Ustadz Al-Khadafi

Ustadz Al-Khadafi
Episode 7


__ADS_3

" Siap tuan putri " kata Daff yang lagi-lagi membuat Adifa berusahah menahan senyumnya.


" Kalau mau senyum, senyum aja kali. tuhh hidungnya sampai kempas kempis gitu " kata Daff saat melihat pantulan wajah Difa dikaca mobil.


" Apaan sihh !! siapa juga yang mau senyum " kata Difa.


" Teruss ini mau jalan kemana nihh ? " tanya Daff bingung ingin membawa istrinya kemana.


" Ihhh kan Om yang ngajak, kenapa malah nanya balik ! " kata Difa.


" Om-om, saya ini suami kamu, bukan suami Tante kamu Adifa Ashalina ! " kata Daff kesal, bisa-bisanya dia dipanggil Om oleh istrinya sendiri.


" Lohhh emangnya salah ya ? terus maunya dipanggil apa ? Kakek ? Eyang ? atau Mbah ? " tanya Adifa, sehingga membuat Daff makin kesal.


" Ehhh bocah, saya nggak setua itu untuk kamu panggil Mbah. Lagian kita cuma selisih tujuh tahun. " kata Daff.


" Udah tau masih bocah, tapi malah dinikahin ! dasar om-om sok keren " batin Adifa.


" Kalau panggil nama kan nggak sopan, Okee kembali kepanggilan awal Ustadz aja " kata Difa.


" Yaaa jangan lahh masa Ustadz, kamu kan bukan santri saya " protes Daff.


" Yaudah aku panggil Om lagi aja " purus Adifa.


" Yaaa ampun ngeselin banget, udah saya bilang jangan panggil saya Om !!! Kamu kok jadi cerewet gini sih ? " kata Afkar kesal sambil menghentikan mobilnya dipinggir danau yang tidak terlalu ramai.


" Biasa aja kali Om nggak usah marah-marah, nanti makin keriput " kata Adifa sambil keluar dari mobil Afkar.


" Ternyata ini yang Abi maksud, yang harus sabar-sabar menghadapi Difa, Tabahkan hati hamba Ya Allah " kata Afkar sambil mengelus dadanya, kemudian menyusul Adifa turun.


Saat Daff ingin menghampiri Difa, tiba-tiba Daff melihat Difa tengah mengobrol dengan dengan seorang laki-laki.


" Sayang " panggil Daff, sehingga membuat Adifa menoleh begitupun dengan laki-laki tersebut yang berdiri disamping Difa.


" Siapa Dif ? " tanya laki-laki tersebut.


" Saya suaminya " kata Daff santai, sehingga membuat Difa menatap kesal kearah Daff.

__ADS_1


" Kamu udah nikah ? " tanya laki-laki yang bernama Lutfi tersebut dengan raut kecewa.


" Iya dan saya suaminya, ayoo kita pulang. Asaalamualaikum" kata Daff sambil menarik tangan Difa.


Plakkk !!


" Adawwwww " kata Daff yang langsung memegangi lengannya yang baru saja dihadiahi sebuah tabokan oleh istrinya.


" Apa ? " kata Adifa saat Daff hendak protes.


" Barusan kamu mukul saya Adifa !! " kata Daff protes.


" Yaa terus ? " kata Adifa.


" Nggak sopan !! " kata Daff.


" Terus ngapain sih Om tadi nyamperin aku, malah manggil sayang lagi " kata Adifa kesal.


" Yaa terserah saya, mulut-mulut saya " kata Daff santai.


" Saya nggak ngaku-ngaku, karena kamu memang istri saya " kata Daff.


" Tapi aku suka sama Lutfi Om " kata Adifa, sehingga membuat Daff kaget, namun dirinya berusahah untuk menahan emosinya dan tetap fokus menyetir, sedangkan Difa lebih memilih melihat pepohonan dari luar jendela mobil sambil memikirkan perkataanya kepada Daff barusan.


Setelah memarkirkan mobilnya didepan rumah Kyai Ammar, Daff langsung keluar begitu saja meninggalkan Adifa yang masih berada didalam mobil.


Adifa terus mondar-mandir didalam kamar sambil menggigit jarinya, dirinya merasah bersalah dengan suaminya, namun gengsinya terlalu besar untuk minta maaf.


" Ngapain kamu ? mondar-mandir kayak Syahrini ! " kata Daff yang baru keluar dari kamar mandi.


" Hmmm maaf " lirih Difa.


" Untuk ? " tanya Daff heran.


" Yang tadi " kata Difa.


" Waktu kamu bilang suka sama Belut, ehhh siapa sih namanya ? " kata Daff.

__ADS_1


" Lutfi Omm, bukan belut " kata Adifa.


" Nahh itu maksud saya " kata Daff.


" Om nggak marah ? " tanya Adifa yang entah kenapa dirinya lebih suka memanggil Daff dengan sebutan Om.


" Nggaklah, kan saya lebih ganteng " kata Daff santai.


" Ganteng nggak menjamin bahagia Om " kata Difa menimpali.


" Siapa bilang ? itu mah kalau gantengnya standar, tapi kalau gantengnya kayak saya, dijamin bahagia selalu " kata Daff dengan pedenya.


" Jadi kalau kamu suka sama dia yaa nggak masalah, karena saya tidak bisa mengendalikan perasaan suka seseorang, termasuk kamu. Tapi tenang aja saya akan lebih berusaha lagi " timpal Daff sambil tersenyum tipis sambil berjalan kearah sofa yang ada didalam kamar tersebut.


" Masya Allah " batin Adifa ketika melihat senyuman tipis Daff.


" Emang Lutfi itu gimana orangnya ? " tanya Daff, dirinya penasaran apa yang membuat Difa menyukai laki-laki tersebut.


" Nggak mau jawab. Nanti kalau aku jawabnya salah, Om malah bacain aku ayat lagi " kata Difa polos, sehingga membuat Daff tersenyum mendengarnya.


" Makanya jawaban kamu harus memuaskan " kata Daff.


" Terus aku harus jawab apa ? " tanya Difa.


" Duduk sini " titah Daff sambil menepuk sofa disampingnya, sehingga membuat Difa berjalan kearah Daff.


" Apa tadi pertanyaanya ? " tanya Daff saat Difa sudah duduk disampingnya.


" Aku harus jawab apa Om ? " tanya Adifa.


" Jawab, kalau Muhammad Al-Khadafi lebih ganteng dari Lutfi " kata Daff.


" Muhammad Al-Khadafi lebih ganteng dari Lutfi " kata Difa menyerap semua kata-kata Daff.


" Good " kata Daff sambil mengusap puncak kepala Difa yang masih ditutuli oleh hijab.


" Dihhh, dasar om-om narsis ! dia yang nanya, dia yang jawab " batin Difa.

__ADS_1


__ADS_2