Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 16


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, kini Daff tengah bersiap-siap untuk ke pesantren, namun kegiatannya terhenti ketika Difa tiba-tiba memeluknya dari belakang.


" Kenapa hmm ? " tanya Daff sambil membalikkan badannya menatap Difa.


" Jangan pernah tinggalin akuu " kata Difa pelan, sehingga membuat Daff tersenyum menanggapi sambil merapikan jilbab Difa.


" Saya nggak bakal ninggalin kamu, saya janji akan jaga kamu kapanpun dan di manapun selama aku masih bernafas " kata Daff dengan tulus sambil menarik Difa kepelukannya.


Difa tersenyum di pelukan suaminya. Perlahan melepas pelukannya dan menampilkan senyuman manisnya.


" Makasih Mas " kata Difa.


" Nggak perlu makasih, itu sudah jadi tanggung jawab saya " kata Daff sambil mengacak-acak rambut Difa yang tertutupi oleh hijab.


" Isshh Mas Khadafi, tadi dirapiin sekarang dibenrantakin lagi " kata Difa kesal sambil memajukan bibirnya.


" Udah ahhh, siap-siap sana. Jangan sampai Istrinya Al-Khadafi kucel " kata Daff.


" Apaansih, udah cantik begini jugaa " kata Difa yang sudah mulai terkontaminasi dengan kenarsisan suaminya.


" Yaudahhh ayooo " kata Daff sambil merangkul Difa.


" Emang nggak papa kalau aku ikut terus kalau Mas mau ngajar ? " kata Difa.


" Yaaa nggak papalah, saya mana tega tinggalin kamu sendirian di rumah Adifa. Kalau di rumah Mama kan setidaknya kamu ada teman ngobrol " kata Daff, sehingga membuat Difa merasah beruntung memiliki suami yang begitu pengertian.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini keduanya sudah sampai di kediaman Ila dan Afkar.


" Assalamualaikum " kata Daff dan Difa saat memasuki rumah tersebut.


" Walaikumsalam, duduk sayang " kata Ila, yang langsung membuat keduanya menyalimi tangan kedua orang tuanya terlebih dahulu.


" Kebetulan banget mantu Mama ikut, Difa nanti ikut Mama ke pesantren yaa, sekalian Mama ajak keliling " kata Ila.


" Mau banget Maa, boleh kan Mas ?" kata Difa antusias, kemudian beralih menatap suaminya.


" Boleh " kata Daff.


" Daff berangkat yuk, udah mau jam tujuh nihh " kata Afkar, sehingga membuat Daff mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


" Sayang, Papa ngajar dulu yaa " kata Afkar sambil mencium dahi Ila.


" Bucinnn terusss " kata Daff sambil melirik kedua orang tuanya.


" Sirik aja lu Jaenuddin " kata Afkar.


" Nggak yaa, nihh Daff juga bisa " kata Daff sambil mencium dahi Difa sekilas, sehingga membuat wajah Difa memerah. Bisa-bisanya suaminya itu menciumnya di depan mertuanya.


" Emangnya yang bilang lu nggak bisa siape ? " kata Afkar.


" Udahh dehhh, berangkat sana ! debatnya di lanjut nanti aja " kata Ila buru-buru melerai keduanya.


" Papa duluan tuh Ma " kata Daff.


" Enak ajaa, lu duluan yee " kata Afkar tak terima.


" Udahh ahhh, sayangkuu Papa berangkat dulu yaa sayang " kata Afkar, sehingga membuat Ila mengangguk.


" Iyaa Paaa " kata Ila sambil menyalimi tangan suaminya.


" Lebay benget dehhh suami Mama. okee giliran Daff, buat istri tercantik. Saya juga berangkat yaa " kata Daff sambil menyodorkan tangannya kearah Difa, sehingga membuat Afkar mendengus menatap anaknya.


" Mantu kesayangan Papa, ada yang mau disampaikan ke Papa nggak ? " tanya Afkar, sehingga membuat Difa terlihat berfikir.


" Hmmm, Papa cukup jagain suami Difa aja. Kalau dia ngelirik cewek lain colok aja matanya Pa " kata Difa sambil menatap Daff yang juga tengah menatapnya.


" Siyaaapp Nak, dengan senang hati. Enaknya di colok pakai apa yaa ? " kata Afkar yang terlihat berfikir.


" Pakai apapun yang ada disekitar Papa saat itu juga " kata Difa, sehingga membuat Afkar tersenyum.


" Kejam banget istri hamba ya Allah " kata Daff mendramatisir keadaan.


" Tenang saja Difa, kalau Daff berani ngelirik cewek lain, Mama yang akan langsung carikan kamu Suami yang lebih waras dari Daff " Ucap Ila mengompori.


" Okee, kalau gitu biar Daff juga carikan istri baru buat Papa yang lebih baik dari Mama " balas Daff.


" Dihh, memangnya kamu tau selera Papa kayak gimana ? " tanya Afkar.


" Gampang itu mahhh, modelan Tante girang kan ? " kata Daff, sehingga membuat semuanya tertawa kecuali Afkar.

__ADS_1


" Nggak yaa, Papa nggak suka modelan Tante girang. Itu paling selera kamu " kata Afkar tak terima.


" Iyaa dehhh iyaa, yaudah yuk Pa keburu telat " kata Daff, sehingga membuat Afkar merangkul putranya.


" Assalamualaikum " kata Afkar dan Daff berpamitan.


" Walaikumsalam "


" Daff, kamu sehat-sehat aja kan ? " kata Afkar sambil menoleh kearah Daff yang berjalan beriringan dengannya.


" Sehat kok Pa, emangnya kenapa ? " tanya Daff penasaran.


" Cuman nanya, soalnya Papa perhatikan akhir-akhir ini Papa sudah tidak melihat kewarasan kamu lagi " kata Afkar sambil terkekeh, sehingga membuat Daff mendengus mendengar ucapan Papanya.


" Semerdeka Papa aja dehh " kata Daff yang langsung masuk ke kelas santri Putra.


" Dihh ngambek sampai lupa salim sama orang tua " sindir Afkar, sehingga membuat Daff membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Afkar.


" Assalamualaikum Papa sayang, Daff ngajar dulu yaa " pamit Daff sambil menyalimi tangan Afkar.


" Walaikumsalam anak Papa " balas Afkar.


Setelah melihat Afkar berjalan menjauhi kelasnya, kini Daff langsung memulai pembelajarannya yang sebelumnya sudah membaca doa terlebih dahulu.


" Oke, ketua kelas silahkan kumpulkan tugas yang kemarin " kata Daff tegas.


" Baik Ustadz " kata Ketua kelas sambil berjalan menghampiri meja temannya satu persatu.


" Terima kasih Abdul " kata Daff ketika Abdul meletakkan buku tugas itu didepannya.


" Sama-sama Ustadz " kata Abdul sopan.


" Selagi saya memeriksa tugas kalian, silahkan baca terlebih dahulu materi yang akan saya ajarkan hari ini, nanti saya jelaskan " kata Daff tegas.


" Baik Ustadz " kata santri serentak.


" Astagfirullah Rayyan !! ini jawaban kamu nggak ada yang benar sama sekali, kamu nggak perhatikan ketika saya menjelaskan ? " kata Daff sambil menatap santri yang bernama Rayyan.


" Karena sesungguhnya, kebenaran itu hanya milik Allah, Ustadz " kata Rayyan yang sontak mengundang tawa teman sekelasnya.

__ADS_1


__ADS_2