
Sudah hampir 2 Minggu Namira tidak pulang ke rumahnya. Tanpa memberi kabar apapun. Kedua orang tuanya menjadi cemas kembali, takut kejadian tempo lalu terulang kembali.
Saat ini, Ahmad sedang menuju rumah besar milik sahabat anaknya yaitu Widya. Ahmad ke sana mengendarai motor tua nya. Kebetulan, Widya memang sangat dekat dengan anaknya tak heran jika Ahmad mengetahui kediaman teman-teman anaknya.
Tak lama kemudian, Ahmad telah sampai di kediaman Widya. Di sana juga ada penjaga yang menjaga keamanan di rumah besarnya tersebut.
"Permisi pak, saya mau tanya.. Dek Widya ada gak ya? Dia itu teman anak saya, saya mau nanyain anak saya ke dia karena udah 2 Minggu gak pulang-pulang"
Satpam tersebut mengangguk paham "oh ada pak.. sebentar saya laporan dulu ya, bapak tunggu aja di sini.. nanti saya ke sini lagi"
"Baik pak"
Kemudian satpam tersebut menemui seseorang yang baru saja turun dari anak tangga.
"Tuan.. permisi, di luar ada yang mau bertemu Nona Widya" ujar satpam itu.
Wijaya pun menatap satpamnya terheran "siapa yang datang malam-malam begini?"
"Katanya dia orang tua dari temannya Non Widya"
Ternyata Widya pun turut turun tangga. Mendengar namanya di sebut membuatnya penasaran. Ia pun kemudian menghampiri satpam tanpa memperdulikan ayahnya di sampingnya.
"Siapa pak yang cari saya?"
"Ada orang tua temen Non, katanya mau ketemu"
Widya pun terdiam sejenak, lalu ia pun paham akan maksud satpam tersebut.
"Pasti bokap nya Namira" batin Widya.
Ia pun langsung berlari menuju keluar rumah. Wijaya hanya terdiam. Dirinya pun turut ikut keluar bersama anaknya untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahnya. Widya sudah berada di pintu luar dan melihat Bapak Namira sedang duduk di pos satpam. Dengan segera, ia menghampirinya.
"Bapak.. bapak ngapain duduk di sini.. ayo kita ke dalam"
Mendengar suara Widya, dengan cepat Ahmad menoleh pada anak gadis itu. Dan ternyata dibelakangnya terdapat pria yang lebih dewasa di samping Widya.
__ADS_1
"Maaf anda siapa?" Tanya Wijaya.
Ahmad pun berdiri "maaf pak jika kedatangan saya mengganggu anda.. saya hanya ingin bertemu dengan Widya untuk menanyakan anak saya Namira"
Wijaya pun mengangguk paham. Ia kenal siapa Namira. Namira adalah sahabat dari anaknya. Dia juga sering bermain ke rumah tapi Wijaya sering mengacuhkannya.
"Oh iya.. kenapa dengan Namira?"
"Anak saya belum pulang pak.. katanya sih dia mengerjakan project kuliah bareng sama Widya.. tapi sampai hari ini dia belum pulang"
Mendengar itu, Widya langsung terkejut. Ia pun sedikit panik karena Ahmad menanyakan Namira padanya. Wijaya pun menoleh pada anaknya tersebut.
"Widya.. tolong kasih tau bapak.. kemana Namira?"
Widya terdiam sejenak. Wajah khawatirnya gak bisa di tutupi. Lalu ia pun menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya.
"Maaf pak lupa ngasih tau.. Namira katanya mau ke banyak tempat buat observasi.. makanya dia belum pulang"
Ahmad pun mengangguk. Karena ia pun tidak paham akan pembahasan mengenai perkuliahan anaknya.
"Katanya sih dia lagi ada di luar pulau bareng sama temen-temen yang lain.. tadinya aku mau ikut, cuma tugasku sudah selesai jadi terpaksa pulang duluan" bohongnya.
Ahmad pun seketika terdiam. Ia seketika bingung, bagaimana Namira bisa mendapatkan uang. Seingatnya, ia hanya memberikan uang jajan 500rb. Tidak mungkin jika dia pergi ke luar pulau.
"Tapi Neng.. Anak saya tidak membawa cukup uang, bagaimana bisa?"
"Aku yang ngasih dia pak.. udah, bapak jangan khawatir.. dia sengaja gak hubungin bapak karena takut khawatir.. dia juga pengen fokus katanya.. nanti juga Namira pulang kok"
Ahmad pun menghela nafas beratnya. Lalu ia juga mengangguk pasrah. Mungkin yang dikatakan Widya benar jika anaknya itu melakukan observasi di luar pulau.
"Ya sudah Neng.. makasih ya udah ngasih tau bapak.. soalnya bapak khawatir kalau Namira sampai di culik seseorang"
Seketika raut wajah Widya kembali canggung "ah hahahaha.. nggak kok pak.. Namira baik-baik aja.. buktinya dia masih ngabarin aku.."
"Semoga aja anak itu baik-baik aja.. makasih ya Neng.. bapak udah tenang sekarang.. kalau gitu, bapak permisi ya"
__ADS_1
"Iya pak.."
Lalu pandangan Ahmad jatuh pada Wijaya "pak, saya pamit dulu ya.. maaf mengganggu"
Wijaya pun tersenyum sembari menepuk bahu Ahmad "tidak apa-apa.. namanya orang tua lagi khawatir sama anak.."
"Saya pulang ya pak, assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
Setelah kepergian Ahmad, raut wajah Widya berubah menjadi sedikit sendu. Ia tidak tega jika harus berbohong pada pria itu. Wijaya yang melihat anaknya termenung menatap sedih Ahmad, langsung mengelus pucuk rambutnya. Namun Widya tak bergeming. Ia masih menatap kosong ke arah depan.
"Maafin Widya ya pak.. aku terpaksa bohong.. aku juga gak tau kabar Namira sekarang bagaimana.. aku juga berharap supaya dia baik-baik saja di sana" batin Widya sedih.
"Nak, kamu kenapa?" Tanya Wijaya.
Lalu Widya pun masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan ayahnya. Sedangkan Wijaya hanya menatap anaknya dengan terheran. Tapi, dirinya pun kembali memasuki rumahnya untuk beristirahat.
***
Namira sedang menatap langit gelap di balkon kamar Abraham. Karena Abraham sendiri yang menyuruhnya untuk tidur di kamarnya. Namira masih menatap bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang.
Angin sepoi-sepoi menambah suasana nyaman. Namun, hatinya kembali sedih. Asalnya ia sudah berjanji akan kembali pada keluarganya. Namun, mungkin ia harus mengingkari janjinya tersebut.
Ia pun menutup matanya sembari menikmati angin malam. Ia menyesali kehidupannya kenapa ia harus terjerat kehidupan gelap seperti ini. Perlahan, mata cantiknya itu mengeluarkan buliran bening yang mengalir di pipinya.
Dalam keadaan matanya yang tertutup, Namira menangis dalam diam. Ia rindu akan kehidupan awalnya yang damai. Dan izin cutinya pun akan berakhir. Ia juga rindu masa-masa kuliahnya, rindu pada sahabatnya widya. Namun ia harus mengalami kejadian pahit karena sudah masuk ke lingkungan Abraham.
"Ibu.. Bapak.. Maafin Ayu.. Ayu gak bisa tepati janji pada kalian.. semoga kalian gak ingat aku ya.. aku harap kalian selalu sehat di sana" batinnya sedih.
"Widya.. Maafin gw udah jadi beban Lo.. Karena Lo pasti sedikit kesusahan jaga privasi gw sekarang.. gw juga kangen sama Lo Wid" sambung batinnya.
Lalu setelah lelah menangis, Namira pun menghapus air matanya. Ia tidur di balkon dengan beralaskan kasur lantai yang sudah tersedia. Walaupun dirinya tidur di kamar Abraham, jangan berfikir jika dia satu ranjang dengannya. Justru Namira tidur di balkon dengan angin malam yang lumayan menusuk badan. Ia pun hanya bisa pasrah dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Ia sudah terbiasa tidur dengan keadaan angin yang begitu menusuk ke dalam kulitnya. Ia harus bertahan demi keluarganya di rumah. Walaupun ia harus mati di sini, ia rela asalkan keluarganya aman.
__ADS_1