Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Sebuah Kalung Perpisahan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapannya Dira lanjut mencuci piring kotor sisa makananya dan membuang sayur yang rasanya seperti air laut tersebut.


Sementara Ustad Sidiq tengah bersiap-siap diri untuk mengajar ke Pesantren.


Cklaak..


"Mas sudah siap ya?"


Ucap Dira menatap sang suami yang telah rapi menggunakan Koko putih dan celana katun hitamnya.


"Alhamdulillah sudah Dek, Adek mau ikut Mas lagi?"


"Pengen sih Mas tapi Dira lelah dan mengantuk. Dira di rumah saja ya"


Ucap Dira dengan senyum manisnya.


"Iya dek yasudah Mas pergi dulu ya,, Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq mengulurkan tangannya di depan Dira.


"Waalaikumsalam,, Oiyah Mas kemaren Dira minta tolong orang untuk mengantarkan mobil Dira kemari, tidak apa-apa ya Mas?"


Terdengar helaan nafas Ustad Sidiq.


"Iya Dek. Lain kali beri tahu Mas dulu baru minta orang lain untuk mengantarnya yah. Mas tidak enak pada Ayah dan Ibu kalau begini"


"Iya Mas Maaf"


"Hmm.. Hati-hati di rumah ya,, Assalamualaikum"


Dengan Mas Sidiq yang mengusap pelan rambut Dira.


"Waalaikumsalam, Mas juga hati-hati di jalannya"


"Iya Dek"


Setelah mengantar sang suami sampai di depan pintu Dira lanjut menutup rapat pintu rumahnya.


Dira merasa bau bawang yang menempel di tubuhnya sungguh membuat tidak nyaman.


Dengan segera Dira berjalan naik ke atas untuk membersihkan dirinya.


Selesai membersihkan dirinya Dira lanjut berselancar di sosial medianya. Sudah beberapa hari ini Dira tidak memantau informasi ter-up date rasanya sangat rugi bila ia tidak mengikuti perkembangan sosial medianya.


Dira menatap feed di Instag*am miliknya masih terdapat fotonya dengan Mas Galih.


Dira lanjut menscroll ke bawah hingga awal mereka jadian dan momen anniversary hubungan mereka pun masih lengkap di sana.


Air mata Dira kembali menetes mengingat perjalanan cintanya yang telah kandas.


Ddrrtt,, Drrtt,,,


Jantung Dira berdetak dengan cepat saat melihat siapa yang telah menghubunginya.


Ingin menolak tapi rasanya ragu, hingga akhirnya panggilan itu berhenti. Dengan layar yang kembali menampakan foto dirinya bersama Mas Galih.


Ddrtt,, Drrtt,,


Panggilan kedua dari nomor yang sama. Masih dengan jantung yang berdebar akhirnya Dira menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


📲 "Assalamualaikum Dek"


Ucap suara di seberang sana. Namun Dira hanya diam saja mendengarkan suara yang sama memanggil dirinya.


📲 "Adek"


"Waalaikumsalam, iya Mas"


Jawab Dira akhirnya.


📲 "Adek apa kabar? Sehat kan?"


"Iya Mas alhamdulillah sehat"


📲 "Syukurlah kalau begitu Mas senang mendengarnya. Adek Mas cuma mau pamit. Jam sepuluh nanti Mas akan kembali untuk bertugas, kalau boleh Mas meminta apa Adek bersedia bertemu dengan Mas di Bandara?"


Ucap Mas Galih dengan suara berat khas miliknya. Namun Dira hanya diam tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya Dira ingin sekali bertemu dan mengantarkan Mas Galih seperti dulu namun statusnya yang kini telah berbeda membuat Dira menjadi bingung.


"Kok diam Dek? Kalau Adek tidak bersedia tidak apa-apa Mas paham dengan status kita yang sekarang"


Terdengar suara Mas Galih yang sedikit berbeda.


"Yasudah Mas tutup telponnya ya Dek. Mas akan selalu mendoakan kesehatan dan kebahagian Adek meski tidak bersama Mas. Assalamualaikum"


Tutth..


Panggilan terputus oleh Mas Galih.


Dira kembali terisak menatap layar ponselnya yang menampakkan fotonya bersama Mas Galih.


Seorang pria yang bertanggung jawab dan penuh perhatian, seorang pria yang sangat sabar menghadapi sifat manjanya Dira, seorang pria yang sangat memahami akan dirinya, seorang pria yang ia cintai.


Namun apa mau dikata bila jodoh tidak berpihak semua hanya akan menjadi kenangan yang selalu membekas di dalam hati dan ingatannya.


Suara ketukan pintu menyadarkan Dira kembali.


Dengan segera Dira meraih kerudung panjang miliknya dan turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang.


Cklaak..


"Permisi dengan mbak Nadira?"


Ucap seorang pria di depan pintu.


"Iya Pak"


Jawab Dira singkat.


"Saya mengantarkan mobil mbak, ini kuncinya"


Ucap Pria tersebut dengan ramah.


"Oowh iya,, Makasi ya Pak"


Dengan segera Dira meraih dompet di saku celananya dan memberi upah kepada pria tersebut.


"Karena menerima telfon dari Mas Galih aku sampe lupa kalau meminta orang untuk mengantarkan di merah"


Ucap Dira kembali menutup rapat pintu rumahnya.

__ADS_1


Dira kembali berjalan menuju undakan anak tangga. Namun Langkahny terhenti saat melihat jam yang tergantung menunjukkan pukul delapan tiga puluh menit.


Sementara Mas Galih berangkat pukul sepuluh. Perjalanan ke bandara sekitar tiga puluh menit. Masih ada waktu!.


Dengan segera Dira naik ke atas untuk berganti pakaiannya dan bergegas menuju mobil. Tidak lupa Dira juga mengunci kembali rumahnya.


Dira melajukan kendaraannya menuju Bandara, dengan menyalip beberapa kendaraan yang terasa seperti siput akhirnya Dira sampai di parkiran Bandara.


Dira melihat sebuah masker di mobilnya. Dengan cepat Dira meraih dan memakainya lalu berjalan masuk ke dalam bandara.


Pukul sembilan tepat Dira sampai di dalam Bandara. Dira melihat kesekeliling area keberangkatan. Ingin menelfon Mas Galih tapi ponselnya tertinggal di dalam mobil akibat dirinya yang terburu-buru.


Dira kembali berjalan melihat ke sekeliling area keberangkatan hingga Dira melihat sosok pria yang ia cari tengah duduk sendirian menatap boarding pass miliknya.


Dengan perlahan Dira berjalan mendekati pria tersebut dan duduk di sampingnya.


Sontak saja pria tersebut melirik ke arah Dira. Aroma parfum yang sangat ia kenali.


"Adek"


Ucap Mas Galih menatap Dira menggunakan pakaian kurung dan masker menutupi wajahnya.


"Iya Mas"


Jawab Dira menampakan matanya yang menyipit pertanda sebuah senyuman yang tertutupi masker.


"Terimakasih Adek bersedia mengantarkan Mas"


Ucap tulus Mas Galih menatap Dira yang di balas anggukan kepala olehnya.


"Mas, Dira ingin bicara sesuatu"


Ucap Dira dengan tertunduk.


"Iya Dek, katakanlah"


"Maass,, Maafkan Dira karena telah melukai hati Mas Galih"


Ucap Dira mulai terisak.


Mas Galih ingin merengkuh Dira dalam pelukannya seperti biasa yang ia lakukan dulu untuk menenangkan Dira. Namun tanggannya yang telah mengambang di udara kembali di tarik mengingat status Dira yang telah berubah.


"Iya Dek. Tidak apa.


Mungkin jalan takdir kita harus begini. Tapi ingatlah satu hal. Bila suamimu menyakiti hati dan fisikmu katakan kepada Mas, Mas akan kembali menjemputmu"


Ucap Mas Galih menatap Dira lekat.


Sedangkan Dira hanya terisak mendengar perkataan dari Mas Galih.


Hingga keduanya kembali hening.


"Dek, Mas tahu status kita yang telah berbeda tapi Mas telah menyiapkan ini sebagai hadiah untuk adek. Bila berkenan pakailah untuk slalu mengingat Mas"


Ucap Mas Galih dengan mengulurkan beludru berbentuk hati berwarna merah ke tangan Dira.


Suara panggilan untuk tujuan Medan pun menyadarkan Dira bahwa Mas galih telah meninggalkannya. Memberikan sebuah kalung berliontin permata yang berkilau sangat indah.


Dira mengusap lembut liontin tersebut dengan air matanya yang menetes.

__ADS_1


Dira mengenggam kalung tersebut dan beranjak berjalan menuju mobilnya. Menyisakan sebuah kenangan perpisahan.


Sebuah kenangan indah yang berujung menyakitkan.


__ADS_2