
" Ikhlas nggak nih ? " tanya Daff lagi.
" Ikhlas " kata Adifa kesal.
" Ikhlas kok mukanya kayak gitu " kata Daff.
" Ikhlas Ustadz Al-Khadafi " kata Adifa sambil memaksakan senyumnya.
" Ikhlas itu mudah diucapkan, namun sulit buat dilakukan " kata Daff.
" Ustadz nyindir aku ? " tanya Adifa kesal.
" Aku nggak nyindir siapa-siapa, emangnya kamu merasa kesindir dengan ucapan saya ? " kata Daff santai.
" Nyebelin " gumam Adifa kesal.
" Kalau nggak merasa nggak usah kesal gitu dong " kata Daff sambil menyendokkan nasi goreng tersebut ke mulutnya.
" Oiyyaa hari ini saya ada jadwal ngajar, ka..." kata Daff terpotong oleh ucapan Adifa.
" Terus aku ditinggal ? " tanya Adifa.
" Kenapa ? nggak mau ditinggal yaa ? " goda Daff sambil menaik turunkan alisnya.
" Issshhh terserah, yaudah pergi aja sanaaa " kata Adifa kesal sambil berjalan kearah kamar meninggalkan Daff.
" Dasar ABG baru digituin udah ngambek " gumam Daff menyelesaikan makannya kemudian menyusul Adifa.
" Assalamualaikum " kata Daff sambil masuk kedalam kamar, namun tak mendapat jawaban apapun dari Adifa.
" Khemm sesungguhnya orang yang paling pelit itu adalah orang yang ketika mendengar salam namun tidak dijawab dan " kata Daff terhenti karena Adifa langsung menjawab salamnya.
" Walaikumsalam " kata Adifa sedikit judes.
Melihat ekspresi Adifa, Daff langsung berjalan menghampiri Adifa, kemudian mengadahkan tangannya dibawah wajah Adifa seperti sedang menampung sesuatu.
" Ngapain sih ? " kesal Adifa.
" Saya sedang menampung kecantikan istri saya yang sedang berjatuhan. Kata orang, kalau pagi-pagi udah marah-marah ntar cantiknya luntur. Daripada lunturnya kebuang percuma mending saya tampung " kata Daff santai, kemudian seolah memasukkan sesuatu kedalam saku kemejanya.
" Hmmm karena marah-marah cantik kamu jadi berkurang 25% " kata Daff serius.
" Masa sihh ? " tanya Adifa polos.
" Ngaca aja kalau nggak percaya " kata Daff, sehingga membuat Adifa buru-buru berjalan kearah meja rias.
__ADS_1
" Tuhhh bagian pipinya kayak ada kerutan tuhh, sebenarnya umur kamu berapa sih ? " kata Daff sambil memperhatikan Adifa.
" 18 tahun " kata Adifa.
" Hahhh 18 tahun ? sekarang malah keliatan 25 tahun lohh. ihhh ngeri juga yaaa kalau pagi-pagi udah marah-marah " kata Daff pura-pura kaget, sehingga membuat Adifa berlari kearah Daff sambil merogoh saku kemeja Daff seolah mengambil sesuatu, kamudian segerah mengusapkan ke wajahnya.
" Gimana udah balik lagi kan ? " tanya Adifa cemas.
" Coba sini saya liat dulu " kata Daff sambil memegang kedua pipi Adifa seolah memeriksa sesuatu.
" Kayakanya belum sepenuhnya balik dehh " kata Daff.
" Terus gimana ? " tanya Adifa panik.
" Bentar " kata Daff sambil mendaratkan kecupan singkat di bibir Adifa, sehingga membuat tubuh Adifa seketika menegang.
" Nahh udah balik lagi, malahan cantiknya nambah 50% sekarang " kata Daff sambil merapikan jilbab Adifa.
" Ustadz ngapain ? " tanya Adifa sambil menyentuh bibirnya.
" Menambah kecantikan kamu " kata Daff santai.
" Emang iyaa ? " kata Adifa, sehingga membuat Daff mengangguk yakin.
" Udahhh ahhh keburu siang, kamu ikut aku yaa " kata Daff berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Jawab dulu, Ustadz bohong kan ? " tanya Adifa lagi.
" Yaudah yukk nanti kamu bisa ngobrol sama Mama dirumah " kata Daff sambil menarik tangan Adifa.
" Dasar Ustadz mesum " cibir Adifa.
" Mesum dari mananya ? kamu kan istri saya. Bahkan saya boleh melakukan yang lebih dari itu. Ohhh atau kamu udah siap ? " kata Daff sambil menghentikan langkahnya.
" Enggakk!! okeee okeee ayo kita berangkat sekarang " kata Adifa sambil berjalan mendahului Daff, sehingga membuat Daff terkekeh.
" Ihhhhhh ngeselin banget sihh!! seenak jidatnya nodain bibir aku yang masih suci ini " batin Adifa kesal.
" Silahkan " kata Daff sambil membukakan pintu mobil untuk Adifa.
" Lebay " kata Adifa kesal, namun Daff malah merasa lucu melihat ekspresi kesal istrinya.
" Kamu udah lulus sekolah kan ? " tanya Daff.
" Belum " jawab Adifa.
__ADS_1
" Loh bukannya udah lulus ya ? " tanya Daff lagi.
" Baru abis ujian, tapi belum pengunguman kelulusan " jawab Adifa yang diangguki oleh Daff.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit kini Daff sudah berada di halaman rumahnya.
" Ayo " kata Daff sambil menggandeng tangan Adifa.
" Assalamualaikum " kata Daff ketika melihat mamanya menyiram tanaman.
" Walaikumsalam "
" Nihh Daff bawain mantu Mama " kata Daff sambil menyalimi tangan Ila yang diikuti oleh Adifa.
" Masya Allah, ayo masuk " kata Ila sambil menggandeng tangan Adifa.
" Papa mana Ma ? " tanya Daff.
" Papa udah berangkat ke pesantren Daff " kata Ila.
" Ooo yaudah kalau gitu, Daff juga berangkat yaa Maaa " kata Daff sambil menyalimi tangan Ila.
" Istri nggak nganter suami kedepan ? " sindir Daff, sehingga membuat Adifa berusahah menahan kesal, sementara Ila hanya menggelengkan kepalanya.
" Ma, Difa nganter Ustadz kedepan dulu yaa " kata Difa sopan.
" Iyaa sayang " kata Ila.
" Suami pergi dulu yaa Istri " kata Daff.
" Apasihh geli banget dengernya " kata Adifa kesal.
" Teruss maunya apa ? sayang ? " kata Daff.
" Apaan banget sihh " kata Adifa sambil membalikkan badannya.
" Adifa Ashalina !! " panggil Daff ketika melihat istrinya ingin berjalan masuk.
" Apa lagi sih ? " tanya Adifa kesal.
" Kok nggak salim ? " kata Daff sambil mengulurkan tangannya kearah Adifa.
" Ishhhh ribet banget sih !!! " kesal Adifa, namun tetap melakukannya.
" Gitu dong, itu baru istrinya suami " kata Daff, dirinya tau istrinya kesal, namun justru Daff senang melihatnya.
__ADS_1