
Daff yang melihat Afkar masuk kedalam ruangan dimana dirinya dirawat, langsung bisa menebak jika Papanya itu sudah mengetahui kondisinya yang sebenarnya. Hal itu terlihat dari penampilan Afkar yang begitu kacau disertai dengan tatapan yang menyiratkan luka.
" Sejak kapan ? " kata Afkar dingin sambil menatap Daff.
" Paa "
" Sejak kapan Al-Khadafi ??? " kata Afkar sekali lagi.
" Maaf " kata Daff lirih.
" Papa tanya sejak kapan Daff !!! " kata Afkar datar.
" Setahun yang lalu Pa, waktu masih di Mesir " kata Daff sambil memalingkan wajahnya.
" Kamu udah nggak nganggap Papa sama Mama ya Daff ? sampai-sampai hal sebesar ini kamu sembunyiin dari kami " kata Afkar sambil menatap kecewa kearah Daff.
" Kamu udah nganggap Papa sama Mama mati ? iyaa ? " lanjut Afkar, sehingga membuat Daff langsung menggeleng cepat.
" Nggak gitu Pa, Daff cuman nggak mau kalian khawatir " kata Daff.
" Kamu berhasil nggak buat Papa sama Mama khawatir Daff, tapi kamu hampir membunuh Papa karena tau kebenarannya " kata Afkar.
" Maaf Pa..." lirih Daff sambil meneteskan air matanya.
" Papa kecewa sama kamu Daff, alasan kamu nyembunyiin ini semua dari Papa nggak masuk akal " kata Afkar.
" Daff tau ini salah, Daff minta maaf Pa " kata Daff.
" Papa nggak bisa bayangin anak Papa melawan rasa sakitnya sendiri " kata Afkar dengan mata yang berkaca-kaca.
" Nggak Paa. nggak sakit sama sekali, Daff nggak papa benar-benar nggak Papa " kata Daff berusaha meyakinkan Afkar.
" Pa, Daff udah sembuh kok sekarang Papa nggak usah khawatir " kata Daff bertepatan dengan masuknya seorang Dokter.
" Dok saya udah sembuh kan Dok, ini cuman efek istri saya yang lagi hamil aja kan Dok ? " kata Daff beralih menatap Dokter tersebut.
" Sebelum balik ke Indoneaia saya sudah memastikan kalau sel kanker didalam tubuh saya udah hilang Dok " timpal Daff.
__ADS_1
" Sel kanker memang pintar sekali Pak, dia bisa bersembunyi dalam keadaan G-0 yang sangat persis dengan sel normal. " jelas Dokter tersebut.
" Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok " kata Afkar.
" Pasti Pak, kami akan melakukan yang terbaik untuk Putra Bapak " kata Dokter tersebut.
Setelah pulang dari rumah sakit, Afkar terlihat tidak seperti biasanya, dirinya banyak diam memikirkan Daff.
" Pa, Daff nggak papa kok buktinya tuhh Dokter ngizinin Daff buat rawat jalan " kata Daff yang hanya diangguki oleh Afkar.
" Paaa jangan kasi tau Mama sama Difa dulu yaaa, Daff nggak mau Difa kepikiran apalagi dia lagi hamil dan Daff nggak bisa liat Mama sedih " kata Daff memohon, sehingga membuat Afkar terlihat berpikir.
" Baiklah untuk Difa Papa bisa maklum, tapi untuk menyembunyikan hal ini dari Mama, Papa rasa itu nggak wajar Daff. Yaaa Mama pasti sedih, Mama pasti kecewa, tapi Mama pasti lebih terpukul kalau kamu menyembunyikan ini semua apalagi dia adalah Ibu yang melahirkanmu Nak " kata Afkar.
" Tapi Pa...." kata Daff terpotong oleh ucapan Afkar.
" Nggak ada tapi-tapian Daff, Mama berhak tau semua ini " kata Afkar tak terbantahkan.
" Baiklah kalau menurut Papa itu yang terbaik " kata Daff pasrah.
" Papa kecewa sama kamu Daff, tolong jangan pernah sembunyiin apa-apa lagi dari Papa Nak " kata Afkar sambil menghentikan mobilnya disebuah taman.
" Hmm Daff janji " kata Daff.
" Kamu harus sembuh, kamu nggak boleh kalah sama penyakit kamu "
" Hmmm, Daff pasti sembuh Pa " kata Daff yakin.
" Ihhh Papa jangan nangis ahhh, cengeng " timpal Daff ketika melihat Afkar berusahah menahan air matanya agar tidak jatuh.
" Dihhh siapa yang nangis, orang Papa B aja kok " kata Afkar sambil memalingkan wajahnya kemudian menghapus air matanya.
" Iyaaadehhh percaya " kata Daff sambil mengalihkan pandangannya ke depan dan tanpa sengaja dirinya melihat seorang anak yang sedang bermain dengan Ayahnya.
" Daff turun yuk " kata Afkar, namun tak ditanggapi apapun oleh Daff.
" Daff " panggil Afkar sambil mengikuti arah pandang Daff.
__ADS_1
" Heyyy " kata Afkar sambil menepuk bahu Daff.
" Ehhh Paa, kenapa ? " kata Daff sambil beralih menatap Papanya.
" Kamu mau main kejar-kejaran kayak bocah itu ? yaudahh ayooo Papa kejar " kata Afkar.
" Papa kira Daff anak kecil ? " kata Daff sambil terkekeh.
" Terus ? " kata Afkar.
" Pa, kira-kira Daff bisa nggak yaa, main kejar-kejaran sama anak-anak Daff nanti ? " kata Daff senduh.
" Kamu ngomong apasih Daff, Ya bisalah !!! " kata Afkar tidak suka.
Baru saja Daff ingin menimpali ucapan Afkar, namun terhenti karena bunyi telepon Daff yang berdering.
" Siapa ? " tanya Afkar.
" Difa Paa " kata Daff sambil menggeser ikon hijau di layar Hpnya.
" Assalamualaikum, kenapa Dif ? " tanya Daff.
" Walaikumsalam, Mas Khadafi mau liat badut " kata Difa dibalik telepon tersebut.
" Di youtube banyak Dif " kata Daff santai.
" Ihhhh maunya liat langsung Mas "
" Okeee baiklah, Mas pulang sekarang " kata Daff sambil mengakhiri panggilan teleponnya.
" Kenapa Daff ? " tanya Afkar.
" Ini Pa, si Difa pengen liat badut " kata Daff.
" Wahhh harus di turutin ituu, Papa nggak mau yaa cucu Papa ileran. Ayoo Papa antar pulang " kata Afkar yang diangguki oleh Daff.
" Okedehhh, ehhh bentar Papa ijin dulu sama pujaan hati Papa " kata Afkar sambil mengirimkan pesan singkat pada Ila.
__ADS_1