
Keesokan harinya, Daff terbangun terlebih dahulu daripada Difa. Saat menoleh kearah istrinya Daff dapat melihat wajah kelelahan dari Difa.
" Cantik " gumam Daff sambil merubah posisinya menjadi duduk.
Daff tidak tega membangunkan Difa, akhirnya ia memutuskan untuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, kemudian beranjak sholat subuh.
Setelah sholat, Daff menghampiri Difa dan sedikit menggoyangkan bahu Difa.
Difa yang merasa terganggu langsung mengerjap dan membuka matanya secara perlahan, namun saat pandangan keduanya bertemu Difa buru-buru mengalihkan pandangannya saat mengingat malam panjang antar keduanya.
" Kenapa hmm ? " tanya Daff sambil mengusap pipi Difa yang memerah.
" Maluu " lirih Difa, kemudian beralih memeluk tubuh Daff yang duduk disampingnya, sehingga membuat Daff terkekeh.
" Udah jam lima, sholat subuh dulu yaa abis itu baru lanjut tidur lagi " kata Daff sambil mengusap rambut Difa.
" Lima menit lagi Mas " kata Difa diseratai dengan suara seraknya.
" Nanti waktunya keburu habis sayang " kata Daff, sehingga membuat Difa bangkit dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian sholat.
Melihat istrinya masuk ke kamar mandi,Daff berinisiatif untuk memasak sarapan untuk dirinya dan juga Difa.
" Hmm kurang idaman apalagi coba anaknya Papa Afkar sama Mama Ila. Ganteng ? nggak usah di raguin lagi. Kaya ? cukuplah buat nafkahin istri. Bisa masak ? yaaa sebelas dua belas lahh sama Chef Arnold " gumam Daff sambil fokus memasak nasi goreng.
" Wahhhh dari baunya aja udah enak banget " kata Daff bangga, kemudian membawa sepiring nasi goreng buatannya ke kekamar.
" Assalamualaikum, nasi goreng special ala Chef Khadafi datang " kata Daff, sehingga membuat Difa mengalihkan pandangannya kearah Daff.
" Saya suapin yaa ? " kata Daff sambil mendudukkan dirinya diatas sofa samping Adifa.
" Mas Khadafi masak ? " tanya Difa yang diangguki oleh Daff.
__ADS_1
" Emang bisa ? " tanya Difa ragu.
" Coba aja dulu, aaaaa " kata Daff sambil menyuapi Difa.
" Gimana ? " tanya Daff.
" Kok bisa enak ? " tanya Difa.
" Kalau yang masak orangnya ganteng, maka masakannya nggak perlu di ragukan lagi " kata Daff percaya diri, sehingga membuat Difa mendengus mendengar ke narsisan suaminya.
" Hari ini temenin Difa yaa Mas " kata Difa ketika Daff meletakkan bekas piringnya diatas nakas.
" Oke, kebetulan hari ini juga saya nggak ada jadwal ngajar. Kenapa ? " kata Daff.
" Lemesss " timpal Difa sambil menyenderkan kepalanya di bahu Daff.
" Maaf yaa gara-gara semalem kamu jadi lemes gini " kata Daff merasah bersalah.
" Mas Khadafi " panggil Difa sambil mendongakkan kepalanya, sehingga membuat Daff mengangkat salah satu alisnya.
" Kayak gini terus yaa ? " kata Difa, sehingga membuat Daff tersenyum.
" Kayak gini terus Mas, jangan pernah tinggalin aku dan jangan pernah punya pemikiran buat tinggalin aku " timpal Difa, sehingga membuat Daff tersenyum hangat sambil menatap Difa dengan tatapan lembut.
" Dengar, setiap pertemuan pasti ada perpisahan Difa. Umur seseorang nggak ada yang tau sayang, maka dari itu saya tidak bisa berjanji. Cintai saya dengan sewajarnya " kata Daff.
" Mas " lirih Difa, jujur saja itu bukan jawaban yang di nantikan oleh Difa.
" Jangan khawatir, kamu milikku dan akan terus menjadi milikku. begitupun dengan sebaliknya, saya milik kamu dan akan terus menjadi milik kamu " kata Daff sambil menarik Difa masuk kedalam pelukannya.
" Emmm Mas Khadafi ada pikiran buat poligami nggak ? " tanya Difa ragu.
__ADS_1
" Kenapa nanya gitu ? " kata Daff.
" Kan Ustadz biasanya gitu " kata Difa.
" Emang kamu setuju ? " tanya Daff, sehingga membuat Difa langsung melepas pelukannya dari Daff.
" Nggak !! kalau Mas Khadafi mau poligami Difa mau mundur " kata Difa, sehingga membuat Daff terkekeh.
" Denger baik-baik yaa, pertama, nggak semua Ustadz itu mau berpoligami Adifa, contohnya Papa Afkar sama Abi. Kedua, saya nggak pernah kepikiran untuk poligami karena bagi saya pernikahan itu cukup sekali seumur hidup " kata Daff, sehingga membuat Difa merasa lebih tenang.
" Kalau ada yang lebih segalanya dari Difa gimana ? " tanya Difa lagi.
" Kalau itu bisa dibicarakan baik-baik " kata Daff, sehingga membuat Adifa kesal bukan main.
" Bercanda sayang, lagian buat apasih nanya-nanya kayak gitu ? " kata Daff gemas melihat tingkah istrinya.
" Yaaa kan aku takut " kata Difa manja.
" Nggak ada yang perlu ditakutin Adifa Ashalina " kata Daff.
" Aku pegang omongan Mas Khadafi " kata Difa yang diangguki oleh Daff.
" Pokonya yang boleh jadi jodoh Mas Khadafi cuman Difa nggak boleh ada yang lain !! kalau ada yang lain Difa bakalan tahajjud tiap malam biar cuman Difa satu-satunya " kata Difa, sehingga membuat Daff tak mampu menutupi senyuman manisnya.
" Cailahhhh kayaknya udah ada yang mulai bucin nihh sama suami gantengnya " kata Daff dengan nada yang mengejek.
" Salah ? " tanya Difa kesel.
" Nggaklah, tapi kalau suaminya lebih berjodoh sama kematian gimana ? " tanya Daff.
" Pliss nggak usah bahas itu " kata Difa tak suka.
__ADS_1
" Okee ayang " kata Daff yang lagi-lagi terkekeh, entah mengapa dirinya senang sekali melihat wajah kesal istrinya.