Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Mas Galih Kembali


__ADS_3

Malam ini Dira dan Ustad Sidiq kembali ke rumah mereka, setelah tadi sore sempat melihat-lihat sebentar lingkungan Pesantren dimana tempat Ustad Sidiq mengajar dan makan bersama dengan umma.


Setelah berpamitan dengan umma Ustad Sidiq mulai melajukan kendaraannya ke luar area Pesantren.


Dira semenjak tadi lebih banyak diam. Meskipun sebelumnya tidak terlalu berisik namun lebih baik dari pada saat ini.


Entah karena perutnya yang sakit atau ada sesuatu hal yang di tutupi olehnya membuat kening Ustad Sidiq sedikit berkerut menatap istrinya tersebut.


"Dek, ingin membeli sesuatu tidak sebelum pulang ke rumah?


Ucap Ustad Sidiq lembut menyentuh tangan Dira.


"Tidak Mas, Dira masih kenyang setelah makan tadi bersama Umma"


Jawab Dira dengan perlahan melepaskan pegangan Ustad Sidiq dan merapikan kerudungnya.


"Perut Adek masih sakit ya?"


Ucap Ustad Sidiq lembut.


"Tidak sesakit tadi Mas, sudah mendingan"


Jawab asal Dira menoleh ke luar jendela.


"Alhamdulillah. Syukurlah jika sudah mulai membaik. Apa Adek baik-baik saja?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira sebentar.


"Emangnya kenapa sih Mas?"


Ucap Dira mulai jengah karena sebenarnya ia ingin sekali tenang tanpa di ganggu sedikitpun.


"Tidak apa Dek, hanya saja Mas melihat Adek seperti menyembunyikan sesuatu. Apa ada yang mengganggu pikiran adek? Jika Adek tidak keberatan Mas bersedia mendengarkannya"


Ucap Ustad Sidiq lembut.


'Tidak mungkin kan aku ceritain yang sebenarnya. Hhu merepotkan saja'


"Tidak ada Mas, Dira cuma lagi gak mood saja, jadi malas untuk berbicara"


Ucap Dira tanpa menoleh ke arah Ustad Sidiq.


"Owh begitu rupanya"


Ucap Ustad Sidiq kembali fokus pada kemudinya.


Setelah sampai di rumah Ustad Sidiq terlebih dahulu mengunci pagar dan menutup pintu rumah dengan rapat mematikan beberapa lampu yang tidak di pergunakan. Barulah menyusul Dira yang sudah sampai di kamar.


Cklak.

__ADS_1


Perlahan Ustad Sidiq masuk ke dalam kamar. Tepat saat Dira telah selesai membersihkan dirinya dan telah mengganti pakaian tidurnya.


"Masyaallah cantiknya istri Mas ini"


Ucap Ustad Sidiq mendekati Dira.


"Mas jangan macam-macam ya"


Ucap Dira mulai waspada karena Ustad Sidiq Memandang Dira tidak seperti biasanya.


"Emangnya Mas mau berapa macam Dek. Mas cuma mau peluk istri Mas ini kok"


Ucap Ustad Sidiq dengan tiba-tiba memeluk Dira.


"Maaassss"


Kaget Dira, saat tubuhnya di dorong ke atas ranjang.


"Ssttthh,, Jangan teriak Dek nanti tetangga pada datang"


Ucap Ustad Sidiq dengan tubuhnya yang memeluk Dira erat.


"Iya Mas ngapain sih kayak gini. Geser Maass gerah tau"


Ucap Dira menatap kesal suaminya dengan jantung yang mulai berdebar ketika untuk yang pertama kalinya Ustad Sidiq menyatukan bibir mereka hingga keduanya terdiam beberapa saat.


"Dek masih lama ya tamunya pergi?"


"Iya Mas. Kan baru semalam datangnya. Bisa lima hari atau lebih"


Ucap Dira dengan jantung yang berdebar.


Dira tidak menyangka sang suami akan menanyakan hal tersebut karena sesungguhnya ia pun masih menghindari hal tersebut.


"Dek boleh lagi ya"


Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira dengan senyum malu-malu.


"Tadi aja gak pake tanya langsung nyosor tuh"


Ucap Dira sebal.


"Abis Adek itu magnetnya kuat sekali. Jadi Mas langsung tiba-tiba ketarik gitu"


Ucap Ustad Sidiq dengan senyum tertahan.


"Halaaahh alasannya pinter banget"


Ucap Dira yang langsung membuat sang Ustad tidak bisa menahan tawanya lagi.

__ADS_1


Dan benar saja Ustad Sidiq kembali mengulanginya beberapa kali. Hingga Ustad Sidiq menyudahinya jika tidak maka akan semakin sulit untuk menahan hasratnya nanti. Dengan membaca doa tidur dan beberapa ayat pendek serta ayat kursi Ustad Sidiq dan Dira mulai memejamkan matanya.


*****


Seperti biasa Ustad Sidiq selalu terjaga di sepertiga malamnya untuk menunaikan ibadah sholat sunah tahajut. Dilanjutkan dengan berzikir dan berdoa.


Di dalam doanya yang meminta untuk bisa meluluhkan hati sang istri yang sampai saat ini masih belum mencintainya. Karena sesungguhnya saat ini Ustad Sidiq sudah mulai mencintai istrinya tersebut.


Setelah selesai melakukan sholat malamnya, Ustad Sidiq kembali membaringkan tubuhnya di samping Dira. Menatap wajah sang istri yang sangat cantik hingga dadanya kembali berdebar apa lagi menatap bibir merah ranum sang istri yang sempat ia cicipi tadi.


"Masyaallah baru merasakan bibirnya saja bisa membuat ku berdebar seperti ini dan rasanya Masyaallah tidak bisa di ungkapkan, bagaimana nanti bila... Astagfirullah al adzim"


Ucap Ustad Sidiq dengan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya beristigfar karena sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.


Setelah menormalkan kembali pikirannya Ustad Sidiq segera membaca doa sebelum tidur dan ayat kursi barulah ia melanjutkan kembali tidurnya sebelum masuknya waktu subuh.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sementara di bumi bagian lain seorang pria baru saja di temukan oleh beberapa orang pendaki gunung. Dengan keadaan yang tidak sadarkan diri.


Dengan segera mereka mambawa ke posko peristirahatan dan menghubungi kantor Angkatan Darat terdekat.


Tidak lama kemudian datanglah sebuah helikopter yang berisi tim medis dengan segera memeriksa keadaan pria tersebut dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Setelah melakukan pemeriksaan dan memberi suntikan antibiotik dan vitamin tidak lama kemuadian pria tersebut mulai membuka matanya.


Seraya mengucap syukur para tim satuan tidak menyangka bahwa anggotanya masih selamat. Dia adalah Galih salah seorang yang sempat di nyatakan meninggal dalam keadaan terbakar hangus bersama para *******.


Ddrrttt... Ddrrtt...


Tidur Dira terusik dengan suara ponselnya yang terus bergetar hingga Dira mulai membuka matanya dan melihat jam yang tergantung di depan dinding.


Masih pukul lima pagi. Siapa yang sudah menghubunginya sepagi ini. Ia melihat ke ranjang sebelahnya tidak mendapati sang suami. Mungkin sedang melakukan solat shubuh pikirnya lagi.


Ddrrtt.. Drrtt...


Kembali ponsel Dira berdering. Dengan segera ia melihat siapa yang telah menghubunginya namun nomornya tidak ia kenal, tapi karena penasaran akhirnya Dira mengangkat panggilan tersebut.


"Halo. Assalamualaikum,,"


Ucap Dira pelan namun tiba-tiba air matanya jatuh menetes setelah mendengar suara dari seseorang yang menghubunginya di seberang sana.


"Ma Mas Galih"


Ucap lirih Dira dengan air mata yang kembali membasahi pipinya dengan suara terisak hingga keluar kamar mereka yang tidak tertutup rapat.


Sementara sang Ustad yang baru saja selesai mengerjakan sholat subuhnya terdiam mematung di balik pintu kamar mereka saat tidak sengaja dirinya mendengar suara Dira yang menyebutkan nama laki-laki lain yang tidak lain adalah mantan calon suaminya dahulu.


Ustad Sidiq merasa binggung apa yang harus ia lakukan saat ini beristigfar sudah pasti terus terucap di bibir dan hatinya karena rumah tangganya yang baru memasuki tiga hari sudah mendapat cobaan.

__ADS_1


Atau bersyukur mengetahui seseorang yang telah selamat menjalankan tugas negaranya.


__ADS_2