Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 20


__ADS_3

" Tapi Papa sih yakin kalau bentar lagi kita bakal punya cucu " kata Afkar sambil senyum-senyum sendiri membayangkan kalau menantunya benar-benar sedang hamil.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini Afkar dan Ila sudah tiba di kediaman Daff dan Difa.


" Ya Allah Daffff, kamu pucet banget sayang " kata Ila ketika melihat Daff yang terbaring lemah diatas kasur.


" Daff cuman masuk angin kok Ma " kata Daff lemah.


" Kata Difa kamu muntah-muntah yaa Daff ? " tanya Afkar.


" Iyaa Pa " kata Daff.


" Apa jangan-jangan Difa hamil yaaa " celetuk Afkar, sehingga membuat Difa bingung.


" Maksud Papa ? " tanya Difa.


" Papa jangan aneh-aneh dehh " kata Daff menimpali.


" Nggak ada yang aneh Daff, Mama dulu pas hamil kamu Papa yang muntah-muntah kek kamu gini kok" kata Afkar yakin.


" Udahhlahh daripada kalian bingung, mending kamu cek dulu Nak " kata Afkar pada Difa.


" Hahh cek apa Pa ? " tanya Difa.


" Udahh yaa sayang daripada kamu bingung mending ikut Mama ke kamar mandi, Paa titip Daff dulu " kata Ila sambil menarik tangan Difa.


" Bentar lagi Papa bakal punya cucu, enaknya dipanggil apa ya Daff ? " kata Afkar dengan senyuman yang merekah.


" Jangan terlalu berharap, kalau nggak jadi kecewa " kata Daff.


" Papa yakin, ingat firasat seorang Ayah nggak pernah salah " kata Afkar bertepatan dengan keluarnya Ila dan Difa dari kamar mandi.


" Gimana Ma ? " tanya Afkar antusias.


Karena tidak mendapat tanggapan dari istrinya, Afkar beralih menatap menantunya. Namun saat melihat wajah Difa berkaca-kaca senyumannya perlahan luntur.


" Udahh nggak papa Nak, kan bis " kata Afkar terpotong oleh ucapan Difa.


" Garis dua Pa " cicit Difa, sehingga membuat Afkar senang bukan main.

__ADS_1


" Alhamdulillah!!!! terimakasih Ya Allah " kata Afkar sambil sujud syukur.


Sementara Daff hanya terdiam diatas kasur dan terlihat syok mendengar ucapan istrinya.


" Daff kamu kok diem aja ? " kata Ila heran sambil menghampiri putranya.


" Ini beneran Ma ? " kata Daff yang diangguki Ila.


" Difa hamil anak Daff ? " tanya Daff lagi, sehingga membuat Ila mengangguk.


" Diff beneran ? " tanya Daff lagi sambil beralih menatap Difa, sehingga membuat Difa mengangguk.


" Alhamdulillah " kata Daff sambil bersandar dikepala ranjang dan merentangkan tangannya kearah Difa, sehingga membuat Difa langsung memeluk Daff.


" Sehat-sehat yaaa Nak, kalau ada apa-apa jangan sungkan buat hubungi Mama sama Papa " kata Ila sambil mengelus punggung Difa.


" Iya Ma " kata Difa sambil tersenyum.


" Selamat yaa anak-anak Papa, hahahah akhirnya kamu bisa merasakan apa yang Papa rasain dulu pas Mama hamil kamu Daff " kata Afkar.


"Tenang ajaa Pa, semua akan Daff nikamti " kata Daff.


" Awas aja kalau sampai ngeluh " kata Afkar.


" Yaudah kalau gitu kalian istiahat yaa, Papa sama Mama harus pulang dulu sudah ada janji soalnya, tapi kalau ada apa-apa langsung telepon yaa " kata Ila yang diangguki oleh Daff dan Difa.


" Oiyyaaa kalau Daff udah mendingan kalian jangan lupa cek ke Dokter ya sayang " timpal Ila.


" Iyaaa Ma, pasti " kata Daff.


" Kalau gitu Papa sama Mama balik duluan ya, Assalamualaikum " kata Afkar.


" walaikumsalam " kata Daff dan Difa bersamaan.


Setelah kepergian orang tuanya Daff tak ada henti-hentinya memandangi perut Difa, bahkan dirinya sudah terlihat lebih fresh.


" Aku hamil. Gimana ini ? aku ehhh kita bakal punya anak Mas " kata Difa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


" Kamu nggak seneng ? " tanya Daff, sehingga membuat Adifa menggeleng cepat.

__ADS_1


" Kalau seneng jangan nagis " kata Daff sambil menghapus air mata Difa.


" Aku bakal jadi Ibu. Kamu mau tanggung jawab kan ? ini anak kamu !! " kata Difa sambil menunjuk perutnya sendiri, sehingga membuat Daff tertawa pelan.


" Aku suami kamu Dif, dan anak ini, anak aku " kata Daff sambil memeluk Difa.


" Aku hamil, kita bakal jadi orang tua " kata Difa disertai dengan isak tangis. Rasanya begitu bahagia, namun Difa belum sepenuhnya siap.


" Kenapa, hmm ? " tanya Daff sambil memegang kedua pundak Difa.


" Aku takut belum bisa jadi Ibu yang baik, Aku belum sepenuhnya siap Mas " kata Difa sambil menatap Daff.


" Kita sama-sama belajar ya " kata Daff sambil tersenyum kearah Difa, sehingga membuat Difa mengangguk.


" Dif nanti kalau anak kita cewek, kamu bebas mau minta apa aja aku kabulin, tapi kalau anak kita cowok, dua tahun berikutnya kita harus nambah lagi sampai punya sebelas kayak Gen Halilintar. Gimana, keren kan ? " kata Daff cengengesan.


" Gak, gak ada keren-kerennya. Enak di kamu susah di aku " tolak Difa tegas.


" Kan impas sayang, kamu minta apa aja boleh, mau helikopter, pesawat pribadi, atau apapun boleh. Aku cuman minta anak sebelas terus hidup menua sama kamu. itu baru impas " kata Daff ngotot.


" Ini aja belum keluar, Mas Khadafi maksa ihhh "


" Gak maksa sayang, orang dua tahun setelah anak kita lahir kok. Kan banyak anak banyak rezeki sayang " balas Daff ngeyel.


" Yaa tau, tapii....." kata Difa terpotong oleh ucapan Daff.


" Yaudah iyaaa, sedikasihnya sama Allah aja yaa " kata Daff sambil mengelus puncak kepala Difa yang ditutupi oleh hijab.


" Nahhh gitu dong Mas " kata Difa sambil tersenyum.


" Semoga aja dikasihnya sebelas ya Allah " batin Daff.


" Dif kamu belum ada ngidam apa gitu ? " tanya Daff.


" Lahhh kan kamu yang ngidam Mas " kata Difa.


" Yaaa masa pindah ke aku semua sih ? pokoknya kalau kamu mau apa-apa langsung bilang ya " kata Daff antusias.


" Okee calon Ay.....Ehh Mas nanti enaknya Baby manggil kita apa yaa ? " tanya Difa.

__ADS_1


" Yang maha mulia seri paduka baginda Ayahanda yang dipertuan dan panglima tertinggi di keluarga. Dahh segitu aja manggilnya " kata Daff, sehingga membuat Difa melongo.


" Kalau anak kita manggil kamu Yang mulia kanjeng rabu Ibunda tersayang, terhormat, tercantik, istrinya paduka baginda Ayahanda Al-Khadafi " timpal Daff.


__ADS_2