
Selesai sarapan Dira mulai berkemas, memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Dira terlihat bingung karena hampir seluruh isi lemarinya adalah pakaian kurang bahan. Sementara mereka akan pindah dekat Pesantren.
"Dek, kenapa kusut begitu wajahnya?"
Ucap Ustad Sidiq menghampiri Dira.
"Baju kurung Dira cuma sedikit Mas. Lagian kenapa harus pindah sih. Kita tinggal disini saja ya bersama Ayah Ibu, Dira gak mau jauh dari Ayah dan Ibu"
Ucap Dira dengan wajah memelas sambil memilih-milih pakaiannya.
"Dek. Bukannya Mas mau memisahkan Adek dengan Ayah, Ibu. Tapi setelah kita menikah Adek adalah tanggung jawab Mas. Nanti kalau Adek rindu Ayah dan Ibu kita bisa berkunjung lagi kesini atau Ayah dan Ibu yang mengunjungi kita di Pesantren. Soal pakaian nanti kita mampir saja di toko untuk membelinya"
Ucap Ustad Sidiq dengan lembut.
"hmmm.. Iya dehh. Mas?"
"iya Dek?"
"Nanti kita tinggalnya dimana? di rumah Pak Kiai ya?"
"Insyaallah kita tinggalnya di pondok kecil dekat dengan Pesantren Dek"
"Owhh iya Mas"
Setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibu Dira masuk ke dalam mobil yang sengaja di tinggalkan oleh keluarga Pak Kiai.
Mobil mulai berjalan pelan meninggalkan pekarangan rumah Ayah.
Setetes air mata Dira pun luruh.
Ustad Sidiq yang melihat itu dengan segera mengusapnya.
"Jangan sedih insyaallah kita akan kesini lagi"
Dira hanya menganggukkan kepalanya dan menoleh ke jendela.
'ya Allah aku sedih sekali karena harus meninggalkan Ayah dan Ibu. Selama ini aku tidak pernah jauh dari mereka'
Dira hanya diam saja sepanjang perjalanan. Hingga mobil berhenti di depan sebuah toko pakaian Muslim dengan merk terkenal.
"Ayo dek turun. Katanya mau membeli baju kurung"
Ucap Ustad Sidiq membuyarkan lamunan Dira.
"ehh,, iya Mas"
Segera Dira turun di ikuti Ustad Sidiq dari belakang.
Dira terlihat enggan memilih baju dengan potongan lurus seperti itu.
"Mas, ini ga ada model lain ya?"
Ucap Dira berbisik di dekat Ustad Sidiq.
"Model lain gimana Dek?"
"Yang model rok duyung gitu Mas, biar modis. Masa semua potongannya lurus begini gak cantik Diranya Mas, seperti Ibu-Ibu kalo begini"
__ADS_1
Ustad Sidiq tersenyum mendengarnya.
"Adek cantik kok di mata Mas. Lagian sebagai seorang muslim Adek wajib menutup aurat dengan benar. Tidak memperlihatkan lekukan tubuh. Dan apa tadi rok duyung. Adek ingin nyebur ke laut ya pakai rok duyung segala"
Ustad Sidiq terkekeh melihat wajah Dira yang bersungut kesal.
"Ya sudah Mas saja yang pilihin. Dira malas"
Dengan menghentakkan kakinya langsung menuju sofa yang tersedia.
Ustad Sidiq hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang masih sedikit keras tersebut.
Setelah menyelesaikan pembayarannya Ustad Sidiq dan Dira beranjak dari toko dan langsung menuju pondok kecilnya Ustad Sidiq.
Satu jam perjalanan mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua.
"Alhamdulillahirobbil a'lamin, ayo Dek turun kita sudah sampai"
Ucap ustad Sidiq menatap Dira.
"Rumah siapa ini Mas?"
"Insyaallah ini rumah kita Dek"
"Tapi kata Mas pondok kecil"
"Iya, inilah pondok kecil kita untuk menaungi kehidupan rumah tangga"
'Apanya yang pondok kecil. Rumah sebesar ini hampir sama besarnya dengan rumah Ayah'
Setelah menurunkan semua barang bawaan mereka Ustad Sidiq berhenti di depan pintu. Sembari merogoh kantong celananya mengeluarkan sebuah kunci dan mulai membuka pintu.
"Assalamualaikum"
Ucap Ustad Sidiq saat memasuki rumah yang disusul oleh Dira dengan membawa beberapa barang belanjaannya tadi. Selebihnya sang Ustadlah yang membawa. Sungguh istri yang baik.
Dira menoleh ke seluruh sisi. Rumah dengan furniture lengkap. Bahkan seperti terawat dengan sangat baik. Hingga Dira mulai menjajakan kakinya ke undakan anak tangga. Mengikuti sang suami menuju kamar mereka.
Dira sedikit tertegun melihat kamar mereka dengan wallpaper dinding Batik Salur berwarna hitam silver. Sungguh sangat keren dan terlihat mewah. Dira tidak menyangka suaminya yang seorang Ustad ini memiliki selera yang bagus.
"Dek, kok diam saja disana ayo masuk. Insyaallah ini akan menjadi kamar kita. Bagaimana apakah Adek suka? Atau Adek mau mengganti warna kamarnya?"
Ucap Ustad Sidiq setelah meletakkan koper dan beberapa barang bawaan Dira.
"Ga usah di ganti Mas. Ini sudah bagus kok"
Ucap Dira sambil melangkahkan kaki menuju nakas. Meletakkan beberapa papper bagnya dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur.
"Alhamdulillah, syukurlah kalo Adek suka dengan warna kamarnya"
Ucap Ustad Sidiq perlahan mendekati Dira.
"Dek. Bolehkan Mas membuka kerudung Adek?"
Deg.
'Aduh kok aku jadi takut ya'
__ADS_1
"kalau Adek tidak mengizinkan tidak apa-apa Dek. Syukurlah jika Adek sudah mulai nyaman menggunakan kerudung seharian"
Lanjut Ustad Sidiq lagi.
'Sebenarnya sudah dari tadi aku ingin melepasnya. Huuf ya sudahla'
"Iya boleh"
"Bismillahirrohmanirrohim"
Ucap Ustad Sidiq saat memegang kerudung Dira dan perlahan-lahan mulai melepaskannya.
"Masyaallah. Cantiknya istri Mas. Mas boleh menyentuh rambut Adek tidak?"
'Ya ampun ne Ustad apa-apa pake tanya segala. Kalo aku bilang gak boleh emang dia mau nurut. Perasaan dia pinter banget cari alasan ya hhu'
"Iya boleh"
Dengan perlahan Ustad Sidiq menyentuh rambut Dira yang berwarna dark blue, atau sedikit biru ke unguan namun jika di dalam ruangan tidak jelas kelihatan. Tapi jika terkena cahaya matahari atau di luar ruangan maka warna rambutnya akan jelas kelihatan.
"Dek. Apa rambutnya pernah di warnai ya?"
Tanya sang Ustad sambil mengusap lembut kepala Dira.
"Iya pernah"
'Pasti mau ceramah lagi neh'
"Adek tahu kan dalam Islam, hukum mewarnai rambut adalah suatu kegiatan yang boleh dilakukan. Namun, tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya tidak menyalahi syariat. Contohnya mewarnai rambut dengan warna hitam"
Dira mengangguk mendengarkan sang Ustad yang mulai berceramah pikirnya.
"Mewarnai rambut dengan warna hitam tidak boleh dilakukan dalam Islam. Sekalipun alasannya untuk mengembalikan warna rambut karena adanya uban. Kenapa tidak boleh? Sebab ini sudah melanggar kodrat.
Ada sebuah hadis yang bunyinya :
"Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam." (HR. Muslim)
"Jadi dapat disimpulkan, kalau mewarnai rambut selain warna hitam boleh-boleh saja. Asalkan hindari untuk mengubah warna rambut yang masih hitam dengan warna lain, karena bisa saja menjadi sikap tasyabbuh atau menyerupai suatu kaum. Adek paham kan maksud mas?
Dira masih mengangguk mendengarkan penjelasan sang suami.
"Alhamdulillah kalau Adek paham. Apa Adek ada mencium aroma-aroma apa gituh?"
Tanya Ustad Sidiq dengan wajah bingungnya.
Sejenak Dira seperti mencari-cari aroma apa yang di maksud sang suami.
"Gak ada. Emang ada bau apa Mas?"
Tanya Dira dengan wajah bingungnya.
"Sepertinya berasal dari sini. Kan benar wangi sekali"
Ucap sang Ustad setelah mencium rambut Dira.
Sontak Dira tertawa.
__ADS_1
"Ya Allah kiraen ada bauk apa tadi. Lagian Mas ini pandai sekali modusnya ya"
"Hehe enggak modus Dek, lagian emang beneran wangi. Mas jadi nagih pengen cium lagi" Yang kembali mencium wangi rambut Dira.