Tuanku, I Love you

Tuanku, I Love you
saingan baru


__ADS_3

Namira sedang berada di kebun buah di taman belakang untuk memetik beberapa buah yang sudah bisa di panen. Untuk izin memetik, Namira sudah mendapatkan izin bebas melakukan apapun yang dirinya sukai, selama itu tidak melanggar aturan dan membuat Abraham murka padanya.


"Buahnya seger-seger banget.. gemuk-gemuk" ujar Namira kagum sembari mengelus buah apel merah besar yang ada di depan matanya. Kebetulan pohon apel itu tidak terlalu tinggi dan pas sekali dengan tinggi badan Namira.


Namira memetik beberapa buah saja untuk dibuat Rujak kuah yang disebut dengan Asinan. Buah yang akan dipakai Namira adalah apel, Jambu, mentimun, anggur, kiwi, dan nanas. Namira memetik buat tersebut secukupnya saja. Dirinya juga ingin memperkenalkan makanan khas rumahnya pada Abraham.


Setelah selesai, Namira langsung menuju ke dapur untuk mengolah buah tersebut. Tak lupa dirinya mencuci semua buah yang akan dipakai. Kemudian memblender bumbu hingga halus, memotong buah hingga jadi kecil-kecil, lalu buah-buahan yang sudah di potong di taruh ke tempat yang lebih kecil. Setelah itu, baru di beri bumbu yang sudah di campuri dengan air secukupnya.


Tak lupa Namira mulai mencicipi Asinan buatannya sudah pas atau belum.


"Hmm.. udah pas" monolognya pelan.


Kemudian, asinan itu ditaruh dalam toples tertutup sebelum dimasukan ke dalam kulkas. Karena Asinan itu sangat enak jika di makan saat dingin.


***


Setelah selesai masak, Namira pergi ke kamar untuk mandi dan bersih-bersih. Saat dirinya tengah menyisir rambut, terbesit di pikirannya mengingat keluarganya di rumah.


Sudah hampir seminggu Namira tinggal di rumah mewah milik Abraham sebagai pelayan pribadinya. Ada rasa takut, khawatir dan juga rindu akan keluarganya. Dirinya juga rindu Sahabatnya Widya. Dirinya juga ingin melanjutkan perkuliahannya. Sudah seminggu lebih Namira izin kuliah.


"Apa mereka baik-baik aja? Ibu, Bapak maafin Ayu belum bisa pulang.. maaf jika ayu terus boong sama kalian" batin Namira sembari menghela nafas berat.


Kesadarannya mulai kembali, Namira melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sebentar lagi Abraham akan pulang ke rumahnya. Dengan terburu-buru, Namira mengganti pakaian dan juga berdandan tipis. Setelah selesai, Namira bergegas untuk menyiapkan makanan untuk tuannya.


Deru mobil sudah terdengar di pekarangan rumah, tanda Abraham sudah pulang. Semua pelayan sibuk berbaris untuk memberi hormat padanya, tak terkecuali Namira sendiri ikut hormat.


Abraham masuk ke dalam rumah dengan gaya angkuhnya. Semua pelayan membungkuk saat Abraham melewati mereka. Akan tetapi langkahnya terhenti saat dirinya di samping Namira.


"Kamu, siapkan kopi untuk saya"


Namira mengangguk "baik, tuan"


Abraham kembali melangkah menuju kamarnya. Semua pelayan telah bubar barisan dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


Kini, Namira sedang membuatkan kopi untuk tuannya ditemani beberapa pelayan di sana. Akan tetapi, dirinya masih belum terbiasa suasana ramai di dapur. Biasanya Namira hanya ditemani oleh Mbok Arsi.


"Eh kamu, namanya siapa?" Tanya salah satu pelayan pada Namira, pelayan tersebut yang memakai bando serbet di kepalanya.


"Emm Namira" jawab Namira singkat.


"Ouh Namira, denger-denger kamu jadi pelayan pribadinya tuan ya? Hebat dong, bisa ada terus di samping tuan" sindir pelayan itu. Btw, pelayan itu masih di bilang cukup muda, akan tetapi masih lebih muda Namira.


"Eumm" dehem Namira gugup.


"Sssttt sudah-sudah,.. Namira, segera antarkan kopi itu pada tuan.. kalo telat, nanti kamu bisa kena marah"


"Baik, Mbak Yuni"


Namira segera membawa kopi beralaskan nampan, ke kamarnya Abraham. Setelah Namira pergi dari dapur, terlihat wajah pelayan berbando serbet itu seperti tidak suka akan Namira.


"Cih.. sombong banget tuh bocah" umpatnya pelan.


"Santi, Lo kenapa?" ujar salah satu rekannya bernama Reni.


Gadis berbando serbet itu bernama Santi. Dirinya sudah bekerja sebagai pelayan Abraham hampir 4 tahun. Dirinya dari dulu sangat ingin menjadi pelayan pribadinya Abraham atau di sebut maid istimewa.


Di karenakan Santi menyukai Abraham saat dirinya pertama kali bertemu saat wawancara kerja sebagai staff karyawan di kantornya. Dirinya rela melakukan apapun demi mendapatkan perhatian Abraham.


Akan tetapi, semua usaha Santi mendekati Abraham nihil. Malah, Santi hampir dipecat oleh Abraham karena ulahnya yang sering menggoda Abraham. Santi terus memohon pada Abraham agar tidak dipecat. Maka dari itu, Santi diturunkan jabatannya, dan menjadi salah satu pelayan di rumahnya.

__ADS_1


Itulah alasan kenapa Santi menjadi pelayan, dan kenapa Santi kurang menyukai Namira yang menjadi asisten pribadinya Abraham.


"Gw gapapa.. cuma panas aja liat tu bocah yang sok" cibir Santi


"Lo gak boleh gitu, ketauan tuan nanti Lo kena hukum.. di sini gak ada yang berani cibir orang yang dekat dengan tuan" ujar Reni was-was.


"Gak peduli.. kenapa si tuan milih bocah kencur itu dibanding gw.. padahal gw yang layak ada di atas bareng tuan bukannya dia" ujar Santi iri.


Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggil Santi. Dan orang tersebut rupanya kepala pelayan rumah Abraham.


"Santi, ambil bahan makanan di gudang buat masak makanan, makan malam" ujar kepala pelayan.


"Udah-udah,.. mending Lo balik kerja.. tuh pak kepal udah manggil Lo"


"CK.. heuh iya" ujarnya badmood.


Santi pun menuju ke gudang bahan makanan untuk di masak hari ini.


***


"Tuan, ini kopinya" ucap Namira sembari menaruh kopi di sebelah meja Abraham yang penuh dengan berkas.


"Hm"


Akan tetapi, bola mata Abraham melirik pada mangkok kecil berisikan Asinan. Raut wajahnya sangat kebingungan karena itu sangat asing baginya.


"Itu apa?" Tanya Abraham.


Namira melihat ke arah yang ditunjuk Abraham. Rupanya itu mangkok berisikan Asinan buatannya.


"Itu asinan buah tuan"


"Asinan buah?"


Abraham hanya terdiam sembari memandangi mangkok tersebut.


"Tuan ingin mencobanya? Silahkan di coba tuan, itu buatan saya sendiri"


Entah apa yang merasuki Abraham, Abraham juga penasaran akan makanan yang dibuat oleh Namira. Lama berpikir, akhirnya Abraham mengangguk menandakan dirinya setuju ingin mencoba asinan buah buatan Namira.


Dengan perlahan, Abraham mulai memasukan sendok berisikan Asinan buah ke dalam mulutnya. Awalnya ekspresi wajah Abraham seakan jijik pada makanan tersebut. Akan tetapi, setelah mencoba.. raut berubah.


Seperti ada sengatan energi dalam tubuh Abraham. Makan asinan sangat cocok pada Abraham yang sedang stress akan pekerjaannya. Seakan tubuh Abraham kembali segar.


"Enak" ujar Abraham keceplosan


Namira tersenyum lebar di karenakan Abraham menyukai Asinan buah buatannya. Abraham kembali memasang muka dinginnya dan meletakkan mangkok kosong begitu saja.


"Enak kan tuan?"


"Hm.. biasa aja" jawab Abraham gengsi


Raut wajah Namira seakan ingin protes atas jawaban Abraham.


"Kok gitu, bukannya-"


"Kalo tidak ada kerjaan, mending keluar" sela Abraham.


Namira hanya bisa menghela nafas akan sikap bosnya tersebut. Namira kembali membawa mangkok kosong serta nampan untuk ditaruh ke dapur.

__ADS_1


Saat Namira pergi, Abraham tanpa sengaja menyunggingkan senyum tipis. Senyuman itu antara ada dan tiada. Setelah itu, dirinya kembali fokus pada laptopnya sembari menyeruput secangkir kopi.


***


Saat menuruni tangga, Namira tak berhenti menggerutu. Dirinya kesal akan sikap Abraham yang gengsi tingkat langit. Dan itu membuat Abraham semakin menyebalkan di mata Namira.


"Huh.. dasar! Bukannya bilang makasih, malah begitu.. bilang enak aja sampe harus pelan banget gitu.. ya ampun!!" Gerutu pelan Namira.


Saat Namira asik menggerutu, tiba-tiba Toni muncul di hadapannya. Seketika mulut Namira terdiam dikarenakan Toni menatap dirinya tajam.


Namira gelagan "misi" sapanya pada Toni. Kemudian, Namira berjalan dengan cepat untuk menjauh dari Toni.


"Gak bos, gak anak buah.. sama-sama menyeramkan" ujar Namira sedikit ketakutan.


***


Abraham mengunci pintu kamar dengan rapat. Namira yang sedang duduk di tepi kasur hanya bisa terdiam. Karena sudah waktunya melayani batin tuannya tersebut.


Abraham mendorong tubuh Namira, sehingga Namira tertidur di kasur. Tak lupa di susul oleh tubuh Abraham yang menghimpit tubuh kecil Namira. Abraham mulai menempelkan bibirnya ke bibir Namira.


Abraham dan Namira sedang bercumbu satu sama lain. Bibirnya salin memanggut mesra. Posisi Namira di bawah Abraham. Dirinya sangat menikmati ciumannya tersebut.


Abraham terus memainkan dan menyapu bibir mungil Namira. Nafsu Abraham kian membara. Hingga cumbuan mereka tambah kuat, dan itu membuat bibir Namira menjadi sekit bengkak.


"T-ttuan" lirih Namira. Nafasnya sangat tersengal ketika Abraham melepaskan bibirnya dan dilanjutkan di area leher, sehingga membentuk memar kemerahan.


"T-ttuan.. sudahh"


Abraham menatap wajah Namira sendu. Lalu menempelkan bibirnya kembali pada bibir Namira dengan sangat lembut. Namira ikut terbuai akan perbuatan Abraham tersebut.


Hampir setengah jam mereka bercumbu, dan akhirnya mereka mengakhiri percumbuan mereka. Abraham sudah pergi menjauh, posisinya sedang berdiri menatap luar jendela.


Sedangkan Namira masih terus menarik nafasnya seperti orang yang kehabisan oksigen.


Setelah adegan tersebut, Namira memberanikan diri untuk duduk di samping Abraham.


"Tuan"


"Hm" jawab Abraham seperti biasa.


Namira memegang dadanya yang berdetak kencang dan tak lupa menghela nafas agar lebih tenang.


"S-ssaya boleh tanya sesuatu?"


Abraham menoleh ke arah Namira. Wajah mereka sangat dekat. Abraham menatap Namira dengan tatapan dingin. Sedangkan Namira, malah memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat wajah tampan om-om di depannya ini terlalu lama. Ada semu kemerahan yang muncul di pipinya.


"Tanya apa? Cepat!" Seru Abraham


"Eumm.. saya.. saya rindu keluargaku tuan.. saya juga harus melanjutkan pendidikan.. masa izin kuliah saya akan habis. Saya harus bagaimana tuan?"


Abraham terdiam.


Namira hanya bisa pasrah ketika tidak mendapatkan jawaban dari Abraham.


"Kamu boleh melanjutkan kuliah.. akan tetapi, kau harus pulang kemari"


Namira kebingungan "lantas bagaimana dengan keluargaku tuan.. mereka akan curiga jika saya tak pulang"


"Terserah"

__ADS_1


Abraham berdiri dari duduknya dan pergi keluar kamar.


"Tuan!" Seru Namira kesal.


__ADS_2