
Abraham pergi ke kantor dengan perasaan yang sangat jengkel sekali. Bagaimana tidak, ia pergi dalam keadaan perut lapar dan emosi menggebu. Ditambah lagi sekarang adalah masa di mana ia harus berdebat dengan lawan bisnisnya.
Terlebih lagi, file yang ia siapkan untuk persentasi hari ini malah hilang tanpa sebab. Ia harus mengulang kembali untuk keberhasilan perusahaan mendapatkan kerjasama dengan beberapa perusahaan besar.
Lalu, Abraham pun memasuki ruangan meeting.
"Halo selamat pagi" sapanya dengan datar saat memasuki ruang meeting.
Salah satu dari mereka menatap remeh wajah Abraham yang nampak kesal pagi ini "kenapa pak Abraham, kenapa muka anda kusut seperti itu? Apakah anda tidak diberi jatah oleh istrimu?"
Semua yang diruangan itu menatap tajam padanya "pak Rico.. jaga bicara anda" ujar salah satu dari mereka. Abraham pun melihat ke arah dirinya dengan tatapan membunuh. Sedangkan pria yang bernama Rico tersebut masih meremehkannya.
"Kali ini aku akan mengalahkan mu Abraham. Semua klien akan menjadi memilikku" batin Rico dengan percaya diri.
Lalu rapat di mulai dengan setiap perwakilan perusahaan mempromosikan produk mereka pada para pemimpin perusahaan. Yang memenangkannya akan diberi masa kerja sama yang sangat lama. Dan itu sangat menguntungkan untuk sebuah perusahaan.
Rico pun ikut andil dalam mempresentasikan produknya tersebut. Abraham sedikit tercengang saat melihat persentasi pria tersebut hampir sama dengan miliknya yang hilang. Ia menggeram marah, akan tetapi ia menahannya.
Kini, giliran Abraham yang mempromosikan hasil dari perusahaannya. Dengan santai ia menjelaskan dengan detail dan jelas. Lagi-lagi semua kagum akan dirinya. Memang Abraham selalu dipercaya untuk membuat produk yang bagus untuk kebutuhan mereka dan masyarakat luas. Dan yang pasti akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari sebelumnya.
Rico yang awalnya meremehkan, kini kembali dibuat cemas olehnya. Abraham memang lawan yang tangguh. Ia tidak bisa diprediksi.
"Bagaimana bisa-" batin Rico tidak percaya.
Persentasi pun telah selesai. Kini mereka sedang berbincang mengenai masing-masing yang akan menjadi partner dari investor tersebut.
"Seperti biasa.. anda memang sangat mengagumkan tuan Abraham" puji kliennya atas persentasi yang Abraham bawakan.
"Sesuai yang saya amati, semuanya begitu bagus dan sangat unik. Cuman belum bisa menentukan hasil yang signifikan.. jadi, saya memutuskan untuk kerjasama dengan anda tuan Abraham"
Abraham menyunggingkan senyumnya "terima kasih"
Lalu mereka pun bertepuk tangan atas kerjasama mereka. Dan Abraham pun berjabat tangan dengan kliennya itu. Tak di sangka, hasil dadakannya bisa menjadi buah yang manis seperti hasil kerjasama ini.
"Oke tuan Abraham.. kita akan bertemu kembali saat membahas proyek yang akan ada buat dengan perusahaan kami"
"Baik pak.. saya tunggu kabar dari anda"
Sementara Rico keluar ruangan terlebih dulu sebelum mereka semua bubar. Ia sangat kesal jika Abraham lagi-lagi mendapatkan proyek besar.
__ADS_1
"Kurang ajaaar!! Kenapa bisa seperti ini?!! Bagaimana dia bisa meyakinkan mereka semua!!"
Rico mengamuk di kamar mandi kantor Abraham hingga terdengar suara teriakannya. Setelah lega, ia pun keluar dari kamar mandi tersebut. Namun saat ia hendak keluar dan menuju lift ternyata Abraham sedang menunggunya dengan tatapan tajam yang menyertainya.
"Kasian ya.. udah buat curang tapi masih aja kalah" celetuknya menohok.
Rico mengepalkan tangannya "kamu hanya beruntung pak Abraham.. saya yakin anda melakukan kecurangan seperti saya demi proyek tersebut"
Abraham menghampiri Rico dan mulai mencengkram kuat kerahnya.
"Beraninya anda sama saya!!"
"Hehh.. apa yang harus saya takutkan dari anda hah?!!"
"Seharusnya saya membunuhmu sekarang juga! Beraninya kau mencuri file milikku untuk kerjasama dengan mereka.. kau tidak punya malu hah?!!"
Abraham menggeram marah lalu menghempaskan tubuh Rico ke lantai dengan keras "dengar ya!! Saya tidak akan segan-segan membuat diri anda hancur.. berhati-hatilah jika tidak mau hidupmu sengsara!" Ancam Abraham.
Ia masih baik membiarkan Rico tetap hidup. Rasanya ia ingin membunuhnya segera. Dengan nafas yang masih memburu, Abraham pergi meninggalkan Rico seorang diri. Ia turun melalui lift khusus untuk dirinya pribadi.
Saat ia keluar lift, terdengar suara gaduh yang membuat Abraham semakin pusing akan kejadian hari ini.
"Eumm.. maaf bos.. ada seorang wanita yang memaksa ingin masuk dan menemui anda.. tapi sepertinya resepsionis dan satpam tidak mengizinkannya masuk.. makanya seperti ini"
Abraham terdiam sejenak lalu kembali menoleh pada karyawannya itu. Semua karyawannya pun ikut mendengarkan penjelasan dari rekannya itu
"Ya sudah... Kembali bekerja.. atau kalian akan saya pecat karena tidak melaksanakan tugas kalian!" Tegasnya.
Seketika semua karyawan yang berkumpul kembali mejanya masing-masing. Segera Abraham pergi ke depan untuk melihat apa yang telah dibicarakan oleh karyawannya.
Sementara itu, seorang wanita masih keras kepala ingin menerobos masuk ke dalam kantor.
"Lepas!! Heh!! Kurang ajar Lo ya!! Baru jadi satpam sama resepsionis aja belagu Lo!! Ini tuh kantor pacar gw!! Emang gw gak boleh ketemu sama pacar gw hah?!!" Bentak wanita tersebut
"Maaf Mbak.. peraturan tetap peraturan.. anda tidak boleh sembarangan masuk kesini tanpa ada janji"
"Heuuhhh dasar kurang ajaaarrr!!"
"ADA APA INI!!" Bentak Abraham yang ternyata sudah memperhatikannya sedari tadi. Seketika satpam dan resepsionis pun tertunduk takut karena Abraham sudah berada di depan mereka.
__ADS_1
Wanita yang sedari tadi berteriak, kini tersenyum lebar dan mulai berlari memeluk tubuh kekar Abraham.
"Sayang.. mereka semua larang aku masuk.. aku mau kamu pecat mereka" adunya dengan suara manjanya. Mereka hanya bisa menunduk lesu dan juga takut.
Abraham merasa jijik jika dipeluk oleh wanita tersebut "lepaskan!!" Seketika tubuhnya terhempas karena ia melepaskannya dengan paksa.
"Kamu kenapa sayang?"
"Apa tujuanmu kemari Silvia? Jika ingin hanya membuat keributan, mending kamu pergi dari sini!" Usir Abraham dengan tegas.
Yaps.. wanita tersebut adalah Silvia mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Kini, entah kenapa dia mengejar Abraham kembali.
"Kamu kenapa sih.. aku kangen sama kamu" ujarnya dengan penuh drama.
Abraham masih menatapnya dingin. Ingin sekali rasanya menampar pipinya tersebut. Hingga ia tersadar jika dirinya tidak memiliki rasa malu. Bahkan dengan percaya dirinya, ia masih menganggap bahwa Abraham adalah kekasihnya.
"Kamu bukan siapa-siapa saya! Jadi.. pergi dari sini! Disini bukan tempat casting sinetron Indosi*r.. jadi gak usah drama!!" Bentaknya.
"Kalian!! Keluarkan wanita gila ini! Muak saya lihat wajahnya itu!!" Perintahnya pada kedua satpam yang sedang berjaga.
"Baik pak.. ayo kamu keluar sekarang juga!"
Silvia tetap meronta "lepaskan!! Aku mohon Abraham.. tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita.. aku masih sayang sama kamu"
"Ayo cepat keluar!!"
"Sayang!!!"
Abraham hanya menatap sinis pada Silvia. Ia masih mengingat kisah menjijikan antara dirinya mantannya itu. Satpam menyeret paksa tubuh wanita tersebut agar menjauh dari area kantor.
"Arrgghhh"
Tubuh Silvia terhempas di tanah.
"Jangan pernah kembali ke sini!" Lalu satpam itu pergi meninggalkan Silvia seorang diri.
Silvia menggeram marah. Ia masih aja tetap gagal untuk membujuk Abraham kembali padanya.
"Sial!! Gw harus buat dia tergila-gila lagi.. supaya gw bisa menikmati hartanya yang berlimpah"
__ADS_1
Untuk saat ini, Silvia memutuskan untuk pergi dari sana. Dan ia berjanji akan kembali lagi saat ia menyusun rencana yang matang untuk membuat Abraham kembali.