Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
Menuju ke Neraka dunia


__ADS_3

Namira sedang duduk di kantin kampusnya bersama Widya. Hari ini adalah hari terakhir dia bebas. Mulai sore hari nanti dia harus kembali ke tempat manusia iblis itu.


"Nam.. Lo beneran mau ke sana lagi? Gw harap Lo pikirin lagi deh soal ini. Gw khawatir sama Lo," ujar Widya khawatir pada sahabatnya ini.


Namira terdiam. termenung sesaat memikirkan hal yang sama seperti yg di ucapkan Widya padanya.


Namira menghela nafas panjang "Entahlah sebenernya gw bingung harus gimana.. tapi kalo gak ini satu-satunya cara buat keluarga gw hidup tenang tanpa gangguan dia. Gw gak mau si manusia iblis itu apa-apain keluarga gw Wid," ujarnya berkaca-kaca.


Widya menunduk "andai gw bisa minjem duit ke bokap gw, mungkin Lo bisa tetep seperti biasa kaya dulu" Widya menghela nafas "tapi kan Lo tau sendiri bokap gw perlakuannya sama gw itu gimana"


Namira mengangguk "makasih ya Wid udah bantu gw.. gw yakin, gw bakal baik-baik aja di sana"


Namira menggenggam tangan Widya erat.


"Ehh gw boleh gabung di sini gak?" ujar cowo sambil membawa nampan makanan.


Namira dan Widya menoleh ke arah pria tersebut. Dan ternyata pria itu bernama Reno si cowo badboy yang satu kelas dengan Widya.


"Ngapain Lo duduk di sini? Disana kan banyak tuh yg kosong.. udah Sono hushh!" ujar Widya sengit.


"Apaan si Lo, serah gw dong.. gw pengennya di sini.. bolehkan gw duduk disini?" Ujar Reno sambil melihat Namira.


Namira mengangguk mengizinkan pria itu bergabung bersama mereka "iya silahkan"


Pria ini duduk di samping Namira.


"Eh nama Lo Namira kan? Kenalin gw Reno si cowo paling tamvan di kampus ini" ujarnya PD.


Widya yg mendengar ucapan Reno langsung jijik. Karna dia tau Reno itu badboy. banyak cewek kampus hampir jadi korbannya dia.


Namira menerima jabatan Reno "hahaha iya"


"Eh iya rumah Lo di mana? Siapa tau nanti kita bisa barengan"


Namira menoleh ke arah widya. Sedangkan Widya melihat Reno dengan tatapan yg tidak bersahabat.


"Jangan mau di ajakin bareng Ama si playboy cap kambing ini Nam.. modus doang dia mah hiii" ujar Widya bergidik.


Reno membalas tatapan mata Widya dgn sinis "heh upil.. Lo iri kan sama gw makanya Lo jeles Mulu"


"Najis" Widya memutar bola matanya karna males dengar omongan Reno.


Namira tersenyum melihat perdebatan Reno dan Widya. Namira melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 2 siang yg mana dia harus siap-siap untuk kembali ke rumah itu.


Namira langsung berdiri dan membereskan alat tulisnya.


"Nam, Lo ko buru-buru emang mau ke mana?" ujar Reno kepo.


"Ada urusan penting.. maaf gw permisi dulu ya.. Wid"


Namira menghampiri Widya dan memeluknya erat. Mungkin ini terakhir kalinya dia bisa melihat Widya.


"Ehh Lo gak mau peluk gw?" tanya Reno sambil merentangkan tangannya minta dipeluk.


Namira menggeleng sambil tersenyum. Reno kembali cemberut karna gak dapet pelukan.


"Mampus" gumam Widya puas.


"Apa Lo bilang?!" ujar Reno sengit.


Widya diam malas membalas ucapan Reno.


"Yaudah gw duluan ya"


"Iya Nam.. hati-hati ya," ujar Widya.


Namira pergi dari kantin meninggalkan Widya dan Reno.


Namira berlari dengan sangat terburu-buru dan tanpa sadar telah menabrak seseorang yang sedang bawa tumpukan buku hingga buku itu berserakan.


Brakkkkk


Namira berhenti "aduhh maaf ya gak sengaja.."


"Aduh kalo jalan itu liat-liat dong!" Geram pria itu.


"Iya maaf"


Pria itu menoleh kearah Namira "loh Nam?"


Namira merasa terpanggil dan menatap pria itu dan itu adalah seniornya.


"Ehh ka Alvin maaf banget ya.. aku tadi buru-buru jadi gak liat dan akhirnya nabrak deh"


Alvin seketika langsung tersenyum "iya gapapa.. untung tumpukan bukunya gak kena kepala kamu"


Namira menunduk merasa bersalah "eh iya.. aku bantu ya," ujarnya sambil memunguti buku yang berserakan.


Alvin hanya mengangguk dan membantu membereskan buku yang berserakan tersebut.


"Ini kak.. udah selesai," ujar Namira sambil memberikan buku yang udah ditata rapi pada Alvin.


"Eh iya.. makasih ya Nam" ujar Alvin sambil menerima buku tersebut. "Eh iya ko kamu keliatannya buru-buru ada apa?" Lanjut Alvin.


Namira melihat jam tangannya "astaghfirullah.. maaf kak aku duluan ya.. dahh"


"Ehh Nam.. kamu mau kemana?!" Namira meninggalkan Alvin begitu aja. Namira terus berlari meninggalkan koridor kampus.


***

__ADS_1


Abraham mengetuk-ngetuk jari ke meja karsna bosan. Dirinya sedang menunggu gadisnya datang ke rumahnya. Dia menyuruh Toni agar selalu mengawasi dimanapun Namira berada.


Tok.. tok.. tok..


Seketika Abraham membenarkan posisi duduknya.


"Masuk" ujar Abraham.


Terbuka pintu tersebut dan ternyata itu adalah sekretaris pribadinya.


"Ada apa?" Ujar Abraham dingin.


"Ini tuan, klien yang sudah datang dan sedang menunggu di ruang rapat"


"Baik.. saya akan kesana"


"Baik tuan.. saya permisi"


Pintu kembali tertutup. Abraham bersiap-siap untuk pergi keruang rapat.


Setibanya di ruang rapat, ternyata semua orang sudah menunggunya. Dan dia duduk di kursi kebesarannya.


"Baik, silahkan dimulai rapatnya," ujar sekretaris Abraham.


***


Rapat telah selesai. semua kolega bisnisnya keluar satu per satu. Abraham sibuk dengan membereskan berkas-berkasnya.


"Pak Abraham bisa bicara sebentar?" ujar rekan bisnis cewek.


Abraham melihat sekilas ke wanita tersebut dan masih melanjutkan aktivitasnya.


Btw penampilan wanita itu agak kurang sopan yang mana dia pakai baju super ketat, rok super pendek, membuka kancing yg terlihat belah dadanya. Tapi itu tidak membuat Abraham bergairah justru malah jijik liat wanita seperti itu.


"Pak Abraham"


Abraham mulai kesal dengan keberadaan wanita itu. "Ada apa? kalo pembahasannya gak penting mending anda keluar, rapatnya sudah selesai" ujarnya dingin.


"Aku hanya ingin ajak bapak untuk makan siang bareng sambil ngobrol"


Abraham mengangkat alisnya "hanya itu?"


Cewek itu mengangguk.


Abraham tidak mengubris, malah meninggalkan wanita itu sendirian diruang rapat.


Wanita itu sedikit geram atas perlakuan Abraham terhadapnya.


"Huhhh sabar.. tunggu kau Abraham, cepat atau lambat kau pasti akan suka padaku," ujarnya tersenyum menyeringai.


***


Namira dengan terburu-buru membereskan barangnya. Dia hanya membawa barang yang diperlukan saja agar tidak dicurigai oleh keluarganya.


Aisyah yang melihat anaknya sedang grasak-grusuk merasa heran dan menghampiri anaknya.


"Ya ampun yuuuu.. kamu tuh apa-apaan sih, grasak-grusuk gak jelas" cerocos Aisyah.


"loh.. ini kamu mau kemana bawa tas?" Lanjutnya.


Namira yang kaget karena ibunya muncul tiba-tiba dan memarahinya. Dia juga panik buat memikirkan alasan untuk kedua orang tuanya.


Namira gelagapan "A-aanu Bu, ngga ada apa-apa ko hehe"


"Ngga ada apa-apa ko rusuh banget, ini lagi tas buat apa? Kamu mau kemana?"


"Aduuhhh.. gw harus bilang apa nih supaya ibu gw gak curiga.. ya ampuuunnn!!" Batin Namira panik


"O-ouuhh ini hehe.. aku mau ada tugas kuliah Bu.. butuh eksplorasi lebih buat bikin bahannya, makanya aku sama temen mau keluar kota buat ngerjainnya" ujar Namira bohong.


Aisyah terheran "kok dadakan banget?"


"Iya Bu, baru tadi di kasih tau.. makanya ini mau siap-siap supaya gak telat"


Aisyah mengangguk percaya "ouh gitu.. yaudah nanti kamu juga ijin sama bapakmu dulu ya, sama sebelum berangkat makan dulu.. tuh ibu udah masak di dapur"


"Iya Bu, nanti aku ke dapur"


Aisyah keluar dari kamar Namira. Namira menghela nafas lega "hadehh untung gak ketauan" ujarnya pelan.


Namira melanjutkan kegiatan sebelumnya yaitu membereskan barang yg untuk dibawa.


***


Namira sudah menyelesaikan makannya, dan dia bisa pergi ke rumah itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Pak.. itu si ayu katanya mau bikin tugas di luar kota"


Ahmad yang sedang minum kopi tiba-tiba terhenti "kok, mendadak si Bu?"


Aisyah menggeleng "ibu juga gak tau pak.."


"Yaudah panggil ayu ke sini" ujar Ahmad.


Aisyah beranjak dari duduknya menuju ke kamar anak sulungnya.


"Yuuu.. kamu disuruh menghadap bapamu, cepat"


Aisyah yg sedang berberes menoleh kearah ibunya "iya Bu.. bentar"

__ADS_1


Namira segera menemui bapaknya yang berada di ruang tamu.


"Ada apa pak?" tanya Namira.


Ahmad menoleh ke arah anak sulungnya itu "kamu bener mau buat tugas keluar kota?"


"Eumm i-iiya" balasnya bohong.


"Yaudah.. nih ongkos buat berangkat" ujar Ahmad sambil memberikan uang 5 lembar warna merah.


Namira mengangguk dan mengambil uang tersebut.


"Tapi kamu hati-hati ya, jaga diri kamu.. kalo ada apa-apa hubungi bapak" pesan Ahmad.


Namira mengangguk "iya pak siap.. aku mau siap-siap dulu bentar lagi mau berangkat"


"Kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Ahmad.


"A-aa Eummm sama, ah iya Widya.. sama Widya terus sama yg lain juga.. kita janjian di kampus buat berangkat bareng" jelasnya bohong.


"Ohh gitu.. yaudah"


Namira menghela nafas lega dan kembali ke kamarnya. Dia mengunci rapat-rapat pintu kamarnya "Ibu, Bapak, maafin ayu udah boong sama kalian.. ayu lakuin ini buat keselamatan adik dan keluarga.. huhhh" ujarnya lirih sambil mengusap air mata yg turun dari pipinya.


Triing.. Triiinggg


Suara telpon yang datang dari ponsel Namira. Namira membuka ponselnya dan melihat siapa yg menelponnya.


Namira sedikit terkejut karna yg menelponnya itu adalah manusia iblis yg sering dia bicarakan yg telah menculik adiknya.


Dengan perasaan gusar ia mengangkat telpon tersebut "H-hhaloo"


"Halo Nona, bagaimana? Kau mau segera datang kemari? Waktumu sudah hampir habis," ujar pria itu enteng.


Namira menghela nafas "saya akan segera datang ke sana"


Pria itu terkekeh "bagus Nona, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk menjemput anda di suatu tempat.. saya akan kirimkan alamatnya"


"Baik.. saya akan ke sana" ujar Namira lesu.


"Oke.. saya tutup dulu.. kita bertemu nanti ya haha"


Namira menghela nafas panjang dan menutup telponnya. Mungkin ini hari terakhir dia merasakan kehidupan yang layak seperti ini.


***


"Pak, Bu, aku berangkat dulu ya"


"Iya kamu hati-hati, jaga kesehatan juga"


Namira mengangguk dan menyalami kedua orang tuanya.


"Kakak mau kemana?" tanya Nanda.


"Kakak mau bikin tugas kuliah, kamu jangan nakal ya.. jangan kemana-mana di rumah aja" pesan Namira


Nanda mengangguk.


"Kalo gitu aku berangkat, Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


"Hati-hati ya ka," ujar Nanda sambil melambaikan tangan padanya.


Hati Namira justru sakit melihat keluarga untuk yg terakhir kalinya. Dia mengusap cepat air mata yg turun ke pipinya supaya keluarganya tidak mengetahui.


"Ibu, bapak, Nanda maafin aku" monolognya lirih.


***


Namira sedang menunggu seseorang yang akan mengantarkannya ketempat neraka itu.


Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti dihadapannya. Dan keluar seorang pria dari mobil tersebut menghampiri dirinya.


"Apa kau Namira?" ujar pria itu.


Namira hanya mengangguk.


"Saya anak buahnya tuan Abraham.. saya diperintahkan untuk menjemput anda"


Pria itu membukakan pintu untuk dirinya "baik Nona silahkan masuk"


Namira mengangguk dan memasuki mobil tersebut. Perasaan Namira saat ini sangat campur aduk, perasaan takut, sedih, jadi satu. Pria tersebut mulai menjalankan mobilnya.


"Ya Allah lindungilah hambamu ini" batinnya berdoa


"Baik Nona sudah sampai.. silahkan anda turun"


Namira mengangguk dan turun dari mobil tersebut. Dia menelan ludahnya, keringat dingin mulai bercucuran melihat pemandangan rumah yang sangat mewah tapi terasa mengerikan.


Akan kah dia aman berada di sana? Entahlah hanya tuhan yang tau.


Dia memasuki rumah mewah tersebut dengan sangat hati-hati.


"Akhirnya kau datang juga"


Namira terkejut mendengar suara tersebut, Dan menoleh ke arah seorang pria yangg sedang duduk di sofa mewah.


"Halo nona.. selamat datang di rumahku," ujar seorang pria tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2