
Bunyi alarm sangat nyaring di samping kamar tidur besar milik tuan besar. Mendengar suara berisik, Abraham pun terusik. Dirinya mulai merenggangkan tubuhnya yang baru saja terbangun dari tidur. Ia kemudian meraih jam weker tersebut dan melihat jam baru saja mengarah jam 5 lagi.
"CK.. sialan.. baru jam segini" umpatnya.
Ia pun kembali menarik selimutnya untuk kembali tidur, namun ia seketika terhenti saat melihat Namira sedang mengenakan mukena dan berdoa pada sang kuasa. Melihat itu Abraham sedikit terkejut.
Gadis kecil itu sepertinya telah menghipnotisnya. Abraham tertegun sejenak, lalu memegangi dadanya yang sedikit berdebar.
"Ada apa sama diri gw?" Batinnya.
Melihat Namira mengerjakan ibadah, membuat rasa kantuknya mulai hilang. Abraham pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi. Ternyata Namira sudah selesai mengerjakan sholat dan meletakkan mukena dan sajadah di tempat biasa ia simpan.
Lalu, ia melihat kasur telah kosong.
"Kemana dia?" Batinnya. Lalu telinganya mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi tersebut.
"Rupanya dia di sana"
Namira kembali teringat. Ia harus mengambil ponselnya untuk mengabari Widya sahabatnya. Lalu ia mengendap untuk mengambil ponselnya tersebut. Namun, ia tidak mengetahui Abraham menyembunyikan ponselnya tersebut. Dengan perlahan ia mencari ponselnya itu.
Lalu saat membuka laci terakhir, ia melihat sebuah ponsel yang ternyata itu miliknya. Dengan perlahan ia mengambil ponselnya itu. Ternyata saat itu berbarengan dengan Abraham yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Mendengar itu, Namira langsung menutup kembali lacinya dan berdiri di samping tuannya tersebut. Abraham merasa aneh pada gadis itu yang tengah menunjukkan ekspresi tegangnya.
Namun, Abraham hanya diam menatapnya dingin. Ia pun duduk di meja kaca sembari menatap ke arah Namira dengan tajam.
"Heh.. keringkan rambut saya!" Tegasnya.
Namun sepertinya Namira kurang fokus hari ini, jadi dirinya tidak mendengar kelas ucapan tuannya itu. Abraham yang kesal, ia pun membanting keras salah satu botol yang ada di meja riasnya.
Brakkkk...
Namira yang mendengar itu terlonjak kaget, dan melihat ke arah tuannya yang sedang menatapnya marah.
"Punya telinga gak?!! Keringkan rambut saya cepat!" Bentaknya.
Dengan gemetar, Namira mengangguk cepat menyetujui perintahnya.
"I-iiiya tuan"
Lalu Namira pun berlari kecil dan mulai berdiri di belakang tubuh tuannya.
"Pijat kepala saya!"
"I-iiya"
Lalu ia pun mengikuti perintah dari Abraham. Namira mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil yang berada di lehernya. Ia pun mulai menggosok rambut Abraham tersebut dengan sangat lembut.
Abraham geram akan gerakan Namira yang lamban "CK.. jangan terlalu pelan! Lama keringnya!"
"Baik tuan.."
Lalu ia pun menggosok agak sedikit kencang. Abraham pun terdiam menikmati gosokan di rambutnya. Setelah selesai, segera Namira menuangkan vitamin rambut ke area kepala tuannya tersebut sembari memijatnya.
__ADS_1
Entah kenapa Abraham merasa sedikit tenang bila mendapat pijatan di kepalanya. Serasa beban beratnya itu hilang.
"Nah.. sudah tuan"
Lalu Abraham pun kembali berdiri dan tidak mengucapkan apapun. Namira hanya menghela nafas berat karena sudah mulai terbiasa dengan sikap Abraham yang dingin padanya.
Lalu Abraham kembali menoleh ke arah Namira dengan tatapan tajamnya "siapkan baju saya.. saya akan ke kantor pagi-pagi" ujarnya datar.
Namira hanya mengangguk, lalu mempersiapkan baju untuk Abraham pakai ke kantor hari ini. Ia memilih baju dan setelan jas dengan warna kasual dan tidak terlalu nyentrik. Lalu ia meletakkannya di kasur seperti biasa. Dan ia pun kembali menghadap Abraham.
"Tuan.. bajunya sudah saya siapkan.. saya izin pergi ke dapur dulu"
"Hm"
Dengan cepat, ia pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk Abraham. Dikarenakan Abraham ingin hanya dirinya yang memasakkan makanan untuknya tidak ada yang lain.
Sementara Abraham terus menggeram marah dikarenakan perusahaannya kini sedang bermasalah dengan beberapa orang yang menjadi saingannya.
"Sial!!"
Lalu ia kembali fokus pada laporannya dan memeriksa kembali file-file yang ia terima dari karyawannya.
"Silahkan kalian bermain-main.. jangan harap bisa lolos dari gw!"
***
Jam sudah menunjukan pukul 6, semua pekerja sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing khususnya dibagian dapur. Di sana Namira dengan yang lain tengah memasak untuk Abraham dan para asisten kesayangannya.
"Biar gw aja.. gw lebih senior di sini.."
"Tapi itu untuk tuan Abraham, Mbak"
"Justru karena untuk Abraham biar gw yang pegang!"
Lalu Santi mengambil sendok untuk mencicipi masakan Namira tersebut.
"Cih gak enak gini mau dihidangkan ke tuan besar?" Lalu ia mengambil bumbu-bumbu dimana itu sudah keluar dari resep utama yang sudah dipikirkan oleh Namira sebelumnya.
"Mbak.. itu bukan bumbu untuk-"
"Diam kamu! Saya lebih tau dibandingkan kamu ya!"
Namira terdiam. Dia tidak bisa berucap apapun. Ia menyerahkan masakan itu pada Santi. Entah hukuman apa yang akan Abraham berikan padanya. Ia sudah lelah di hukum. Akhirnya ia memutuskan untuk membuatkan kopi kesukaan tuannya tersebut.
Setelah hampir 1 jam, semua sudah tersedia di meja. Bahkan Abraham dan para asistennya sudah mulai berdatangan untuk sarapan. Semua pelayan hanya berdiri di belakang mereka.
Abraham mulai menyantap masakannya, namun raut wajahnya berubah saat merasakan masakan tersebut.
"Wlekkk..." Kemudian Abraham memuntahkan semua makanan yang ada di mulutnya. Semua karyawan dan para pelayan pun panik. Mereka memberikan minum dan serbet untuk tuannya tersebut.
Abraham marah dan membanting piringnya ke lantai hingga pecah. Semuanya terdiam, para pelayan pun tertunduk.
"Siapa yang berani menyajikan makanan buruk ini?!" Murkanya.
__ADS_1
Lalu pandangannya jatuh pada Namira yang sedang tertunduk "kamu!! Kamu yang sudah ku beri tanggung jawab, memasak makanan untuk saya! Beraninya kamu, meracuni makanan yang saya makan! Kamu mau aku mati hah?!!" Bentaknya di depan semua orang.
Namira yang bergetar berusaha untuk melawan dikarenakan itu bukan karena kesalahannya "maaf tuan.. bukannya saya melawan, tapi.. masakan itu bukan saya yang buat" ujarnya sembari tertunduk.
"Lalu siapa?!"
Namira ketakutan. Lalu ia menghela nafas panjangnya "Mbak Santi tuan"
"Enak aja!! Lo yang masak, gw yang di salahin!!" Bentak Santi yang tidak terima.
Namira pun menatapnya dengan heran "loh.. Kam mbak yang merebut tempat saya, bahkan mbak juga yang menaruh bumbu di masakan saya.."
"Ya tetep aja itu salah Lo!!"
"DIAAAAAMM!!!" bentak Abraham kembali.
"Kurang ajar!! Sudah berani meracuni makanan, sekarang kalian malah ribut di depan saya?!! Berani sekali kalian ya!!"
Santi seketika panik dan mulai melakukan aksinya "maaf tuan, saya tidak sengaja.. dia menuduh saya tuan, saya tidak terima"
"Cukup!!!"
"Kalian berdua, akan menerima hukuman.. TONI!!!"
"Ya bos!"
"Bawa mereka berdua ke ruangan hukuman! Pisahkan mereka!"
"Baik Bos"
Lalu Abraham pergi dengan wajah marah. Kemudian Toni dan beberapa asistennya menyeret mereka berdua ke ruang hukuman. Namira hanya bisa pasrah dikarenakan ia tahu percuma melawan, justru akan menerima hukuman yang berat.
"Ayo masuk!" Ujar Toni sembari mendorong tubuh Namira masuk ke dalam ruangan yang sempit tersebut. Kemudian ruangan tersebut kembali terkunci.
Sementara Santi meronta dan memberontak. "Lepaskan! Ini bukan kesalahan saya.. saya di tuduh! Kenapa saya harus di hukum juga!!"
"Diam!!"
Kemudian salah satu dari mereka membuka pintu ruangan hukuman "ayo masuk!"
"Arghhhh!"
Toni mendorong Santi dengan sangat keras sehingga ia terjatuh hingga mencium tanah.
"Kurang ajar!! Lepaskan saya!! Kalian akan menyesal mengurung saya di sini!! Lihat saja nanti, jika saya sudah mengambil hati bos kalian, saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!!"
Toni dan asistennya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Santi tersebut.
"Kau mau jadi nyonya di sini? JANGAN MIMPI!!.. rasakan tinggal di ruang hukuman!"
Toni dan semua orang yang mengikutinya mulai meninggalkan Santi yang terkunci di ruang hukuman tersebut. Santi masih berteriak agar ia bisa di bebaskan.
"Lepaskaaaaaaann!!!!"
__ADS_1