Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Pengakuan Dosa


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang dengan jelas. Ustad Sidiq sudah siap dengan sajadah berselempang di bahunya. Ia melihat Dira yang masih nyenyak dengan tidurnya.


"Deek ayo bangun, waktu subuh sudah masuk" dengan mengoyang-goyangkan kaki Dira.


"Hmmm.."


Dengan perlahan membuka matanya yang masih berat.


"Bangun ya Dek, sholat subuh. Mas mau sholat ke mesjid. Adek mau ikut sholat di mesjid?"


Ucap Ustad Sidiq dengan lembut.


"Dira sholat di rumah aja Mas"


Jawab Dira manja dengan mata masih terpejam.


"Ya sudah mas berangkat dulu ya. Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq beranjak keluar kamar.


Dira kembali merebahkan dirinya di ranjang. Niatnya ingin mengumpulkan nyawa yang masih setengah mengambang entah kemana. Namun rasa kantuk yang masih kuat menyerang membuat Dira terlelap kembali.


Cklaak.


"Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq bersama Ayah yang baru pulang dari mesjid.


"Waalaikumsalam"


Jawab Ibu dari arah dapur segera menyusul keluar.


"Bu Dira sudah bangun?"


Tanya Ayah


"Kayaknya masih tidur Yah. Dari tadi belum dengar suaranya"


"Biar saya lihat Dira di kamar dulu ya Bu"


Ucap Ustad Sidiq yang di balas anggukan kepala oleh sang Ibu dan Ayah. Dengan segera Ustad Sidiq naik ke lantai atas.


Cklaakk..


"Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq saat telah masuk ke kamarnya.


"Astagfirullahal adzim"


Ustad Sidiq beristigfar menatap Dira yang masih terlelap dengan posisi sama seperti tadi.


"Dekk,, Adekk bangun"


Ucap Ustad Sidiq menepuk-nepuk pelan pundak Dira.


"Hmmm.. "


Dira kembali duduk dengan mata yang masih terpejam


"Adek sudah sholat?"


"Belum Mas"

__ADS_1


"Astagfirullahal adzim. Cepat sholat dek. Keburu habis waktunya nanti.


"Iya mas bentar lagi"


"Gak ada bentar-bentar dek, sekarang"


"Ckk.. Iya"


"Astagfirullahal adzim dek, dekk"


Sembari menggeleng-gelengkan kepala melihat Dira yang memberengut kesal berjalan ke kamar mandi.


Ustad Sidiq melihat Dira yang tengah mengerjakan sholat. Setelah selesai sholat Dira yang hendak beranjak dari duduknya dengan segera Ustad Sidiq memberi sebuah Al-qur'an di depan Dira.


"Ngaji dulu yuk dek. Adek tahukan satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut, satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu hurufnya, masyaallah"


"Iya mas"


Jawab singkat Dira.


"Sekarang adek mulai mengaji ya, biar Mas simak. Nanti gantian Mas yang mengaji Adek yang menyimak"


Ucap Ustad Sidiq lembut.


Dira mulai membaca ta'awudz di lanjutkan membaca surah al fatiha dan surah al-baqarah.


Ustad Sidiq memperbaiki beberapa bacaan Dira yang masih terdapat kesalahan.


Lantunan ayat suci al-qur'an yang di baca oleh Dira terdengar hingga ke bawah. Ayah dan Ibu yang berada di dapur saling pandang dan tersenyum seraya mengucap hamdalah.


Karena sudah lama mereka tidak mendengar Dira mengaji.


Dira telah selesai mengaji. Di gantikan dengan Ustad Sidiq yang kini mulai mengaji dan Dira yang menyimak.


Dada Dira seperti mendapat getaran ketika mendengar suara merdu Ustad Sidiq. Dengan suara yang mendayu mengikuti makhroj dan tajwidnya terdengar sangat indah.


"Dek, Mas tampan ya sampe tidak berkedip begitu"


"Hhee.. Biasa aja kok"


Dengan panik Dira segera beranjak dan melipat mukenahnya.


Sementara Ustad Sidiq terkekeh melihat wajah Dira yang panik seperti seorang pencuri yang ketangkap basah.


"Dek tunggu sebentar"


Ucap Ustad Sidiq saat Dira hendak keluar kamar.


"Ada apa Mas?"


Ucap Dira tanpa menoleh.


"Duduk sini dulu, Mas mau bicara"


Sambil menepuk sisi pinggir ranjang tempat ia duduk.


'Duuhh apa lagi sih. Ngomong ya tinggal ngomong'


"Iya ada apa?"


Ucap Dira kembali setelah mendudukan dirinya di samping Ustad namun masih ada jarak.


"Dek, tidak baik loh mengumpat suami di dalam hati. Dosa hukumnya"

__ADS_1


'Apaan lagi ne. Mulai ceramah'


"Tuh kan wajahnya mulai memberengut begitu"


Sambil tersenyum melihat wajah Dira yang kesal.


"Dek, dengarin Mas yah. Sekarang kamu adalah istri Mas. Tanggung jawabnya Mas, semua hal yang Adek lakukan berdampak buat Mas. Misalnya Adek keluar rumah tidak menutup aurat maka dosanya akan mengalir kepada Mas, Adek tidak mengerjakan sholat kecuali sedang berhalangan ya, sama saat Adek sebelum menikah. Jika Adek tidak menutup aurat dan melalaikan sholat maka dosanya akan mengalir kepada Ayah. Adek tega melihat Ayah dan Mas di siksa dalam api neraka?"


Ucap Ustad Sidiq lembut.


Dira hanya tertunduk menggelengkan kepala. Iya mulai merasa sesak di dadanya mengingat selama ini ia yang sering keluar rumah membuka aurat. Membantah ucapan orang tuanya bahkan melalaikan sholatnya.


"Mas bicara seperti ini karena Mas sayang sama Adek. Mas ingin kita sama-sama belajar memperbaiki diri. Mendekatkan diri kepada Allah, agar kita sama-sama berada di surganya kelak. Maaf jika Mas menanyakan sesuatu yang bersifat sedikit pribadi"


Ucap Ustad Sidiq yang di balas anggukan oleh Dira.


"Apa semasa gadis Adek pernah berbuat zinah. Zinah maksud Mas disini adalah misalnya bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mukhrim, atau melakukan kontak fisik lainnya?"


Dira makin tertunduk menjawab pertanyaan Ustad Sidiq.


"Astagfirullahal adzim. Sejatinya manusia adalah tempat salah dan khilaf namun sebaik-baiknya manusia adalah yang mau memperbaiki dirinya. Adek mau memperbaiki diri mulai sekarang kan?"


Ucap Ustad Sidiq lembut mulai mengusap kepala Dira yang sudah mengaliri air matanya.


"Iya Mas Dira mau"


Jawabnya dengan parau.


"Mulai sekarang belajarlah menutup aurat. Mengerjakan sholat tepat waktu dan perbanyak beristigfar meminta ampun kepada Allah atas dosa dan kekhilafan Adek di masa lalu"


Yang di balas anggukan kepala oleh Dira.


"Kalau boleh Mas bertanya. Adek melakukan kontak fisik seperti apa? Apa pernah sampe maaf berhubungan suami istri?"


Dengan cepat Dira menggelengkan kepalanya. Seulas senyum terbit di bibir Ustad Sidiq.


"Lalu seperti apa?"


"Bergandengan, berpelukan dan berciuman"


Jawab Dira semakin terisak.


"Astagfirullahal adzim. Mulai sekarang perbanyaknya beristigfar ya Dek"


Dira hanya mengangguk.


"Dek, apa boleh Mas menghapus bekas kecupan itu di bibir Adek?"


Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira yang mengangguk tanda setuju.


'Bismillahirohmanirrohim'


Dengan perlahan akhirnya Ustad Sidiq menghapus bekas kecupan di bibir Dira.


Tok tok tok


"Sarapan dulu nak"


Ucap Ibu dari luar segera Dira menjauhkan diri dari Ustad Sidiq yang tersenyum lembut kepadanya.


"Ibu Ibu memanggil, Dira keluar dulu"


Ucap Dira dengan gugup dan langsung keluar kamar setelah merapikan wajahnya yang habis menangisi kesalahannya.

__ADS_1


Sementara sang Ustad memegang dadanya yang sudah berdetak tidak beraturan.


Dengan mengucap hamdalah dan senyum yang merekah.


__ADS_2