
Pagi-pagi sekali, kini Daff tengah bersiap-siap untuk ke pesantren, namun kegiatannya terhenti ketika Difa tiba-tiba memeluknya dari belakang.
" Kenapa hmm ? " tanya Daff sambil membalikkan badannya menatap Difa.
" Jangan pernah tinggalin akuu " kata Difa pelan, sehingga membuat Daff tersenyum menanggapi sambil merapikan jilbab Difa.
" Saya nggak bakal ninggalin kamu, saya janji akan jaga kamu kapanpun dan di manapun selama aku masih bernafas " kata Daff dengan tulus sambil menarik Difa kepelukannya.
Difa tersenyum di pelukan suaminya. Perlahan melepas pelukannya dan menampilkan senyuman manisnya.
" Makasih Mas " kata Difa.
" Nggak perlu makasih, itu sudah jadi tanggung jawab saya " kata Daff sambil mengacak-acak rambut Difa yang tertutupi oleh hijab.
" Isshh Mas Khadafi, tadi dirapiin sekarang dibenrantakin lagi " kata Difa kesal sambil memajukan bibirnya.
" Udah ahhh, siap-siap sana. Jangan sampai Istrinya Al-Khadafi kucel " kata Daff.
" Apaansih, udah cantik begini jugaa " kata Difa yang sudah mulai terkontaminasi dengan kenarsisan suaminya.
" Yaudahhh ayooo " kata Daff sambil merangkul Difa.
" Emang nggak papa kalau aku ikut terus kalau Mas mau ngajar ? " kata Difa.
" Yaaa nggak papalah, saya mana tega tinggalin kamu sendirian di rumah Adifa. Kalau di rumah Mama kan setidaknya kamu ada teman ngobrol " kata Daff, sehingga membuat Difa merasah beruntung memiliki suami yang begitu pengertian.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini keduanya sudah sampai di kediaman Ila dan Afkar.
" Assalamualaikum " kata Daff dan Difa saat memasuki rumah tersebut.
" Walaikumsalam, duduk sayang " kata Ila, yang langsung membuat keduanya menyalimi tangan kedua orang tuanya terlebih dahulu.
" Kebetulan banget mantu Mama ikut, Difa nanti ikut Mama ke pesantren yaa, sekalian Mama ajak keliling " kata Ila.
" Mau banget Maa, boleh kan Mas ?" kata Difa antusias, kemudian beralih menatap suaminya.
" Boleh " kata Daff.
" Daff berangkat yuk, udah mau jam tujuh nihh " kata Afkar, sehingga membuat Daff mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
" Sayang, Papa ngajar dulu yaa " kata Afkar sambil mencium dahi Ila.
" Bucinnn terusss " kata Daff sambil melirik kedua orang tuanya.
" Sirik aja lu Jaenuddin " kata Afkar.
" Nggak yaa, nihh Daff juga bisa " kata Daff sambil mencium dahi Difa sekilas, sehingga membuat wajah Difa memerah. Bisa-bisanya suaminya itu menciumnya di depan mertuanya.
" Emangnya yang bilang lu nggak bisa siape ? " kata Afkar.
" Udahh dehhh, berangkat sana ! debatnya di lanjut nanti aja " kata Ila buru-buru melerai keduanya.
" Papa duluan tuh Ma " kata Daff.
" Enak ajaa, lu duluan yee " kata Afkar tak terima.
" Udahh ahhh, sayangkuu Papa berangkat dulu yaa sayang " kata Afkar, sehingga membuat Ila mengangguk.
" Iyaa Paaa " kata Ila sambil menyalimi tangan suaminya.
" Lebay benget dehhh suami Mama. okee giliran Daff, buat istri tercantik. Saya juga berangkat yaa " kata Daff sambil menyodorkan tangannya kearah Difa, sehingga membuat Afkar mendengus menatap anaknya.
" Mantu kesayangan Papa, ada yang mau disampaikan ke Papa nggak ? " tanya Afkar, sehingga membuat Difa terlihat berfikir.
" Hmmm, Papa cukup jagain suami Difa aja. Kalau dia ngelirik cewek lain colok aja matanya Pa " kata Difa sambil menatap Daff yang juga tengah menatapnya.
" Siyaaapp Nak, dengan senang hati. Enaknya di colok pakai apa yaa ? " kata Afkar yang terlihat berfikir.
" Pakai apapun yang ada disekitar Papa saat itu juga " kata Difa, sehingga membuat Afkar tersenyum.
" Kejam banget istri hamba ya Allah " kata Daff mendramatisir keadaan.
" Tenang saja Difa, kalau Daff berani ngelirik cewek lain, Mama yang akan langsung carikan kamu Suami yang lebih waras dari Daff " Ucap Ila mengompori.
" Okee, kalau gitu biar Daff juga carikan istri baru buat Papa yang lebih baik dari Mama " balas Daff.
" Dihh, memangnya kamu tau selera Papa kayak gimana ? " tanya Afkar.
" Gampang itu mahhh, modelan Tante girang kan ? " kata Daff, sehingga membuat semuanya tertawa kecuali Afkar.
__ADS_1
" Nggak yaa, Papa nggak suka modelan Tante girang. Itu paling selera kamu " kata Afkar tak terima.
" Iyaa dehhh iyaa, yaudah yuk Pa keburu telat " kata Daff, sehingga membuat Afkar merangkul putranya.
" Assalamualaikum " kata Afkar dan Daff berpamitan.
" Walaikumsalam "
" Daff, kamu sehat-sehat aja kan ? " kata Afkar sambil menoleh kearah Daff yang berjalan beriringan dengannya.
" Sehat kok Pa, emangnya kenapa ? " tanya Daff penasaran.
" Cuman nanya, soalnya Papa perhatikan akhir-akhir ini Papa sudah tidak melihat kewarasan kamu lagi " kata Afkar sambil terkekeh, sehingga membuat Daff mendengus mendengar ucapan Papanya.
" Semerdeka Papa aja dehh " kata Daff yang langsung masuk ke kelas santri Putra.
" Dihh ngambek sampai lupa salim sama orang tua " sindir Afkar, sehingga membuat Daff membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Afkar.
" Assalamualaikum Papa sayang, Daff ngajar dulu yaa " pamit Daff sambil menyalimi tangan Afkar.
" Walaikumsalam anak Papa " balas Afkar.
Setelah melihat Afkar berjalan menjauhi kelasnya, kini Daff langsung memulai pembelajarannya yang sebelumnya sudah membaca doa terlebih dahulu.
" Oke, ketua kelas silahkan kumpulkan tugas yang kemarin " kata Daff tegas.
" Baik Ustadz " kata Ketua kelas sambil berjalan menghampiri meja temannya satu persatu.
" Terima kasih Abdul " kata Daff ketika Abdul meletakkan buku tugas itu didepannya.
" Sama-sama Ustadz " kata Abdul sopan.
" Selagi saya memeriksa tugas kalian, silahkan baca terlebih dahulu materi yang akan saya ajarkan hari ini, nanti saya jelaskan " kata Daff tegas.
" Baik Ustadz " kata santri serentak.
" Astagfirullah Rayyan !! ini jawaban kamu nggak ada yang benar sama sekali, kamu nggak perhatikan ketika saya menjelaskan ? " kata Daff sambil menatap santri yang bernama Rayyan.
" Karena sesungguhnya, kebenaran itu hanya milik Allah, Ustadz " kata Rayyan yang sontak mengundang tawa teman sekelasnya.
__ADS_1