
Hari ini Dira sangat senang. Senyumnya sedari tadi tidak luntur. Bagaimana tidak, tadi siang acara lamarannya berjalan dengan lancar. Kedua keluarga juga sepakat tiga bulan lagi akan melangsungkan pernikahan kedua putra putri mereka.
Karena acaranya tinggal tiga bulan lagi Dira dan Mas Galih melakukan sesi foto prawedding. Dengan berbagai tema mereka lakukan.
Di lanjutkan dengan memilih WO mana yang akan mereka pakai serta memilih souvenir dan yang paling penting mereka juga melakukan pengajuan nikah kantor dimana Mas Galih adalah salah satu abdi negara jadi hal itu wajib di lakukan.
Tidak terasa tinggal satu bulan lagi pernikahan mereka akan di laksanakan.
Dira yang sedang berselancar di sosial medianya di kagetkan dengan hot news yang muncul di berandanya.
Dimana telah terjadi aksi bom bunuh diri di dekat sebuah Mall yang tidak jauh dari tempat Kak Razak dan Mas Galih bertugas.
Dengan segera Dira menghubungi Mas Galih. Namun nomor nya selalu tidak aktif. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang.
Lanjut Dira menghubungi Kak Razak. Panggilan pertama masuk namun tidak di angkat oleh Kak Razak. Hingga panggilan ke tiga panggilan Dira terhubung.
"Halo Assalamualaikum Kak. Kak, kakak dan Mas Galih tidak kenapa-kenapa kan? Aku baru liat beritanya"
Ucap Dira dengan memburu.
"Waalaikumsalam Dek, kakak tidak apa-apa cuma cedera sedikit di kaki. Tapi Galih sekarang sedang menjalankan tugas.
Jawab Kak Razak yang sedikit lemas terdengar jelas dari suaranya.
Deg.
Dira yang mendengar berita itu perasaannya semakin tidak tenang.
"Kak Dira takut terjadi sesuatu pada Mas Galih. Kakak tahu kan bulan depan pernikahan kami"
Ucap Dira yang mulai terisak.
"Iya Dek, berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan Galih"
"Iya Kak, nanti Dira dan Ayah Ibu akan menyusul ke Aceh.
"Tidak usah dek, disini situasi sedang tidak aman. Kalian tetap di rumah saja, doakan saja Kakak segera pulih dan Galih berhasil dalam tugasnya"
"Hiks,, hiks,,, Iya kak baiklah kalo begitu"
Dengan terisak Dira mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilan berakhir Dira meraih sebuah frame poto yang berada di atas meja dan mengusap lembut wajah Mas Galih dan dirinya yang berada di sana. Seraya berdoa semoga Mas galihnya tidak kenapa-kenapa.
Dua hari kemudian.
Praakkk...
Seketika Dira terbangun dari tidurnya saat mendengar suara benda jatuh. Dan benar saja frame yang berisi dirinya dan Mas Galih terjatuh di lantai. Dengan segera Dira memunggutnya.
"Aahhh,,,"
Jari Dira berdarah terkena goresan kaca frame tersebut.
Deg.
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat cepat. Perasaannya tidak tenang. Dengan segera Dira mencari ponselnya. Baru saja Dira membuka ponselnya.
Braakkk
"Diraaaa... Yang tabah ya naakkk... Yang kuat sayang"
Ucap Ibu yang tiba-tiba masuk ke kamar dan memeluk Dira.
__ADS_1
"Kenapa Ibu? Ada apa?"
Ucap Dira bingung melihat Ibu menangis dalam pelukannya.
"Galih Dira, Galiihh... Hiks,, Hiikss"
Deg.
"Mas Galih kenapa Bu? Mas Galih kenapa?"
Ucap Dira melepaskan pelukan Ibu dan menatap wajah Ibu dengan penuh tanya.
"Mas Galih meninggal nak hikss,, hikkss"
Ucap Ibu kembali memeluk Dira.
Air mata Dira menetes begitu saja.
"Tidak. Tidak mungkin Mas Galih meninggal Ibu. Ibu bercanda iya kan? Tidak mungkin Mas Galih meninggalkan Dira ibu. Bulan depan. Iyah bulan depan kami akan menikah Ibuu,, Ibu jangan bercanda. Gak lucu Buu"
Ucap Dira yang menolak percaya perkataan Ibu.
"Mana ponsel Dira, Dira akan telpon Mas Galih, tidak mungkin Mas Galih ninggalin Dira Ibu pasti bercanda. Haha,, "
Dengan segera Dira menghubungi nomor Mas Galih. Namun tidak aktif.
Dira melihat banyak notifikasi di ponselnya. Begitu banyak ucapan bela sungkawa dari teman-temannya.
Dengan segera Dira mencari berita terbaru dari kasus bom bunuh diri tersebut.
Brrukk..
Ponsel Dira terjatuh.
"Mas Galiiiihhhhhhhhh..."
Awan mendung menyelimuti Dira. Dira sangat syok mendapat berita calon suaminya yang meninggal dunia. Dira menangis dan terus menangis histeris.
Seluruh keluarganya datang memberi semangat dan dukungan untuk gadis cantik tersebut. Namun bagaikan kehilangan arah tujuannya Dira diam membisu, terkadang Dira hanya turun untuk makan tapi lebih sering Ibu yang mengantarkan makan untuk Dira. Dira hanya menangis dan terus menangis di kamarnya.
Seminggu sudah Dira mengurung dirinya di kamar. Bahkan teman-temannya yang datang mencoba menghiburnya tidak mengubah Dira. Dira yang biasanya aktif, manja dan terkadang pecicilan berubah menjadi Dira yang pendiam.
Hingga suatu hari Ayah di temani pakde Jum pergi menemui Pak Kiai Ahmad Assobirin yang kediamannya di dekat Pesantren xxx.
"Assalamualaikum Pak Kiai"
Ucap Ayah dan Pakde Jum setelah sampai di kediaman Pak Kiai.
"Waalaikumsalam,, Silahkan masuk Pak.
Umma, ini ada tamu tolong bawakan minum"
Ucap Pak Kiai kepada istrinya yang sedang menonton televisi di temani putra pertamannya.
"Mari silahkan duduk Pak"
Lanjut Pak Kiai dengan ramah.
"Iya Pak Kiai terima kasih" Yang di balas senyuman ramah oleh Pak Kiai.
"Perkenalkan Pak Kiai ini saudara istri saya namanya Pak Samsul. Monggo pak ceritain sama Pak Kiai"
Ucap Pakde Jum.
__ADS_1
"Begini Pak Kiai. Saya memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Anak perempuan saya ini rencananya akan melakukan pernikahannya tiga minggu lagi. Segala persiapan telah di lakukan. Tapi Allah berkehendak lain, calon suaminya meninggal dunia dalam tugas di Aceh.
Jedah Ayah yang mulai terisak.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun"
Ucap Pak Kiai dengan menundukan kepalanya seraya sedikit berdoa untuk almarhum.
"Anak saya merasa sangat terpukul Pak Kiai. Dia hanya menangis dan terus mengurung diri di kamar. Kami keluarganya sangat sedih dan prihatin melihatnya Pak Kiai. Dia yang biasanya ceria tapi sekarang, hikss,, hikss,, seperti tidak memiliki gairah dalam hidupnya Pak Kiai"
Lanjut Ayah sambil terisak.
"Astagfirullahal adzim. Kalau boleh saya tahu siapa nama putri bapak?
Ucap Pak Kiai menatap iba kepada Ayah.
"Namanya Nadira Baity Jannah Pak Kiai"
Deg.
Seseorang yang sedari tadi menonton televisi namun dapat mendengar juga pembicaraan di depan tiba-tiba ikut keluar dan bergabung.
"Maaf jika saya sedikit lancang. Jika Bapak berkenan ijinkan saya menikahi putri Bapak tersebut"
Ucap pria tersebut yang tidak lain adalah Muhammad Sidiq putra pertama Pak Kiai.
Sontak ketiga orang itu menoleh ke arah Ustad Siddiq.
"Masyaallah niat baikmu nak"
Ucap Pak Kiai ke arah Ustad Sidiq.
"Tapi anak saya itu tidak berhijab Ustad, dia juga sama seperti perempuan pada umumnya bukan lulusan pesantren atau taat ibadahnya"
Ucap Ayah menatap Ustad Sidiq.
"Bagaimana nak. Apa kamu yakin dengan niat baikmu tersebut?
Ucap Pak Kiai kepada Ustad Sidiq"
"Insyaallah saya yakin Abi. Walaupun saya belum mengenal putri Bapak ini tapi Insyaallah niat baik saya Lillahi ta'ala semua karena Allah"
Ucap Ustad Sidiq dengan mantap.
"Masyaallah. Bagaimana pak. Apakah bapak menerima khitbah putra saya?"
Ucap Pak Kiai menatap Ayah dengan senyumannya yang teduh.
"Masyaallah, Alhamdulillah Pak Kiai dan Ustad saya sangat senang sekali mendengar nak Ustad ingin mengkhitbah putri saya, namun saya belum bisa menjawab sekarang. Saya harus mendiskusikan ini terlebih dahulu dengan istri dan anak saya Pak"
Ucap Ayah dengan tenang. Ayah sungguh tidak menyangka niat awalnya yang ingin meminta saran dan nasehat Pak Kiai malah mendapat khitbah dari putranya Pak Kiai.
"Baiklah Pak. Saya akan menunggu kabar baiknya. Dan kalau memang khitbah saya di terima. Insyaallah dua minggu lagi saya akan menikahinya. Agar putri Bapak tidak sedih berlarut-larut karena tiga minggu lagi tanggal pernikahannya dengan almarhum"
Ucap Ustad Sidiq mantap.
"Masyaallah. Baiklah nak saya akan segera menghubungi Pak Kiai dan Nak Ustad tentang jawaban kami. Kalau begitu kami pamit pulang dulu"
Ucap Ayah dengan senyumannya.
"Iya Pak. Kami tunggu kabar baiknya"
Jawab Pak Kiai.
__ADS_1
"Iya Pak Kiai. Assalamualaikum"
Sembari menyalami Pak Kiai dan Ustad Sidiq lalu meninggalkan rumah Pak Kiai.