Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 8


__ADS_3

Sudah satu minggu setelah acara pernikahan Daff dan Difa diadakan. Secara perlahan Difa sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Daff.


Dua hari yang lalu keduanya menetap dirumah minimalis namun terlihat elegant yang Daff beli tepat disamping rumah Kyai Ammar, dirinya sengaja memilih rumah tersebut agar memudahkan Adifa saat ingin menemui keluarganya. Daff menolak ajakan tinggal dengan orang tuanya ataupun mertuanya. Dia ingin hidupnya dan istrinya mandiri.


" Khemm, Adifa kamu udah sayang sama saya nggak ? " kata Daff sambil menghampiri Adifa yang tengah duduk di balkon kamarnya sambil menikmati langit pagi.


" Nggak tau, tapi kalau dekat-deket sama Om jantung aku deg-degan, nggak tau penyebabnya apa " kata Difa polos, sehingga membuat Daff tersenyum mendengarnya.


" Usahain dong Dif " kata Daff.


" Apa ? " tanya Difa sambil menatap Daff.


" Usahain sayang sama saya, soalnya saya udah sayang banget sama kamu Difa. saya kurang apa coba ? ganteng ? nggak usah ditanya lagi. Bahkan kegantengan saya ini udah stadium tingkat akhir. Pintar ? Aman. Kaya ? Yaaa nggak juga sih, cuman warisan Kakek sama Nenek saya banyak. Beramal ? Ti...." kata Daff terpotong oleh ucapan Difa.


" Stoppp !! mending Om mandi dehh, nanti telat " kata Adifa yang sudah kehilangan kesabaran mendengar ocehan suaminya yang sangat percaya diri itu.


" Okeee " kata Daff yang langsung mulenuruti perkataan istrinya.


" Mau ikut atau tinggal ? " kata Daff setelah sarapan.


" Ikut " kata Adifa yang diangguki Daff.


" Masya Allah, sungguh indah ciptaanmu Ya Allah " kata Daff saat melihat pantulan wajahnya dikaca mobil, sehingga membuat Adifa memutar kedua bola matanya malas, kemudian langsung berjalan masuk kedalam mobil meninggalkan Daff yang masih setia melihat pantulan wajahnya.


" Jadi jalan nggak ? " kata Difa sambil menurunkan kaca mobil, sehingga membuat Daff segerah masuk kedalam mobil.


" Saya cuman mengagumi indahnya ciptaan Allah SWT " kata Daff sambil menyalakan mobilnya.

__ADS_1


" Om, apa Om pernah merasa nggak percaya diri ? " tanya Difa penasaran.


" Selalu percaya diri " kata Daff to the point.


Jujur saja, Difa sedikit iri dengan kepercayaan diri Daff. Entah bagaimana suaminya bisa mendapatkan itu, bahkan Difa sendiri masih kurang percaya diri bersanding dengan Ustadz yang banyak dikagumi oleh santrinya itu.


" Aku ikut ke pesantren boleh ? " tanya Difa yang diangguki oleh Daff.


Saat menginjakkan kaki ke pesantren banyak sekali tatapan mata tertuju pada Difa dan Daff, sehingga membuat Difa refleks menggenggam tangan Daff.


" Itu siapa kok pegang-pegang tangan Ustadz ? " kata salah satu santriwati yang masih terdengar jelas ditelinga Daff.


" Adiknya Ustadz kali " timpal salah satu santriwati sambil melewati Daff, sehingga membuat Daff menghentikan langkahnya.


" Kenapa berhenti ? " tanya Adifa.


" Buat Ustadz " kata Afni yang masih setia menundukkan kepalanya.


" Buat saya ? " tanya Daff sambil menunjuk dirinya sendiri, sehingga membuat Afni mengangguk.


" Tapi dalam rangka apa kamu memberikan saya ini ? " tanya Daff heran, sehingga membuat Afni menatap sekelilingnya yang terlihat sepi.


" Sa...Saya suka U..Ustadz " kata Afni gugup.


Daff yang mendengara pernyataan Afni, dirinya terlihat biasa saja, berbeda demgan Difa yang tiba merasakan sesak di bagian dadanya.


" Saya tau ini tidak sopan, tapi saya tidak bisa menahannya lagi. Ustadz tidak perlu membalas perasaan saya. Ustadz cukup tau kalau saya mengagumi Ustadz dan memiliki perasaan kepada Ustadz Khadafi " kata Afni sambil menunduk.

__ADS_1


Difa yang mendengar hal tersebut langsung melepas genggaman tangannya dari Daff dan berlari meninggalkan Daff dan Afni.


" Difaa " panggil Daff sambil menatap punggung istrinya, kemudian beralih kearah Afni tanpa menatap gadis tersebut.


" Rasa suka itu hal yang wajar untuk anak seusia kamu Afni, tapi satu hal yang harus kamu tau kalau saya sudah mempunyai istri, jadi saya harap jangan berharap lebih kepada saya. Karena saya hanya menganggap kamu murid saya sama halnya dengan santri lain. Saya harus menyusul istri saya, asaalamualaikum " kata Daff datar sambil berjalan meninggalkan Afni.


" Ustadz udah punya istri ? " gumam Afni sambil berkaca-kaca.


" Padahal ini pertama kalinya aku jatuh cinta " kata Afni lesuh.


Sementara Daff langsung menyusul istrinya yang sudah memasuki mobil.


" Kenapa rasanya sesakit ini ? " kata Difa bertepatan dengan masuknya Daff.


" Sakit ? apanya yang sakit ? kepala kamu pusing ? " tanya Daff khawatir, sehingga membuat Difa beralih menatap Daff.


" Kita ke rumah sakit sekarang " kata Daff yang baru saja ingin menyalakan mesin mobilnya, namun tangannya langsung dicegah oleh Difa, ehingga membuat Daff menatap Difa.


" Yang sakit bukan kepala aku, tapi di sini" kata Difa, kemudian menarik tangan Daff dan meletakkannya di dadanya yang terasa sesak.


" Dada kamu sakit ? " kata Daff khawatir sambil menarik tangannya dari dada Adifa.


" Kita kerumah sakit sekara..." kata Daff terpotong oleh ucapan Adifa.


" AKU CEMBURU MUHAMMAD AL-KHADAFI ! AKU CEMBURU " kata Difa sedikit berteriak, kemudian menyandarkan dirinya di sandaran mobil. Difa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Sakit Om, hati aku sakit !! nggak tau kenapa aku nggak suka kalau ada orang yang suka sama Om. Apalagi orang itu jauh lebih cantik dari aku " kata Difa yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2