Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Epilog


__ADS_3

"Kita tidak akan pernah tahu dengan siapa dan dengan cara apa jodoh kita di pertemukan.


Namun semua ketentuan yang sudah pasti tertulis di lauhul mahfudz itulah yang terjadi"


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Namaku Nadira Baity Jannah biasa di panggil Dira. Aku paling tidak suka jika orang memanggilku Baity entah kenapa rasanya seperti tidak keren saja. Umurku 20 tahun. Aku baru saja lulus Perguruan Tinggi Negeri dengan IPK yang sangat memuaskan.


Aku terlahir dari pasangan Bapak Samsul dan Ibu Romlah. Ayahku berprofesi sebagai kepala sekolah di Madrasah Aliyah dan ibuku adalah salah satu guru juga disana.


Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Abdullah Razak usianya 23 tahun. Biasa aku memanggilnya Kak Razak. Kak Razak bekerja sebagai abdi negara atau aku sebut saja pak Tentara tapi terkadang aku suka menggodanya dengan sebutan Pak Tara. Heheh.


Kak Razak bertugas di Aceh.


Yah lumayan jauh dari kami yang tinggal di Riau.


Saat ini aku bekerja di salah satu Bank Swasta. Aku juga memiliki seorang kekasih yang bernama Galih, aku biasa memanggilnya Mas Galih.


Dia juga berprofesi sebagai abdi negara.


Yah, dia adalah salah satu sahabat Kak Razak.


Kami sudah berpacaran selama Tiga Tahun. Tapi selama pacaran bisa di hitung berapa kali kami bertemu. Karena Mas Galih yang di tempatkan di Aceh sama dengan Kak Razak.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Minggu pagi seharusnya adalah hari santai untuk Dira menikmati liburan akhir pekan dengan rebahan dan menonton drakor favoritnya sambil makan snek poteto kesukaannya.


Tapi hari ini tidak. Tadi pagi-pagi sekali Ayah dan Ibu mengajak Dira untuk memantau kebun sawit milik Ayah. Katanya hari ini akan panen.


Disinilah Dira sekarang. Dibawah pohon sawit yang sudah siap untuk di panen. Sambil berselancar di ponselnya. Memantau semua sosial medianya.


"Ayah masih lama gak?"


Ucap Dira manja menghampiri Ayah yang sibuk dengan buku di tangannya.


Entah apa yang Ayah tulis Dira tidak tahu dan tidak mau tahu. Karena gadis cantik itu selalu di manjakan oleh orang tuanya termasuk segala hal tentang pekerjaan rumah selalu tahu beres.


"Sebentar lagi sayang"


Jawab Ayah melirik sejenak ke arah Dira.


Karena bosan menunggu Dira pun berjalan kedepan menuju pondok yang terdapat di tenggah kebun. Dira kembali memainkan ponsel untuk mengecek pesan dari kekasihnya dan kembali mengecek sosial medianya.


Dari arah belakang terdengar suara anak-anak yang tertawa. Dira pun beranjak untuk melihat anak-anak itu.


Dan benar saja disana Dira melihat sepasang anak kecil, sepertinya mereka kakak beradik dari wajahnya yang sangat mirip.


Mereka sedang berlarian sambil memegang bambu yang di jadikan alat untuk bermain tembak-tembakan menggunakan peluru dari koran yang di basahi air.


Kedua anak itu terlihat sangat senang sekali. Sehingga terbit seulas senyum dari bibir Dira.


"Aku jadi merindukan Kak Razak. Aku jadi tidak sabar menunggu minggu depan karena katanya dia cuti dan akan kembali"


Ucap lirih Dira sambil menatap kedua anak tersebut yang masih bermain.


"Diraa, ayo kita pulang"


Panggil Ibu menghampiri Dira.

__ADS_1


"Ayo Bu, uda sore juga kan"


Dira lantas menggandeng tanggan Ibu menuju mobil dimana Ayah sudah menunggu di dalamnya.


Di tengah perjalanan perut Dira sudah mulai berdemo minta untuk di isi.


"Ayaah, Dira pengen makan bakso Mas Botak. Kita mampir dulu ya Yaahh"


Ucap Dira dengan manja.


"Iya sayang"


Jawab Ayah sambil tersenyum. Lalu mengarahkan mobil menuju tempat bakso favoritnya.


Seperti itulah Dira yang terkadang masih sangat manja bila bersama Ayah dan Ibunya.


*****


Pagi hari adalah hari yang sibuk seperti biasa Ayah dan Ibu pergi ke sekolahan dan Dira pergi menuju Bank tempatnya bekerja.


Setelah menatap penampilannya yang sudah rapi dalam pantulan cermin Dira pun turun ke bawah sambil menenteng tas kerjanya.


Di meja makan terlihat Ibu yang sedang melayani Ayah dengan menyendokkan nasi goreng ke atas piring.


"Sarapan dulu sayang"


Ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Dira.


"Iya Bu"


Lanjut Dira menggambil selembar roti dan menggolesinya dengan selai coklat favoritnya.


"Dira berangkat dulu Ibu, Ayah Assalamualaikum"


Sembari mencium tangan Ayah dan Ibu.


"Hati-hati dijalan nak. Waalaikumsalam"


Jawab Ayah.


Dira langsung menuju mobil Jazz merahnya yang terparkir di depan rumah. Suara musik mengiringi perjalanannya sambil sesekali Dira ikut bersenandung mengikuti lirik lagu tersebut.


Di pertengahan jalan tiba-tiba ada seekor kucing hitam yang melintas di depan mobil Dira sehingga Dira dengan reflek menginjak rem.


Ckkiiittttt...


Braakkk..


"Aduuhhh"


Ucap Dira saat sebuah mobil dari arah belakang menabrak mobilnya.


Tok.. Tok.. Tokk...


Terlihat seseorang di luar mengetuk jendela mobil. Dan reflek Dira langsung keluar.


"Astagfirullahal adzim"


Ucap pria itu yang langsung mundur dan menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Aduh sorry Mas, tadi saya ngerem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba lewat"


Ucap Dira memberi penjelasan. Namun pria di depannya masih menundukan pandangannya menghindari menatap Dira.


'Kenapa dia tidak melihat ke arahku? Apa ada yang salah dengan make up ku. Ahh,, Sepertinya tidak. Pakaianku juga masih rapi. Baju blazer dan rok selututku tidak lecet. Mungkin masnya sakit leher kali'


"Owh begitu Mbak. Tapi maaf bagian belakang mobil Mbak tidak sengaja saya tabrak"


Ucap pria tersebut dengan sopan.


Dengan segera Dira memeriksa bagian belakang mobilnya. Terlihat sedikit penyot dan bagian depan mobil pria yang menabraknya juga sama penyot malahan lebih parah.


"Mobil Mas juga rusak. Jadi bagaimana?


Ucap Dira menatap pria tersebut.


Sejenak pria itu menatap bagian depan mobilnya.


"Biar saya yang bertanggung jawab Mbak karena saya yang menabrak mobil Mbak dari belakang. Berapa nomor rekening mbak?"


"46289*** beneran gapapa ne Masnya yang tanggung jawab padahal kan saya yang ngerem mendadak?"


Ucap Dira memastikan kembali.


"Iya tidak apa-apa Mbak. Insyaallah saya ikhlas kok. Ini dengan Mbak siapa?"


"Nadira Baity Jannah"


Sejenak pria itu mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Ting.. Tingg...


Bunyi notifikasi di ponsel Dira. Dengan segera Dira langsung memeriksa isinya.


"Ini kebanyakan kayaknya Mas. Saya kirim setengahnya lagi ya"


Ucap Dira yang merasa tidak enak.


'Mobilku hanya penyot sedikit tapi Pria itu mengirimkan uang 5jt'


"Tidak perlu Mbak. Anggap saja itu permintaan maaf saya. Kalau begitu saya permisi Mbak. Sekali lagi maaf ya. Assalamualaikum"


Ucap si pria yang lantas menuju ke mobilnya kembali.


"Eh nama Mas itu siapa ya? Belum sempat bilang makasih lagi.. Ahh sudahla diapun juga sudah pergi"


Dira pun melanjutkan kembali perjalanan menuju Bank tempat ia bekerja.


****


"Astagfirullahal adzim semoga aku tidak terlambat"


Ucap pria tersebut setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


Karena rencananya hari ini pria tersebut akan menghadiri undangan ceramah di salah satu Mesjid di Pekanbaru.


Pria tersebut adalah Muhammad Siddiq.


seorang hafiz tiga puluh juz lulusan S2 Kairo, usianya baru 27 tahun tapi sudah mendapat gelar 'Ustad Muda' dengan profesi sebagai pengajar di salah satu Pesantren milik keluarganya di Riau.

__ADS_1


__ADS_2