Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 4


__ADS_3

Keesokan harinya saat Daff terbangun, badannya terasa sangat berat seperti ditimpah sesuatu, namun saat membuka matanya ternyata Adifa sedang memeluknya seperti menjadikannya bantal guling.


" Hmmm Sok sok an pakai pembatas segala, malah dia sendiri yang nyosor duluan " gumam Daff sambil tersenyum tipis memperhatikan wajah cantik Adifa.


" Masya Allah, indahnyaa ciptaanmu " batin Daff sambil mengelus pipi Adifa, namun saat melihat Adifa mengerjapkan matanya Daff kembali pura-pura memejamkan matanya, karena tidak ingin membuat Adifa malu.


" Kenapa tiba-tiba ada pangeran tampan disini ? " gumam Adifa yang masih bisa terdengar ditelinga Daff.


" Hehhh Astagfirullah, bisa-bisa Ustadz nyangkanya aku kecentilan " kata Adifa sambil menjauhkan badannya dari Daff, kemudian beralih kekamar mandi.


Daff yang menyadari hal itu langsung merubah posisinya menjadi duduk sambil tersenyum karena Adifa menginranya pangeran tampan.


" Terimakasih Ya Allah karena sudah menganugrahkan Muhammad Al-Khadafi wajah tampan seperti ini " batin Daff bersyukur.


Cklekk !!!


Setelah melihat Adifa keluar dari kamar mandi Daff tersenyum kearah Adifa, kemudian beralih masuk kedalam kamar mandi.


" Huffftttt kenapa deg-degan lagi ? nggak mungkin sakit jantung kan ? " gumam Adifa ketika melihat senyuman Daff.


Saat sedang memakai mukena, tiba-tiba Adifa dikejutkan lagi dengan suara laki-laki yang berdiri dibelakangnya.


" Saya sholat subuh di masjid, nggak papa kan saya tinggal ? " kata Daff.


" Yaa nggak papa biasanya juga sendiri " kata Adifa jutek.


" Okee, assalamualaikum " kata Daff sambil berjalan keluar dari kamar.


" Walaikumsalam "


" Ihhhh ngeselin banget sihhh udah capek-capek nyiapin alat sholat malah sholatnya di masjid, dasar Ustadz nggak peka " kesal Adifa.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Adifa beralih membersihkan tempat tidurnya, kemudian beralih mengambil ponselnya melihat pesan dari teman-temannya.


" Hahh maksudnya apaansih ? " gumam Adifa bingung.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " jawab Adifa beralih menatap Daff.

__ADS_1


" Mmm mending tanya Ustadz ajaa dehh, daripada pusing karena penasaran " batin Adifa.


" Kamu kenapa ? " tanya Daff heran.


" Mmm Ustadz saya mau nanya " kata Adifa.


" Tanya Apa ? " kata Daff sambil meletakkan pecinya di meja rias Adifa, kemudian beralih duduk disamping Adifa.


" Ustadz waktu tidur disamping saya ada yang tegak nggak ? " tanya Adifa.


" Maksud kamu ? " kata Daff heran.


" Kata temen aku kalau perempuan dan laki-laki tidur bareng dan nggak ngelakuin apapun, pasti dibagian tubuh laki-lakinya ada yang tegak tapi bukan tiang bendera. Maksudnya apaansih ? dan yang tegak itu apa ? " tanya Adifa penasaran, sehingga membuat Daff berusaha menahan tawanya.


" Kamu nggak tau ? " tanya Daff, sehingga membuat Adifa mengangguk polos.


" Emang apa ? " tanya Adifa lagi.


" Cari tau sendiri yaa, saya tidak ingin mengotori pikiran kamu " kata Daff sambil terkekeh, sehingga membuat Adifa kesal.


" Ihhhh dasar pelit, awasss ahhhh Difa mau bikin sarapan " kata Adifa sambil keluar dari kamar, sehingga membuat Daff tertawa melihat sifat kekanakan dari istrinya.


" Lohhh Papa kenapa ? " gumam Daff saat melihat ada panggilan tak terjawab dari Afkar.


Baru saja Daff ingin menelpon balik Papanya, namun terhenti ketika sebuah pesan masuk dari Papanya.


" Anak Papa masih hidup kan ? " isi pesan Afkar.


" Enggak Pa " balas Daff.


" Ohhh jadi yang balas arwahnya nih ? dimakamkan dimana ? nanti Papa berkunjung dehh sambil bawa mawar merah " balas Afkar, sehingga membuat Daff terkekeh membacanya.


" Papa kenapa ? " balas Daff.


" Kamu nggak pulang kerumah ? Papa kan pengen lebih kenal sama mantu Papa "


" Okeee, nanti Daff ajak kerumah. Red carpetnya jangan lupa yaa pa "


" Iyaaa nanti pinggirannya Papa kasih bara api biar tambah hot "

__ADS_1


Daff tertawa kecil. Ia dan Papanya memang seakrab itu, namun Daff sangat menghormati Papanya. Baginya Afkar adalah sosok Ayah sempurna yang selalu menjadi pelindung dan inspirasinya.


Setelah bersiap untuk kepesantren Daff segerah turun untuk menemui istrinya.


" Ustadz, Abi kemana ? " tanya Adifa ketika melihat Daff menuruni tangga.


" Oiyyaa setelah sholat subuh Abi bilang ke aku, katanya Abi mau pergi untuk ngisi kajian di kampung sebelah selama 3 hari " kata Daff.


" Kok nggak bilang sama aku ? " tanya Adifa kesal.


" Mungkin Abi buru-buru, makanya cuman bilang ke aku, jangan suudzon ntar dosa " kata Daff yang hanya dibalas deheman oleh Adifa.


" Ini kamu yang masak ? " kata Daff saat sudah berada didepan meja makan.


" Iyaaa, nggak tau dehh Ustadz suka atau nggak " kata Adifa cuek sambil menyendokkan nasi goreng kemulutnya.


" Khemmm, masa langsung makan sih harusnya sebagai istri solehah harus melayani suami dulu " sindir Daff.


" Kan Ustadz punya tangan sendiri, mandiri dong " kata Adifa kesal.


" Emangnya kamu nggak takut dosa ? atau perlu saya bacain sebuah hadist dulu ? " kata Daff.


" Isshhh gini nihh kalau nikahnya sama Ustadz, apa-apa dibacain ayat, apa-apa dibacain hadist " kata Adifa.


" Yaaa bagus dong, supaya kamu bisa jadi istri solehah. Apalagi suaminya Ustadz tampan layaknya pangeran " kata Daff, sehingga membuat Adifa kaget.


" Apa Ustadz dengerin ucapan aku tadi pagi ? " batin Adifa.


" Kenapa ? " tanya Daff ketika melihat Adifa ekspresi Adifa.


" Nggak papa, segini cukup ? " kata Adifa sambil menyendokkan nasi goreng ke piring Daff.


" Cukup " kata Daff, sehingga membuat Adif meletakkan piring tersebut dihadapan Daff.


" Ikhlas nggak nih ? " tanya Daff lagi.


" Ikhlas " kata Adifa kesal.


" Ikhlas kok mukanya kayak gitu " kata Daff.

__ADS_1


" Ikhlas Ustadz Al-Khadafi " kata Adifa sambil memaksakan senyumnya.


__ADS_2