
Selesai menonton bioskop mereka mampir ke Mall dengan alasan Dira yang ingin makan ayam tepung krispi.
Padahal langsung beli di gerai makanannya pun bisa.
Ya namanya saja sekali mendayung dua tiga pulau terlewati.
Dan benar saja tangan Dira sudah penuh dangan papper bag belanjaannya.
"Makasih ya Kak uda belanjain aku"
Ucap Dira sambil tersenyum secerah matahari.
"Hmmm... Uda senang kamu morotin Kakak?"
"Ckk.. Apa sih kak. Jadi ga ikhlas ne ceritanya?"
Dengan wajah Dira yang pura-pura sedih.
"Kalau ga ikhlas ga mungkin Kakak belikan. Kamu ini yaa iikkhhhhh"
Dengan gemas Kak Razak mengacak rambut Dira.
"Kaaaak. Senang banget sih ngacak rambut aku. Kan jadi berantakan niih"
Ucap Dira dengan memanyunkan bibirnya kesal.
"Kalau kaya gini mirip bebeknya Bude Jum hahahah"
Ucap Kak Razak mengejek Dira sembari berjalan cepat.
Bude Jum adalah kakaknya dari Ayah yang merupakan peternak bebek.
"Enak aja kakak bilang aku mirip bebeknya Bude Jum. Awas kamu ya Kaaak"
Dira segera menyusul Kak Razak yang sudah jalan di depan sambil tertawa senang karena sudah berhasil membuat adik kesayangannya kesal.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Seberkas harapan selalu muncul pada setiap insan yang bernyawa. Keyakinan dan kegigihan selalu menjadi semangat untuk memulai menjalani hari.
Senen pagi selalu di sibukkan dengan kegiatan masing-masing di rumah dua tingkat tersebut.
Kak Razak yang baru pulang dari olahraga paginya tampak lelah dengan keringat yang membasahi kaos tanpa lengannya. Memamerkan otot-otot bisep dan trisepnya yang tampak hoots.
"Kaak, antarin Dira ya"
Ucap Dira sambil mengoles selembar roti dengan selai coklat favoritnya.
"Jangan manja Dek. Berangkat aja sendiri"
Jawab Kak Razak sambil mengunyah sebuah apel.
"Ckk.. Kakak ga tau ya minggu kemaren mobil Dira di tabrak orang dari belakang"
Sambil memasukkan roti kemulutnya.
Sejenak Kak Razak menghentikan makannya dan menoleh kearah Dira.
"Kok bisa? Gimana ceritanya? Tapi kamu gapapa kan?"
"busseeett.. Nanyanya satu-satu Pak"
"Hmmm.. Cepat jelaskan maksud kamu tadi apa?"
"Minggu kemaren waktu Dira nyetir tiba-tiba ada kucing hitam lewat. Karena kaget ya Dira ngerem mendadak. Eh rupanya mobil di belakang Dira malah nabrak belakang si merah.
Tapi ya Kak, (memasukkan kembali roti kemulutnya) Kata orang kalo nabrak kucing hitam kan bakalan sial. Eh ini malah untung Dira Kak"
Cerita Dira dengan semangat empat lima.
"Di tabrak kok malah untung sih?"
__ADS_1
"Iya, mas-masnya baik ngasih uang ganti rugi 5jt. Padahal penyot dikit pun. Malahan mobil dia yang parah"
"Hmm gitu.. Laen kali hati-hati ya nyetirnya"
"Iya Kak. Mangkanya sekarang Kakak anterin Dira ya, sekalian Dira kenalin sama teman-teman Dira kalih aja ada yang nyantol di hati Kakak kan hehehe"
Ucap Dira dengan menaik-turunkan alis matanya.
"Ck.. Emang ya kamu ini. Tunggu bentar Kakak mandi dulu"
Mulai beranjak dari kursinya menuju kamar.
"Siap komandan"
Dengan wajah Dira yang aahh gitulah pokoknya.
Di dalam Bank Dira mulai bekerja seperti biasa. Dira yang berada di posisi Cs mendapat telpon dari atasannya bahwa akan ada utusan dari Pesantren yang akan datang melakukan program beasiswa ke Kairo.
"Sebelah sini Ustad"
Ucap Pak Bambang security Bank yang mengarahkan seorang pria dengan peci hitam di kepalanya.
"Mbak Dira ini utusan Pesantrennya ya"
"Oh iya Pak. Terimakasih"
Yang di balas anggukan oleh Pak Bambang.
"Silahkan duduk Pak"
Ucap Dira ramah.
Dengan segera pria tersebut duduk namun terlihat jelas dia sangat menjaga pandangannya dengan lebih banyak menunduk atau melihat ke arah vas bunga yang berada di belakang Dira.
"Ada yang bisa saya bantu pak"
"Begini Mbak, saya dari Pesantren xxxx ingin mengurus program beasiswa ke Kairo"
Dengan segera pria tersebut mengeluarkan beberapa map dari tas tentengnya.
Dengan sopan Dira meraihnya lanjut memasukan data dan menyelesaikan semua prosedurnya.
"Baik Pak akan saya jelaskan kembali. Disini sudah terdaftar 5 orang yang mendapat beasiswa. Ini buku dan kartu debitnya sudah bisa di pakai setelah pihak Pesantren memasukan dananya"
Ucap Dira dengan ramah dan sopan. Namun pria tersebut lebih fokus kepada beberapa buku tabungan yang Dira sodorkan bahkan tidak melihat ke arahnya.
Eh sebentar. Kok kayak pernah liat ne muka yah' pikir Dira yang terdiam sejenak.
"Oh iya terimakasih Mbak"
Ucap pria tersebut membuyarkan lamunan Dira.
"Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak Mbak sudah semua. Sekali lagi terima kasih"
Mulai beranjak dari kursinya.
"Tunggu sebentar"
Ucapan Dira menghentikan pria tersebut.
"Iya Mbak ada apa?
Menatap ke arah Dira sejenak lalu menundukkan kembali pandangannya.
'Kan benar ini orangnya'
"Mas yang waktu itu nabrak saya dari belakang kan?"
Sontak pria tersebut menatap Dira lagi.
__ADS_1
Deg.
"Astagfirullahal adzim. Ahh iya Mbak"
Kembali menundukkan pandangannya seraya beristigfar di dalam hati karena saat melihat wajah Dira tiba-tiba detak jantungnya berdetak lebih cepat.
"Nama Mas siapa? Kemaren saya belum bilang terima kasih"
"Muhammad Sidiq"
"Oh Mas Sidiq. Terimakasih ya"
Ucap Dira dengan tersenyum manis.
"Iya Mbak. Kalau begitu saya permisi Assalamualaikum"
"Iya Mas, Wa'alaikumsalam"
Dira pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Melayani para nasabah dengan sepenuh hati.
Sementara Ustad Sidiq yang baru saja keluar dari Bank masih beristigfar di dalam hati.
Entah mengapa jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sebulan kemudian.
Seorang gadis cantik dengan menggunakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak serta sepatu snekers putih sudah berdiri di kedatangan Bandara Sultan Syarif Kasim untuk menunggu kedatangan kekasih hatinya.
Dialah Dira yang dengan senyum manisnya melihat dari kejauhan seorang pria bertubuh tinggi tegap menggunakan pakaian kasual tersenyum tipis ke arah Dira.
Hap.
Dira memeluk erat tubuh Mas Galih.
"Sayaangg.. Dira rindu"
Ucap Dira manja.
"Iya Mas juga rindu. Ini oleh-oleh buat kamu"
Sambil menyerahkan sebuah papper bag.
"Makasih sayaangg.. yok pulang"
Ucap Dira seraya tersenyum secerah matahari.
Sesampainya di rumah Mas Galih mereka makan makanan yang sempat di beli terlebih dahulu. Di dalam rumah cuma ada mereka berdua, kedua orang tua Mas Galih masih di luar menghadiri undangan Pak Rw.
Selesai makan mereka beralih ke ruangan tengah dimana ruangan itu selalu di pakai untuk berkumpul keluarga dan menonton televisi.
"Sayang kamu pasti lelah yaa setelah perjalanan jauh? Dira pulang saja ya"
Ucap Dira sembari mengusap kepala Mas Galih yang berada di atas pahanya.
"Kenapa pulang? Katanya rindu. Disini saja temani Mas lagian Mas gak capek tuh"
Jawab Mas Galih menatap wajah Dira yang tepat berada di atasnya.
"iya Dira rindu, tapi.....
Cup.
Bibir itu sudah membungkam Dira hingga beberapa saat.
"Sayang. Kita nikah yok. Mas takut kehilangan kamu, Mas sangat mencintaimu Dek"
Ucap Mas Galih sambil mengusap pipi Dira.
Deg.
__ADS_1
Semburat merah muncul di wajah Dira. Dia tidak menyangka akan di lamar secepat ini. Rasa cinta dan rindunya yang besar terhadap Mas Galih sehingga Dira menganggukan kepalanya tanda setuju.