
Ustad Sidiq lebih memilih diam saja meskipun ia mengetahui apa yang baru saja terjadi.
Ustad Sidiq menatap wajah Dira yang sedari tadi menunduk, bahkan makanan di piringnya hanya di aduk-aduk saja oleh Dira.
"Dek, makanannya tidak enak ya? Kenapa cuma di aduk-aduk saja?"
Ucap Ustad Sidiq menatap Dira.
"Dira belum lapar Mas. Emm Mas, Dira ingin bicara sesuatu"
Ucap Dira mencoba menatap suaminya meskipun sedikit ragu tapi ia harus menyampaikan ini.
"Iya Dek, bicaralah"
Ucap Ustad Sidiq dengan senyuman di bibirnya menatap Dira.
"Eemm.. Mas tahukan kalau sebelumnya calon suami Dira di kabarkan meninggal dunia? Tapi itu tidak benar Mas, ternyata Mas Galih sekarang masih hidup. Mas,,"
Dira sejenak menjeda ucapannya.
"Mas, Dira masih mencintai Mas Galih hiks hiks hikss,, "
Ucap Dira dengan terisak sambil menundukan wajahnya tidak berani menatap sang suami.
'Astagfirullahal adzim'
Ustad Sidiq beristigfar di dalam hatinya mendengar ucapan Dira yang masih mencintai lelaki lain. Sedangkan dirinya sudah mulai mencintai Dira.
Sakit. Sungguh sakit sekali rasanya mendengar pengakuan jujur Dira tersebut.
Ustad Sidiq hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Dira barusan. Bahkan Ustad Sidiq tetap melanjutkan makannya meski teramat sulit rasanya untuk bisa menelan.
"Mas, maafkan Dira. Apa Dira boleh bertemu dengan Mas Galih?"
Ucap Dira mencoba menatap sang suami.
Ustad Sidiq pun menghentikan makannya, rasanya sudah tidak berselera lagi melanjutkan makan tersebut.
"Boleh, tapi Mas yang akan menemani Adek bertemu dengannya. Adek tahukan seorang wanita yang sudah bersuami bila bertemu dengan laki-laki yang bukan mukhrimnya dan duduk berdua saja bisa mengundang fitnah bila ada orang yang melihatnya"
Ucap Ustad Sidiq tetap tenang meskipun di dalam hatinya ada sedikit ketakutan bila Dira akan kembali lagi kepada mantan tunangannya.
'Astagfirullahal adzim'
Ustad Sidiq tak henti-hentinya beristigfar di dalam hatinya.
"Iya, baiklah Mas"
Ucap Dira dengan pelan.
Setelah mendapat kabar bahwa Mas Galih telah kembali ke Pekanbaru akhirnya mereka bertemu di sebuah Cafe.
Senyum di bibir Mas Galih mengembang saat melihat Dira muncul di balik pintu, meski sedikit kaget dengan penampilan Dira yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Dira yang dahulu.
__ADS_1
Dira tersenyum menatap lelaki yang kini ada di depannya dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi olehnya. Rasa rindu yang teramat dalam Ingin sekali Dira memeluk erat lelaki tersebut. Tapi Dira ingat bahwa kini statusnya telah berbeda. Hingga Dira hanya menarik kursi kosong di depan Galih.
Ustad Sidiq yang telah selesai memarkirkan kendaraannya pun ikut bergabung duduk di meja persegi tersebut.
Disinilah duduk tiga orang tersebut dengan pikirannya masing-masing.
Dira terdiam dengan kedua tangan yang saling meremas kuat di bawah meja. Dira sunguh bingung berada di antara dua lelaki yang saling beradu tatap saat ini.
Dira masih sangat mencintai Mas Galih seorang pria yang tiga tahun telah menjalin hubungan dengannya meskipun berhubungan jarak jauh namun rasa cinta di hatinya sangat besar terhadap lelaki tersebut.
Dira juga tidak bisa memungkiri dirinya yang merasa nyaman berada di dekat Ustad Sidiq. Seorang lelaki yang tidak ia kenal dengan beraninya datang untuk menikahinya, lelaki yang penuh kesabaran dan lemah lembut, lelaki yang tiga hari ini telah Sah menjadi suaminya.
Ustad Sidiq dapat melihat jelas betapa gagahnya lelaki yang berada di depannya, seorang lelaki yang di cintai oleh istrinya.
Ustad Sidiq tak henti-hentinya beristigfar di dalam hatinya dan mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum.
Sedangkan Galih masih bertanya-tanya di hatinya siapakah lelaki yang duduk di sebelah calon istrinya. Dengan wajah yang bersih meski tidak setampan dan segagah dirinya namun wajahnya yang tenang dengan tetap tersenyum membuat orang bisa menilai sendiri bahwa ia adalah lelaki baik.
Suara musik di dalam Cafe semakin membuat Dira merasa galau.
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
"Antara nyaman dan cinta"
Jujur aku akui ini salah
Tapi sungguh ku tak bisa bohongi rasa
Antara nyaman dan cinta
Aku tak mengerti menahan hati
Jujur separuh hati ini t'lah dimiliki
Tanya hati, mengapa begini?
Antara nyaman dan cinta
Sungguh ku dilema
Harus memilah hati 'tuk siapa
Kumencintaimu
Tapi kunyaman dengannya.
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
"Sayang dia siapa?"
Ucap Mas Galih menatap Dira lekat memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Dira sungguh tidak bisa menahan air matanya yang terus membasahi pipinya saat ini.
__ADS_1
"Mmas,, Hikss hikss"
Ucap Dira membuat dua orang pria tersebut menatap Dira lekat.
"Mas Galih, dia Ustad Sidiq dia,, dii ddiaa suami dira Mas, hikss,, hiikss,,"
Ucap Dira dengan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Galih.
"Jangan bercanda Dek. Adek tahukan pernikahan kita tinggal dua hari lagi.
Adek tahu Mas berusaha menyelamatkan diri di tengah-tengah hutan dengan selalu memikirkan Adek. Mengingat pernikahan kita yang sebentar lagi terlaksana.
Adek tahu, berhari-hari Mas di hutan memakan dedaunan liar hanya untuk bertahan hidup. Setiap kali Mas ingin menyerah Mas selalu ingat wajah Adek yang memanggil-manggil Mas.
"Ayo sayang sedikit lagi kamu pasti kuat" Kata-kata itulah yang selalu muncul di kepala Mas Dek. Jadi Mas mohon Adek jangan bercanda seperti ini, ini sungguh tidak lucu Dek"
Ucap Galih menatap Dira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dira semakin terisak mendengar semua kata-kata dari Galih.
Sedangkan Ustad Sidiq hanya diam saja namun di dalam hatinya tidak henti-hentinya beristigfar seraya menggucap nama Allah meminta kekuatan dan ketenangan hati berada di antara istri yang ia cintai dan masa lalu istrinya.
"Dira tidak bercanda Mas. Pernikahan kami baru tiga hari. Setelah Dira mendapat kabar bahwa Mas Galih telah meninggal dunia Dira stres dan hampir frustasi mengingat pernikahan kita yang seminggu lagi di laksanakan. Sehingga ayah meminta nasehat Pak Kiai. Namun saat itu Ustad Sidiq mendengarnya lalu mengkhitbah Dira hingga tiga hari yang lalu kami melangsungkan pernikahan Mas"
Ucap Dira menatap wajah Galih dengan air matanya yang menetes.
"Astagfirullahal adzim"
Hanya kalimat itu yang terdengar keluar dari mulut Galih, Dira dapat melihat air mata Galih yang turun dari sudut matanya dengan cepat Galih mengusapnya dan menundukan kepala, memijit pelipis kepalanya dan menutup wajahnya yang tampak memerah menahan rasa yang teramat menyesakkan di dada.
Ini adalah pertama kalinya Dira melihat Mas Galih menangis di depannya.
Sungguh Dira tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini.
Suasana kembali hening di antara mereka bertiga.
Hingga Galih kembali menegakkan badannya dan mengulurkan tangan ke arah Ustad Sidiq.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, saya mohon, tolong jaga Dira baik-baik, bila anda sudah tidak mengingkannya tolong jangan sakiti dia, beri tahu saya. Saya yang akan menjemputnya kembali"
Ucap Galih menatap lekat mata Ustad Sidiq.
"Terimakasih atas ucapannya. Insyaallah saya akan selalu menjaga dan menyayangi Dira. Dan Insyaallah saya juga tidak akan menyakiti dan melepaskannya kecuali ajal saya yang menjemput"
Ucap Ustad Sidiq dengan tenang.
Dira sungguh tidak percaya mendengar dua laki-laki yang sedang berjabat tangan tersebut menyebut namanya dengan saling bertatapan.
"Kalau begitu saya permisi"
Ucap Galih segera beranjak meninggalkan Dira dan Ustad Sidiq.
Galih tidak kuat lagi berada lebih lama dengan rasa yang menyesakkan di hatinya menatap orang yang ia cintai telah menikah dengan lelaki lain.
__ADS_1