Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 21


__ADS_3

" Mas yakin mau ke pesantren ? " tanya Difa ketika melihat wajah Daff yang masih terlihat pucat.


" Yakinlah, kamu jaga diri yaaa kalau ada apa-apa langsung call aja " kata Daff sambil tersenyum tipis kearah Difa.


" Masih pucat loh Mas " kata Difa.


" Nggak papa, lagian kasian para Ustadz yang gantiin aku kalau aku terlalu lama nggak masuk " kata Daff.


" Sayang, lihat peci aku nggak ? " tanya Daff.


" Ada di lemari " kata Difa, sehingga membuat Daff segerah berjalan kearah lemari.


" Ini " kata Daff kembali kearah Difa dan menyodorkan pecinya.


" Kenapa ? " tanya Difa bingung.


" Pakaikan, kalau kamu yang pakaikan saya tidak perlu bercermin lagi " kata Daff, sehingga membuat Difa tersenyum.


" Baiklah, siniin kepalanya " kata Difa.


" Kamu nyuruh saya potong kepala saya sendiri ? " kata Daff.


" Astagfirullah !!! nggak gitu Mas " kata Difa, sehinggah membuat Daff terkekeh pelan.


" Baik-baik yaa di rumah " kata Daff kemudian beralih mengusap perut Difa yang masih terlihat rata.


" Assalamualaikum Anaknya Baba Daff. Sehat-sehat ya sayang, jangan nyusahin Ummah okeee. I Love Youuu " kata Daff kemudian mencium perut Difa.


" Aku berangkat yaa, Assalamualaikum " kata Daff sambil mencium kening Difa sekilas.


" Walaikumsalam " kata Difa sambil menyalimi tangan Daff.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini mobil Daff sudah terparkir dihalaman pesantren bersamaan dengan datangnya Afkar.


" Assalamualaikum Pa " kata Daff yang turun dari mobil dan langsung menyalimi tangan Afkar.


" Walaikumsalam "

__ADS_1


" Ngidamnya berat banget ya Daff ? kamu sampai kurusan lo " kata Afkar sambil memperhatikan tubuh Daff.


" Masa sih Pa ? " tanya Daff yang diangguki Afkar.


" Masih sering mual ? " tanya Afkar.


" Yaa gitu dehh Pa " kata Daff.


" Kamu kalau masih lemes nggak usah ngajar dulu " kata Afkar sedikit khawatir melihat kondisi Daff yang sudah seperti mayat hidup.


" Apaansih Pa, kayak nggak pernah ngidam aja " kata Daff sambil terkekeh.


Baru saja Afkar ingin menimpali ucapan putranya, namu terhenti ketika Daff langsung memuntahkan isi perutnya, bahkan sampai mengenai baju Papanya.


" Astagfirullah!! Daff " kata Afkar kaget dan langsung menarik Daff masuk kedalam mobil, beruntung keadaan pesantren saat itu masih sepih.


" Daff ini maksudnya apa ? " kata Afkar ketika melihat percikan darah mengenai bajunya.


" Kamu sakit Daff ? " tanya Afkar benar-benar khawatir dengan keadaan putranya sekarang.


" Daff jawab Papa !!! " kata Afkar.


Baru saja Afkar ingin menimpali, namun Daff kembali muntah, bahkan kini bajunya berlumuran darah.


" Astagfirullah!!! " kata Afkar panik, kemudian langsung mengendari mobil Daff menuju rumah sakit terdekat.


" Pa... Daff bener-bener nggak papa, ini cuman efek ngidam aja Pa " kata Daff lemah.


" Kamu pikir Papa bodoh !!!! stop berpura-pura kuat sekarang " kata Afkar dingin sambil mengendarai mobil Daff dengan kecepatan tinggi.


Setelah menempuh perjalalan sekitar 10 menit kini Afkar langsung memapah tubuh lemah Daff masuk kedalam rumah sakit.


" Dokter tolong anak saya " teriak Afkar.


" Baik Pak, tapi sebelumnya silahkan lakukan registrasi dulu ya Pak " kata Dokter tersebut.


" Itu masalah gampang Dok. Saya akan bayar, tapi tolong dulu anak saya " kata Afkar.

__ADS_1


" Iyaa, tapi silahkan registrasi dulu Pak " kata Dokter tersebut.


" Baiklah, tapi tolong tangani anak saya sekarang " kata Afkar yang langsung berlari ke meja registrasi.


Setelah melakukan registrasi, Afkar tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk keselamatan putranya.


" Gimana keadaan putra saya Dok ? " kata Afkar saat Dokter tersebut keluar.


" Kita bicara di ruangan saya ya Pak " kata Dokter tersebut yang diangguki oleh Afkar.


" Jadi gimana Dok ? " tanya Afkar


" Hufftttt Bapak tenang dulu yaa " kata Dokter.


" Gimana saya bisa tenang, kalau saya belum tau apa yang sebenarnya terjadi dengan putra saya!!! " bentak Afkar pada Dokter laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya.


" Putra Bapak mengidap penyakit Leukimia atau sering disebut kanker darah dan sudah memasuki stadium ke 4 " kata Dokter tersebut, sehingga membuat perasaan Afkar campur aduk.


" Nggak mungkin, selama ini anak saya baik-baik aja Dok " kata Afkar seolah tak percaya.


" Memang banyak pasien yang awalnya tidak memiliki gejala, namun seiring berjalannya waktu pasien akan menunjukkan gejala kelelahan, penurunan berat badan, demam dan menggigil, mual dan muntah, dan mudah berdarah atau memar " kata Dokter tersebut.


Mendengar ucapan Dokter barusan membuat Afkar kembali terngiang dengan kalimat Daff yang pernah mengatakan bahwa akhir-akhir ini dirinya mudah lelah. Dan dengan bodohnya dirinya mengira bahwa gejala-gejala itu semua efek ngidam.


" Dan sepertinya putra Bapak telah mengetahui hal ini " kata Dokter tersebut, sehingga membuat Afkar lagi-lagi di buat kaget oleh penuturan Dokter tersebut.


" Maksud Dokter Anak saya tau hal ini ? " tanya Afkar memastikan yang diangguki oleh Dokter tersebut.


" Tapi anak saya masih bisa sembuh kan Dok ? " tanya Afkar penuh harap.


" Kanker stadium 4 adalah tingkatan kanker yang paling parah. Pada tingkat ini penyembuhan memang sudah sulit untuk dilakukan. Meski begitu perawatan tetap bisa dilakukan untuk memperpanjang angka harapan hidup dan meredakan gejala yang terjadi " kata Dokter tersebut, sehingga membuat hati Afkar benar-benar hancur.


" Boleh saya menemui putra saya ? " kata Afkar yang diangguki Dokter tersebut.


Daff yang melihat Afkar masuk kedalam ruangan dimana dirinya dirawat, langsung bisa menebak jika Papanya itu sudah mengetahui kondisinya yang sebenarnya. Hal itu terlihat dari penampilan Afkar yang begitu kacau disertai dengan tatapan yang menyiratkan luka.


" Sejak kapan ? " kata Afkar dingin sambil menatap Daff.

__ADS_1


" Paa "


" Sejak kapan Al-Khadafi ??? " kata Afkar sekali lagi.


__ADS_2