
Para tamu undangan mulai memberikan selamat kepada pasangan yang baru halal tersebut, sembari mendoakan pernikahan mereka agar menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Wa Rahmah.
Dira hanya tersenyum tipis menerima uluran tangan para undangan berbeda dengan Ustad Sidiq senyum merekahnya tidak luntur sedari tadi.
Sepulangnya tamu undangan yang di susul oleh keluarga Pak Kiai, Dira langsung menuju kamarnya di lantai atas. Meninggalkan Ustad Sidiq di bawah yang masih berbincang-bincang dengan kedua orang tua Dira.
"Kak Ustad. Terima kasih sudah mau menikahi putri saya"
Ucap Ayah tulus menatap Ustad Sidiq.
"Iya Ayah. Alhamdulillah saya senang karena bisa menyempurnakan separuh agama saya. Dan Insyaallah saya akan menyanyangi dan menjaga istri saya semampu saya. Dan saya minta ijin Ayah Ibu untuk membawa Dira ke kediaman saya yang berada di dekat Pesantren"
"Alhamdulillah, iya Ayah senang mendengarnya. Harap di maklumi jika nanti Dira banyak tidak mengerti pekerjaan rumah. Karena selama ini kesalahan kami yang terlalu memanjakannya"
Ucap Ayah menundukan kepalanya.
"Insyaallah nanti Dira akan belajar dengan sendirinya Ayah"
"Kalau begitu naiklah ke atas sudah semakin larut. Kami juga ingin beristirahat ayo Bu kita ke kamar"
Sembari menepuk pelan pundak Ustad Sidiq dan tersenyum Ayah dan Ibu menuju kamarnya.
Ustad Sidiq berjalan menuju kamar Dira yang kini telah menjadi kamarnya juga. Sedikit gugup Ustad muda tersebut menahan tangannya yang hendak membuka pintu. Dan beristigfar untuk kembali menenangkan dirinya.
Merasa sedikit tenang Ustad muda tersebut mengetuk pintu kamar Dira.
Tok.. Tok.. Tok..
Tdak ada jawaban dari dalam.
"Mas masuk ya dek"
Ucap Ustad Sidiq namun tidak ada jawaban juga.
Dengan mengucapkan basmalah Ustad muda tersebut menyentuh handel pintu dan membukanya.
Ckleek..
"Assalamualaikum,,"
Ucap Ustad Sidiq saat masuk kedalam kamar bernuansa merah muda tersebut, namun kosong Ustad Sidiq menoleh ke arah kamar mandi terdengar seperti bunyi percikan air di kamar mandi. Seulas senyum terbit di bibirnya dan kembali menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya.
Dira yang sedang membersihkan tubuhnya pun bergegas menyudahi kegiatannya.
Niatnya adalah cepat-cepat tidur untuk menghindari sang Ustad yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Cklaak..
Dira keluar kamar mandi dengan rambutnya yang tergerai indah.
Namun saat telah berbalik badan.
"Mampus.. Eh Kaget"
Ucap Dira dengan memegang dadanya karena melihat sang Ustad telah dikamarnya dan berdiri mematung di depan pintu masih dengan pakaian Koko putihnya.
Ustad Sidiq yang melihat Dira kaget pun seraya beristigfar di dalam hatinya.
Mereka berdua sama-sama terpaku saling menatap dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
'Aduuhh kan uda masuk aja ne Ustad. Gagal deh rencanaku yang ingin pura-pura tidur'
Ucap Dira di hatinya.
'Astagfirullahal adzim,,
Masyaallah Alhamdulillah cantiknya istriku'
Ucap Ustad Sidiq dalam hati.
"Eemm.. Aku aku sangat lelah hari ini. Aku ingin tidur. Selamat malam"
Ucap Dira yang langsung meloncat ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Seulas senyumpun tersungging di bibir sang Ustad.
'Astagfirullahal adzim..
Ku pikir aku saja yang sedikit gugup tapi dia ternyata jauh lebih gugup sampai menutupi seluruh tubuhnya. Astagfirullahal adzim"
Tapi, lucu sekali wajahnya yang seperti ketakutan melihatku hehe'
Ustad Sidiq pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan keluar dengan wajah segar. Segera mengambil sajadah di dalam kopernya.
Ustad Sidiq menoleh ke arah Dira.
'Masih ada pergerakan. Berarti dia belum tidur. Apa istriku sudah sholat isya ya? Ahh sebaiknya ku tanyakan saja'
"Deek"
Ucap Ustad Sidiq lembut.
Dira geleng-geleng kepala di bawah selimut.
"Dek, kok geleng-geleng kepala sih? Mas cuma mau tanya. Adek sudah sholat isya?"
'Mampus gue belum sholat. Gimana ne bohong dosa kan'
"Dek, kenapa diam? Adek sudah sholat isya belum?"
Tanya Ustad Sidiq lagi.
"Belum... Nanti saja Mas"
Cicit Dira dengan pelan namun masih terdengar jelas di telinga sang Ustad.
" Ayo kita sholat berjama'ah. Mas juga ingin sholat isya ne"
Ucap sang Ustad dengan lembut.
Perlahan kepala Dira muncul dari balik selimut. Dan menatap Ustad Sidiq yang tersenyum ke arahnya.
Dengan perlahan kaki Dira turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi guna mengambil wudhu.
Setelah selesai Dira kembali dan mengambil mukenahnya yang terlipat rapi di atas meja.
"Sudah siap?"
Tanya Ustad Sidiq lembut yang di balas anggukan kepala oleh Dira.
__ADS_1
Ustad Sidiq pun mulai mengimami Dira.
Selesai sholat di lanjut berzikir dan berdoa.
Setelah selesai Ustad Sidiq berbalik badan hendak mengulurkan tangannya ke arah Dira.
Namun Dira telah tertidur dengan lelapnya di atas sajadah.
'Astagfirullahal adzim istriku sudah tertidur rupanya. Apa aku kepanjangan membaca doa hingga dia terkantuk dan langsung tertidur? Hmmm'
"Deekk pindah tidurnya di atas yok"
Ucap Ustad Sidiq sambil sedikit menepuk pundak sang istri.
Namun Dira yang jika tertidur bagaikan kebo tidak merasa terganggu malahan tidurnya semakin lelap.
"Ya Allah kenapa susah sekali sih bangunya dek. Bismillahirohmanirrohim"
Dengan perlahan Ustad Sidiq mengangkat tubuh Dira dan meletakannya dengan perlahan di atas ranjang. Membuka mukenah Dira dan melipatinya kembali.
Lanjut Ustad Sidiq naik ke atas ranjang.
Dan berdoa sebelum tidur.
Sejenak Ustad Sidiq menoleh ke arah istrinya yang tengah terlelap.
"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih telah memberikan hamba seorang istri yang cantik dan Insyaallah soleha aamiin"
"Masyaallah tak bosannya aku memandang wajahmu dek"
Hingga perlahan mata sang Ustad mulai terpejam.
Pukul tiga dini hari sang Ustad terbangun dari tidurnya. Sembari berdoa mengucap syukur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengambil wudhu.
Kebiasaan Ustad Sidiq yang melakukan sholat sunah Tahajut menjadi alarm bagi tubuhnya untuk bangun jam tiga pagi setiap harinya.
Keluar kamar mandi sang Ustad menoleh ke arah istrinya.
"Biarlah malam ini aku sholat sendiri dulu. Insyaallah malam besok kita akan sholat bersama"
Sembari menggelar sajadahnya dan mulai melakukan sholat sunnah.
Selesai sholat di lanjutkan dengan zikir dan berdoa.
Ustad Sidiq menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding. Masih pukul empat kurang seperempat. Masih cukup lama masuk waktu shubuh.
Ustad Sidiq kembali naik ke atas ranjang dan memandangi wajah sang istri yang masih terlelap dengan nyenyak.
Tiba-tiba Dira memiringkan badan menghadap Ustad Sidiq dan memeluknya hangat bagaikan sebuah guling.
Deg
Detak jantung Ustad Sidiq berdetak semakin kencang. Ini pertama kali baginya di peluk oleh seorang wanita selain Umma dan adiknya.
'Astagfirullahal adzim kenapa aku gugup sekali padahal ini halal bagiku. Bahkan jika aku ingin menjamah tubuhnya adalah sah dan pahalanya besar sekali'
Perlahan perasaan nyaman mulai dirasakan Ustad Sidiq. Bahkan Ustad Sidiq membalas pelukan Dira. Hingga membangkitkan syahwatnya. Hal wajar bagi seorang pria dewasa di tambah ini adalah istrinya yang halal untuk ia sentuh.
Ustad Sidiq terus beristigfar di dalam hatinya. Mencoba menenangkan kembali dirinya. Dan perlahan-lahan Ustad Sidiq kembali tertidur.
__ADS_1