
Hujan turun membasahi bumi.
Dira sedari tadi hanya duduk terdiam dengan kedua kaki tertekuk memandang keluar jendela. Menatap tetesan air hujan yang turun dari celah-celah jendela kamarnya. Alam seakan mengerti perasaannya yang tengah bersedih.
Dira masih tidak bisa melupakan Mas Galih begitu saja, mengingat bagaimana Mas Galih yang bertahan hidup di tengah-tengah hutan dan selalu memikirkannya membuat rasa bersalah di hati Dira semakin mencuat.
Dira mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
Rasa sesak di dada, sedih dan penyesalan berputar-putar di pikirannya.
Ustad Sidiq yang sedari tadi memperhatikan Dira sudah tidak bisa untuk diam saja.
"Deek"
Ucap Ustad Sidiq mendekati Dira dan duduk di sampingnya.
Sedangkan Dira hanya diam saja enggan untuk menjawab ataupun menoleh ke arah sang suami.
"Adek tahu kan. Allah itu maha baik. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri"
Ucap Ustad Sidiq lembut menatap Dira.
"Ini bukan ujian Mas. Ini kesalahan Dira yang tidak sabar menunggu Mas Galih dan menikah dengan Mas"
Sahut Dira tanpa menoleh ke arah Ustad Sidiq.
"Astagfirullahal adzim. Adek tahu tidak, Allah itu tidak akan menyatukan dua insan tanpa sebab yang jelas. Semua yang terjadi di dunia ini sudah pasti ketentuannya yang telah tertulis di Lauhul mahfudz.
Adek harus ingat, sekuat apapun cinta itu dipertahankan, kalau memang Tuhan belum mengizinkan dan berkendak, hubungan itu tak akan sampai pada pernikahan.
Sebaliknya, ketika seorang telah tertulis berjodoh dengan satu nama, seberat apapun rintangan yang harus dilewatinya, ia akan tetap dipersatukan dalam ikatan pernikahan"
"Tapi Dira cintanya sama Mas Galih bukan sama Mas"
'Astagfirullahal adzim'
Ustad Sidiq terus beristigfar di dalam hatinya. Meminta kekuatan dan ketenangan hati menghadapi Dira.
"Ingatlah Dek Surah Al Baqarah ayat 216 yang artinya :
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Ucap Ustad Sidiq dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Suara Adzan Ashar yang berkumandang dari toa mesjid yang tidak jauh dari rumah mereka menyadarkan Ustad Sidiq untuk segera mengambil wudhu dan bergegas menuju rumah Allah untuk menunaikan ibadah wajib tersebut.
Sepulangnya Ustad Sidiq dari mesjid. Dia mendapati Dira yang tengah tertidur dengan posisi terduduk seperti tadi, mungkin kelelahan habis menangis.
__ADS_1
Dengan penuh kelembutan Ustad Sidiq membenarkan posisi tidur Dira dan menyelimutinya.
Lalu turun ke bawah menuju dapur untuk memasak makan malam.
Aroma masakan yang menguar ke penjuru rumah membangunkan Dira dari tidurnya. Dira menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding sudah pukul setengah enam sore. Dira bangkit berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dira mematut dirinya di depan cermin.
Dengan menggunakan celana selutut dan baju kaos yang kebesaran, sebenarnya bukan kebesaran tapi memang modelnya yang seperti itu. Dira menyapukan bedak tabur di wajahnya dan mengucir rambutnya yang tergerai. Seperti itulah Dira bila di rumah. Ustad Sidiq tidak melarang cara berpakaiannya hanya saja bila ada tamu Dira harus segera menggantinya dengan pakaian yang tertutup.
Dira turun kebawah, menatap punggung suaminya yang tengah mengaduk masakan di dalam panci. Dari aromanya yang segar bisa di tebak kalau itu adalah sop.
"Mas"
Ucap Dira pelan.
"Iya Dek, sudah bangun rupanya. Kemarilah cicipi masakan Mas"
Ucap Ustad Sidiq dengan lembut.
Dengan pelan Dira berjalan ke arah meja makan.
"Dek, kok melamun sih? Ayo di cicipi masakan Mas. Aaaa buka mulutnya"
Ucap Ustad Sidiq lagi dengan senyum lembutnya.
"Mas, biar Dira sendiri aja"
Ucap Dira merebut sendok dari tangan Ustad Sidiq.
"Gimana rasanya Dek? Enak tidak?"
Ucap Ustad Sidiq menata Dira dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya.
"Enak Mas. Mas tidak makan?"
Ucap Dira seadannya.
"Iya Dek. Ini Mas mau makan juga"
Dengan perlahan mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi.
Dira termenung sejenak merenungi kata-katanya tadi. Dimana sang suami masih bersikap baik dan melayani Dira dengan sangat baik.
'Sungguh jahat sekali rasanya aku mengatakan itu tapi dia tidak marah dan tetap memperhatikanku dengan baik'
"Mas"
__ADS_1
Ucap Dira menatap Ustad Sidiq.
"Iya dek?"
"Maafin Dira soal yang tadi ya Mas"
Ucap Dira takut-takut menatap sang suami.
"Iya Dek tidak apa. Sudah lanjutkan lagi makannya"
Ucap Ustad Sidiq kembali menyuapi mulutnya.
Rasanya sungguh sesak di dada bila mengingat kembali kata-kata Dira tadi.
Tapi dengan segera Ustad Sidiq beristigfar untuk menenangkan kembali hati dan pikirannya.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring lah yang terdengar jelas.
Hingga mereka selesai makan dan Dira menatap Ustad Sidiq yang sedang mencuci piring kotornya. Sedikit malu rasanya karena semenjak mereka menikah dan pindah ke rumah baru Dira tidak pernah sekalipun mengerjakan pekerjaan rumah sang suamilah yang selalu mengerjakannya dan melayaninya dengan baik.
Hingga malampun kembali tiba.
Dira sedikit merasa tidak nyaman.
Biasanya sang suami akan selalu memeluknya ketika akan tidur tapi sekarang ia malah memunggungi Dira.
Namun Dira dengan cepat menghalau rasa tersebut dan berbalik memunggungi Ustad Sidiq dan langsung memejamkan matanya.
Seperti biasa setiap pukul tiga pagi Ustad Sidiq terbangun dan mengerjakan sholat sunah Tahajut dengan khusuk, berzikir kepada Allah dan berdoa memohon ampunannya.
Kali ini Ustad Sidiq sudah tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya, hingga ia menangis terisak meluapkan segala rasa kepada sang Maha Pencipta yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Berdoa agar dirinya tetap bisa selalu berpikiran jernih agar tidak salah ketika harus membuat sebuah keputusan serta memohon kepada Allah agar istrinya bisa membuka hati untuk dirinya.
Selesai mengerjakan sholat malamnya Ustad Sidiq kembali masuk ke dalam kamar. Menatap istrinya yang tengah tertidur lelap dan kembali merebahkan dirinya dengan menatap sang istri mengusap pelan wajahnya dan mulai memejamkan kembali Matanya setelah membaca doa sebelum tidur.
ππππππππππππππππ
Hadis Nabi Muhammad SAW dari Imam Thabrani dari Abu Umamah menyebutkan,
"Sesungguhnya Nabi saw. berkata (mengajari) seseorang. Katakanlah, Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.'"
Dengan demikian, kita juga bisa membaca doa agar hati tenang sebagai berikut :
Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tuβminu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqnaβu bi βatho-ika.
Artinya:
"Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."
__ADS_1