Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Teringat Mas Galih


__ADS_3

Dua puluh menit perjalanan Dira sudah melihat pagar "Selamat Datang" di Pesantren X, tidak terlalu jauh dari pagar sudah terlihat beberapa bangunan luas bertingkat dua dengan beberapa ukiran bertulisan Arab yang Dira sendiri tidak tahu artinya.


Semakin dekat Dira melihat beberapa anak laki-laki ada yang sedang membersihkan pekarangan dan ada juga yang duduk bersama-sama di bawah pohon sambil memegang Mushaf terlihat seperti sedang menghafal.


Ustad Sidiq membelokkan kendaraannya ke arah kanan. Terlihat bangunan bertingkat dua lebih kecil dari bangunan bertulisan Arab tadi. Dan benar saja Ustad Sidiq menghentikan kendaraannya tepat di depan bangunan tersebut.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Ayo Dek turun kita sudah sampai"


Ucap Ustad Sidiq menoleh ke arah Dira dengan senyuman lembutnya yang bahkan jika dilihat lebih lama sangat manis.


"Iya Mas, ini buah-buahan dan kudapannya langsung dibawa?"


Ucap Dira melirik beberapa buah dan makanan kecil yang yang sempat mereka beli terlebih dahulu sebelum sampai ke Pesantren.


"Iya Dek, bawa saja sekalian, sini Mas bantu bawanya"


Ucap Ustad Sidiq membawa setengahnya.


Dengan sedikit kerepotan Dira membenahi pakaiannya dan mematut dirinya di depan kaca mobil sambil memegang kudapannya.


'Okeh perfek'


Dira menyusul di belakang Ustad Sidiq yang sudah berjalan di depan.


"Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq di depan pintu yang tidak tertutup.


"Waalaikumsalam, Masyaallah anak Umma sudah datang ya"


Ucap Umma yang langsung keluar dan memeluk Ustad Sidiq dan menoleh ke arah Dira.


"Assalamualaikum Umma"


Ucap Dira yang langsung mencium tangan Umma.


"Waalaikumsalam, ayo masuk ke dalam nak"


Jawab Umma dan langsung menggiring Dira ke dalam kediamannya yang di susul Ustad Sidiq dari belakang.


"Ini Umma ada sedikit buah dan kudapan buat Umma"


Ucap Dira menyerahkan tentengan di tangannya.


"Masyaallah Umma terima ya, lain kali ga perlu repot-repot ya nak"


Ucap umma menerima tentengan di tangan Dira dan meletakkannya di atas meja sedangkan Dira masih tersenyum.


Entah mengapa melihat Umma tersenyum Dira jadi merindukan ibunya.


Seperti itulah kebanyakan anak jaman sekarang.


Bila berada dekat dengan orang tuanya sering bertindak acuh dan bila sudah jauh baru merasakan rindu. Bersyukurlah jika kita masih memiliki orang tua yang lengkap. Sayangi dan hormatilah mereka. Karena di luar sana banyak juga yang sudah tidak memiliki kedua orang tua. Rindu yang terus menggunung, hanya bisa memandang gambarnya dan mengirimi Alfatiha untuk mengobati sedikit kerinduan tersebut.


"Umma, Abi dimana tidak kelihatan sepertinya?


Ucap Ustad Sidiq membuyarkan lamunan Dira.


"Abi pergi ke dusun sebelah nak, ada kajian rutin seperti biasa"

__ADS_1


Ucap Umma menoleh ke arah Ustad Sidiq.


"Kamu mau minum apa nak?"


Ucap umma ke arah Dira dengan seutas senyum ramah milik Umma.


"Hmm ga usah Umma, Dira belum merasa haus"


Ucap Dira dengan senyumnya. Sebenarnya Dira masih canggung berada di rumah umma.


"Yasudah kalian istirahat lah dulu di kamar, pasti lelah kan abis perjalanan jauh. Nak bawalah istrimu ke atas"


Ucap umma yang melihat Dira seperti tidak nyaman.


"Iya Umma. Ayo Dek istirahat di kamar saja"


Ucap Ustad Sidiq membimbing tangan Dira menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Cklaakk...


"Assalamualaikum"


Ucap Ustad Sidiq saat memasuki sebuah kamar di lantai dua.


Dira mengikuti masuk dari belakang dan melihat sekeliling kamar yang tidak terlalu luas tersebut dengan nuansa warna putih.


Terdapat beberapa buku yang tersusun rapi dan ada juga beberapa pajangan piagam penghargaan.


"Dek, kemarilah"


Ucap Ustad Sidiq menepuk ranjang sebelahnya.


"Ada apa Mas?"


"Bukalah kerudungmu"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira.


Dengan perlahan Dira membuka kerudungnya dan menggantungkannya di dekat lemari dan kembali duduk di dekat sang suami.


"Eehh... "


Kaget Dira saat Ustad Sidiq tiba-tiba berbaring di pangkuannya. Menjadikan paha Dira sebagai bantalannya.


"Kepala Mas berat tidak Dek?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira lurus kedepan.


"Sedikit hehe"


Ucap Dira karena sebenarnya dia merasa canggung sekali. Apa lagi saat ini tanggannya di tarik oleh sang suami dan meletakkan di atas kepalanya sembari mengusap-usap lembut.


Deg.


Tiba-tiba jantung Dira berdetak kuat. Dira teringat dengan Mas Galih mantan calon suaminya dulu yang suka sekali tidur di pangkuannya seperti ini.


Air mata Dira sudah mulai membendung di ujung matanya, hanya dengan sekali kedip langsung tumpah membasahi pipinya.


"Maaf"

__ADS_1


Ucap Dira langsung beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam kamar Ustad Sidiq.


Dira sudah tidak bisa menahan air matanya, dadanya terasa sesak hingga Dira memukul-mukul dadanya. Mengingat kembali tentang Mas Galih sama saja membuka kembali luka di hati Dara.


"Sangat sulit melupakan semua tentangnya, Ya Allah kuatkan hamba"


Ucap Dira sambil memukul kembali dadanya. Empat hari lagi adalah hari pernikahannya dengan Mas Galih. Bagaimana Dira bisa melupakan semua itu dengan mudah.


Tok.. Tokk.. Tookkk...


"Dek, Adek kenapa? Kok lama sekali di dalam?"


Ucap Ustad Sidiq dari luar.


Dengan segera Dira menghapus air mata yang terus mengalir. Membasuh wajahnya untuk menghilangkan sisa air matanya.


"Iya sebentar Mas"


Ucap Dira dari dalam kamar mandi.


Cklaak.


"Adek tidak apa-apakan? Apa perutnya sakit lagi?"


Ucap Ustad Sidiq mengusap lembut pipi Dira. Ia tahu istrinya habis menangis di dalam sana, terlihat jelas dari matanya yang masih merah dan wajah sembabnya.


Dira hanya menganggukan kepala, terlalu enggan untuk menjawab apa lagi mengeluarkan isi hatinya sungguh tidak mungkin rasanya.


"Berbaringlah Dek, istirahat dulu. Mas akan ke bawa mengambilkan air hangat ya"


Ucap Ustad Sidiq membantu Dira berbaring dan segera turun ke bawah.


Air mata Dira kembali menetes. Bahkan kini Dira sedang terisak sambil memeluk guling di sebelahnya. Bagaikan sebuah kaset yang di putar Dira teringat kembali akan semua kenangannya bersama Mas Galih mantan calon suaminya yang meninggal dalam tugas bahkan Dira tidak bisa melihat jasatnya untuk yang terakhir kali.


Cklaakk..


"Astagfirullahaladzim. Sakit sekali ya Dek perutnya?"


Ucap Ustad Sidiq setelah masuk ke dalam kamar.


Dira kembali mengganggukan kepalanya. Sebenarnya bukan perutnya yang sakit tapi hatinya yang sakit. Tapi bertepatan dengan tamu bulanannya yang pernah kambuh. Dengan alasan itulah Dira bisa menutupi luka hatinya.


"Ini Dek minum dulu airnya, setelah itu tempelkan ini keperut Adek"


Ucap Ustad Sidiq memberi segelas air dengan segera Dira duduk dan meminumnya lalu kembali mengambil botol yang berisi air hangat lalu di tempelkan ke perutnya.


"Terima kasih Mas"


Ucap Dira yang di balas anggukan oleh Ustad Sidiq.


"Adek istirahatlah agar segera pulih atau kita berobat saja ya"


Ucap Ustad Sidiq menatap iba kepada istrinya yang memegang perut dengan air mata yang menetes.


"Tidak perlu Mas, Dira mau tidur saja sebentar boleh kan Mas?"


Ucap Dira menatap sang suami sendu.


"Iya Dek tidurlah. Mas akan kebawah sebentar"

__ADS_1


Ucap Ustad sidiq yang di balas anggukan oleh Dira dan memejamkan matanya.


Setelah melihat sang istri yang memejamkan matanya Ustad Sidiq segera beranjak keluar dari kamar.


__ADS_2