Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
SAH


__ADS_3

Setelah tamunya pergi. Umma langsung mendekati Ustad Sidiq.


"Nak Umma mendengar ucapan mu yang berniat mengkhitbah putri Bapak Samsul tadi, apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu. Jika kamu hanya iba kepadanya sebaiknya batalkan saja. Terlebih seperti yang di katakan ayahnya bahwa dia tidak berhijab"


Ucap Umma menatap lekat wajah Ustad Sidiq.


"Insyaallah saya ikhlas menerimanya Umma. Saya juga yakin dengan keputusanku ini masalah dia yang belum berhijab insyaallah nanti seteleh menikah akan menggunakan hijabnya"


Jawab Ustad Sidiq dengan yakin. Walau sebenarnya jauh di lubuk hati kecilnya masih sedikit menimbang-nimbang apakah keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik.


"Baiklah nak jika keputusanmu sudah bulat. Semoga Allah meridhoi niat baikmu"


Ucap Umma dengan senyum lembutnya.


"Aamiin,, Terimakasih Umma"


Ucap Ustad Sidiq sembari memeluk Umma.


Sesampainya di rumah Ayah langsung menyampaikan niat baik Ustad Sidiq yang ingin mengkhitbah putri mereka.


Ibu langsung setuju saat mendengar kabar baik tersebut, sedangkan Dira yang sempat menolak, namun Ayah bersikap tegas terhadap Dira agar menerima kenyataan bahwa Galih sudah meninggal.


"Bagaimana ini. Apa aku kabur saja ya, aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak ku kenal dan yang lebih parahnya dia Ustad segala. Haduuhhn bisa di ceramahin tiap hari ne"


Ucap Dira sambil mondar mandir di kamarnya.


"Aku harus minta tolong Kak Razak ne"


Lanjut Dira segera menghubungi nomor Kak Razak.


"Assalamualaikum Dek"


Ucap Kak Razak saat panggilan telah terhubung.


"Hhikss hiksss waalaikumsalam Kak"


Jawab Dira yang mulai terisak


"Kamu kenapa Dek? Kok nangis?"

__ADS_1


"Kaaak, tolongin Dira Kaaakk hikss hikss,,"


"Tolong apa Dek? Kamu kenapa, ngomong yang jelas Dek"


"Hiks hikss,, Ayah, ayah ngejodohin Dira sama Ustad kak. Dira gak mau kak, Dira ga mau menikah dengan orang yang gak Dira cintai. Cinta Dira cuma buat Mas Galih Kak. Dira yakin Mas Galih masih hidup Kak. Mas Galih ga mungkin ninggalin Dira Kak. Tiga minggu lagi kami akan menikah Kaak hikss hikss"


Ucap Dira lirih di iringi isak tangisnya yang membuat Kak Razak merasa semakin prihatin terhadap adiknya tersebut.


"Dek, maafin Kakak yang gak bisa berbuat apa-apa, kamu tahukan Ayah Ibu sangat menyayangimu tidak mungkin Ayah sembarangan ngejodohin kamu Dek, lagian kamu kan di jodohin dengan Ustad, Insyaallah itu jodoh yang terbaik buat kamu, dan cobalah untuk menerima kenyataan bahwa Galih sudah tiada, berlapang dadalah Dek. Ikhlaskan Galih agar dia tenang disana"


Ucap Kak Razak dengan lembut terhadap Dira. Karena Kak Razak tahu bila Dira tidak bisa di keraskan. Menasehatinya harus dengan cara yang lembut.


"Hiks hiksss Kakaaakkkk,, Dira, Dira akan mencoba ikhlas melepaskan Mas Galih Kaak. Tapi tidak semudah itu Kak. Apa lagi semua persiapan pernikah kami sudah rampung"


"Kakak tahu Dek tidak akan semudah itu. Kakak, Ayah dan Ibu kami semua menyayangi kamu dan kami sangat sedih melihat mu yang terus berlarut-larut dalam kesedihan. Terimalah kenyataan dan menikahla dengan Ustad pilihan Ayah Insyaallah itu jodoh yang terbaik untukmu"


"Baiklah Kak Dira akan mencoba menerimanya hiks,, hikss,,"


Setelah panggilan berakhir Dira hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya membayangkan bagaimana kehidupannya yang akan datang dan perlahan membawanya ke alam mimpi.


Setelah sholat subuh dan berdoa meminta petunjuk Allah, akhirnya Ayah langsung mengabari keluarga Pak Kiai tentang keputusan menerima khitbah yang kemaren di sampaikan Ustad Sidiq.


*****


Dira menatap dirinya di depan sebuah cermin.


Kebaya putih dengan hijab panjang menutupi dadanya dengan make up yang tidak terlalu tebal di tambah sebuah mahkota di kepalanya membuat Dira sedikit tertegun.


"Maafkan Dira Mas Galih. Maafkan Dira yang harus menikah dengan orang lain"


Setetes air itu luruh dari sudut matanya.


"Dira, kamu cantik sekali"


Ucap Nisa sahabatnya yang turut menemani Dira di dalam kamar.


Dira hanya tersenyum menanggapi ucapan Nisa.


Dihalaman rumah sudah tiba mobil sang calon pengantin pria dengan di hiasi bunga di depannya. Diikuti jejeran mobil pengiring calon mempelai pria di belakangnya. Seorang pria muda keluar dari mobil di ikuti oleh sanak saudara dari pihak mempelai laki-laki.

__ADS_1


Pria yang menggunakan baju Koko putih dengan kain Songket melilit pinggang serta peci putih dengan hiasan manik-manik menampakan ketampanan beliau.


Kehebohan mulai menyelimuti rumah. Bisik-bisik tetangga mulai bermunculan dari para undangan. Banyak yang mengagumi ketampanan sang calon mempelai pria tersebut di tambah lagi ia yang seorang Ustad muda putra dari Pak Kiai pemilik Pesantren. Semakin membuat para tamu menghormati beliau yang mulai duduk di depan pak penghulu.


"Bagai mana apakah sudah bisa dimulai? "


Ucap pak penghulu memulai acara yang penuh hikmat tersebut. Di jawab anggukan oleh Ayah.


Sementara Dira yang mendengar lantunan ayat suci Al-qur'an semakin mendebarkan jantungnya.


Ditambah sayup-sayup suara pak penghulu yang mulai memimpin prosesi ijab kabul.


"Muhammad Sidiq bin Ahmad Sobirin, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya yang bernama Nadira Baity Nannah binti Samsul dengan mas kawinnya seperangkat alat sholat dan sebuah cincin berlian di bayar tunai.


Ucap Ayah dengan jelas disambut langsung oleh Ustad Sidiq.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Baity Jannah binti Samsul dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"


Dengan sekali tarikan nafas Ustad Sidiq mengucapkan ikrar cintanya di hadapan Allah, malaikat dan saksi serta para undangan.


Sebuah ikatan yang sakral mengoncangkan Arsinya saat berpindahnya tanggung jawab seorang Ayah kepada sang Suami.


Sebagaimana makna yang terkandung di dalam ijab kabul :


"Maka aku tanggung dosa-dosanya dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup auratnya hingga meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengannya, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku. Jika aku GAGAL, maka aku adalah suami yang fasik, ingkar, dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku."


(H.R. Muslim)


Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” QS. Arrum-21


SAH. Ucap para saksi bersamaan diringi ucapan hamdalah dari Ustad Sidiq dan para tamu dilanjutkan dengan doa yang membuat haru kedua keluarga dimana mereka melepas putra putrinya untuk memasuki kehidupan baru mereka.


Dira mulai keluar kamarnya di tuntun oleh sang sahabat Nisa untuk turun ke bawah menuju sang suami yang sudah sah beberapa waktu lalu.


Dira hanya tertunduk sejak keluar kamar tadi. Bahkan tidak ada senyuman di wajah cantiknya. Dira duduk di samping sang suami. menandatangi beberapa berkas dan mulai menghadap ke arah suaminya untuk mencium tangannya.


Sementara Ustad Sidiq senyumnya tidak luntur sedari tadi. Saat melihat sang mempelai wanita turun dan duduk di sampingnya. Hingga tanganya menempel di kening sang istri.


Ustad Sidik lanjut meletakkan tangannya di atas kepala sang istri seraya berdoa setelah itu mengecup kening sang istri untuk yang pertama kali.

__ADS_1


__ADS_2