Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 2


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid pesantren, tiba-tiba Daff diajak oleh kedua orang tuanya untuk mengunjungi kerabat dekat mereka.


" Mau kemana sih Pa ? " tanya Daff penasaran.


" Ke rumah guru Papa. sebelum Papa terjun langsung ke pesantren Abi, Papa belajar dulu sama beliau Kar. Pokoknya Papa beruntung bisa ketemu beliau " kata Afkar.


" Dia juga teman akrab Almarhum Abi " kata Ila yang diangguki oleh Daff.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka telah sampai disebuah kawasan yang cukup elit dan disambut sangat ramah oleh pemilik rumah.


" Assalamualaikum Kyai Ammar " kata Afkar sambil mencium tangan lelaki tersebut, yang usianya tidak beda jauh dari almarhum Abinya.


" Walaikumsalam, ayooo silahkan masuk " kata Kyai Ammar ramah sambil mempersilahkan Afkar, Ila dan Daff masuk.


" Ini anak Ustadz ? " tanya Kyai Ammar sambil memperhatikan Daff.


" Iya Pak Kyai, ini putra saya satu-satunya Al-Khadafi " kata Afkar sambil memperkenalkan Daff.


" Al-Khadafi Pak Kyai " kata Daff sopan.


" Ustadz Khadafi umur berapa ? " tanya Kyai Ammar.


" 24 tahun Pak Kyai " kata Daff.


" Wahhhh udah matang buat di nikahkan nihh " kata Pak Kyai, sehingga membuat Daff hanya tersenyum, karena menurutnya itu hanya guyonan.


" Jadi begini, Ustadz Afkar tau kan kalau saya punya anak perempuan. Jika tidak keberatan, saya ingin meminta Ustadz Al-Khadafi menikahi Adifa anak saya " kata Pak Kyai.


Hal tersebut membuat Daff menelan salivanya sementara Afkar yang memiliki hutang budi pada Pak Kyai tidak enak hati menolaknya, namun Afkar juga tak ingin memaksa Daff untuk menerimanya karena dirinya sadar hal ini menyangkut masa depan putranya.


" Mohon maaf Pak Kyai, tapi untuk masalah ini semua keputusan saya serahkan kepada anak saya, karena dia yang akan menjalaninya " kata Afkar yang diangguki oleh Ila, sehingga membuat Daff memandang kedua orang tuanya secara bergantian.


" Jujur saja, diusia saya yang sudah tidak mudah ini saya sedikit kewalahan menghadapi sikap anak itu " kata Kyai, sehingga membuat Daff bingung.


" Maksud Pak Kyai ? " tanya Daff.


" Setelah musibah yang menimpah keluarga kami satu tahun lalu, sebuah lecelakaan mobil yang merenggut nyawa istri dan Kakak Adifa, tiba-tiba sikapnya sangat berubah. Oleh karena itu saya meminta bantuan Ustadz Al-Khadafi untuk menuntunnya " kata Pak Kyai.


Mendengar cerita dari Papanya bahwa Kyai Ammar sangat berjasa dalam perkembangan pesantren, Daff juga merasa tidak enak untuk menolak tawaran Kyai Ammar.

__ADS_1


" Kenapa Pak Kyai begitu yakin dengan saya ? Bagaimana jika saya gagal menuntun putri Kyai ? " tanya Daff.


" Karena saya yakin dengan kemampuan Ustadz Khadafi " Kata Kyai, sehingga membuat Daff beralih menatap Afkar dan Ila lagi.


" Semua keputusan ada di tangan kamu Nak, Papa sama Mama mendukung apapun keputusan kamu " kata Afkar sambil menepuk bahu putranya.


Walaupun sebenarnya Afkar sangat ingin memiliki hubungan keluarga dengan Kyai Ammar, namun dirinya sadar bahwa yang akan menjalani hal ini adalah Daff.


" Bagaimana Ustadz Khadafi apakah kamu bersedia menikahi Putri saya ? " tanya Kyai lagi.


" Hufffttt Bismillah atas izin Allah saya bersedia Kyai " kata Daff, sehingga membuat Kyai dan Afkar sangat senang mendengarnya.


Sementara seorang gadis yang baru keluar dari kamarnya terperanjat mendengar ucapan Abinya.


" Maksud Abi apa ? aku baru lulus sekolah loh Bi. Masa Abi tega nikahin Adifa ? " Tanya Adifa yang sudah berdiri disamping Kyai Ammar dengan masih mengenakan mukenah, sehingga membuat Daff menatap sekilas Adifa kemudian segara memalingkan wajahnya.


" Ini semua demi kebaikan kamu sayang " kata Kyai.


" Kebaikan aku gimana sih Bi ? kebaikan buat aku arau kebaikan buat Abi !!! " Kata Adifa emosi, sehingga membuat dada Kyai tiba-tiba sesak.


" Astagfirullah, Pak Kyai " kata Afkar yang langsung memutari meja dan duduk disamping Kyai.


" Tidak usah " kata Pak Kyai sambil memegang dadanya.


" Adifa, Abi tidak tau usia Abi sampai kapan Nak " kata Kyai sambil beralih menatap putrinya.


" Abi jangan bilang seperti itu " lirih Adifa.


" Abi harap kamu mau menikah dengan Ustadz Khadafi besok, umur nggak ada yang tau Nak, bagaimana Ustadz apa anda bersedia ? " lirih Kyai sambil menatap Daff.


Adifa dan Daff sangat kaget mendengar hal tersebut ini terlalu mendadak buat mereka, terlebih lagi dengan Daff dirinya seperti di todong untuk menikah, Namun dirinya tidak punya pilihan lain karena sudah terlanjur mengiyakan.


" Insya Allah saya siap Kyai " kata Daff, sehingga membuat Adifa langsung menoleh kearah Daff.


" Hahhh bagaimana bisa dia menerimanya dengan begitu mudah ? " kata Adifa dalam hati.


" Alhamdulillah, Abi harap Adifa juga menyetujuinya "kata Kyai.


" Baik Bi " lirih Adifa.

__ADS_1


" Alhamdulillah " ucap Kyai, Afkar, dan Ila.


" Ustadz, bisa kita bicara empat mata ? " kata Adifa sambil menatap Daff.


" Maaf saya tidak bisa, kalau mau bicara disini saja lagipula kita bukan mahrom " kata Daff datar.


" Pergilah Daff, sayang awasi mereka dengan jarak sekitar 10 meter " kata Afkar sambil menyuruh Ila.


" Daff, Mama percaya sama kamu Nak. Jadi silahkan kalian bicara di luar, nanti Mama akan mengawasi kalian dengan jarak 10 meter " kata Ila menimpali.


" Baiklah " kata Daff sambil berjalan keluar teras dan duduk disalah satu kursi disana begitupun dengan Adifa yang juga duduk disebuah kursi yang memiliki jarak dari Daff, sementara Ila berdiri memantau keduanya.


" Silahkan berbicara " kata Daff datar sambil menatap lurus kedepan.


" Kenapa Ustadz menerima perjodohan ini dengan sangat mudah ? apalagi kita tidak saling mengenal bahkan ketemunya juga baru hari ini, ohhh apa Ustadz sengaja ingin menghancurkan masa depan seorang gadis yang bahkan Ustadz sendiri baru mengenalnya hari ini ? " kata Adifa kesal.


" Laki-laki mana yang merusak masa depan seorang wanita dengan menikahinya ? " kata Daff tanpa pernah menoleh ke Adifa.


" Jika memang kamu tidak bersedia, silahlan bicara kepada Kyai. Saya rasa sudah cukup saya permisi " kata Daff sambil berjalan menghampiri Mamanya.


" Isshhhh dasar om om nyebelin " gumam Adifa sambil berjalan mendahului Daff.


" Udahh ? " tanya Ila yang diangguki oleh Daff.


" Pak Kyai kalau begitu kami pamit pulang dulu untuk mempersiapkan acara besok " pamit Afkar.


" Hati-hati " kata Kyai.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


" Daff kamu yakin sama keputusan kamu ? " tanya Afkar saat mereka dalam perjalanan pulang.


" Insya Allah yakin Pa " kata Daff.


" Papa nggak hubungin Kak Akhtar sama Mbak Della ? " kata Ila.


" Tadi Papa udah hubungin mereka kok Ma, tapi katanya Bang Akhtar lagi di Newyork, sedangkan Gibran lagi ada rapat yang nggak bisa ditinggal. Lagian ini juga terlalu mendadak " kata Afkar yang diangguki oleh Ila.

__ADS_1


__ADS_2