
Setelah menyalami Umma dan Abi Ustad Sidiq dan Dira berjalan menuju mobilnya. Rencananya mereka akan kembali ke rumah setelah seharian berada di rumah Umma.
"Assalamualaikum Ustad"
"Waalaikumsalam Ustadzah Aisyah"
Jawab Ustad Sidiq dengan ramah, meski tidak menatap wajah Ustadzah Aisyah namun entah mengapa Dira merasa tidak nyaman bila Ustadzah Aisyah menyapa suaminya.
"Eh Ustadzah Aisyah yah, ada apa Ustadzah?"
Ucap Dira to the point.
"Iya mbak, saya ingin bertemu dengan Shafa. Shafa mengabari saya kalau ia telah kembali ke rumah"
Ucap Ustadzah Aisyah menatap Dira.
"Ooh kirain ada apa. Langsung saja Ustadzah ke rumah Pak Kiyai ya, kami mau kembali ke rumah, Assalamualaikum Ustadzah"
Ucap Dira yang langsung menggandeng tangan Ustad Sidiq dengan tersenyum menatap Ustadzah Aisyah dan langsung melenggang pergi menuju mobil mereka.
"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarrokatu"
Ucap Ustadzah Aisyah pelan menatap punggung yang semakin menjauh darinya.
******
"Dek"
"Iya Mas?"
"Maaf kalau Mas menegur Adek, tapi sikap Adek tadi tidak sopan loh terhadap Ustadzah Aisyah"
"Owh Dira gak sopan ya Mas? Jadi yang sopan itu bagaimana? Dengan berkata lembut kepada wanita yang tersenyum dan mencoba merayu suami orang? Begitu Mas?"
Ucap Dira yang mulai terbawa emosi saat Ustad Sidiq menyebut nama Ustadzah Aisyah, mengingatkannya dengan perkataan Shafa tadi jika dirinya tidak pantas bila di sandingkan dengan Ustad Sidiq, di bandingkan dengan Ustadzah Aisyah yang jauh lebih baik di bandingkan dengan dirinya.
"Dek, dengar dulu kata-kata Mas, Ustadzah Aisyah tadikan hanya menyapa dengan mengucapkan salam dan Mas membalas salamnya, bukan dia berniat merayu Mas"
"Owh begitu ya Mas, ya Dira yang salah Mas, dan Ustadzah Aisyah yang benar. Kalau begitu kenapa Mas tidak menikah denganya saja kenapa malah menikahi Dira bukannya dia yang jauh lebih baik di bandingkan Dira"
Ucap Dira masih dengan rasa kesal di hatinya.
__ADS_1
Ckiiiitttt...
Dengan reflek Ustad Sidiq menekan rem kendaraannya.
"Astagfirullahal Adzim dek, kenapa Adek seperti ini? Kenapa jadi marah-marah begitu tidak baik loh. Ngucap Dek 'Astagfirullahal Adzim' jangan biarkan amarah menguasai hati dan pikiranmu karena sesungguhnya syaiton sangat menyukai orang yang sedang di kuasai dengan amarah. Dan masalah kenapa Mas memilih menikahi Adek bukannya Ustadzah Aisyah karena--"
"Karena kasihan kan? Iya kan Mas, jujur sajalah Dira tahu kok Ayah cerita kepada Dira kalau Mas mendengar pembicaraan Ayah terhadap pak Kiyai dan Mas langsung mau menikahi Dira"
"Astagfirullahal adzim Dek. Tidak Dek, Mas memang sedikit merasa simpati saat mendengar kisah Adek yang di ceritakan Ayah. Namun Mas mau menikahi Adek karena Mas menyukai Adek. Mas jatuh cinta sama Adek. Adek ingat dulu waktu Mas mengurus beasiswa di Bank, tanpa sengaja Mas menatap wajah Adek, dan setelah kejadian itu Mas tidak bisa tidur dengan nyenyak karena wajah Adek yang selalu terbayang di pikiran Mas, Mas sudah mencoba melupakan Adek dan Mas juga sudah Sholat meminta petunjuk kepada Allah namun, wajah Adek yang selalu muncul di pikiran Mas. Saat Ayah menyebutkan nama Adek mas teringat langsung wajah Adek dan Mas langsung berniat mengkhitbah Adek karena Mas mencintaimu Dek, bukan karena Mas kasihan"
Ucap Ustad Sidiq menatap lekat wajah Dira.
Sedangkan Dira yang mendengar penyataan cinta Ustad Sidiq sedikit kaget ia tidak menyangka bahwa sang suami telah mencintainya jauh sebelum mereka menikah.
"Mas, Diraa---"
"Sudah Dek, Mas mohon percayalah kepada Mas bahwa Mas hanya mencintai Adek"
Ucap Ustad Sidiq dengan meraih tangan Dira menciumnya.
Sedangkan Dira hanya bisa mengangguk dan tersenyum menatap sang suami. Setidaknya kini perasaan Dira lebih tenang saat mengetahui bahwa suaminya mencintainya dan ia tidak akan membiarkan wanita manapun untuk mendekati suaminya.
Entah mengapa jantung Dira berdetak lebih cepat saat Ustad Sidiq mengecup keningnya. Bukannya sudah biasa bila Ustad Sidiq melakukannya namun kini berbeda ada rasa seperi menggelitik di perutnya hingga sebuah senyuman manispun muncul di bibirnya.
Sesampainya di rumah seperti biasa Ustad Sidiq memastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat barulah beranjak menuju kamarnya di lantai dua.
Cklaak.
Ustad Sidiq menatap Dira yang kini tengah menyapukan crem ke wajahnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur dan mengganti pakaiannya.
Setelah selesai dengan segala macam perawatan dirinya, Dira lanjut menuju tempat tidur untuk memeriksa ponselnya. membuka sosial medianya memantau informasi ter up date, bahkan Dira sempat senyum-senyum sendiri saat melihat berita yang lucu.
Cklaakk..
"Kenapa belum tidur Dek?"
Ucap Ustad Sidiq saat mendekati ranjang.
"Iya sebentar lagi Mas"
Ucap Dira dengan segera menutup ponselnya.
__ADS_1
"Dek"
"Iya Mas?"
"Lain kali kalau bicara sama orang yang sopan ya, Mas tidak mau mendapat dosa karena tidak mengingatkan dan mengajarkan istri Mas dengan baik"
'Belum selesai juga yang tadi? Huufhh'
"Iya Mas"
Ucap Dira pelan.
"Kalau begitu tidurlah lagi, karena nanti Mas akan membangunkanmu untuk sholat malam"
Ucap Ustad Sidiq dengan mengusap kepala Dira.
'Aduh uda lama banget gak nonton oppa (drama Korea) ne, oppa apa kabar yaa? Rindu, biasanya malam-malam gini pasti nonton oppa atau gak browsing-browsing dan sekarang huuff,, Besok aku gak ikut Mas ke Pesantren deh aku mau nonton oppa seharian, tapi nanti kalau aku gak ikut si Aisyah punya kesempatan dong buat godain Mas'
"Hey,, Kenapa melamun Dek?"
Ucap Ustad Sidiq dengan menggoyang-goyangkan tangannya di hadapan Dira.
"Gak ada Mas, ini Dira mau tidur Assalamualaikum"
Ucap Dira dengan segera menarik selimutnya dan menutup matanya.
Ustad Sidiq tersenyum melihat tingkah Dira yang menggemaskan menurutnya. Meskipun ia belum mendapatkan haknya sebagai seorang suami tapi Ustad Sidiq senang karena Dira masih ingin menerima sentuhan darinya.
Ustad Sidiq lanjut memejamkam matanya setelah menarik Dira untuk lebih dekat kepadanya.
Pukul tiga pagi Ustad Sidiq telah bangun, seperti biasa ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum melakukan sholat malam.
"Dek, bangun"
Ucap Ustad Sidiq dengan lembut.
"hmm,,,"
"Ayo bangun Dek, kita sholat malam ya, nanti di sambung lagi tidurnya"
Ucap Ustad Sidiq setelah melihat Dira mulai membuka matanya.
__ADS_1
Dira sadar semenjak ia menikah dengan seorang Ustad, maka tidur nyenyaknya sudah lenyap.
Dira lebih memilih cepat menuju kamar mandi untuk mengambil wuduh, dan segera menunaikan sholat malam bersama sang suami dan barulah ia bisa tertidur lagi sebentar karena waktu shubuh yang akan tiba bahkan kadang Dira tidak tidur lagi karena menerima pelajaran tentang agama dari Ustad Sidiq.