Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 13


__ADS_3

" Pernikahan bukan hal main-main Adifa !! tapi kalau memang kamu ingin lepas dari saya silahkan bicara sama Abi " kata Daff datar sambil berlalu ke kamar mandi.


Mendengar perkataan Daff membuat dada Adifa tiba-tiba sesak, dirinya semakin merasa bersalah karena sempat menerima tawaran Lutfi.


Cklekk!!


Melihat Daff yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuat Adifa ingin menghampiri Daff, namun terhenti ketika Daff keluar begitu saja dari kamar tanpa mengatakan apapun.


" Ustadz " lirih Adifah berkaca-kaca saat melihat kepergian suaminya.


Mendengar suara mesin mobil membuat Adifa langsung berlari kearah balkon menatap kepergian suaminya dengan air mata yang membasahi pipinya.


Sementara Daff lebih memilih menenangkan pikirannya ke mesjid sekaligus menunggu waktu magrib.


" Huffttt astagfirullah " gumam Daff berulang kali sambil memijit kepalanya yang terasa sakit.


Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah, Daff hampir terjatuh merasakan kepalanya yang seperti di tusuk-tusuk.


" Astagfirullah, Khadafi kenapa ? " tanya Kyai Ammar sambil menahan tubuh Daff yang terlihat pucat.


" Ehhh nggak papa Bi, cuman sedikit pusing aja " kata Daff.


" Kamu kalau nggak enak badan sholat di rumah aja Nak, apalagi habis perjalanan jauh. Biar Abi anterin pulang yaa " kata Kyai Ammar.


" Daff nggak papa kok Bi, Daff bisa pulang sendiri. Sebentar lagi kan Abi mau isi kajian, kasian Abi kalau harus bolak balik " kata Daff sambil tersenyum tipis.


" Kalau begitu biar sama saya Ustadz, sepertinya Ustadz lagi kurang sehat " kata salah satu orang yang ada disana.


" Terima kasih atas niat baiknya Pak, tapi saya baik-baik aja kok " kata Daff sopan


" Bener nggak papa ? " tanya Kyai Ammar.


" Aman Bi " kata Daff.


" Yaudah hati-hati yaa " kata Kyai Ammar.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya Daff berjalan sempoyangan sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


Adifa yang mendengar suara pintu terbuka langsung berlari memeluk tubuh Daff sambil menangis sesegukan.


" Hikss Ustadz maaf hikss Di..Difa nggak mau pisah hikss..hiks " tangis Difa.


" Shhhhh " ringis Daff sambil memegangi kepalanya, sehingga membuat Adifa mendongak menatap wajah Daff yang kelihatan pucat.


" Ustadz kenapa ? " kata Adifa panik dan langsung memapah tubuh Daff menujuh kamar.


" Hikss Ustadz kenapa ? " kata Difa setelah membaringkan tubuh Daff dikasur.


" Saya nggak Papa " kata Daff sambil melirik Difa yang sedang menangis disampingnya.


" Jangan sakit hiks...hiks maafin Difa hiks " kata Difa sambil memegang tangan Daff, sehingga membuat Daff yang melihatnya tidak tega.


" Saya nggak papa Difa " kata Daff datar.


Saat Daff ingin bersandar dengan cepat Adifa langsung membantu Daff untuk bersandar dikepala ranjang.


" Yang mana ? " tanya Daff dengan suara dinginnya.


" Maksudnya ? " tanya Adifa gugup ketika ditatap seperti itu oleh suaminya.


" Yang dipegang " kata Daff.


" Pe...pegang apa ? " tanya Adifa.


" Yang dipegang Lutfi tadi yang mana Adifa ?!! " sentak Daff sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


" Ustadz aku telepon Dokter ya ? " kata Adifa.


" Mana ? " kata Daff sambil menatap tajam kearah Adifa.


Dengan tangan bergetar Adifa langsung menunjuk lengannya yang tadi dipegang oleh Lutfi.

__ADS_1


" Ma..Mau apa ? " tanya Difa ragu.


" Hilangin bekas dia " kata Daff sambil mencium lengan Difa, sehingga membuat Adifa kaget dengan tindakan Daff.


" Akkhhhh " ringis Daff tiba-tiba.


" Ustadz hikss..hikss jangan sakit hikss " kata Difa yang kembali menangis.


" Ustadz huaaaa hikss..hiks jangan tinggalin Difa hikss..hikss " tangis Difa pecah, sehingga membuat Daff berusahah menahan rasa sakitnya.


" Hussttt, jangan nangis saya nggak papa " kata Daff sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Adifa.


" Tap.." kata Difa terpotong oleh ucapan Daff.


" Gini yaaa Adifa Ashalina, yang cantiknya ngalahin tujuh turunan bidadari. Saya kan lagi sakit jadi jangan nangis teruss bukannya sembuh, nanti saya malah kena mental breakdance " kata Daff yang diiringi candaan sambil membaringkan tubuhnya.


" Yaudah Difaa pijitin yaa " kata Adifa yang hanya dibalas deheman oleh Daff.


Melihat suaminya mulai memejamkan mata, Adifa kembali merasa bersalah melihat wajah pucat Daff.


" Maafin Difa Ustadz, seharusnya Difa bersyukur memiliki suami seperti Ustadz Khadafi. Seharusnya aku percaya kalau Abi nggak mungkin menikahkan Difa dengan Pria sembarangan " batin Adifa.


" Ustadz Khadafi berhasil membuat Difa takut kehilangan, Ustadz Khadafi berhasil membuat Difa merasa nyaman saat dekat dengan Ustadz " gumam Difa sambil terus memperhatikan wajah tampan suaminya.


" Kenapa Ustadz bisa setampan ini ? padahal kan Ustadz udah tua " kata Difa sambil mengecup pipi Daff.


Daff yang merasakan benda kenyal yang menyentuh pipinya langsung membuka mata, sehingga membuat Difa pun terbelalak.


" Nakal banget sih, padahal suaminya lagi sakit lohh " ledek Daff.


Sementara Adifa dirinya sangat malu, rasanya ingin menghilang dari hadapan Daff.


" Di..Difa buatin bubur aja yaa " kata Difa sambil berlari keluar dari kamar, sehingga membuat Daff tersenyum tipis mengingat kata-kata yang di lontarkan Adifa tadi.


" Satu langkah lagi kamu bakalan bucin ke saya Adifa " kata Daff yakin sambil memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2