Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 6


__ADS_3

" Kok nggak salim ? " kata Daff sambil mengulurkan tangannya kearah Adifa.


" Ishhhh ribet banget sih !!! " kesal Adifa, namun tetap melakukannya.


" Gitu dong, itu baru istrinya suami " kata Daff, dirinya tau istrinya kesal, namun justru Daff senang melihatnya.


" Ustadz " panggil Adifa, sehingga membuat Daff menghentikan langkahnya dan berbalik menatap istrinya.


" Kenapa ? " tanya Daff.


" Nggak usah pergi bisa nggak ? aku kan belum akrab sama Mama " kata Adifa, sehingga membuat Daff berjalan mendekati Adifa.


" Mama baik kok " kata Daff sambil tersenyum


" Tapi kan ....." kata Adifa terpotong oleh ucapan Daff.


" Husssttt, saya yakin kamu bakalan betah ngobrol sama Mama " kata Daff sambil mengecup kening Ila.


" Ehhhh " kata Ila kaget dengan perlakuan Daff.


" Assalamualaikum " kata Daff sambil berjalan meninggalkan Difa, sedangkan Difa masih berdiri sambil memegang dadanya yang bergemuruh.


" Lohh sayang, kok masih berdiri disitu ? ayoo masuk " kata Ila yang tiba-tiba muncul.


" Ehhh, ahhh iya Ma " kata Difa.


" Gimana hubungan kalian sayang ? baik-baik aja kan ? " tanya Ila.


" Baik kok Ma " jawab Difa.


" Mama tau kok ini nggak mudah buat kamu sayang, karena Mama pernah berada di posisi kamu " kata Ila sambil menggenggam tangan Difa.


" Maksud Mama ? " tanya Difa penasaran.


" Dulu Mama sama kayak kamu, orang tua Mama juga jodohin Mama sama Papanya Daff " kata Ila.

__ADS_1


" Terus apa yang Mama lakukan ? " tanya Difa yang mulai tertarik dengan obrolan tersebut.


" Mama berusahah untuk ikhlas, karena Mama yakin bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat putrinya dan Mama percaya kalau orang tua Mama tidak mungkin asal memilih pasangan yang kelak akan mendampingi putri kesayangannya. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu Nak " kata Ila.


" Apa Mama bahagia ? " tanya Difa, sehingga membuat Ila mengangguk yakin.


" Sangat, mungkin Mama nggak bakal sebahagia ini kalau Mama menikah dengan orang lain " kata Ila, bahkan aura kebahagiaannya terpancar sangat jelas di mata Difa.


Sementara di tempat Daff, saat dirinya sudah selesai mengajar, tiba-tiba seorang santriwati memanggilnya sehingga membuat Daff menghentikan langkahnya.


" Ada apa Afni ? " tanya Daff saat melihat santri pemalu itu memanggilnya.


" Ustadz, kenapa kemarin tidak masuk ? " tanya Afni sambil menunduk, dirinya terlalu malu untukengangkat wajahnya.


" Ohhh saya ada acara, kenapa ? " Tanya Daff.


" Ng....Nggak Papa Ustadz. Assalamualaikum " kata Afni terbata-bata sambil berlarih menjauh dari Daff.


" Walaikumsalam, ada-ada ajaa " gumam Daff sambil menggelengkan kepalanya.


Saat Daff ingin kembali keruangannya, tiba-tiba ia melihat lima orang santriwati yang ingin berusahah memanjat tembok pembatas.


" Mau kemana ? " tanya Daff sambil berdiri dibelakang kelima santriwati tersebut.


" Kan kita mau ngintipin para santri, jangan berisik dehh nanti ketahuan " kata salah satu santriwati tersebut.


" Mau liat siapa disana ? " tanya Daff lagi.


" Mau liat Ustadz Khadafi, katanya dia lagi ngajar ditempat santri. Bismillah jodohkuuu " kata salah satu santriwati tersebut yang belum menyadari kehadiran Daff disana.


" Kalau akumahhh mau liat Fahrul anak kelas tiga itu lohhh " timpal santriwati lainnya.


" Ooooo, sebelum kalian menemui mereka. bersihkan dulu semua kamar mandi santriwati " Kata Daff tegas, sehingga membuat kelima santriwati itu berbalik menatap Daff.


" U....Ustadz "

__ADS_1


" Kalian sadar dengan kesalahan kalian kan ? atau perlu saya jelaskan lagi tata tertib dipesantren ini ? " tanya Daff datar.


" Maaf, kami khilaf Ustadz "


" Ada apa Ustadz Khadafi ? " tanya Ustadzah Mila saat melihat ada keributan.


" Kebetulan Ustadzah ada disini, saya ingin minta tolong agar Ustadzah mengawasi mereka dalam menyelesaikan hukuman yang saya berikan. Karena mereka ini telah berusahah melewati tembok pembatas antara santri dan santriwati " kata Daff tegas.


" Astagfirullah, kalau begitu kalian ikut saya !! Ustadz saya pamit. Assalamualaikum " kata Ustadzah Mila.


" Walaikumsalam " jawab Daff, kemudian berjalan pulang kearah rumahnya untuk menjemput Adifa.


Saat perjalanan pulang, keadaan mobil sangat hening karena keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan.


" Mau langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu ? " tanya Daff saat melihat jam tangannya yang menunjukkan jam lima sore.


" Adifa Ashalina " panggil Daff, namun lagi-lagi tak mendapat tanggapan apapun dari Difa.


Daff yang merasa dicuekin langsung melirik Difa yang ternyata sedang asik dengan ponselnya, sehingga membuat Daff menepikan mobilnya.


" Simpan atau saya buang handphone kamu itu !!! " ancam Daff sambil menatap datar kearah Difa, sehingga membuat Difa segerah meletakkan ponselnya dan menatap Daff yang terlihat sedang marah itu.


" Maaf " lirih Difa, ketika melihat raut wajah Daff yang terlihat sangat datar.


" Saya tidak suka kalau kamu seperti itu Difa. Jika kamu belum bisa mencintai dan tidak menganggap saya sebagai suami kamu, setidaknya hargai setiap usaha saya " Kata Daff datar.


" Yaudah, kan aku udah minta maaf !! " kata Adifa kesal.


Malihat Adifa yang kesal, Daff berusahah meredam emosinya. Dirinya sadar bahwa Adifa masih labil, sehingga dirinya harus lebih banyak mengalah demi keutuhan rumah tangganya.


" Iyaa sayang iyaaa, tapi jangan diulangi lagi yaa " kata Daff sambil tersenyum tipis kearah Difa, sehingga membuat Difa memalingkan wajahnya karena panggilan Daff.


" Jadi mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu ? " tanya Daff lagi.


" Jalan-jalan " kata Adifa.

__ADS_1


" Siap tuan putri " kata Daff yang lagi-lagi membuat Adifa berusahah menahan senyumnya.


" Kalau mau senyum, senyum aja kali. tuhh hidungnya sampai kempas kempis gitu " kata Daff saat melihat pantulan wajah Difa dikaca mobil.


__ADS_2