
Suara adzan subuh tidak membuat Dira tergerak bangun sedikitpun. Sementara Ustad Sidiq telah siap dengan baju Koko dan kain sarungnya.
"Subhanallah,, Deekk bangun itu suara adzannya tidak kedengaran ya?"
"Hmmm,,,
Dira tidak bergerak sedikit pun rasa kantuknya yang masih kuat membuat matanya masih setia untuk terlelap.
"Deekk bangun ayo sholat subuh Dek"
Ucap Ustad Sidiq lagi dengan menggoyang-goyangkan bahu Dira.
"Nanti saja Mas, Dira masih ngantuk"
Ucap Dira dengan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Ya Allah tidak sayang. Ayo bangun sholat dulu nanti tidur lagi"
Lanjut menggoyang-goyangkan bahu Dira.
"Iya Mas iyaaa. Ne Dira bangun"
Dengan menghentakan kakinya Dira berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.
Sementara Ustad Sidiq yang mendengar sholat berjamaah di mesjid sudah di mulai. Tidak terkejar rasanya bila menunggu Dira yang baru masuk ke dalam kamar mandi.
Sehingga Ustad Sidiq lanjut menggelar sajadah untuk dirinya dan Dira serta kembali menyiapkan mukenah untuk sang istri.
Cklaak..
Tampak Dira keluar dengan wajah yang masih basah dengan segera Dira mengeringkan wajahnya dan berjalan mendekati sang suami.
Menerima uluran mukenah dan memakainya.
"Kenapa cemberut sih Dek?"
Ucap Ustad Sidiq menatap Dira.
"Gak ada"
Jawab Dira acuh dan segera berdiri di atas sajadahnya.
"Astagfirullahal adzim"
Ustad Sidiq hanya geleng-geleng kepala menatap Dira dan lanjut membalikan tubuhnya mengambil posisi tepat di atas sajadah untuk memulai mengerjakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat subuh Ustad Sidiq kembali menyimak kaji Dira. Masih ada beberapa makhroj huruf yang salah. Hingga sang Ustad memberi contoh yang benar dan langsung di ikuti oleh Dira.
Sebenarnya cara membaca Al-Quran Dira tidak terlalu buruk hanya ada beberapa yang perlu di koreksi lagi oleh sang suami hingga cara membacanya menjadi benar.
"Adek hafal surah Al-Qori'ah?"
Ucap Ustad Sidiq menatap sang istri.
Sedangkan Dira hanya terdiam saja.
"Kok diam sih Dek?"
"Dulu waktu sekolah hafal Mas, sekarang sudah lupa"
__ADS_1
"Subhanallah, kalau begitu Adek hafal ulang lagi ya, besok setoran sama Mas"
"Hmmm..."
Jawab Dira dengan malas.
"Yasudah,, Adek mau kembali tidur?"
"Gak, ngantuknya uda hilang"
"Alhamdulillah, Adek mau bantu Mas bersih-bersih rumah yaa?? Atau mau memasak sarapan? Masyaallah baiknya istri Mas ini"
Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira dengan senyum tanpa dosa.
Sedangkan Dira sudah bersungut kesal di dalam hati.
'Ya Allah masih pagi juga udah mancing emosi, mana pakek senyum-senyum segala, wajahnya ituloh kayak gak berdosa, Uuhh mana tidurku tadi terganggu kan. Tapi maafkan hamba Ya Allah hamba ikhlas kok menjalankan semua ibadah ini'
Setelah melipati mukenahnya Dira turun ke bawah berjalan menuju dapur. Dira melihat sapu di sudut ruangan. Iya bingung mau bersih-bersih atau memilih memasak sarapan.
Dira melihat sekeliling rumahnya yang besar. Pasti sangat melelahkan bila ia memilih membersihkan rumah.
Dengan pelan Dira berjalan menuju lemari pendingin melihat isi di dalamnya.
Tidak begitu banyak sayuran, ada ayam potong, telor dan makanan instan siap saji.
"Hmm,, Masak telor aja deh yang gampang"
Ucap Dira sambil mengeluarkan dua butir telur dan beberapa sayuran.
Kayla memotong-motong sayuran sama seperti yang Umma ajarkan kepadanya.
Dira mengusap matanya yang berair akibat membuka dan mengiris bawang. Sepertinya Dira belum bisa bersahabat dengan duo bawang tersebut.
Sementara Ustad Sidiq sedari tadi memperhatikan semua kegiatan Dira dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Rasa syukur terucap di dalam hatinya menyaksikan sang istri untuk pertama kali berniat memasakan makanan untuknya.
Dira mengambil sebuah mangkok dan memecahkan dua butir telur tersebut. Lalu menambahkan garam dan sedikit penyedap makanan. Kalau hanya menggoreng telor saja Dira bisa karena meskipun manja kalau yang namanya telor Dira sudah khatam lah.
Lanjut Dira mengambil wajan dan menuangkan sedikit minyak setelah dirasa minyaknya panas Dira memasukkan telur yang sudah iya aduk rata ke dalam wajan.
Dira membalikkan telur dengan mudahnya. Setelah dirasa matang Dira lanjut menumis sayuran. Pada saat ingin menambahkan garam Dira sedikit ragu-ragu apakah dengan seujung sendok teh akan terasa, dengan cepat Dira menggelengkan kepalanya lalu menuangkan satu sendok teh penuh garam ke dalam sayurnya.
"Masyaallah harum sekali. Mas jadi lapar. Adek masak apa?"
Ucap Ustad Sidiq setelah membersihkan rumah yang sebenarnya tidak kotor itu.
"Masak tumis sayur dan telor saja Mas"
Jawab Dira tanpa menoleh kepada sang suami.
Dengan rambut yang di cepol asal dan celana setengah paha serta kaos kebesaran andalannya Dira sukses membuat sang Ustad menatap takjub akan kecantikan istrinya tersebut. Meskipun belum mandi namun tubuh Dira tidak bau. Mungkin karena Dira yang rajin merawatnya.
"Taraaaaa sudah selesai"
Ucap Dira menatap makanan yang telah tersaji di atas meja.
"Alhamdulillah, Mas mau mencicipinya"
__ADS_1
Ucap Ustad Sidiq dengan menarik kursi kosong di depan meja makan.
Dengan hati-hati Dira menuangkan nasi yang masih panas ke atas piring. Yah, Dira memang sedikit takut bila mengenai kulitnya. Pasti akan terasa perih akibat panas dan ia takut bila kulitnya tidak mulus lagi.
"Ini Mas"
Dengan menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan telor dadar andalan Dira.
"Alhamdulillah terimakasih istriku"
Ucap Ustad Sidiq dengan tersenyum lebar. Yang di balas anggukan kepala oleh Dira.
Setelah menuangkan segelas air putih untuk sang suami Dira lanjut duduk di depan Mas Sidiq dan mengambil piring, lalu mengisi nasi dan sayur serta telor dadar andalannya.
Setelah membaca doa makan Ustad Sidiq mulai menyuapi makanan kemulutnya.
'Astagfirullahal adzim'
Seraya berucap di dalam hatinya. Namun tetap mengunyah makanan tersebut dan menelannya.
"Bagaimana masakan Dira Mas? Enak gak?"
Ucap Dira menatap wajah sang suami yang sedikit memerah.
"Alhamdulillah enak Dek"
Jawab Ustad Sidiq dengan tersenyum menatap Dira lalu meminum air yang berada di sampingnya.
Setelah mendengar pujian dari sang suami senyum Dira mengembang dan mulai menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
Dira mengunyah makanannya dengan lahap karena ia hanya makan telor dadar dan nasi.
Lalu Dira menyuapi mulutnya lagi dengan sayur tumisnya. Seketika mata Dira melotot sempurna. Dira berjalan cepat menuju wastafel untuk memuntahkan makanan yang berada di dalam mulutnya.
Ustad Sidiq yang menyaksikan ekspresi sang istri hanya bisa menahan tawanya. Iya takut Dira akan marah bila berkata jujur tentang masakannya yang terasa seperti air laut.
"Mas kok bohongi Dira sih? Katanya enak tapi rasanya asin begini"
Ucap Dira dengan wajah memerah menahan rasa asin yang masih tersisa di mulutnya.
"Alhamdulillah emang enak Dek. Karena ini masakan pertama istri Mas. Mas menyaksikan Adek yang bersusah payah memasakannya untuk Mas. Maka Mas dengan senang hati akan memakan masakan Adek"
"Ya Allah,,, Tapi gak gitu juga Mas. Yang ada ntar Mas tensi tinggi. Yaudah sayurnya gak usah di makan. Mas makannya pakek telor aja yah"
Ucap Dira yang langsung mengambil wadah sayur dan menjauhkannya dari Mas Sidiq.
"Iya Dek, Mas akan makan telor saja. Sudah Adek kembali duduk lanjutkan makannya"
"Iya Mas"
Dengan perlahan Dira kembali mendudukan bokongnya.
"Mas maafin Dira ya yang tidak pandai masak"
Ucap Dira yang merasa tidak enak hati menatap sang suami.
"Iya Dek Mas maafin kok. Nanti harus sering-sering berlatih ya, tapi kalau bisa garamnya di kurangi"
Balas Ustad Sidiq dengan tersenyum lembut menatap Dira yang di balas anggukan oleh Dira lalu melanjutkan sarapannya kembali menggunakan telor dadar.
__ADS_1