Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
Trauma berat


__ADS_3

"huhhh.. nikmat sekali.. kenapa gak dari awal saja aku setubuhi kamu ya" jawab Abraham dengan sangat enteng.


Namira hanya meringkuk sembari menangis tersedu. Mahkota yang selama ini ia jaga, bisa berakhir di tempat mengerikan serta dengan iblis yang menakutkan. Abraham yang kelelahan pun ikut berbaring sembari memeluk tubuh mungil Namira.


Dalam diam, Namira masih mengeluarkan air matanya.


"Ibu.. bapak.. aku sudah tidak suci lagi" batinnya bersedih. 


Ia pun kemudian berbalik dan menatap wajah Abraham yang tertidur di sampingnya. Ia akui jika dirinya terpesona akan ketampanan pria matang tersebut. Tapi, kejadian kemarin membuatnya muak. Ia sangat membencinya. Perlahan ia bangun dari tidurnya dan merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


"Awwsssshhh" ringisnya pelan sembari mengeluarkan air mata.


Namira kembali menangis pelan. Lalu dengan perlahan, ia mengambil pakaiannya yang sudah dilempar oleh tuannya tersebut dan memakaikannya kembali untuk menutupi dirinya. Lalu, ia pun pergi ke pojokan menjauhi Abraham yang tengah tertidur pulas di dalam ruang tahanan tersebut.


Tubuhnya masih bergetar hebat karena ketakutan "Bagaimana nasibku nanti.. mungkin tidak ada yang mau menikahi ku karena sudah tidak perawan lagi" batinnya kembali.


Karena kelelahan menangis, ia pun terlelap dalam posisi terduduk di pojokan.


***


"Eunghhhh" lenguh Abraham saat mulai merasakan kesadarannya. Ia sedikit kesulitan membuka mata dikarenakan kepalanya sangat berat sekali. Lalu perlahan ia membuka matanya tersebut. Setelah tersadar, ia pun terkejut ternyata dirinya tertidur di dalam ruang tahanannya sendiri.


"Bagaimana bisa gw di sini.. dan kenapa gw telanjang kaya gini?" Batinnya terkejut.


Ia tak mengetahui kejadian kemarin karena mabuk berat. Lalu dirinya memandangi Namira yang jauh darinya dan tertidur di pojokan. Dengan sigap ia mengenakan pakaiannya lagi.


"Pasti gadis itu yang buat macam-macam sama gw... Kurang ajar!!" Batinnya kembali murka.


Lalu dirinya melihat ada sebuah gelas berisikan air, dan ia pun membawanya menuju gadis itu.


Byuuurrrrr..


"BANGUNN! KURANG AJAR LO YA!! BERANINYA LO LECEHIN GW!!" Bentaknya saat melihat Namira sedang tertidur.


Namira pun terbangun sekaligus terkejut saat tubuhnya basah dengan air dan mendengar suara keras pada dirinya. Lalu ia menatap pria yang sedang menatapnya dengan murka.


Lalu Abraham menarik tangan Namira dengan kasar. Karena lukanya belum kering, jadi dirinya masih merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Awssshhh"


"Dasar ******!! Beraninya Lo nyentuh gw!! Lo siapa hah?!!! Gw udah bilang jangan pernah sentuh badan gw!!"


Sepertinya ia lupa dengan kejadian semalam. Namira sangat terkejut saat mendengarkan ucapan dari bosnya tersebut. Entah kenapa dirinya merasakan sakit hati setelah dihina seperti itu. Padahal dia sendiri yang memaksanya hingga Namira dipukuli habis-habisan.


Abraham semakin murka saat melihat Namira menangis dan tidak menjawab ucapannya.


"JANGAN MENANGIS!! MUAK GW LIHAT MUKA LO!! sekarang, Lo tetap di sini sebagai hukuman melanggar aturan!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Abraham pun pergi meninggalkan tahanan tersebut dan menguncinya. Namira kembali menangis dalam kesunyian.


"Ya tuhaaannn... Tolong aku!"


***


Abraham kembali dari ruang tahanan menuju ke dalam rumahnya dalam keadaan marah. Lalu ternyata dirinya melangkahi ruang tahanan Santi dimana dirinya sedang berteriak minta dilepaskan.


"Lepaskan saya!! Dasar pengawal bodoh!!"


Lalu teriakannya mulai terhenti saat melihat Abraham yang berantakan serta menatapnya dengan tajam. Santi melihat Abraham seperti itu membuatnya semakin terpesona. Entah kenapa Abraham sangat seksi sekali hari ini.


"Tuan.. tolong lepaskan aku.. aku tidak bersalah.. aku mohon" rayunya dengan mendayu.


Tapi sepertinya ia sudah tidak tertarik dengan para tahanannya tersebut, ia pun pergi meninggalkannya Santi begitu saja. Santi pun terkejut dikarenakan Abraham tidak memperdulikannya.


"Tuaaannn!!"


"Tuaaaannn!!"


Abraham memasuki kamarnya dan mulai memasuki kamar mandi. Ia masih belum mengingat atas kejadian semalam. Lalu ia pun menanggalkan semua pakaiannya. Ia sedikit terkejut saat melihat area pribadinya terdapat darah yang sudah mengering.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?!!!"


Tiba-tiba sekilas ia mengingat kejadian semalam dengan cepat. Karena ia mabuk, ia melecehkan Namira dalam keadaan tidak sadar.


"Tidak.. tidak mungkin.."


Tapi ia mengingat bahwa dirinya semalam merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dan itu tak pernah ia dapatkan dari wanita yang sering ia sewa untuk menyalurkan hawa nafsunya. Dadanya mulai bergemuruh. Dirinya mulai tertarik dengan gadis itu.


"Dia harus jadi pemenuh hasrat gw!"


Setelah mandi dan mengenakan baju santai, ia memanggil Toni untuk segera ke hadapannya.


"Ya Bos, anda manggil saya?"


"Hubungi dokter sekarang!"


"Untuk siapa bos?"


"Gak usah banyak tanya! Panggilkan saja!"


Toni mengangguk kepalanya dengan cepat. Ia pun langsung menuju ke bawah untuk memanggil dokter pribadinya. Setelah dokter itu sudah tiba, ia menyuruh Toni untuk segera mengeluarkan Namira dari tahanan dan di tempatkan di kamar tamu.


Awalnya ia merasa ada keanehan pada tuannya itu. Tapi, ia tak berani bertanya jadi hanya melaksanakan tugasnya saja.


***


Namira masih dalam keadaan menangis sembari memeluk dirinya sendiri. Wajah, tubuhnya penuh dengan luka. Di area bawahnya juga merasakan sakit yang luar biasa. Ditambah hatinya pun ikut sakit dikarenakan dituduh ****** oleh tuannya sendiri.


Kemudian ia seketika terkejut saat mendengar bunyi gerbangnya di buka oleh seseorang. Dan bayangan orang tersebut sangat jelas di sana.


Lalu dirinya hanya bisa pasrah sembari memeluk tubuhnya yang gemetar akibat ketakutan. Lalu Toni menampilkan wajahnya dengan tatapan dinginnya.


"Bangun! Sekarang Lo bebas! Ayo keluar sekarang" ujarnya dengan dingin.


Namira masih terperangah mendengar ucapan dari Toni tersebut.


"Ayo cepat bangun!! Lelet banget!!"


"Arghhhh" ringisnya pelan.


"Ayo"


Dengan tertatih ia mulai berjalan sangat pelan sekali dikarenakan tubuhnya dan area bawahnya sangat ngilu. Toni yang menyadari jika Namira sangat lambat hanya terdiam dan berjalan normal meninggalkan dirinya.


Namira pun telah masuk ke dalam rumah kembali. Lalu ia di tolong oleh pelayan yang merupakan rekannya tersebut dan mengantarkannya ke kamar tamu. Saat di dalam ia dibaringkan di kasur yang berukuran sedang.


Lalu, dokter pun muncul di belakang mereka semua "permisi, saya akan memeriksanya atas perintah tuan Abraham"


Dokter tersebut menyebut nama pria itu. Seketika mata Namira mulai berkaca-kaca kembali. Pintu tersebut telah tertutup dan hanya tersisa dirinya dengan dokter itu.


Dia adalah Revina. Dokter cantik yang menjadi dokter pribadi keluarga Abraham. Dokter itu sangat miris saat melihat keadaan Namira yang begitu sangat kacau.


Saat dokter tersebut menyentuhnya, tiba-tiba tangannya di tepis olehnya.


"Jangan.. ku mohon.. jangan sentuh aku.." lirihnya.


Revina pun tersenyum getir "sepertinya dia mengalami trauma berat"


"Kamu tenang ya.. saya hanya dokter.. tugas saya untuk menyembuhkan luka kamu sekaligus trauma yang kamu alami"


Seketika Namira pun ikut terhanyut akan ucapan dokter tersebut. Merasa ia sudah tenang, lalu Revina mulai melakukan pengobatannya. Dirinya mulai membersihkan semua luka yang terdapat di sekujur tubuhnya.


Jujur dia sangat tidak tega melihat gadis kecil ini mendapatkan siksaan yang sangat hebat.


"Umur kamu berapa dek?" Tanyanya dengan ramah.


Namira hanya diam. Kemudian terdengar suara lirih yang keluar dari mulutnya "d-ddua puluh satu tahun" lirihnya sangat pelan.


Benar dugaannya. Revina sangat terkejut saat mendengar usia dari gadis ini. Sangat belia sekali. Namun Revina hanya merespon dengan senyuman dan mulai mengobati lukanya tersebut.

__ADS_1


"Tahan ya.. ini akan sakit untuk sementara"


Lalu kemudian Namira pun menjerit kesakitan saat dokter tersebut mulai mengobati lukanya satu-satu.


"HAAAAAAAAAA!!!!"


"AAAARRGGHHHH!!"


Setelah hampir 1 jam, luka yang ada di tubuh gadis itu mulai terobati. Bahkan ia juga sudah mengolesi dan memberikannya obat untuk area bawahnya agar tidak bengkak. Namira sudah tertidur dalam keadaan yang sangat tenang. Perlahan tangan Revina mengelus dahinya dengan lembut.


"Nasibmu sepertinya sedang buruk ya Nak.. seharusnya di usiamu ini masih merasakan kesenangan.. bukan kesengsaraan seperti ini" lirih Revina.


Revina berusia 30 tahun. Dirinya sudah menikah dan memiliki anak perempuan yang sama cantiknya dengan Namira. Namun karena kejahatan suaminya terhadap Abraham, ia harus melihat putri ya tewas dibunuh karena tembakan peluru yang menusuk di dada putrinya tersebut.


Dan dirinya yang tidak bisa melawan hanya bisa pasrah dan mengikuti semua keinginan Abraham saat itu. Tapi, keberuntungan masih ada di pihaknya. Ia lulusan kedokteran spesialis saraf, yang menjadi dokter pribadi keluarganya yang sangat kejam.


Tak terasa buliran bening mulai terjatuh dari pipinya tersebut.


"Sehat selalu ya Nak.. kamu harus kuat.. semoga tuhan menakdirkan kebebasan untukmu"


Setelah itu ia menyeka air matanya. Dan ia pun segera keluar dikarenakan pengobatannya sudah selesai. Saat ia hendak pulang, di ruang tamu terdapat Abraham yang tengah memandangnya dengan tatapan menusuk.


"Bagaimana keadaannya?"


Revina menghela nafas berat "lukanya sangat parah tuan.. tapi dia masih baik-baik saja.. butuh waktu untuk pulih semula.. nanti saya akan memeriksanya kembali"


Abraham hanya diam dengan tatapan dinginnya "kalau begitu, kamu boleh pergi" Revina menunduk hormat, lalu ia pun kembali ke ruangannya.


Abraham pun menghela nafas berat. Entah ia juga sangat frustasi sekali. Seharusnya dia bersikap seperti biasa. Ia pun segera pergi ke kamar tamu untuk melihat kondisinya.


Ceklek


Pintu tersebut terbuka. Kemudian ia memasuki kamar dimana terdapat Namira yang sedang tertidur pulas. Abraham mengamati gadis itu dari wajah hingga kakinya. Tanpa sadar, ia menyunggingkan senyum tipisnya tersebut.


Setelah itu ia pun pergi untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ia memerintahkan semua pekerjanya baik pelayan mau pengawal, tidak ada yang boleh memasuki kamar tamu selain memberikan makanan dan obat untuk Namira.


Saat di kantor, Abraham hanya termenung memikirkan kejadian yang ia lakukan pada Namira semalam. Namun yang ada di pikirannya hanya adegan dimana ia mulai memasuki tubuh gadis tersebut.


Sensasi jepitannya sangat terasa olehnya. Rasa kenikmatan yang diluar batasnya membuat ia semakin bersemangat. Tanpa di sadari, ia pun menjadi tambah bernafsu ditambah tubuh gadis itu sangat seksi sekali jika dalam keadaan tanpa busana.


Kemudian, ia segera tersadar dalam lamunannya "sabar Abraham.. dia masih sakit.. kalau udah sembuh Lo bisa minta jatah padanya" batinnya dengan menampilkan senyum smirknya.


***


Setelah tertidur lama, Namira akhirnya terbangun dari tidurnya. Lalu ia pun mulai menggerakkan tubuhnya masih sakit.


"Arrgghh"


Ia masih merasakan sakit di tubuhnya. Namun rasa sakit itu tak sesakit sebelumnya. Bahkan ia melihat lukanya sudah mulai mengering. Kemudian, terdapat seseorang yang masuk ke dalam kamar tersebut dan membawa nampan makanan.


"Halo, Namira.. ayo makan dulu" ucap Mbok Asri saat memasuki kamar.


"Mbok"


Kemudian mbok asri duduk di tepian kasur di sampingnya "ayo mbok suapin"


Awalnya Namira menolak. namun karena lapar, ia pun terpaksa memakan makanan tersebut hingga habis. Setelah habis Namira menatap mbok asri dengan tatapan berkaca-kaca.


"Mbok.. kenapa nasibku sial sekali.. aku telah kehilangan keperawananku.. aku sudah tidak berharga lagi" lirih Namira sembari menangis tersedu.


Mbok asri sudah mengetahuinya. Ia hanya bisa mengelus sayang gadis itu. Entah ia sangat menyayangi Namira dan menganggapnya sebagai cucunya sendiri. Ia pun merasakan rasa sakit di hatinya saat Namira mengadu kesakitan.


"Kamu yang sabar ya.. semua pasti ada hikmahnya.. mbok juga gak bisa apa-apa"


Namira terus menangis dalam pelukan mbok asri. Hanya mbok asri lah yang bisa memberikan ketenangan dan tempatnya mengadu di saat ia ada masalah.


Abraham memang keterlaluan. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Abraham sangat berkuasa di sini. Ia bahkan bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa melihat ketakutan dari lawannya.


"Kamu yang tabah ya sayang.. minum obatnya ya.. biar cepet sembuh"

__ADS_1


Namira pun mengangguk. Ia meminum obat dari dokter yang sudah memeriksanya sebelumnya dengan dibantu mbok asri di sampingnya.


__ADS_2