
Namira POV
Aku pulang ke rumah dengan keadaan gusar. setelah mendapat pesan Ancaman itu, aku seperti tidak tenang. nyawa adikku dalam bahaya. tapi aku juga takut untuk memberitahu kedua orangtuaku.
Melihat ibuku yang sedang menangis karna adikku belum juga ketemu. aku harus gimana? Apakah aku harus bilang kalo adikku diculik? Tapi nanti penyakit jantung ibu kambuh. aku gak mau ibu dan bapak kenapa-kenapa.
Mungkin untuk sementara aku rahasiakan sambil mencari cara untuk menyelematkan adikku dengan tanganku sendiri.
"Yu.. gimana? Adikmu sudah ketemu?" Tanya ibuku sambil menangis.
"belum Bu," jawabku lemas.
Ibuku kembali menangis, dan bapak mengelus punggung ibu supaya tenang.
Aku langsung menuju ke kamarku dan gak lupa kunci pintu. aku memikirkan gimana caranya untuk mendapatkan uang 1 M dalam seminggu atau aku harus mau jadi pelayan pribadi demi menyelamatkan adikku.
"Ya Allah.. kenapa cobaan ini begitu berat hikss.. adikku diculik seseorang oleh orang yang gak dikenal tapi aku malah enak-enak disini.. tolong jaga adik hamba ya Allah hiks.. jangan sampai orang itu menyakiti adikku," doaku sembari menangis.
Aku menghapus airmata yang mengalir dipipiku. sekarang ini bukan waktunya menangis, aku sudah memikirkan matang-matang.
Aku langsung menelpon Widya untuk membicarakan soal rencana penyelamatan adikku.
Tutt.. Tut... Tut..
"Ya halo.. kenapa Nam?" Ujar Widya di telpon.
"Wid.. gw udah Nemu keputusan buat nyelamatin adek gw," Tegasku.
"Apa rencana Lo?" Tanya Widya.
"Jadi gini.. setelah gw pikir-pikir, gw akan Nerima tawaran mereka jadi pelayan pribadi," ujarku mantap.
"Hah? Lo gila ya? Kata gw jangan bertindak gegabah Namira! Ini masalah serius.. jangan main-main!" Bentak Widya di telpon. Deruan nafas Widya terdengar di telpon seperti menahan amarah.
Aku sudah tau reaksi Widya akan seperti ini.
"Iya tau.. tapi gak ada cara lain selain ini.. gw minta Lo jangan kasih tau siapa-siapa hanya gw dan Lo aja yg tau.. dan kalo gw boleh minta tolong, tolong gw buat kumpulin dana 1 M ya Wid.. please tolongin gw," ujarku memohon.
"Hufttt.. yaudah kalo itu keputusan Lo, gw gak bisa buat apa-apa.. gw bakal bantu Lo untuk dapetin dana 1 M.. buat bebasin Lo juga.. Lo tenang aja," ujar Widya mereda.
Aku terharu sekali mendengar jawaban Widya "makasih ya Wid.. Lo bener-bener baik sama gw," ujarku lirih.
"Yakan gw sahabat Lo.. kalo boleh tau, Lo berangkatnya kapan?" Tanya Widya lagi.
"Besok pagi gw berangkat pake motor," ucapku.
"Yaudah nanti kalo ada apa-apa kabarin gw ya," ujar Widya.
"Iya makasih ya Wid udah support gw.. doain gw supaya adik gw selamat," ujarku.
"Lo juga hati-hati ya.. jaga diri Lo baik-baik," tutur Widya.
"Iya gw bakal jaga diri baik-baik.. ehh udah dulu ya.. gw mau siap-siap buat besok.. bye"
"Bye"
Aku mematikan telpon dan segera menyiapkan keperluan untuk menyelamatkan adikku satu-satunya.
Namira POV End
***
Perlahan membuka mata. kepala dan Nanda begitu sakit sekali karna menerima banyak pukulan dibadan kecilnya. Ketika sadar ternyata dia sudah tertidur hingga 4 jam lamanya.
"I-ibu.. B-bbapakk.. k-kkakak.. tolong Nanda," ujar Nanda lirih.
"Wah wahh.. Adek manis ini sudah bangun ya.. tidurnya kayanya nyenyak sekali," ejek Toni.
Nanda perlahan bangkit untuk duduk. walaupun badannya sakit tapi tetap dipaksakan. perutnya sakit karna dari siang dia belum makan apa-apa.
"O-om boleh aku minta sesuatu?" Lirih Nanda sedikit ketakutan.
"Apa?!" Bentak Toni.
Nyali Nanda menciut tapi dia masih bisa memberanikan diri untuk menjawab ucapan Toni.
__ADS_1
"A-aku lapar om.. boleh aku minta makanan.. sedikiitt aja," lirih Nanda memohon.
"Tidak!" Seru Toni.
Nanda menatap wajah Toni dengan memasang wajah sedih.
"Kenapa om?" Tanya Nanda lirih.
Toni menarik rambut Nanda dengan kencang "A-aawhh om s-ssakkiittt!" Ringis Nanda sembari menahan sakit.
"Hehh! Dengan Lo masang wajah sedih seperti itu apa gw merasa kasian?.. denger ya bocah, ini hukuman buat Lo karna Lo udh berani sama bos!!" Sentak Toni.
Nanda kembali menangis karna kesakitan.
"Berhentilah menangis dasar bocah cengeng!" Bentak Toni lagi.
Toni hendak menendang Nanda tapi terhenti oleh suara bosnya.
"Hentikan Toni!" Ucap seseorang yang sangat familiar bagi Toni. Yap itu adalah suara Abraham.
"B-bbos," ucap Toni gugup.
Abraham menghampiri ruangan dimana Nanda dikurung dan dijaga ketat oleh Toni.
"Kenapa?" Tanya Abraham dingin.
"A-anu.. ini boss dia minta makanan"
"Yaudah kasih dia makan"
"T-tapi bos?"
"Kenapa? Walaupun saya menculiknya tapi saya tidak akan membiarkan sandera satupun kelaparan" ujar Abraham tegas "ayo siapkan makanan!" lanjut Abraham.
"Baik tuan," Toni pergi meninggalkan. Abraham untuk mengambil makanan untuk Nanda.
Abraham menatap ke arah Nanda yang sedang duduk menunduk ketakutan. Dia mendekati Nanda dan jongkok di depannya.
Nanda menatap wajah Abraham dengan penuh ketakutan.
Gak lama Toni datang membawa beberapa makan dan air minum untuk Nanda.
Abraham terdiam dan kembali bangkit untuk meninggalkan ruangan tersebut. Namun langkahnya berhenti ketika Nanda memanggilnya.
"O-oomm," Abraham menoleh kearah Nanda.
Nanda mulai memberanikan diri untuk menatap wajah menakutkan Abraham "M-makasih udah ngasih aku makanan," ujar Nanda berbinar.
Tidak respon ucapan Nanda, Abraham kembali ke ruangannya.
***
Abraham duduk di kursi kebesarannya sambil memegang ponsel. Dia tersenyum puas ketika mengirimkan pesan Ancaman pada gadis itu.
ponselnya berdering, setelah dilihat ternyata gadis itu yang menelpon dirinya. Dengan santai Abraham mengangkat telpon tersebut.
Baru juga diangkat, gadis itu langsung menyambar pembicaraan.
Tutt.. (angkat telpon)
"Dimana Adikku?!!" Seru Namira di telpon.
"Heh! Apa kau tuli ya.. dimana Adikku?!" Bentaknya lagi.
Abraham terkekeh "jangan terburu-buru nona.. mari kita bicara dulu," ujar Abraham enteng.
"Aku hanya ingin Adikku.. DIMANA ADIKKU?!" Lagi-lagi hanya bentakan yang Abraham dengar.
"Adikmu aman bersamaku disini"
"Kau tidak apa-apa kan adikku kan?!"
"Yaaaa.. saya hanya memukulnya sedikit"
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU!!!"
__ADS_1
"adikmu itu susah diatur jadi saya hanya mendisiplinkan saja"
"Sekarang dimana Adikku? Aku ingin bicara dengannya"
"Saya tidak bisa melakukan itu"
"Please aku mohon.. aku ingin bicara pada adikku"
"Baiklah," menjauhkan telpon dari telinganya.
"Panggil Toni untuk Bawa bocah itu kemari!" Perintah Abraham pada bawahannya.
"Baik tuan"
Abraham menempelkan ponselnya kembali ke telinganya.
"Apakah aku bisa bicara pada adikku?"
"Sepertinya anda tidak bisa bersabar ya Nona"
Tok.. tok.. tok..
"Masuk"
"Ada apa tuan suruh saya bawa bocah ini?"
"Gak ada apa-apa, kamu silahkan keluar, saya ingin bicara pada anak ini"
"Baik tuan"
"Silahkan bicara pada adikmu nona," Abraham memberikan ponsel mahalnya pada Nanda.
Nanda memasang muka heran "ada apa om?"
"Kakakmu telpon," Ucap Abraham dingin.
Raut wajah Nanda yg tadinya ketakutan seketika berubah terlihat bahagia "benarkah om?" ujarnya berbinar.
Abraham menghela nafas kasar "cepat ambil! Atau saya matikan!" Sentaknya.
Nanda mengangguk cepat dan mengambil alih ponsel Abraham.
Dengan suara gemetar, Nanda memulai pembicaraan "h-halo.. k-kak ayu"
"Sayang.. kamu gak apa-apa kan?"
Nanda meneteskan air mata ketika mendengar suara kakaknya "aku baik-baik aja ka"
"Kamu tenang aja.. kakak akan nyelamatin kamu.. kamu yang sabar ya sayang.. kamu harus kuat ya dek"
"Benarkah? Kakak mau kesini?"
Abraham sebenernya sudah tau kalo Namira akan menjemput adiknya.
"Iya dek.. kamu juga jaga diri baik-baik ya.. tunggu Kakak di sana"
"Iya kak hikss"
Abraham langsung merampas ponsel miliknya dan mematikan telpon secara sepihak.
"Waktumu sudah habis.. kembali keruangan"
Nanda mengangguk pelan dan meninggalkan ruangan tersebut. padahal dirinya sangat kangen sama kakaknya.
Abraham sangat menantikan gadis itu datang kesini "aku menunggumu gadis kecil," batin Abraham sembari senyum menyeringai.
***
"Halo dek?"
"Halo? Halo!!"
"Ish sial!! dimatiin lagi," Gerutu Namira.
Namira kesal karna telponnya dimatikan secara sepihak oleh si penculik sialan itu. tapi dirinya bersyukur masih bisa mendengar suara adiknya.
__ADS_1
Malam ini Namira tidur cepat karna besok akan berjuang untuk menyelamatkan adiknya.