira dan menangkup pipi gadis itu dan mencengkramnya kuat.
"Kau tidak perlu tau.. berani sekali kau membuntutiku hah.. seharusnya kau tau diri.. kau akan mendapatkan hukuman dariku" tekan Abraham yang masih menekan kedua pipi Namira.
"S-ssakit" ujarnya pelan karena tidak kuat menahan sakit karna cengkraman Abraham.
Abraham melepaskan tangkupan tangannya dan melemparkan Namira ke arah kasurnya. Namira memberontak "jangan tuan.. saya mohon.. jangan apa-apa kan saya.. saya janji gak mengulanginya lagi" ujar Namira yang ketakutan.
"Kau sudah membuatku marah.. kau harus menanggung hukuman dariku" tekan Abraham.
Abraham mencengkram kedua tangan Namira dengan posisi Abraham berada di atas dan Namira berada di bawahnya.
"Aku mohon tuan.. jangaaannn!" Teriak Namira. Namira mulai menangis.
Abraham mengarahkan bibirnya ke telinga Namira "Jangan nangis adik manis.. salah kau sendiri telah membuatku marah" bisiknya menantang.
Abraham menatap Namira lekat. Dan dia mencium bibir Namira secara paksa "Eummhh.. emmmmm" teriak Namira.
Abraham masih menikmati sensasi tersebut. "Enak" batin Abraham menikmati.
Rasa bibir Namira itu manis bagi Abraham.
Namira memberontak agar Abraham melepaskan ciumannya. Dia memukuli dada Abraham. Tapi tenaga Namira tidak cukup kuat untuk melepaskannya.
Akhirnya Namira menikmati dan membalasnya. Bibir mereka saling bertautan. Abraham yang sudah lama tidak merasakan, nafsunya semakin menggebu. Tapi dia jg harus kawal dirinya agar tidak melukai gadis itu.
Dan setelah 15 menit mereka bertautan akhirnya Abraham melepaskan ciumannya. Nafas mereka saling beradu. Bibir gadis itu membuat Abraham candu. Tidak pernah merasakan bibir semanis ini (fikir Abraham).
Abraham bangkit, dan menatap tajam ke arah Namira yang masih syok "ini hukuman dariku.. kalau kau melanggar lagi dan membuatku marah, hukuman yang akan kuberikan padamu akan lebih kejam dari ini.. paham" tekan Abraham. Dan dia meninggalkan Namira begitu saja.
Namira masih mengatur nafasnya. Dan dia melihat ke arah langit-langit, tiba-tiba tetesan air mata turun. Dirinya merasa dilecehkan. Walaupun Abraham tampan, tapi dirinya ingin suatu saat nanti hanya calon suaminya lah yang berhak melakukan tindakan tersebut.
Namira meringkuk dan memeluk lututnya. Dia menangis sepanjang malam sampai dia lelah dan tertidur.
__ADS_1