
Setelah melakukan sholat Ashar berjama'ah.
Dira sudah mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari. Ustad Sidiq berniat ingin membantu namun Dira melarang keras karena di dalam kopernya terdapat pakaian dalamnya. Dira masih sangat malu jika benda itu terlihat oleh sang suami.
Dira menoleh kebelakang. Mencuri pandang ke arah sang suami yang sedang membaca sebuah buku Fiqih. Disaat sang suami sedang fokus ke bukunya. Dengan cepat pula tangan Dira memindahkan pakaian dalamnya ke dalam lemari.
Ustad Sidiq yang sebenarnya memantau pekerjaan Dira mengetahui ulah Dira barusan Dengan ujung matanya yang menatap Dira. Ustad Sidiq terkekeh di dalam hati melihat tingkah lucu sang istri.
"Huufff lelahnya"
Ucap Dira sambil selonjoran kaki dilantai tidak jauh dari lemari.
"Ini Dek diminum dulu biar segar"
Ucap Ustad Sidiq yang memberi segelas air
"Terimakasih"
Ucap Dira langsung meminumnya setelah mengucapkan basmalah.
Kruug.. Kruugg..
Sontak Ustad Sidiq memandang perut Dira yang sudah minta di isi.
'Aduh ne perut pakek bunyi. Kan jadi malu'
"Adek sudah lapar ya? Tunggu sebentar Mas masakin sesuatu ya"
Ucap sang Ustad dengan tersenyum memandang wajah Dira yang memerah, menahan malu karena suara perutnya.
"Ehh.. Mas bisa masak? Atau kita beli saja?"
Ucap Dira yang meragukan suaminya.
"Insyaallah bisa masak sedikit Dek, emangnya Adek mau makan apa?"
"Hmmm,, Apa aja boleh, soalnya uda laper ne"
"Yasudah Adek tunggu sebentar ya, Mas masakin nasi goreng saja yang cepat"
Ucap Ustad Sidiq mulai beranjak turun ke dapur.
Dira memandang punggung suaminya yang mulai menjauh.
Seulas senyum terbit di bibir Dira.
Dengan sebuah pemikiran di dalam hatinya.
Aroma masakan mulai tercium hingga Dira memutuskan untuk melihat langsung sang suami yang berada di depan wajan dengan memegang sutil. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Dira tidak menyangka bahwa suaminya memang jago dalam urusan dapun.
Dengan sekejab saja nasi goreng dengan irisan bakso dan telur mata sapi sudah tersaji di depan Dira.
Aroma yang gurih membuat perut Dira semakin meronta untuk di isi segera.
"Silahkan di nikmati istriku, semoga suka dengan masakan Mas"
Dira sedikit tertegun dengan ucapan Ustad Sidiq saat menyebutnya 'Istriku' sungguh ia masih merasa geli mendengarnya. Namun dengan cepat Dira menghalau pemikirannya.
"Terimakasih Mas"
Ucap Dira dan mulai menyuapi sesendok nasi goreng.
"Bagaimana enak tidak?"
"Emmm enak banget. Mas jago ya masaknya. Kalau begitu bisa buka restoran ne heheh"
Ucap Dira di sela makannya. Karena memang benar masakan sang Ustad sangat pas di lidahnya.
__ADS_1
"Iya Dek. Alhamdulillah. Sebenarnya mas juga memiliki warung makan kecil. Kapan-kapan Mas ajak Adek kesana ya"
'Warung makan kecil? Pasti restoran ne. Tadi aja rumah ini di bilang pondok kecil padahal huu sudahlah'
"Iya Mas" jawab Dira sambil melanjutkan makannnya.
"Dek, ini kartu debit bisa Adek gunakan untuk membeli kebutuhan Adek. Passnya 1234*6 ya"
Sambil mengulurkan sebuah kartu berwarna silver ke arah Dira.
"Eh, gak usah Mas, Dira ada uang kok. Lagian Ayah Ibu juga ngasih Dira uang. Kak Razak juga tiap bulan ngirimin Dira uang jajan"
Tolak Dira yang kembali menyodorkan kartu tersebut ke hadapan sang suami.
"Adek tahukan setelah ijab kabul Adek itu tanggung jawab Mas. Mas wajib memberi Adek nafkah lahir dan batin, jika Mas lupa memberinya maka Adek di perbolehkan meminta nafkah itu terhadap Mas. Pakailah kartu ini untuk membeli keperluan atau barang yang ingin Adek beli. Uang dari Ayah dan Kak Razak kalau bisa jangan di pakai. Di tabung saja ya Dek"
Ucap Ustad Sidiq lembut dan kembali menyodorkan kartu tersebut ke arah Dira.
Glek.
Dengan sedikit susah Dira menelan makanannya.
'Nafkah lahir batin? Ini nafkah lahir dan nafkah batinnya glek?'
"Sudah jangan melamun. Ini di pegang kartunya Dek"
Ucap Ustad Sidiq meletakkan kartu ke tangan Dira yang membuat Dira kembali sadar dari lamunannya.
Malam mulai menampakkan hadirnya dengan bulan yang bersinar redup. Perlahan mulai menghilang di tutupi oleh awan hitam.
Suara gemuruh langit mulai terdengar tanda akan turunnya hujan.
Angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan gorden. Ustad Sidiq dengan segera menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.
Sehabis mengerjakan sholat isya Dira dan Ustad Sidiq berada di depan televisi.
Ustad Sidiq kembali ke kamarnya yang di susul Dira di belakang. Yah Dira masih sedikit asing dengan rumah baru mereka sehingga ia lebih memilih mengikuti kemana sang Ustad pergi.
"Adek mau ikut Mas ke kamar mandi juga ya?" Ucap Ustad Sidiq dengan senyuman penuh arti.
"Hhe. Enggak Dira cuma sedikit belum terbiasa dengan rumah ini. Dira gak takut kok Mas" Ucap Dira namun matanya melirik kanan kiri dan menoleh ke arah gorden yang bergerak di tiup angin.
"Hehe,, yasudah Adek tunggu sebentar Mas mau mengambil air wudhu ya sebelum kita tidur atau Adek mau ikut Mas juga ke dalam?"
"Eng engak Mas, Dira tunggu disini saja"
Ucapan Dira yang di balas anggukan oleh sang Ustad.
Setelah bersih-bersih dan mengambil wudhu Ustad sedikit kaget saat keluar bilik sudah ada wajah Dira disana.
"Adek mau ambil wudhu juga ya?"
'Hee, kan aku nunggin kamu, tapi ya sudahlah sekalian saja'
"Iya Mas, tungguin Dira ya"
Ucap Dira yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Ustad Sidiq terkekeh melihat istrinya yang seperti ketakutan. Sehingga ia bisa menyimpulkan salah satu sifat istrinya selain manja juga penakut.
"Astagfirullah al'azim" ucap Ustad Sidiq terus beristigfar di dalam hatinya.
Kepala Dira menonggol keluar pintu. Sehingga mengagetkan sang Ustad dan kembali beristigfar sambil geleng kepala.
"Mas, tolong ambilin tas hitam itu dong"
Tunjuk Dira ke sebuah tas kecil di samping lemari.
__ADS_1
Dengan segera Ustad Sidiq beranjak mengambil apa yang di minta oleh istrinya
"Makasih Mas"
Ucap Dira dengan senyuman manisnya.
Yang membuat dada sang suami mulai berdetak lebih cepat.
Setelah Dira keluar dari kamar mandi langsung menyusul Ustad Sidiq untuk naik ke atas ranjang.
"Adek, mau Mas beri tahu sebuah doa untuk membuat hati merasa tenang?"
Ucap Ustad Sidiq menoleh ke arah sang istri.
"Boleh Mas, apa doanya?"
"Bismillahirrohmanirrohim,
Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthma innah tu,minu biliqooika watardho biqodoika wataqna'u bi'athoika"
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridha dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."
Dira pun mulai mengikuti Ustad Sidiq yang membimbingnya membacakan doa untuk menenangkan hati agar tidak di liputi rasa was-was akan suatu hal.
"Terimakasih Mas sudah mengajarkan Dira. Alhamdulillah sudah mulai tenang rasa hati ini"
Ucap Dira dengan tersenyum
"Iya istriku. Dek mas boleh mencium Adek?"
Ucap Ustad Sidiq menatap Dira. Yang di balas anggukan oleh Dira.
Dengan senyum merekah Ustad sidiq memulainya dengan mengucap basmalah.
"Dek, Izinkan Mas untuk memberi Adek nafkah batin"
Ucap Ustad Sidiq menatap lembut Dira. Sesungguhnya debaran di dadanya sudah sangat kacau bahkan sebagai laki-laki normal hal wajar yang di rasakan Ustad Sidiq saat melihat istrinya menggunakan pakaian yang sedikit pendek.
"Maaf Mas Dira tidak bisa"
Ucap Dira dengan menutup matanya menahan malu.
Ustad Sidiq yang mendengar penolakan Dira beristigfar di dalam hatinya. Mencoba menahan nafsunya yang mulai memuncak.
"Yasudah, tapi,,,,"
"Maaf Mas Dira tidak bisa karena sedang berhalangan barusan saja datangnya"
Ucap Dira memotong ucapan Ustad Sidiq dan membalikan badannya karena merasa malu mengatakan itu.
'Untung ne tamu bulanan datangnya cepat. Pas banget karena aku belum siap juga. big thanks tamu tidak di undangku hihii'
Ustad Sidiq yang mendengar alasan Dira mulai paham dan tersenyum melihat Dira yang membelakanginya.
"Yasudah Dek. Tidak apa-apa, mungkin kalau Adek sudah bersih baru Mas akan memberikan nafkah batinnya. Adek yang sabar ya"
Ucap Ustad Sidiq tersenyum jahil ke arah Dira
'Sabar? Hee bukannya dia yang harus sabar?'
"heee.. Buu... "
Ucap Dira yang membalikan badan memulai aksi protesnya. Namun dengan cepat sang Ustad membungkamnya sehingga Dira hanya bisa Membolakan matanya. Dan mulai terpejam.
"Sstthh... Jangan protes lagi ya, sini Mas peluk saja Adek biar bisa tidur nyenyak"
Ucap Ustad sidiq menarik Dira dalam dekapannya dan tersenyum senang dengan jantung yang masih berdebar kencang bahkan Dira pun bisa merasakannya. Namun Dira lebih memilih diam dari pada protes lagi yang ujung-ujungnya membungkam suaranya.
__ADS_1