
" Satu langkah lagi kamu bakalan bucin ke saya Adifa " kata Daff yakin sambil memejamkan matanya kembali.
Sementara Adifa dirinya merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia punya inisiatif untuk mencium Daff duluan.
" Duhhh gimana tanggapan Ustadz yaa ? " gumam Difa.
" Ahhhh udah ahhh, mending aku masakin bubur dulu buat Ustadz " kata Difa berusahah mengalihkan pikirannya.
Setelah berkutat selama 20 menit di dapur, kini Adifa berjalan kearah kamar sambil membawa nampan yang berisi satu mangkuk bubur dan segelas air.
" Ternyata lagi tidur " gumam Difa saat meletakkan nampan tersebut diatas nakas, kemudian beralih membangunkan Daff.
" Ustadz " panggil Difa sambil menyentuh lengan Daff, namun tak ada tanggapan apapun dari Daff.
" Ustadz Khadafi " panggil Difa sekali lagi sambil menggoyangkan lengan Daff, sehingga membuat Daff mengerjapkan matanya.
" Kenapa Difa ? " tanya Daff disertai dengan suara seraknya.
" Makan dulu, perut Ustadz belum diisi dari tadi " kata Difa, sehingga membuat Daff segerah bangun dan bersandar di kepala ranjang.
" Nihh " kata Difa sambil memberikan semangkuk bubur pada Daff.
" Makasih " kata Daff sambil memakan bubur tersebut sampai tandas.
" Aku kira bakal minta di suapin, ternyata salah. hmmm mungkin Ustadz masih marah " batin Difa sambil menunduk.
" Kenapa hmm ? " tanya Daff setelah meletakkan gelasnya diatas nakas, tangannya bergerak agar Difa menghadap kearahnya.
" Hiks ma...maafin a..aku " kata Difa pelan dan terbata-bata, sehingga membuat Daff tersenyum tipis dan membawa Difa kepelukannya.
Difa semakin terisak, kini dirinya memberanikan diri mendongak menatap Daff yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
__ADS_1
Daff tertawa dalam hati melihat wajah Adifa, hidung kecil yang memerah, mata bulat yang berlinang air mata, serta pipi chubby yang terdapat aliran air mata.
" Ma...maafin aku U...Ustadz " kata Difa lagi.
Tidak tahan, Daff menyunggingkan senyumnya lalu mendekatkan wajahnya pada Difa.
Cup
" Udah saya maafin Adifa " kata Daff santai tanpa memperdulikan wajah Difa yang memerah.
Bagaimana tidak memerah ? kecupan hangat itu sangat terasa di bibir Adifa.
" Ustadz ? " panggil Adifa sambil mendongak menatap Daff.
" Jangan panggil Ustadz terus dong, kamu kan bukan santri saya " protes Daff.
" Emmm Mas aja gimana ? " tanya Adifa.
" Mas Khadafi percaya sama Difa kan ? " tanya Difa memastikan.
" Difa nggak diapa-apain sama Lutfi " timpal difa.
" Iyaa saya tau Difa, waktu itu kan ka..." kata Daff terpotong oleh ucapan Difa.
" Tapi haidnya udah selesai Mas, apa Mas masih percaya ? " tanya Difa polos.
" Yaa Allah, sebenarnya istriku ini belajar IPA nggak sih ? kalau bener Difa mengandung anak Lutfi pasti nggak akan menstruasi dong " batin Daff gemas dengan istrinya.
" Kapan selesainya ? " kata Daff.
" Tadi " kata Difa, sehingga membuat Daff mengangguk sambil menangkup wajah Difa.
__ADS_1
" Sayang " panggil Daff, sehingga membuat jantung Difa berdebar tak karuan di tatap seperti itu oleh suamimya.
" I...iyaa " sahut Difa.
" Apa malam ini kamu sudah siap ? " tanya Daff yang tak kalah gugupnya, namun dirinya berusahah mengontrol ekspresi wajahnya.
" Apa saya bisa mengambil hak saya malam ini ? " timpal Daff.
Ditanya seperti itu membuat Adifa ternganga, dirinya bingung harus menjawab apa. Masih ada rasa takut dalam dirinya.
" Jujur saja, dari awal saya memang tidak ada rasa sama kamu Difa, tapi nggak ada sedikitpun penyesalan dari diri saya karena telah menikahi kamu, karena menurut saya pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Makanya setelah mengucapkan ijab kabul saya berusahah membuka hati saya untuk kamu dan benar saja dengan waktu yang terbilang singkat saya yakin kalau saya sudah jatuh cinta sama kamu " kata Daff sambil mengusap pipi Difa dengan ibu jarinya, sehingga membuat wajah Difa merona.
" Sekarang saya tanya. Bagaimana perasaan kamu ke saya ? " tanya Daff.
" Walaupun saya meminta hak saya malam ini, tapi kalau memang kamu belum ada rasa sama saya, maka saya nggak akan melakukannya karena saya hanya ingin melakukan hubungan dengan keadaan saling mencintai. Jadi gimana ? " timpal Daff disertai dengan tatapan teduhnya.
" Apa Mas Khadafi mau melakukannya, karena Mas mau membuktikan kalau ucapan Lutfi nggak benar ? " kata Difa sambil meremas ujung baju yang ia kenakan, sehingga membuat Daff langsung menggelengkan kepalanya.
" Tentu saja tidak, saya percaya sama kamu kalau kamu mampu menjaga kehormatan kamu Adifa " kata Daff, sehingga membuat Adifa sedikit legah.
" Ta..tapi aku ta...takut Mas " kata Difa gugup.
" Yaudah kalau gitu kita tidur ajaa " kata Daff sambil tersenyum kearah Difa, dirinya tidak mau memaksa Difa.
Baru saja Daff ingin membaringkan tubuhnya, namun Adifa langsung menahan tangan Daff.
" Kenapa hmm ? " tanya Daff.
" Difa nyaman sama Mas Khadafi dan Mas Khadafi berhak melakukan apapun terhadap diri Difa " kata Difa gugup, sehingga membuat Daff tersenyum.
" Apa kamu ikhlas memberikan semuanya kepada saya ? " tanya Daff yang diangguki oleh Difa, sehingga membuat Daff membaca doa untuk melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
Difa pun memejamkan matanya saat merasakan bibir Daff yang mendarat di bibirnya dan terjadilah malam panjang antara keduanya.