
"Halo Nona.. selamat datang di rumahku" ujar seorang pria tersenyum menyeringai.
***
Namira terkejut seketika menoleh ke arah sofa mewah. Disana terdapat pria yang sangat dia benci yang lain dan tak bukan adalah Abraham.
Abraham mulai mendekati Namira dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Ternyata kau gadis yang suka menepati janji," ujar Abraham menyeringai.
"Ayo ikut denganku" Namira mengikuti Abraham dari belakang. Abraham melewati para maid dengan angkuh. Dan dia memasuki ruangan kebesarannya atau ruang kerjanya.
Abraham sedang mencari sebuah berkas di lemari berkasnya. Sedangkan Namira yang sedari tadi memperhatikan Abraham.
Jujur, dari segi fisik Abraham itu sempurna banget sampai Namira terpesona akan ketampanan Abraham.
Tersadar, Namira reflek menggelengkan kepala dan membuang imajinasi di pikirannya.
"Aduhhh kenapa gw harus mikirin dia si.. emang si ganteng.. tapi dia pria kejam yang udah nyakitin adik gw, gw gak boleh jatuh.. harus kuat," batin Namira menggebu tanpa sadar Namira menggerakkan tangannya seperti pose yes.
Abraham menyerngit melihat tingkah Namira "Kenapa?" Tanya Abraham dingin.
Namira menepuk-nepuk pipinya untuk menghilangkan rasa gugupnya "A-aah ga ada apa-apa" ujar Namira gelagapan.
Abraham sedikit memicingkan matanya lalu duduk di kursi kebanggaannya "ini berkas perjanjiannya.. dibaca" ujar Abraham sambil melempar berkas bermap biru ke arah Namira.
Dengan hati-hati Namira mengambil berkas tersebut dan mulai membaca. Namira menutup mulutnya karna kaget melihat isi berkas perjanjian yang menurutnya tidak masuk akal.
"Apaan ini! Maksudnya apa?" Protes Namira marah.
Abraham diam hanya tersenyum menyeringai.
"Perjanjian macam apa ini?.. kamu harus tidur bersama dengan tuan besar, kamu harus menuruti semua keinginan tuan besar, kamu harus melepas dan tidak memakai pakaian dalam jika bersama dengan tuan besar.. Ini gak masuk akal!!" Lanjut Namira emosi.
"Itu sudah ketentuan dari saya.. anda menolak? Maka harus menerima konsekuensinya," ujar Abraham licik.
Nafas Namira memburu menahan emosi.
"Sabar Nam, sabar.. demi keluarga Lo" batin Namira menahan amarah.
"Oke saya terima" ujar Namira tegas.
"Baiklah.. pelayaaannn!!"
Lalu muncul seorang wanita lumayan tua menghampiri Abraham "Iya tuan?"
"Antar dia ke kamar saya!" Titah Abraham.
Pelayan itu hendak bertanya, tapi takut "baiklah tuan.. mari Nona"
Namira mengikuti pelayan Abraham tersebut dan sampai di sebuah kamar mewah dan megah. Namira sedikit takjub melihat semua ini.
"Baik Nona, silahkan istirahat.. jika ada kebutuhan panggil saya" ujar pelayan tersebut dengan ramah.
"Iya Bu.. makasih" ujar Namira tersenyum tulus.
Pintu sudah tertutup, Namira langsung bergegas merapikan pakaiannya ke lemari yang sudah disiapkan.
***
"Hello epribadehhhhh" teriak seorang pria saat memasuki ruangan Abraham.
Abraham menatap tajam orang itu "wehh serem amat mata Lo.. santei dong haha.. Lo gak mau sambut gw gitu? Padahal gw jauh-jauh balik dari Eropa buat ketemu sama sahabat sehati dan sejiwa raga ini" cerocos pria itu membuat Abraham mual mendengarnya.
"Berisik Lo!.. mending Lo pergi, gw sibuk" usir Abraham.
Waww.. seorang Abraham bisa ngomong gaul juga ya. Pria itu pura-pura terkejut "sampai hati kau mengusir Marcel yang tamvan ini" ujar Marcel dramatis.
Ya pria itu bernama Marcel. Abraham dan Marcel sudah bersahabat dari jaman mereka masuk SMP dan sampai sekarang masih tetap akrab.
__ADS_1
"Lo bisa diem gak? Jijik gw liat drama Lo" ujar Abraham kesal, lalu menatap tajam sahabatnya.
Bukannya takut, Marcel malah tertawa keras melihat raut wajah Abraham yang kesal akan tingkahnya. Dirinya duduk di bangku depan meja Abraham.
"Ada urusan apa Lo ke sini?!" Tanya Abraham to the point.
Marcel menatap Abraham kesal "bukannya siapin minum kek, apa kek, udah ditanya aja.. basa basi dulu kek Ama gw," protes Marcel.
"Lo punya tangan kaki, bikin sendiri. Cepet bilang, gw gak ada waktu banyak"
"Huh iye iye" ujar Marcel jengkel.
"Gimana urusan Lo di New York beres?" Ujar Abraham tanpa melihat ke arah Marcel karena tangannya dan pandangannya sibuk ke berkas-berkas yang sedang di urus.
"Udah dong.. Marcel gitu loh" ujarnya bangga.
"Eh iya, urusan target Lo gimana?" Tanya Marcel mulai serius.
Abraham mengangguk pelan "udah gw urus" ujarnya seadanya.
Triing triiing.. (suara telpon dari hp Marcel)
"Siapa sih.. ganggu aja" umpat Marcel.
Marcel menyalakan ponselnya dan terdapat username istri tercintanya "bini gw" ujar Marcel pelan.
"Halo sayang kenapa?!" ujar Marcel. Sengaja suaranya di kencengin supaya bisa mengerjai Abraham yang sampai sekarang masih jomblo.
"Kamu masih di mana? Kok gak pulang ke rumah?" ujar istri Marcel manja.
Tatapan Marcel seolah meledek Abraham "iya sayang bentar lagi aku pulang.. kamu di rumah ya love you muachh" mendengar ucapan Marcel membuat Abraham jijik. Dia menatap Marcel tajam, dia tau Marcel sedang menggoda dirinya.
"Love you"
Tut (Sambungan terputus)
"Yaudah Sono pergi.. ganggu aja" umpat Abraham.
Marcel memasang muka tengilnya "hemm Lo mau kek gw juga? Makanya nikah Lo Sono.. udah bangkotan juga Lo" ledek Marcel blak-blakan.
Abraham menatap Marcel tajam "Lo mau gw temuin sama malaikat maut gak?" Ujar Abraham kesal.
"Canda haha.. yaudah gw pergi" Marcel langsung ngibrit keluar ruangan Abraham. Abraham memijat pangkal hidungnya karna pusing menghadapi sikap sahabatnya ini.
***
Namira menduduki sofa yang ada di samping tempat tidur. Hatinya gusar setelah menandatangani perjanjian gila itu. Entah nasib Namira akan baik selamanya disini. Semoga aja begitu.
Klek (bunyi pintu terbuka)
terpampang wajah laki-laki dewasa tampan siapa lagi kalo bukan Abraham. Namira seketika langsung berdiri. Abraham semakin dekat kearahnya. Namira perlahan mundur karna takut Abraham berbuat macam-macam padanya.
"A-aadda a-p-ppa Tuan kemari?" Ujar Namira pelan terbata-bata.
"Sekarang kamu mulai melakukan apa yang ada di surat perjanjian, dan jangan pernah membantah!" Ujar Abraham menekan kalimatnya.
Tubuh Namira gemetar dan menghiraukan ucapan Abraham "Namira!!" Bentak Abraham.
Namira tersadar "I-iiya tuan" ujarnya sambil menunduk.
Abraham melepaskan jaketnya "siapkan air.. saya mau mandi" ujarnya dingin.
Melihat Namira terus termenung membuat emosi Abraham naik "kamu denger gak?!" Bentak Abraham.
"Baik tuan, saya siapkan" Namira langsung berlari ke kamar mandi buat menyiapkan air hangat untuk Abraham mandi.
"Airnya sudah siap tuan" tanpa menjawab, Abraham langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Huhh kasar banget jadi orang, gak bisa apa minta baik-baik. Dasar tua Bangka bangkotan" gumam Namira kesal.
"Saya denger!!!" Teriak Abraham dari kamar mandi. Namira terkejut "aduh mampus gw" batinnya menjerit.
***
Abraham selesai mandi tanpa pikir panjang dia keluar telanjang dada dan mengekspose tubuh seksinya.
Abraham menoleh ke arah kasur dan terdapat Namira sedang tidur pulas. Dia mendekati Namira "Heh bangun!" Bentaknya di dekat telinga Namira.
Namira yang terkaget langsung terbangun "haaaaa!!" Teriaknya.
"Siapa yang menyuruhmu tidur hah??!" Bentak Abraham.
Namira menoleh ke arah Abraham dan Namira membulatkan matanya karna melihat Abraham telanjang dada "Aaaaaaaaaaa.. tuaaan kenapa anda telanjaaang?!!!!" Teriak Namira sambil menutup matanya. dia tidak kuat harus melihat tubuh indah Abraham.
"Siapkan baju saya! Cepat!!" Titah Abraham.
Tanpa lama-lama, Namira langsung bergegas ke lemari untuk ambil pakaian yang akan dipakai Abraham.
"Ini tuan bajunya" ujar Namira sembari menyodorkan baju kaos warna biru.
"Saya tidak mau pake yang itu! Ganti!!" Seru Abraham.
Namira menghela nafas "sabar Nam" batinnya.
Namira memilah baju yang mana yang cocok dipakai oleh Abraham. "Ah ini aja" gumamnya sambil menyentuh baju kaos warna hitam polos Dan memberikannya pada Abraham.
"Ini tuan bajunya" ujar Namira sopan. Abraham langsung merampas bajunya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Kamu bisa masak?" Tanya Abraham dingin.
"Hah?" Entah akhir-akhir ini Namira sering lemot.
"Bisa masak gak?!" Bentak Abraham pada Namira.
"Ah saya? Bisa!" ujar Namira.
"Oke.. siapkan saya makanan! Cepat!" Titah Abraham. Namira sedikit kesal pasalnya pelayan di rumah ini banyak, kenapa harus dirinya yang memasak.
"Ha? Kenapa harus saya?!" Protes Namira.
Abraham menoleh ke arah Namira dan menatapnya tajam "mau protes?!"
Namira menggeleng cepat "baiklah, saya buatkan.. tapi-" ujar Namira.
Abraham menaikkan alisnya seolah bertanya kenapa. "T-ttapi saya tidak tau arah dapur di mana.. rumah ini besar sekali" ujarnya pelan.
Abraham sedikit gemas akan gadis kecil di depannya ini. Tapi dirinya harus tetap profesional tidak boleh baik terhadap siapapun.
Abraham meraih ponsel dan menelpon seseorang "panggilkan Toni"
"Baik tuan"
Tidak lama, Toni pun masuk ke dalam kamar Abraham "iya tuan, ada apa cari saya" ujar Toni sopan
"Antar dia ke dapur" titah Abraham dingin.
Toni menoleh ke arah Namira yang sedang menunduk dan menatap Abraham kembali "baik tuan"
Toni langsung meraih tangan Namira dan membawa Namira ke dapur.
"Masak yang bener! Jangan sampai kau berani mencampurkan apapun ke dalam makanan yang kau buat! Jika terjadi sesuatu, maka kau akan di hukum" ancam Toni.
Namira hanya mengangguk lesu. Toni menatap tajam Namira lalu pergi menuju markasnya.
"Huhhhh baru sehari aja gw udah gak kuat di sini.. sial banget hidup gw.. aaaaaaa" teriak batin Namira.
__ADS_1