
Siapa itu Widya? Ya dia adalah sahabat baik dari awal masuk kuliah. Dia tergolong anak sultan karena Papanya seorang CEO perusahaan besar di kotanya. Tapi walaupun banyak harta, rupanya Widya itu tidak membuatnya bahagia.
Dia anak broken home. Ibunya sudah meninggal waktu Widya berusia 10 tahun karna kecelakaan maut. kini dirinya hanya tinggal bersama papanya.
Keluarga yang hangat tinggal angan-angan saja. Papanya berubah menjadi dingin. Begitupun Widya, dia jadi anak yang pendiam. Dia juga selalu bekerja keras agar bisa mandiri dan tidak bergantung pada ayahnya.
Tapi sifat pendiam Widya mulai memudar semenjak berteman dengan Namira. Namira anak dari keluarga sederhana. Tapi dia tidak permasalahkan itu. Dia nyaman berteman dengannya. Makanya itu dia sangat menyayangi Namira.
Widya menatap kepergian Namira dengan sedih. Dia tau bahwa Namira sudah melakukan hal yang di luar nalar. tapi Widya sebagai sahabat hanya bisa mendukung dan mendoakan supaya Namira baik-baik saja.
Widya menutup matanya dan mengontrol hatinya.
Reno di sampingnya tampak bingung atas sikap Widya yg tiba-tiba diam "Lo kenapa anjir? Muka Lo kek sedih gitu liat Namira pulang"
Widya menghela nafas, dia menatap Reno sinis "ngapain Lo di sini? Mending Lo pergi gw mau balik!" ujarnya ketus.
Reno jengkel atas respon Widya "yaelah Lo galak bener.. yodeh gw cabut dulu ye" ujarnya sambil merapikan tas miliknya.
"Duluan" Reno meninggalkan Widya sendiri di kantin.
"Heumm" Widya bangkit dan siap-siap untuk pulang ke rumahnya. Dia beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan kantin.
***
Widya berjalan memasuki rumahnya. Tanpa salam dan tanpa berbicara apapun.
"Baru pulang kamu?" tanya Wijaya Papa Widya.
Widya berhenti dan menoleh kearah Papanya yang sedang duduk diruang tamu "ya" jawabnya singkat.
"Duduk dulu sini. Papa mau bicara sama kamu" titah Wijaya.
Widya menghampiri Papanya dan duduk di sofa "mau ngomong apa?" Ujarnya dengan memasang muka datar.
"Ekhemm.. jadi gini, Papa sudah lama menduda"
"Terus?"
"Papa mau nikah lagi"
Widya sedikit terkejut atas ucapan Papanya "apa?!.. apa Papa lupa sama mama? Papa bilang gak mau nikah lagi kan setelah mama meninggal!! Aku gak rela posisi mama tergantikan!" Widya marah pada Papanya.
"Itu kan dulu.. Papa sudah menemukan perempuan yang cocok menjadi pengganti mamamu" ujar Wijaya santai.
Widya menetralkan emosinya "siapa perempuan itu?"
"Kamu pasti kenal siapa orangnya" jawab Wijaya.
"Siapa!?" Sentak Widya
"Tante Sonya" jawab Wijaya singkat.
"Apa?!.. Tante Sonya??" Widya kembali terkejut setelah Papanya memberi tahu siapa perempuan yang akan menjadi ibu tirinya.
Dia sangat membenci tantenya itu. Karna menurutnya Tante Sonya itu sangat licik, dia pandai memanipulasi keadaan, dia sangat jahat. Dan hanya Widya yang tau bahwa Tante Sonya lah yang telah membuat mamanya meninggal.
"Kenapa harus Tante Sonya Pah? Dia itu jahat.. dia itu perempuan liciikkkk!!" Teriak marah Widya.
__ADS_1
"Cukup Widya!! Tante Sonya gak seperti yang kamu kira! Dia itu baik, cantik dan perhatian.. dia pantas jadi pengganti mamamu!"
"TIDAK!! DIA TIDAK PANTAS MENJADI MAMAKU.. AKU GAK SUDI DIA JADI MAMAKU!" Teriak Widya. Widya tidak menyangka Papanya jadi seperti ini. Ke mana Papanya yang penyayang. Semuanya telah hilang.
"DIA ITU PEMBUNUH PAPA.. DIA YANG UDAH BUNUH MAMA, PELAKOR, AKU BENCI SAMA DIA!" Bentak Widya lagi.
"WIDYA!"
PLAKKK
Wijaya menampar pipi kanannya sangat keras. Widya sangat syok, walaupun Papanya dingin tapi baru kali ini Papanya kasar padanya.
"Papa" ujarnya lirih. Widya mulai menitihkan air mata. Laki-laki di hadapannya ini bukan seperti ayahnya yang dulu.
Wijaya seketika menyesal setelah menyadari telah menampar putrinya "Maaf Widya.. Papa juga butuh seorang pendamping.. yang bisa menemani Papa kapan aja.. selama ini Papa hidup sendiri.. Papa juga kehilangan sosok mamamu.. maka dari itu ijinkan Papa menikah lagi"
Widya masih terdiam, dia memandang Papanya dengan penuh benci "terserah!.. dan ingat jangan menyesal jika Papa sudah mengetahui yang sebenernya" Ujarnya enuh amarah.
Widya meninggalkan Wijaya dan naik ke kamarnya.
Dia memasuki kamar dengan penuh emosi dan menutupnya dengan keras.
"Aaaaaakkkhhhhh" teriak Widya sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Gw benci Papa!! GW BENCIIII!" Widya menangis sejadi-jadinya.
"Gw gak tahan lagi hiks.. kenapa hidup gw jadi begini" Widya terus menangis tanpa henti.
Dia melihat sebuah album foto yang mana terdapat seorang perempuan dewasa yang sangat cantik sedang memangku gadis kecil. Yapp itu adalah foto mamanya dan gadis kecil itu adalah dirinya.
"Mama," ujarnya lirih.
Raut wajah Widya berubah marah "sebentar lagi papa akan menikah dengan perempuan yang aku benci.. orang yang udah buat mama celaka yaitu Tante Sonya.. aku gak Sudi dia menikah sama papa.."
Widya menjatuhkan dirinya ke kasur. Menatap langit-langit atap kamarnya "aku harus gimana," perlahan Widya menutup mata.
Drtttt.. drrtttt...
Widya membuka matanya karna mendengar ponselnya berdering "siapa sih" dia membuka ponselnya dan ternyata itu adalah notif grup kampusnya. Karena malas membuka grup kampus, Widya menghempaskan hp nya disamping dirinya.
Seketika Widya teringat pada Namira sahabatnya. Apakah dia baik-baik saja? Dia mengambil ponselnya kembali dan mulai mencari kontak Namira. Dia mulai menelpon Namira tapi telponnya tidak terjawab. Berulang kali tetap saja tidak ada balasan.
Pikiran Widya seketika negatif. Apa Namira dikurung? Disiksa? Aduhhh bagaimana ini.. Widya juga gak bisa bantu apa-apa.
Kepalanya sangat berat, pening, karna masalah ayahnya dan juga Namira. Widya menghempaskan tubuhnya dan tertidur pulas. Dia berharap kejadian hari ini hanyalah mimpi belaka.
***
Wijaya sedang berada di ruang kerja yg ada di rumahnya. Dia merenung memikirkan perbuatannya pada anaknya. Dia sangat merasa bersalah telah menampar keras anaknya. Seharusnya dia tidak melakukan itu.
Wijaya menghembuskan nafas untuk menetralkan pikirannya. Jika Widya sudah baikan, dia akan meminta maaf pada anaknya.
Drrttt.. drrttt
Wijaya membuka ponselnya dan yang menelpon itu adalah sekretaris nya.
"Halo, ada apa?" Ujar Wijaya pada seseorang yg ada ditelpon.
__ADS_1
"Halo pak, maaf mengganggu saya menghimbau jadwal untuk rapat besok pak dan beberapa rincian laporan yang harus anda tanda tangani hari ini"
"Oke saya ke kantor sekarang"
"Baik pak,"
Wijaya mematikan telponnya dan menaruhnya di dekatnya. Dan mulai bersiap untuk pergi ke kantornya.
Wijaya menuruni tangga dengan gagah, bajunya rapi dengan dilapisi blazer warna biru tua.
"Biii.. Bibi.." ujar Wijaya sambil menuruni anak tangga.
Bibi yang berada di dapur segera menghadap majikannya. "Iya tuan, ada apa?"
"Saya mau ke kantor sebentar, tolong bibi siapkan makanan untuk dia makan"
Bibi mengangguk setuju "baik tuan, saya akan siapkan makanan untuk nona Widya.
"Terimakasih.. kalo begitu saya permisi dulu"
Wijaya langsung pergi ke kantor.
Widya terbangun dari tidurnya, matanya sembab, rambut berantakan, kamarnya pun sangat berantakan akibat dia melampiaskan emosinya.
Dia tidur lumayan lama dan sekarang sudah jam 9 malam. Dia perlahan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membuat dirinya jauh lebih baik.
Setelah mandi, Widya memakai outfit yang simple seperti kaos warna hitam dan celana kolor bunga-bunga. Mengambil handphone untuk mengecek apakah ada kabar dari Namira atau tidak.
Dia sedikit kecewa karna tidak ada pesan atau telpon dari Namira.
"Kemana si ni anak? Kok gak hubungi gw? Apa jangan² ada sesuatu di sana? Aduhhh gimana nih?!!!" Ujar Widya panik. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Namira kembali.
Tuuuttt... Tuttttt... Tutttt..
"Aduh Naaamm.. angkat dong! Gw khawatir sama lu!" Gumam Widya khawatir.
Setelah lama menelpon akhirnya telponnya tersambung juga, tapi...
"Halo Nam? Gimana Lo udah sampe?Lo baik-baik aja kan? Gak diapa-apain kan sama mereka?" Deretan pertanyaan Widya.
Tapi herannya tidak ada satu balasan pun yang terdengar.
"Halo Nam? Ko Lo diem aja? Jawab Nam.. gw khawatir sama lu!"
"Ini siapa?" Ujar seseorang ditelpon.
Widya sedikit terkejut karna yang berbicara ditelpon adalah seorang laki-laki.
"Heh! Lo siapa?? Main angkat telpon orang aja.. mana Namira?! Ko Lo pake hp Namira??" Ujar Widya kesal.
"Ohh gadis itu.. dia ada ko di belakang" ujar orang itu santai.
"Lo apain sahabat gw?!!"
Terdengar suara tawaan dari telpon "ha-ha-ha.. tidak saya apa-apa kan ko.. lagipula hp gadis itu saya sita, jadi jangan telpon-telpon lagi.. berisik," ujar orang tersebut lalu mematikan telponnya secara sepihak.
"Woy! gw belum selesai ngomong!!.. ah elahhhhh!!!" Ujar Widya Frustasi.
__ADS_1
Widya menutup kedua matanya dan mulai berdoa dalam hatinya "Ya Allah.. hamba mohon lindungi sahabat hamba.. jangan sampe terjadi hal buruk padanya.. Nam, semoga Lo baik-baik aja di sana"